KETIKA SETENGAH CINTA, HANYA BERBUAH CERITA

Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA

EPISODE KEENAM

Subhaanalloh, setelah lama, kisah tentang cinta ini ku buat, lalu terhenti sampai episode kelima tentang Bernadette dari Belanda dan Isabel dari Bolivia, kini aku lanjutkan kisah ini, namun kisah ini agak lain dari kisah sebelumnya. Bila pada kisah sebelumnya, ada unsur cinta dariku kepada Kaum Hawa, lalu “cinta” itu berlalu, maka pada episode ini, kisah cinta ini dibagi dua, ada yang berlalu dan ada pula yang bersambut. Nah, yang bersambut itulah yang akhirnya menjadi istriku satu-satunya yang kucintai dan kusayangi, hingga kisah ini kutulis, kami sudah mempunyai empat cucu. Tapi ada saja, dalam kisah ini yang tidak bersambut. Sehingga kalau boleh, maka judul kisah cinta ini adalah: “Ketika setengah cinta, hanya berbuah cerita”. Satu ciri khas dari kisah ini adalah hampir pada semua kisahnya menyebut-nyebut tentara atau kadang militer.

Semula aku ragu, apakah kisah ini akan kuteruskan, sebab, kalaulah dia akan menjadi kisah ilmiah, maka bukti-buktinya harus di cek en-ricek ke berbagai pihak, sehingga apa yang kukatakan, bisa mendekati 100% benar dan tak dapat ditafsirkan lain. Nama-nama pelaku juga harus di cek silang (Cross checked) dengan orang lain yang mengalami peristiwa yang bersamaan denganku. Tapi sejak aku membaca kisah tentang “Pengabdian Korps Baret Merah” karangan Letjend. (Purn) TNI Sintong Panjaitan, yang antara lain bercerita tentang Letjend. (Purn) Prabowo Subianto, ternyata “tak masalah” seseorang menulis kisah menurut versinya dan lalu orang lain membantahnya. Tak masalah, biarlah kisah itu, dibaca orang lalu terkubur sendiri dan tak ada pengaduan-pengaduan yang apalagi diproses secara hukum karena satu pihak merasa dirugikan oleh kisah yang ditulis orang lain. Juga kisahku ini, mana orang peduli?

Yang kuyakini ialah; bila aku menulis kisah menurut versiku, mungkin saja, aku tambah-tambah sedikit agar hidup dan sambung-menyambung, lalu ada orang lain yang tak senang atas kisahku, maka biarlah orang itu menulis kisah tandingan yang berbeda denganku, lalu kita serahkan sepenuhnya kepada sidang pembaca. Mau mempercayai yang mana?. Dengan demikian pembaca, bila anda tertarik terus kepada kisahku ini, kuberitahu sebelumnya bahwa bisa jadi, nama-nama yang ku tulis adalah tak ada, atau berbeda dengan yang sebenarnya. Salah satu alasan misalmya; nama tentara yang tertera di atas dada kiri serdadu tak terlihat jelas. Maka aku mengarang saja nama itu. Atau aku lupa, bahwa orang yang ku temui, namanya bukan itu. Aku menyenangi slogan-slogan perjuangan antara lain; “Kami Cinta Damai, Akan Tetapi Kami Lebih Cinta Kemerdekaan”. Bagi tentara artinya; lebih baik mati daripada tidak merdeka. Dalam bahasa Latin ada pepatah “Sic Vis Pacem, Para Bellum”. Apabila kamu ingin perdamaian, maka ciptakanlah perang. Ironis memang, agar damai kita harus mau perang, ya benar sebab perdamaian itu adalah dua pihak yang berdiri sejajar menghentikan pertikaian dengan cara damai. Kalau satu pihak lebih kuat, maka akan menjajah pihak yang lemah. Jadi aku ingin masuk tentara agar negaraku kuat.

Sebenarnya, pada kisah keenam ini, terbagi atas empat sub-episode, yakni pertama;  sub-episode obsesi tentara di SMA-3 Bandung, hingga ITB. Kedua, Sub-episode awal pernikahan dan hambatan oleh tentara, Ketiga; Sub-episode gerakan radikal melawan tentara dan, Keempat, sub-episode persahabatan dengan tentara di NTT dan di Roma.

Sub Episode Pertama

Aku terlahir sebagai anak tentara, tepatnya, ayahku bernama  Sersan Mayor R.A Subandi. Ayah mengajarku tentang kedisiplinan tentara. Aku harus bangun pagi lalu  berolah raga sebelum siap-siap berangkat ke sekolah. Aku diajarkan menyimpan barang harus tepat dan mudah sehingga ketika aku  butuh barang tersebut, maka barang sudah siap dan aku mudah  mengambilnya. Segala rencana harus diatur tepat waktu. Tapi aneh, walau ayahku mengajar aku untuk disiplin, tidak pernah satu katapun aku harus menjadi tentara. Ayah menganjurkan aku masuk menjadi dokter. Sementara aku, ingin menjadi tentara, aku ingin masuk AMN (Akademi Militer Nasional). Aku sangat kagum kepada Kolonel RPKAD Sarwo Eddy Wibowo. Setiap pemberitaan tentang Sarwo Eddy dan RPKAD aku terus ikuti di Koran. Sebagai pelampiasan cita-cita ingin jadi tentara ini, aku wujudkan dalam olah raga di kelas, yakni olah raga lari. Aku ingat, di kelas III B3 SMA 3 Bandung, hanya Lukman yang bisa mengalahkan lari cepat maupun lari keliling lapangan. Aku diajarkan ayahku, untuk melihat seorang tentara apakah sehat lahir batinnya, minimal dari lari pagi ini. Kalau dia hebat lari pagi lalu sikapnya baik, berarti mentalnya masih prima. Kalau sudah malas-malasan lari pagi, tentara seperti ini tak akan bisa dibawa berperang. Aku ingat kisah adikku; bahwa seorang Kasdam 3 Siliwangi, berpangkat Brigjen jago lari pagi, yang bisa bareng bersamanya, diberi uang Rp 10.000,-. Jarang yang mampu bareng, semua tentara tertinggal jauh dari Pak Kasdam ini, hanya satu dua yang bisa nempel terus, umumnya tentara muda yang baru lulus AMN.

Kembali ke kisah SMA-ku. Jadi setiap olah raga pagi, aku dan Lukman pasti bersaing, siapa yang duluan. Memang kadang aku, kadang dia, tapi ku akui, Lukman memang lebih hebat dariku.

Namun sayang di sayang, seperti kuceritakan pada episode pertama; aku sangat mencintai seorang yang bernama Eka itu, yang mana aku sering datang ke rumahnya pada malam minggu itu. Pada suatu ketika, selesai membaca pengumuman aku dan Eka lulus dari SMA-3 tahun 1970. Kami kumpul bareng-bareng lalu saling tanya mau meneruskan ke mana. Aku katakan kepada Eka bahwa aku sudah siap segera daftar ke AMN, aku ingin jadi tentara meneruskan jenjang karir ayahku. Saat itu ayahku Kapten TNI-AD, maka minimal aku harus menjadi Kolonel, syukur kalau bias sampai ke Jenderal. “Koesmawan, aku tak setuju kamu ke AMN, kamu itu sebaiknya ke ITB atau ke kedokteran UNPAD”, Inilah kata-kata Eka padaku yang hingga kini seakan tak pernah hilang dari ingatanku. Nah dengan kata-kata inilah, maka pupus sudah harapanku masuk AMN, akupun ingin mengikuti kehendaknya, dengan harapan aku bisa menjadi kekasih Eka di mahasiswa nanti, bila aku diterima di kampus ITB. Akhirnya, aku minta uang ke ibuku untuk test, tapi sayang, ayahku hanya memberi uang untuk satu kampus, maka aku hanya bisa ikut test ITB dan Alhamdulillah masuk diterima sebagai mahasiswa “Teknik Industri” angkatan 1971. Mengapa aku memilih teknik industri, sebab seorang raka senior berkata, dimasa depan industri Indonesia menjadi penguasa dunia. Ah… sungguh sebuah hayalan, hingga kini aku Professor pun industri Indonesia ini malah terpuruk oleh krisis moneter.

Ternyata, diawal masuk ITB senang sekali, sebab ada pendidikan WALAWA (Wajib Latih Mahasiswa), aku senang sekali, apalagi,  entah siapa yang menunjuknya, aku diangkat menjadi Komandan Kompi C, dengan anak buah 250 orang.

Satu kenang-kenangan yang terlupakan ialah; ternyata Kompi C ini sewaktu di lembang, lokasinya berdekatan dengan tempat mahasiswi Walawa untuk mandi. Sehingga entah siapa yang memulainya; banyak anggota Kompi-C yang mengintip perempuan lagi mandi. Salah satu orang yang masih ingat Kompi C ini ngintip ialah Ir. Indra Setiawan yang pernah jadi Direktur PT. Garuda, ia ingat benar peristiwa ini, walau dia sendiri tak tahu siapa-siapa saja yang menghintip itu. Yang jelas, aku yakin Indra Setiawan dan juga Koesmawan, tidak pernah ikut mengintip mahasiswi Walawa yang sedang mandi.

Akhirnya Komandan Latihan ITB mengumpulkan semua siswa (1000 orang di lapangan), lalu berbicara “Bahwa tadi subuh ada beberapa orang yang tidak bermoral, yang tidak sepantasnya dilakukan oleh calon cendekiawan yang katanya putera-puteri terbaik bangsa ini, siapa yang merasa bersalah maju kedepan, dan saya tahu persis; itu adalah anggota Kompi-C”. Ternyata tak seorangpun yang mengaku. Akhirnya saya selaku komandan dipanggil dan dihukum karena dianggap tak bisa mengendalikan anak buah. Lalu saya disuruh Push-Up 25 kali. Disinilah sebuah kenang-kenangan yang tak aku lupakan, begitu aku mulai menghitung, seluruh anak buahku yang sebanyak 250 orang itu ikut push-up mengikuti aku. Aneh, kami semua berlinang air mata, terharu. Yang lebih aneh lagi, ulang tahunku yang telah lewat, oleh orang-orang Kompiku dirayakan lagi bareng-bareng dengan acara yang lucu-lucu, susah kugambarkan. Komandan latihan cerita, begitulah kehidupan tentara di asrama bila hidup bersama setiap hari.

Satu lagi yang bikin kenangan, setelah malam senang-senang, tidurpun baru sekejap, tiba-tiba ada sirine (tanda bahaya). Kami semua wajib keluar berpakaian lengkap, untuk acara jalan malam. Sebuah kenangan lagi, kami bersama berurutan lalu jalan, aneh kadang bisa tidur sambil jalan. Ya memang aneh.

Selesai pendidikan Walawa, aku mulai sering ke rumah Eka, untuk apel malam minggu ceritanya. Namun sayang, masih kuingat tanggalnya; 23 Nopember 1971, Eka hanya menyatakan sebagai sahabat diriku dan aku akan tetap sebagai sahabat yang terbaik baginya (lihat kisah pada episode satu).

Sub Episode Kedua

Lulus dari ITB, aku diterima sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Trisakti di Jakarta kalau tak salah tahun 1977. Pada tahun-tahun awal aku di Trisakti tak ada kisah tentang tentara, baru pada tahun 1978, di sinilah kisah tentang tentara yang menyakitkan. Aku tidak mengalaminya, akan tetapi beberapa mahasiswa dari beberapa kampus bercerita tentang kekejaman tentara, yang bermuara pada perintah Jenderal Soeharto sebagai Presiden R.I. tentu saja. Jenderal Soeharto pada tahun 1978  sangat berbeda jauh sekali dengan Jendral Soeharto 1998, sebab pada tahun 1998 ini Soeharto sudah sangat lemah dalam berbagai hal, sehingga pada tanggal 21 Mei 1998 Soeharto lengser.

Mengapa mahasiswa ditahan oleh tentara?. Jawabannya adalah karena Soeharto ingin mempertahankan kekuasaannya yang ketika itu dinilai korup oleh mahasiswa. Adapun kekuatan utama mahasiswa ketika itu, ada di Jakarta dan di Bandung. Mahasiswa bertekad “Keadilan Harus Tegak, Walau Pun Langit Runtuh” (Fiat Justitia, Ruat Ceulum). Mahasiwa bertekad ingin mengulangi saat-saat menjatuhkan Bung Karno Presiden pertama yang alumni ITB itu. Soekarno berkata “Satu milimiter pun, aku tidak akan  mundur”. Lalu mahasiswa di bawah Muslimin Nasution menjawab: “Kami mahasiswa, satu mili-micro-pun tidak akan mundur”. Akhirnya Bung Karno jatuh.

Kembali ke kisah tahun 1978, ketika para mahasiswaku ditangkap mereka cerita bahwa masing-masing akan menjawab ini dan itu. Sehingga mahasiswa memiliki skenario menghadapi interogasi. Dengan harapan mereka bebas.  Lalu apa yang terjadi, ternyata mahasiswa itu bukannya ditanya satu persatu, namun dibawa dulu ke sebuah tempat. Inilah yang mereka sebut sebagai proses cuci otak. Mereka dibawa ke sebuah tempat seperti kolong sebuah gedung dan tak bisa berdiri, jalanpun jongkok, dan  tempat itu luas sekali. Setelah itu ditakut-takuti akan dibawa ke sumur tua yang banyak tikus dan berbau anyir tak sedap. Akibat “treatment” gila itu,  sungguh hebat, rusak sudah mental mahasiswa yang gagah dan bakat ilmuwan itu. Mereka akhirnya bagai kerbau dicocok hidung. Nurut aja, apa kata orang yang menginterogasinya. Bahkan harus mengaku bahwa para mahasiswa akan membunuh keluarga presiden. Akibatnya; silahkan pilih, salah satu dari  dua pilihan, ikut diadili sebagai perencana makar dan bisa dihukum mati atau mengikuti kehendak tentara yang menginterogasinya. Mahasiswa bercerita juga bahwa ada salah seorang di penjara, yang termasuk gerakan keislaman, dipukuli tentara, kuat-kuat, hanya teriak “Allohu Akbar, Allohu Akbar” tak terjadi apa-apa. Ada juga yang diikat di atas balok es. Sungguh tega para tentara itu menyiksa orang. Jadi kita tak heran, ketika tentara Amerika menyiksa para tahanan di penjara, memang kadang-kadang lama-kelamaan, orang yang masuk penjara, bisa timbul sikap aneh-aneh. Para tahanan itu, jadi bahan permainan sehari-hari.

Tanpa sengaja, ternyata, aku banyak mengenal mereka yang bergerak melawan Soeharto, baik kelompok Bandung maupun kelompok Jakarta. Dari Bandung, ada tiga orang yang kukenal yaitu Alhilal, Herdi dan Fajar (Almarhum). Aku baru tahu, ternyata alumni ITB itu hebat. Maksudku ketika ada pergerakkan, diam-diam alumni ini membantu, minimal ialah mengumpulkan uang buat anak-anak pulang pergi Jakarta- Bandung. Bila ada anak ITB datang, kita alumni ITB patungan  buat ongkos mereka.

Bertepatan dengan kejadian ini, aku tengah mempersiapkan pernikahanku dengan Ellya Marliana, calon  istri, yang direncanakan pada tanggal 16 April 1978. Sejak awal Januari 1978 hingga masa pernikahan perjalanan Bandung-Jakarta benar-benar mencekam, sebab hampir setiap hari, ada pemeriksaan di bus, tentara menganggapnya “Penyusupan musuh”. Sungguh  hebat juga ya, padahal, mereka mahasiswa biasa  yang tak punya senjata apa-apa. Istriku dan mertuaku selalu was-was, jangan-jangan aku tertangkap oleh tentara yang memeriksa bis. Sebenarnya aku tenang saja sebab “musuh yang menyusup” itu adalah mahasiswa, bukan aku yang punya kartu karyawan FE Usakti. Dan Alhamdulillah setiap ada pemeriksaan aku selalu lolos, sebab aku bukan mahasiswa lagi.

Berbarengan dengan gerakan mahasiswa ternyata di Jakarta sedang kencang-kencangnya persiapan gerakan yang dimotori oleh GPI (Gerakan Pemuda Islam) dibawah pimpinan Abdul Qadir Jaelani, yang oleh pemerintah disebut “Gerakan 20 Maret 1978” berarti satu bulan sebelum aku menikah. Sungguh ajaib takdir yang menimpaku ini. Entah darimana asalnya tiba-tiba aku memilki dua peran. Pertama, memberi fasilitas beberapa mahasiwa Bandung yang bergerak di Jakarta. Aku hubungkan mereka dengan mahasiswa Trisakti, walaupun saat itu aku mengajar di UNAS dan “ Qadir Jaelani, aku ditugaskan, untuk mensuplai informasi, agar gerakan menjatuhkan Soeharto, parallel dengan gerakan “Islam” tanggal 20 Maret itu.

Aku ingat, tanggal 19 Maret malam, dalam gerakan ini, nama-nama pelaksana di ubah; Koesmawan jadi Abu Bakar; Suhaeri jadi Mutmainah, Kang Gumsoni jadi Umar bin Khatab dan lain-lain. Aneh juga, malam hari kami naik mobil dan ternyata, kami punya alat menyadap komunikasi intel tentara.Dulu ada istilah Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban). Ini sebuah lembaga superbody yang sangat dominan sekali dalam perpolitikan negara kita waktu itu. Temanku Zacky (almarhum) berceloteh: “Koes kita yakin, bakal rame nih. Jakarta bakal terbakar, lebih seru dari peristiwa undang-undang perkawinan tahun 1974”. Aku tak mengerti, kok gerakanku bisa memahami pergerakan komunikasi intel. Hanya mungkin  karena tentara terlatih dengan sandi-sandi, maka bisa saja komunikasi tentara itu palsu, gerakan tentara yang sebenarnya lain. Untuk itu, aku bersama temanku Riyadi ditugaskan dalam gerakan ini, pagi di Trisakti, siangnya langsung mengamati di Bunderan Hotel Indonesia (HI). Aku pemberi kode gerakan dari atas Wisma Nusantara, berhadapan dengan hotel Indonesia. Aku ingat, sebelum aku naik ke Wisma Nusantara, depan Hotel Indonesia itu, seorang Kapten berbaju loreng menatapku seperti curiga, ia gagah memegang handy talky mondar mandir mengendalikan keamanan antara HI dan Wisma Nusantara. Sayang aku tak melihat seorang kawan pun yang membawa Bom Molotov itu, sehingga di tengah-tengah kota, gagal rencana pemboman itu. Dari atas wisma aku memberi kode, gerakan gagal. Tentara ada di setiap sudut. Di Trisakti pun gagal. Aku masih terbayang seorang temanku pembawa Bom Molotov memandangku saat dia akan dipukuli oleh Satpam Trisakti, aku tak bisa apa-apa melihat kawanku babak belur. Aku tak tega melihatnya; entah dia masih hidup atau tidak, tak pernah kutemui lagi.

Tepat tanggal 20 Maret  1978. Menurut skenario, di Trisakti harus terjadi pembakaran, dimulai dari bom molotov. Aku heran; mengapa temanku yang direncanakan membakar Trisaksi, malah gagal dan dia dipukuli rame-rame oleh satpam dan mahasiswa itu;  sebab ketahuan membawa bom molotov. Dengan dibonceng motor, aku tinggalkan Trisakti dan menuju Bunderan HI. Ternyata, semua lokasi yang direncakan akan dibom sudah di-blokade oleh tentara. Aku menduga, gerakan ini bocor ke intel dan mereka pada tanggal 20 Maret itu, lebih siap dari gerakan Abdul Qadir Jaelani. Akhirnya Abdul Qadir diadili dan dihukum. “Ah Jakarta tak jadi terbakar, jadi gerakan ini (GPI) tak sehebat tahun 1974 yang menguasai gedung MPR”, kataku dan Riyadi. Akhirnya, aku dan Riyadi berpisah dan baru ketemu lagi dua puluh tahun kemudian. Aku ingat kata-kata Riyadi ketika bertemu denganku, “Koesmawan, ternyata ente masih hidup, aku bingung, kemana mau tahlil di makam ente. Syukurlah ente masih hidup”. Kata Riyadi.

Untunglah gerakan ini berakhir dan akupun menikah dengan Ellya Marliana yang memberiku anak lima dan hingga kini kami punya cucu empat. Episode berikutnya; masih dengan tentara, yakni Komandan Garnizun Ibu Kota Brigjend Eddy Nalapraya. (Tunggu sedang disusun…).

12 Responses to KETIKA SETENGAH CINTA, HANYA BERBUAH CERITA

  1. Agus says:

    Pak Koes, kisah cinta dgn Eka yg hanya 2 thn bisa dibuat judul sendiri tuh, agak janggal bacanya kalau alasannya cuma karena gak jodoh trus masing2 menikah dgn masing2 pasangannya, trus abis deh…kurang seru…he..he..lanjutin lagi yg detilnya ( penasaran nih..)

    • koesmawan says:

      Iya, itu aka akhirnya kawin ama orang. sedih amat deh dia lama jalan dengan saya tapi ketyiakm menentukan cinta ya ke orang lain deh cintanya

  2. Nugraha Hadiwijaya says:

    Assalamu’alaikum…
    Di masa itu mahasiswa mudah menentukan “musuh” bersama sebagai bagian dari bentuk perjuangan, namun sekarang ini “musuh” itu sulit dikenali, karena mengendap-endap dalam selimut, dan mahasiswa seakan dikondisikan selalu lengah seperti seseorang yang terkena kantuk akut, hingga ada ancaman dalam selimutnya pun tak disadarinya.

  3. Djoko H says:

    Selamat dan sukses kang Yesus
    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabaraokatu

    Kang, eta bageur teuing, cocokna diterbitkan jadi novel. Sukses ya kang

    Wassalam
    NB : terakhir ketemu di Muhamadiyah Kramat tahun 85 sudah 24 tahun yl. Kok masih kelihatan segar awet muda, apa resepnya?

    • koesmawan says:

      Alhamdulillah Djoko. Mungkin karena dosen itu sering ketemu dan akrab dengan wanitya cantik, jadi banyak terhibur hatiku walau hidup susah, he he he

  4. Hary Utomo says:

    Wah asyik juga baca ceritanya, kebetulan kita satu angkatan, saya dulu di kelas 3B5, samar-samar masih ingat wajah Prof. kalau tak salah memang jaman itu kita pada sekolah pakai sepatu PDL dan bawa ransel ya ? Saya mah terus “nyasar” jadi tentara beneran. Wass.

    • koesmawan says:

      Ry, saya ingin benar jadi tentara; tapi Alhamdulillah kini banyak teman tentara dan pulisi diu Lemhannas. Tentaranya : Jendral Nurdin Zaenal, marsekal Toto Riyanto, Irjend Anton Bahrul Alam, Mayjend Haryadi, Brigjend Hari Ournomo dan lain lain. Lumayan lah baik2q tuh

  5. koesmawan says:

    terima kasih atas komentarnya teman2 Insya allah kisah ini akan terus ber;lanjut hingga akhir masa he he he

  6. mas wied says:

    ternyata pak koes main di blog juga. ajarin adsens dong pak

  7. sentot subagyo says:

    assalamu’alaikum Prof, saya sentot kementerian kehutanan yang berkat inspirasi Prof saya dapat beasiswa di MSM..mohon no hp-nya yaa..nomor saya 081219994020..bedank…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: