KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA

Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA

EPISODE KELIMA

Pada episode ini, saya tak akan berceritera tentang cinta, akan tetapi cerita tentang kisah persahabatan saya dengan dua gadis mancanegara ketika saya tinggal di Enschede Nederland guna menyelesaikan program doctor di Universitas Twente-Nederland. . Enschede itu sebuah kota kecil di Belanda berjarak 3 jam pakai kereta api dari Den Haag, letaknya berbatasan dengan Negara Jerman..  Bila dalam hal cerita cinta, saya samarkan nama setiap gadis yang saya akan saya kisahkan itu, maka pada hal persahabatan, saya tak ragu-ragu menuliskan nama lengkapnya. Pertama ; Isabel Torres dari Bolivia dan Kedua, Bernadette Schoomaker dari Belanda. Keduanya adalah wanita yang cukup cantik dan menawan hati. Isabel sudah bersuami seorang doktor ekonomi yang sedang bekerja di Den Haag, sementara Bernadette saat itu sedang kosong, tak punya pacar “ I am single, but happy” katanya ketika saya Tanya tentang statusnya. Saya yakin bila cerita ini dibaca oleh anak-anak dan istri saya, mereka pun tak akan memarahi ayahnya yang bersahabat dengan dua wanita mancanegara itu, dimana keduanya telah  memberi kesan yang mendalam tentang arti persahabatan,  politik dan kemanusiaan antar bangsa.

Saat itu, Isabel tengah melakukan riset tentang “Political Movement in Developing Country” sementara Bernadette sedang meneliti masalah “ Gender and Humanism” khususnya di Afrika, dan saya sendiri tengah merampungkan disertasi yang berjudul “Textile Export Marketing and Acquisition of Technology, A Case Study in Indonesian Textile Indutries”, dibawah bimbingan Prof.Hommes, Prof de Bruijn dan Dr. El Namaki. Kami bertiga setiap hari berada dalam satu ruangan, bertemu dan bekerja. Masing-masing diberi satu meja, satu computer dan satu loker. Bila jenuh, kami berbincang-bincang segala macam.

Hampir setiap pagi mulai dari Senin sampai Jumat siang, saya selalu bertemu dengan Isabel dan Bernadette, jumat siang saya salat Jumat di Mushala Hotel Enschede, dan hampir dipastikan, saya selalu jadi Khatib dan Imam jumatan disana. Padahal banyak orang Arab, Libia, Maroko dan orang Belanda yang muslim, akan tetapi bila melihat saya hadir, mereka selalu ,mendorong saya jadi khatib dan imam dalam bahasa Inggris Mungkin karena mereka semua tahu, saya adalah mahasiswa tertua diantara mereka.

Jumat sore saya pulang ke Den Haag, untuk  mengurus masjid Den Haag, menyiapkan tempat ngaji dan persiapan berjamaah magrib dan isya bagi orang-orang Indonesia di Den Haag. Tepatnya Mushala Daguerresstraat No 2. Disini,saya serba terjamin,  makanan enak dan bergizi banyak,  sebab banyak ibu-ibu yang umumnya orang Sunda dan Jawa yang memasak makanan untuk jamaah masjid. Acara pengajian dua kali seminggu yakni, jumat malam dan sabtu malam.  Pulang dari Mushala setiap hari Senin subuh dengan membawa bekal sisa-sisa makanan mushala yang masih utuh. Lumayan ini bisa disimpan di kulkas hingga hari Rabu berikutnya. Jadi setiap minggu saya hanya membayar makanan sendiri pada hari  Kamis dan Jumat pagi. Kalau di rupiahkan, biaya hidup saya hanya Rp 60.000,- perminggu, irit sekali,  ditambah sewa “kandang burung” Rp 300.000,- perbulan. Kata teman saya dari Indonesia, yang memeriksa kesana,  tempat kos saya disebut kandang burung sebab terletak diatap rumah. Itu harganya paling murah. Sebab dibagian bawah mahal, hingga Rp 500.000,- perbulan. Begitulah nasib mahasiswa yang terlunta-lunta nasibnya karena kebijakan pemerintah memutuskan hubungan  dengan  IGGI (Inter Goverment Group for Indonesia) yang memberi beasiswa kepada saya untuk program doctor di Belanda. Alhamdulillah ada mushala dan warganya yang membantu saya. Ada kalanya saya disuruh ceramah di KBRI Den Haag, lumayan pulang dibekali hingga Rp 1.000.000,00. Sering juga mengantar pejabat Indonesia yang datang ke Belanda lalu minta ditemani jalan-jalan di Enschede, kadang nyebrang ke Dusseldorf- Jerman,, ternyata ada saja yang dengan tulus  ikhlash dan memaksa saya untuk menerima sekedar uang lelah Rp 500,000,- hingga Rp 1.000.000,00 . Alhamdulillah hidup saya bisa tersambung.Sehingga saya tak perlu cari uang untuk biaya hidup di Belanda. Pernah ada tawaran kerja “Menggoreng Kacang” upahnya hampir Rp 5.000.000,00 perbulan, tapi Masya Allah, beratnya minta ampun, tak tahan saya. Waktu saya di Belanda, uang yang berlaku gulden, dimana 1 gulden kira-kira Rp 1000,- waktu itu. Sekarang menggunakan Euro, satu euro kira-kira Rp 15.000,-.

Tentu saja, dihadapan Isabel dan Berandette saya tak pernah memperlihatkan keadaan saya yang sebenarnya, mereka melihat saya “ life as usual” saja. Ada persamaan antara Isabel dan Bernadette, yakni, keduanya adalah penganut agama Katholik Roma yang sangat taat, sebab hampir semua kewajiban agamanya seperti misa, novena dan lain-lain dia kerjakan bersamaan. Sementara, saya sendiri seorang muslim yang tak segan-segan salat di ruangan saya, walaupun mereka berdua ada disana.

Perkenalan akrab saya dengan Isabel adalah ketika, saya bercerita tentang nama Isabel menurut yang saya kenal. Berdasarkan cerita ketika saya masih anak-anak. Dulu kala, di Spanyol, pada zaman terjadinya Perang Salib ada seorang ratu Spanyol yang sangat cantik  bernama Putri Isabella. Putri ini cantik dan beragama Islam, ia menyelamatkan kaum muslimin. Begitulah cerita versi waktu kecil. Akan tetapi ketika besar ada nama Ratu Isabela ternyata beragama Katholik dan dialah yang mengusir kaum muslimin dari Spanyol. Mana yang benar , tak tahulah saya. Sementara Isabel yang orang Bolivia itu, lebih setuju kisah yang kedua, sehingga nama ratu terkenal itu,  dinisbahkan oleh orang tuanya kepada anaknya yang bernama  Isabel itu. Kalau tak salah Ratu Isabela dari Spanyol itu, termasuk dalam daftar 100 orang berpengaruh dalam sejarahnya-Michail Hart- yang menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh nomor satu.

Isabel mengajarkan saya bahasa Spanyol, maka tahulah saya beberapa makna misalnya: Para Futura (for the future). Common sta (apa kabar). Lalu angka-angka; cero,  Uno, dos, tres, cuatro, cinco, seis, siete, ocho, nueve, diez dan seterusnya. Kalau ketemu pagi : Buenos dias, ketemu siang Buenos tardes, ketemu malam: Buenas noches.

Tentu saja perbendahraan ungkapan cinta bertambah. Semula hanya: abdi bogoh ka anjeun (sunda), Kulo tresno marang sampeyan (jawa), I love you (inggris), aku cinta padamu (Indonesia), Ich liebe dich (jerman), J’t aime (Prancis), Ik hoe van jouw (belanda), Aishiteru (Jepang). Tambah lagi  ; Io tumare (Itali); Yo Tamare (Spanyol) dan Eu Tamare (Portugal), Ah ada ada saja ya kerjaan iseng di negeri orang.

Saya minta juga ke Isabel lirik lagu : Historia De Un Amor, yang sering saya nyanyikan di STIE Ahmad Dahlan, inilah lirik lagunya:

Inilah lagu Historia De Un Amor yang diberikan Isabel kepada saya dan saya sering menyanyikannya di STIE Ahmad Dahlan. Terima kasih Isabel.

Cancion (Lagu)     : Historia De Un Amor

Artista (Penyanyi) : Luis Miguel

Disco (Gaya lagu) : Segundo Romance.

Ya No Estás Más A Mi Lado, Corazón
En El Alma Sólo Tengo Soledad
Y Si Ya No Puedo Verte
Porque Dios Me Hizo Quererte
Para Hacerme Sufrir Más.

Siempre Fuiste La Razón De Mi Existir
Adorarte Para Mí Fue Religión
Y En Tus Besos Yo Encontraba
El Calor Que Me Brindaba 
El Amor, Y La Pasión

Es La Historia De Un Amor
Como No Hay Otro Igual.
Que Me Hizo Comprender
Todo El Bien, Todo El Mal
Que Le Dio Luz A Mi Vida
Apagándola Después
Ay Qué Vida Tan Oscura
Sin Tu Amor No Viviré..

Kemudian yang menambah akrab pembicaraan dengan Isabel ialah ketika bercerita tentang persamaan negeri Bolivia dengan Negara Indonesia ketika di “jajah“ militer. Betapa sengsara hidup dalam jajajah saudara sendiri, yakni militer. Di Bolivia pernah militer sangat berkuasa, sehingga kehidupan begitu sulit. Demokrasi itu hanyalah, mimpi tuh katanya. Kini, tahun 1996, Bolivia “merdeka dari jajahan militer, tentara tak berani lagi macam-macam” , sebab kalau tentara akan merebut kekuasaan, maka “kami semua turun ke jalan dan menentangnya, untunglah tentara takut” kata Isabel. Sebab kalau tentara menembak kerumunan masa, bias saja ada sanak saudaranya tertembak juga.

Tentang militer, bagi alumni ITB sungguh ada kenangan yang sulit dilupakan, yakni tahun 1978, ketika tentara mengobrak abrik kampus ITB dan menduduki ITB lebih dari satu minggu. Sungguh sebuah kengan yang menyakitkan. Korbannya adalah di copotnya Prof Dr.Iskandar Alisjahbana dari jabatan rektor, apa alasannya??? , gara-gara dalam suatu rapat yang dihadiri Panglima Siliwangi Mayjend Himawan Sutanto, Iskjandar berkata “Di Negeri ini, akal sehat sudah tidak berlaku lagi”

Kisah berukutnya, ketika tentara, yang kala itu dilaksanakan oleh Satgas Intel Kramat Empat Jakarta, dibawah Panglima Mayjend Tri Sutrisno, menahan saya dan mewajibkan apel hingga satu tahun padahal saya tengah kuliah di S-2 ITB. Apa gara-garanya: “Koesmawan khutbah terlalu keras, menunjukkan kebencian kepada Negara Amerika” ??? Ah sudahlah heran saya, sejak kapan saya benci Amerika, padahal saya ingin sekali ke Amerika itu, belum kesampaian hingga kisah ini ditulis.

Isabel terbahak-bahak ketika saya bercerita, mengapa banyaknya orang Indonesia ketika itu yang untuk  mencabut gigi saja ke Singapur, “Tahukah kamu apa  alasannya Isabel??”. Lalu saya teruskan, jawabnya ialah: “Karena di Indonesia itu, jangankan cabut gigi, buka mulut aja dilarang”. Sayang sekali Isabel tak memberikan alamatnya di Lapaz-Bolivia, sebab kalau lah saya tahu alamat Isabel di Bolivia sekarang, akan saya surati dia dan saya katakan bahwa kini Negara Indonesia, adalah Negara demokrasi terbesar ketiga setelah; Amerika, dan India. Tak gampang membangun Negara demokrasi pada jumlah penduduk 230 Juta jiwa. Bayangkan !!! hebat bukan???.

Ada kejadian lucu, sewaktu melihat ada gambar manusia yang aneh, tiba-tiba Isabel memukul meja, sambil komat kamit dan memegang perutnya yang lagi hamil. Saya heran. “Why do you perform that my dear friend Isabel?”. Dia menerangkan sesuatu, yang ternyata mirip di Negara Indonesia, rupanya; ketika dia melihat wajah buruk, smentara dia sedang hamil, kira-kira mirip orang kita berkata “Amit-amit jabang bayi” sambil ketuk-ketuk meja berkali-kali.. Menurut dia, itu kebiasaan suku Indian Bolivia, dan dia masih ada keturunan Indian itu. Lucu juga ya, ada kemiripan  budaya.

Lain Isabel, lain pula Bernadette. Berbadette lebih senang berdiskusi tentang humanisme, kehidupan sosial masyarakat dan perjuangan kaum wanita, khususnya di Negara berkembang.

Sebelum bercerita tentang Bernadette, saya mempunyai cerita tentang kenalan dengan wanita Belanda yang cantik di kereta api, hingga menjadi teman akrab berdua mulai naik  hingga kereta berhenti,tahukah teman-teman,  apa penyebabnya?? Itu gara-gara saya sayang kepada anjing yang dibawanya. Sebelum kenal dengan perempuan ini di kereta api, ini, pernah saya dengan Pak Junaedi sobat di Amsterdam, naik kereta api bareng. Tiba-tiba di depan ada anjing yang dibawa gadis Belanda yang lain, Berhubung Pak Junaedi ini sangat “fanatic” kata orang, dia memperlihatkan wajah benci kepada anjing yang dibawa perempuan itu.Sampil tangannya menepis supaya anjing itu menjauh dari kaki pak Junaedi dia tak mau kalau sampai anjing itu menjilat celananya.  Apa yang terjadi, ternyata si perempuan memperlihatkan wajah benci juga kepada kami berdua. Nah berdasar pengalaman itu, ketika saya, pada kesempatan lain, jalan sendiri dari Enschede ke Amsterdam,  lalu  pas duduk depan saya seorang gadis Belanda yang cantik dan  membawa ajing, lalu anjing itu saya usap-usap kepalanya dan lehernya, ternyata gadis Belanda itu senang sekali kepada saya, hingga kami bedua akrab sampai kereta berhenti di statsiun Amsterdam. Kata teman-teman saya yang nakal, kalau ingin di peluk dan diciumi cewe Belanda, nonton saja pertandingan sepakbola dimana tim Belanda main, nah siap-siaplah nanti, setiap Belanda menghasilkan  satu goal, kita akan dipeluk dan di ciumi cewe-cewe Belanda itu. “ Emmm waah, Emmmwaah” kata teman saya penuh semangat.

Saya pernah hadir nonton bareng seperti itu, tapi dari jauh, sebab takut dipeluk cewe Belanda, nanti bisa ketagihan. Di Belanda, tak laki-laki  tak perempuan, senangnya kepada sepakbola cukup merata. Bukan main.

Kembali ke Bernadette, ada kedekatan lain antara saya dengan Benadette, dia dilahirkan tanggal 13 Juli, sementara saya tanggal 14 Juli.. Jauh-jauh hari kami janjian akan merayakan ulang tahunnya bersamaan saja, biar patungan katanya. Rupanya, entah bagaimana, akhirnya jadi juga merayakannya hanya berdua disiang hari. Dan apa yang disediakan untuk saya yang khas pada hari ulang tahun itu ialah: sop buah, yakni buah-buahan yang dicampur. Saya membawa sekuntum  bunga untuk Benadette dan dia memberi saya sepasang cangkir dengan ukiran molen (kincir angin) khas Belanda. Tanggal kejadian HUT bareng ini tak akan terlupakan , yakni tanggal 13 Juli 1995, beberapa bulan sebelum saya promosi doctor.

Pernah pada suatu ketika, Benadette mengajak saya untuk  nonton TV berdua dirumahnya, saat itu ada  pertandingan final kejuaraan sepak bola dunia antara  antara Brasil dan Belanda. Sayang sekali ternyata Belanda kalah, 2 nol kalau tak salah. Saya mendengar suara lirih Bernadette; “I don’t believe it, I don’t believe it” katanya, sambil berlinang air mata. Saya ikut simpati kepadanya, anehnya, ikut juga menitikkan air mata. Gara-gara ini, kalau ada pertandingan kelas dunia antara Belanda dan Negara mana saja. Saya selalu mendukung Belanda. He he he.

Kenangan lain ialah, ketika, kami hadir pada perayaan syukuran Yoice Clancy orang Inggris yang baru punya rumah. Saya diajak Bernadette untuk pulang bareng ikut mobilnya, karena jarak dari rumah ke pangkalan bus jauh sekali. Entah bagaimana dan tak tahu dari mana asalnya, tiba-tiba mobil yang kami tumpangi ini ditabrak sepedah. Dan yang menabrak adalah seorang ibu kira-kira umurnya 30 tahunan, akibatnya, sepedahnya cukup parah, rusak berat dan mobil Bernadette sendiri lecet dan kaca spionnya hancur. Selesai berdebat saling tunjuk dalam Bahasa Belanda ini itu yang tak saya mengerti, kami pun pulang masing-masing.

Tetapi alangkah kagetnya saya, ketika sedang enak-enaknya berli bur di Den Haag, Bernadette menelpon saya, agar saya menerangkan kejadian tabrakan itu ke pengadilan di Enschede. Rupanya, di Belanda, jika terjadi tabrakan, maka selalu memenangkan kendaraan yang lebih kecil. Dalam kasus Bernadette ini, maka pengadilan hampir memenangkan pemilik sepedah. Nah, hakim bertanya, adakah saksi yang mau memberi keterangan meringankan,  bahwa supir  mobil ini tak tahu apa-apa, tiba-tiba ditabrak sepeda,yang  meluncur tak bisa di rem, dari garasi rumah yang posisinya lebih tinggi. Kata Bernadette, “ Koesmawan bisa  memberi keterangan tertulis dan di fax, asal beri identitas lengkap” . Maka sayapun segara menulis keterangan apa yang saya saksikan pada kejadian tabrakan itu diatas secarik kertas, lalu di fax ke pengadilan Bernadette di Enschede. Besoknya saya mendengar kabar  kebahagiaan Bernadette: “ I am happy, I am not guilty in the court, thanks a lot for your help, Koesmawan”. Jawab saya: “ I am happy too, Bernadette, good luck !!, see you next time”.

Dalam diskusi-diskusi, Bernadette sering mempertanyakan, kenapa Indonesia menjajah Timor Timur, apakah Indonesia ingin menguasai celah Timor yang katanya banyak minyak bumi?. Saya tak tahu alasan pasti mengapa kita mencaplok Timor Timur yang kini bernama Timor Leste. Saya jawab sesuai standar saja ;  yakni; agar komunis tak menguasai Pacific Selatan dan langkah Indonesia menguasai Timur Leste karena didukung oleh Amerika sehingga pengaruh komunis tak membesar di Asia Tengggara dan Pacifik Selatan. Memang, tak sedikti warga Belanda yang terkecoh oleh orang-orang Timor Leste hingga antipati terhadap Indonesia yang disebutnya sebagai “penjajah”.. Bernadette, termasuk orang yang sentimental, dia bernah berkata begini “ Koes apa jadinya dunia ini ya. Imam Khomenini telah tiada, Madam Theresia juga telah tiada; keduanya adalah manusia yang memiliki tempat khsus dihati umatnya.  Apakah dunia akan me njadi kiamat??”. Saya hanya tersenyum dan berkata: “Que serra, serra Bernadette. Whatever will be , will be”, “Ya sudahlah Bern, apapun yang terjadi, terjadilah. Kata saya kepadanya. Lalu ” You are so nice to select the words to say” Kata Bernadette membalas ucapan saya..

Sebelum pulang ke Indonesia, saya menyurati Bernadette agar dia hadir pada promosi doctor  saya dan saya mau pamit akan pulang ke Indonesia lewat Mekah dan Madinah. Sayang sekali Bernadette  tidak hadir pada promosi doctor saya di Fakultas Manajemen Universitas Twente The Netherlands , Jumat; 9 Pebruari 1996. Dia sedang tugas ke luar kota dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang saya simpan rapih, dibungkus plastik biar awet  hingga kini dan diberi judul: “Sepucuk Surat dari Bernadette” sebagai tanda perpisahan dari persahabatan kami. Saya beri undangan promosi disertai surat permohonan maaf sebab pernah dia tersinggung oleh saya,  lalu saya katakana juga bahwa saya akan ke Jakarta dengan singgah di Mekah dan Madinah. Inilah surat balasan terakhir dari Bernadette:

To: Koesmawan

Universiteit van Twente

PO BOX 217; AE ENSHEDE

Hardenberg, 28 January 1996

Dear Koesmawan,

Also I wish you a happy 1996, and the best for the rest of your life. First I want to tell you I have great respect for you for having finished your disssetration. I want you to know that you did do nothing wrong, but that there were some cultural misunderstandings. Nothing terrible, and I laso apologise for it.

Unfortunately I am not able to attend your doctoral defence. Perhaps you already know that I have a new job with more responsibilities. On the 9th of February I have a very important meeting to attend in the afternoon. Nevertheless I hope it will be one of the best days of your life.

Koesmawan, I am really happy for you that you can return to your family in Indonesia. Remember me when you are saying your prayers in Mecca, like I will remember you in my prayers to my God. With best regards,(BERNADETTE SCHOMAMER)

Memang benar kata orang, “alangkah sedihnya sebuah perpisahan, dan akan lebih sedih lagi bila tanpa ucapan, selamat jalan”. Atau kata sebuah lagu: “Bukan perpisahan yang aku tangisi, akan tetapi pertemuan itulah yang aku sesali”, Ah itu hanya sebuah lagu. Forget it.

“Persahabatan” memang sebuah kata-kata indah. Saya pernah punya sahabat wanita yang sangat baik sekali di , ia bernama Dra Ella Turmala,M.Si. Kami bersahabat,, mulai dari kelas 3 SMA di SMA 3 Bandung, lalu di ITB dan  hingga hari ini. Saya tak tahu apakah Ela sudah punya cucu atau belum. Cucu saya kini empat. Ternyata sebuah persahabatan dapat abadi tanpa cinta. Saya kaget, ketika ada dua sahabat baik saya di Belanda yaitu Agung dan Ita, tiba-tiba ketemu menjadi suami–istri. Padahal pengalaman saya, sekali kita bersahabat, maka hingga tua, akan terus bersahabat dan tidak hilang perasaan itu walau terpisah oleh tempat yang berbeda. Ela Turmala selalu hadir bila saya undang, termasuk waktu pengukuhan Professor saya  di Jakarta, Ela Turmala yang gadis Sumedang itu- mungkin tetangganya Rossa, penyanyi ayat-ayat cinta- ternyata juga datang ke Jakarta. Ah alangkah indahnya suatu persahabatan walau tak dibumbui cinta. Kata orang “mencintai tak selamanya harus memiliki”

Umur saya, kini sudah melampuai setengah abad. Saya sadar benar ucapan Rasululloh bahwa sebuah silaturahmi, minimal  akan memberi dua  manfaat yaitu: (a) Umur panjang, dan  (b) Banyak rejeki. Alangkah ruginya orang yang memutus tali silaturahmi.

Memang, silaturahmi itu indah, tetapi persahabatan nampaknya, akan jauh lebih indah.

Kini umur saya sudah over fifthy; saya ingat kata-kata Bernadette, bahwa bila saya di Mekah dihadapan Allah SWT, saya harus ingat Bernadette, sebab dia pun akan ingat saya, ketika berdoa di gereja. Sebenarnya saya ingin menyuratinya bahwa itu tak mungkin, sebab Nabi Muhammad SAW saja, tidak boleh mendoakan paman yang dicintainya. Maka saya pun tak akan ingat Bernadette di Mecca dan Madinah.

Mengapa, sebab  Allah Swt, memberi teguran kepada saya dengan cara : VISA SAYA SUDAH KEDALUWARSA, BEDA SATU HARI DAN SAYAPUN, HANYA TERMANGU DI BANDARA KING ABDUL AZIS JEDAH.

Akhir cerita; saya pulang ke Indonesia dan bertemulah dengan anak dan istri tercinta. Lucunya; anak saya No 4; Dina Kartika Utami, tak tahu bahwa ini Bapaknya, dan sewaktu bangun pagi, saya tertidur di sebelah istri, anakku Dina nangis dan ngamuk; kok ada lelaki lain di samping ibunya. He he he. Itulah romantika kehidupan.

17 Responses to KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA

  1. sukmayadi says:

    Ass wr.wb…pak Koes saya senang membaca kisah anda pada waktu menuntut ilmu dinegeri orang.ini suatu contoh pribadi yang kuat dan keras dalam mencari ilmu sehingga dengan tekad yang kuat akhirnya anda mendapat dan mencapai apa yang diinginkan.Modal mental yang tangguh ada ,kemampuan ada tetapi dari sisi finansial agak terbatas ,saya agak terenyuh dengan cerita anda ,bagaimana mencari tambahan dengan susah payah berbeda sekali dengan mahasiswa dari kalangan the have mereka dengan leluasa mendapatkan fasilitas dari ortunya.tapi tak sedikit dari kalangan mereka yang gagal dalam menuntut ilmu di mancanegara..sekali lagi saya salut ,,sebagai teman saya merasa bangga dengan perjuangan dan pengalaman anda pak Koes .kalau gak salah si Ubuy juga pernah ditugas belajarkan oleh Dep Keu ke Australia,kurang lebih 2 tahun untuk mendalami bidang penilaian (value)dan sempat berkenalan baik dengan keluarga warga Australia sampai sekarang.saya juga salut dengan aktifitas anda dinegeri orang dalam rangka syiar Islam..waktu SMA dahulu saya teh tidak melihat prof ada kecenderungan ke arah pencerahan yang islami saya mengira seperti temen2 yang lain boleh dikatakan abangan atau yang ektrim sekuler lah gitu,dengan berlalunya waktu saya teh baru tahu bahwa pak Koes teh telah banyak perubahan ke arah yg lebih islami.Anda banyak mengutip hadist Rosullah saw dalam tulisan2 anda saya senang membacanya.Perkara kisah persahabatan anda dengan ISABEL dan BERNADETTE itu hal yang sangat manusiawi,dalam bersahabat kita tak dibati oleh RAS dan Keyakinan Agama..kita memang dianjurkan untuk saling mengenal dengan bangsa2 lain di dunia ini.Ada satu hal dalam kisah prof menonton bola bersama Bernadette kalau benar fanatiknya orang belanda kepada Tim negaranya…bisa saya bayangkan kalu seandainya yang anda tonton itu ternyata tim belanda yang menang..apa yang terjadi..saya yakin pasti pak Koes habis habisan dicium sama si Bernadette..iya kan…he he..maaf itu cuma joke prof.Mengenai cerita campus ITB diduduki Militer itu cerita yang sangat tragis memang kita pada waktu itu tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan dalam segala hal sama lah tekana itu pada diri saya pribadi mengabdi jadi PNS dalam politik waktu itu diarahkan harus loyal kepada satu golongan.kita mengerti ini penguasa sudah memaksakan kehendaknya dan mengarah kepada pemerintahan yg otoriter, seperti akibatnya yang prof alami waktu itu.
    Prof semua pengalaman dan kejadian masa lalu mari kita ambil hikmahnya……smoga ..tetap semangat…

  2. Sebuah persahabatan yang patut dikenang Pak….karena Bapak menjalani masa lalu dengan baik…sebaliknya apabila Bapak menjalani juga dengan sebaliknya…

  3. Ua Marhaban says:

    Mungkin karena “cinta”, diwacanakan, diimajinasikan dan dioperasionalkan dalam wahana perasaan, maka akhirnya terminologi cinta menjadi tidak jelas.

    Saya kutipkan dua pernyataan yang ada di episode ke 5 :
    1. Ternyata sebuah persahabatan dapat abadi tanpa cinta.
    2. “mencintai tak selamanya harus memiliki”

    Astaga, menisbikan terminologi ?, melepaskan tautan rasa dan rasio?, melepaskan arti cinta di wahana tidak berdimensi ?

    Saya malah bisa menjadi botak, tanpa harus menjadi profesor. Ya iya juga lah, banyak profesor yang tidak perlu menjadi botak juga kan ?

    Nanti saya tuliskan tentang persahabatan, cinta, memiliki dan segala yang bisa membuat saya botak.

    Tapi, walaupun saya kenal sekali dengan profesor yang satu ini, tapi bila beliau sudah tidak kenal saya, buat apa saya meracau ?

    Masih kenal saya tidak Prof ?. Kalau ya, saya lanjutkan tulisan ini……..

  4. Nugraha Hadiwijaya says:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb…

    Pak Koes, kisah episode ke lima ini sungguh menarik, karena makna sahabat dibahas di sini. Dalam musik pun saya sebenarnya lebih menyukai tema-tema persahabatan, karena di dalamnya ada ruh cinta dalam wujud yang kurang dikenal oleh orang banyak. Ketika dalam hati ada perasaan keterikatan dan penerimaan terhadap sesuatu atau seseorang, di saat itu lah kita merasakan cinta padanya. Cinta memiliki wajah yang berbeda, tergantung obyeknya; apakah dia itu kekasih, isteri, orangtua, saudara, atau sahabat – banyak. Dalam episode ke 5 ini, sahabat adalah obyeknya.
    Ketika persahabatan terjadi di antara perbedaan, terutama dalam hal ini agama, seringkali kita memang terjebak dalam dilema. Dan dilema itu sekilas terasa seperti kurungan yang menahan kita dengan kejam, karena di sisi lain kita ingin bebas berkehendak, di sisi lainnya ada hukum yang harus ditaati. Ketika saya membaca mengenai sahabat pak Koes yang bernama Bernadette itu meminta untuk didoakan di Mekkah sementara ada aturan yang melarang, di saat itu lah penyakit bernama dilema itu menimpa batin kita. Hanya keimanan saja yang menjadi kunci kurungan dilema itu. Saya pernah juga mengalami dilema seperti demikian, ketika dalam kegiatan homestay selama seminggu pada tahun 1999 di Takasaki, Jepang. Selepas sehari setelah kedatangan saya di hostfamily saya di sana, dengan sendirinya mengalir keakraban yang terjadi di antara saya dan anak-anak mereka (entah saya memang suka sekali berperilaku sok kenal sok dekat , atau mungkin karena kesamaan kesukaan pada animasi) .
    Yang tertua, Amada Shinosuke, secara akademis adalah adik kelas saya beda satu tahun meski kami satu usia, dan yang bungsu Amada Shunsuke berumur empat tahun. Yang paling akrab adalah si bungsu, dan karenanya alhamdulillah hostfamily saya, Amada-san suami-istri menjadi lebih menyayangi saya lagi dan menganggap saya sebagai ‘kakak angkat’ Shinosuke, anak tertua mereka. Shinosuke sendiri memang seakan menganggap saya sebagai abangnya, dan Shunsuke lengket terus menerus minta diajarkan menggambar dan digendong. Amada-san suami-isteri memberikan semua makanan favorit yang saya tulis dalam formulir program homestay setiap harinya. Saya sendiri tak menyangka bakal benar-benar diberikan, karena pada awalnya saya menganggap dicantumkannya makanan favorit dalam daftar formulir-biodata itu merupakan basa-basi belaka. Bahkan sushi set yang seharga 15000 yen pun mereka belikan, dan saya semakin terbengong-bengong. Sempat saya merasa tak enak hati, karena telah merepotkan tuan rumah, namun mereka menolak dikatakan telah direpotkan, karena menurut mereka daftar di dalam formulir itu memang diperuntukkan untuk memenuhi kewajiban mereka menjamu tamunya. Dan saya merasa bersyukur juga, karena sushi adalah makanan halal yang lezat namun harganya tak bisa digapai dompet pribadi. Ketika menulisnya dulu dalam daftar makanan favorit, saya menyertakan sushi karena halal dan unik. Saat itu saya tidak tahu bahwa harganya semahal itu dalam bentuk set.
    Dilema pertama yang saya alami adalah ketika minggu malam di hari pertama homestay saya, mereka menyuguhkan pembuka makan malam yang bagi mereka sangat istimewa: Sarada to Nama Hamu (Salad dengan Ham Mentah). Memang secara fisik, makanan itu menggiurkan, namun mengingat ia adalah daging babi, saya pun tidak bisa menerimanya. Dengan susah payah sambil membolak-balik kamus saya berusaha menerangkan pada orang-orang Jepang itu, bahwa sebagai Islam saya tidak bisa memakan babi. Mereka bertanya-tanya lagi mengenai alasannya. Dan saya yang saat itu masih SMP pun dalam kebingungan akhirnya meniru kata-kata guru agama saya, bahwa babi hewan yang mengandung cacing pita, juga organ dalamnya mirip manusia dan karenanya saya tak bisa makan babi. Mereka mengatakan, teknologi modern telah mampu menghilangkan cacing pita dalam daging babi. Saya pun menjadi bingung, dan terus membuka-buka kamus. Akhirnya saya mendapatkan kepribadian saya sendiri ketika ingat kata-kata ayah saya , bahwa ketika seorang Islam dilarang melakukan sesuatu oleh larangan, maka sebagai bukti keimanan maka taatilah larangan itu. Dan itu sangat membantu saya, dan melepaskan saya dari dilema.
    Ketika Senin tiba, saya pun terbentur dilema kedua ketika saya harus menolak makan pagi dan siang. Tentunya dengan sehalus mungkin, karena saya sadar kesalahan saya adalah tidak memberitahukan sejak awal, namun mungkin sebaiknya memang saya menunggu kesempatan untuk memberitahukan itu datang dengan sendirinya karena keterbatasan saya waktu itu untuk menjelaskan dan memulai mengatakan ini-itu tidak memungkinkan, dan saya sendiri takut ada kesalahpahaman. Waktu itu saya berpuasa Senin-Kamis. Dan dengan susah-payah saya menjelaskan lagi sambil membolak-balik kamus, bahwa adakalanya orang Islam melakukan puasa, dan sejak fajar menyingsing di waktu Subuh hingga tenggelamnya matahari ketika Maghrib tak makan, minum, marah, dan menangis – sejauh ingatan saya pada pelajaran agama. Mereka berdecak-decak dan mengatakan; “kami takkan sekuat kamu, tak makan dan minum dan larangan lain itu.” Dan saya pun mengatakan, “menurut guru agama saya puasa menyehatkan badan, malah lebih baik dari program diet mana pun”. Dan mereka pun mengangguk-angguk takzim. Mereka terkejut dengan adanya guru agama di sekolah-sekolah, karena mereka sendiri tak peduli pada agama, dan di sekolah mereka memang tak ada pelajaran agama. Bahkan pelajaran moral sejenis PPKn pun tidak ada. Namun yang membuat saya kagum, meski secara tauhid mereka bukan Islam, mereka telah hidup dengan cara Islam. Lingkungan bersih tanpa sampah, ramah dan saling tegur-sapa serta saling memeberi salam, amanah (pernah telepon genggam saya tertinggal dalam bis kota, dan ketika saya adukan pada costumer service mereka menyuruh saya datang lagi keesokannya dan telepon genggam itu kembali lagi pada tangan saya), juga taat pada aturan. Dan kehidupan rakyat mereka yang makmur perlambang pemerintahannya benar-benar bisa dititipi amanah yang begitu besar dalam mengelola negerinya.
    Mereka cenderung menganggap Shinto sebagai kepercayaan dan budaya saja, tak lebih. Karenanya tak heran jika melihat orang Jepang menikah di gereja sementara ketika mati dibakar jasadnya di kuil. Terutama setelah kejadian Oumu Shin Rikyou (Agama Baru Oom) yang membunuh ratusan penumpang kereta bawah tanah di Tokyo pada sekitar tahun 1995, membuat masyarakat Jepang paranoid pada agama, dan memukul rata bahwa agama kurang baik untuk keharmonisan masyarakat. Namun saya senang mereka menerima saya dengan baik sekali, dan mereka mengatakan tak menyangka bahwa orang Islam tidak seperti yang mereka sangkakan sebelumnya. Dan saat ini saya sadari, bahwa banyak kasus bunuh diri di Jepang dikarenakan spiritualitas yang tak dibina oleh pengetahuan rohani seperti halnya orang Indonesia yang memiliki pelajaran agama di sekolah-sekolahnya.
    Mereka menanyakan gerakan apa yang saya lakukan ketika lima waktu menghampiri itu. Dan saya katakan bahwa itu adalah cara sembahyang orang Islam, selain gerakan ada juga bacaan-bacaan yang dibacakan pada setiap gerakan. Mereka mengikuti, dan mereka mengatakan gerakan-gerakannya cocok sekali untuk relaksasi. Mereka pada awalnya mengira saya tengah melakukan taisho – senam. Shinosuke memeragakan taisho, dan saya ingat gerakan SKJ ketika SD dulu; gerakan yang sama. Mereka juga terkejut, karena saya tidak bersembahyang di kuil. Saya pun menerangkan, sembahyang dalam Islam dapat di mana saja bahkan dalam kendaraan asalkan bersih tempat dan bersih diri. Mereka bertanya lagi, kenapa arahnya sama ketika saya melakukan ‘taisho’ itu. Saya pun menerangkan, umat Islam sembahyang pada arah yang sama sebagai wujud persembahannya dan kebersamaan dalam penyerahan diri itu.
    Dilema ketiga adalah ketika keluarga itu mengajak saya bermain ski pada akhir November 1999 itu. Ketika itu salju masih empuk, dan karenanya sangat baik dan tidak membahayakan bila dipakai ski karena tidak keras seperti pada bulan-bulan akhir musim salju. Namun masalahnya, salju pada awal musim selalu mendapat tambahan dari alam dengan sendirinya sebagai melengkapi kewajiban alamiahnya. Dan jalan menambah jumlah ini melalui dua cara: hujan salju yang damai, dan badai salju yang menegangkan. Kebetulan cara kedua itu yang kami dapati waktu itu, dan suhu udara menjadi rendah serendah-rendahnya, dan orang dipaksa memanaskan tubuhnya dengan cara apapun yang dirasa bisa dilakukan. Ruangan yang berperapian telah penuh, dan saya bersama keluarga Amada-san tak ada cara lain selain mengurung diri di dalam kabin. Namun kabin pun telah menciut suhunya, karpet listrik berpenghangat masih kurang efeknya, heater berukuran kecil pun sama, dan memaksa Amada-san suami-isteri meminum sake agar udara hangat. Shinosuke dan Shunsuke pun meminum sake dalam kadar sesuai untuk anak-anak. Dan saya bingung. Mereka menyodorkan sake yang untuk anak-anak pada saya. Saya bimbang, dan kebetulan saya kelaparan, maka saya memilih untuk memesan Soba panas dengan Teh panas. Memang, masih saja terasa dingin karena panasnya Soba panas dan Teh panas tak sampai menjalari pembuluh-pembuluh darah saya. Namun setidaknya saya bisa mengatakan bahwa saya telah kekenyangan dan telah banyak minum teh, sehingga tak ada lagi tempat untuk sake. Untuk mengurangi dinginnya udara, saya buka koper dan jadilah tubuh saya dilapisi tujuh lapisan sweater. Juga celana dan kaus kaki tak kalah tebalnya, dan alhamdulillah tak jadi diserang hypothermia. Esoknya badai salju kembali memaksa kami untuk kembali mendekam di kabin. Dan akhir-akhirnya kata-kata ayah saya juga yang saya kemukakan sebagai tameng, bahwa menjauhi larangan adalah bukti keimanan. Dan merekapun kembali mengangguk-angguk takzim.
    Dilema keempat, adalah ketika kami mengunjungi kuil Kannon-Sama. kasusnya persis seperti ketika pak Koes diminta untuk mendoakan sahabat pak Koes, Bernadette. Ketika itu Shinosuke, Shunsuke dan Amada-san Suami-Isteri mendoakan saya dengan cara mereka pada dewa mereka. Saya tahu hal itu dari Shunsuke yang bungsu itu. Masa Homestay hampir berlalu dan mereka merasa kehilangan saya sejak sehari sebelum perpisahan resmi di balai Takasaki. Mereka menepuk-nepukkan tangan lalu menekur, kemudian bertepuk tangan lagi lalu membunyikan lonceng, dan melemparkan recehan 5 yen ke dalam peti memanjang yang di bagian sisi atasnya berteralis. Setelah sembahyang itu, kami berjalan dan Amada-san Suami-Isteri juga anak-anak mereka meminta untuk didoakan ketika saya bersembahyang. Saya teringat akan pelajaran agama, dan dilema yang keempat ini saya telan dalam hati, karena tak tega bila menyakiti hati mereka yang telah memperlakukan saya seperti anak sendiri, dan saudara sendiri. Ini adalah dilema tersulit dari tiga hal sebelumnya. Jawaban saya hanya dengan angguk dan senyum. Saya bingung apa yang harusnya saya doakan untuk mereka. Dan beberapa tahun kemudian, ketika saya terkenang kembali pada orang-orang Jepang yang telah memperlakukan saya bak keluarga sendiri itu, saya mengabulkan permintaan mereka untuk didoakan. Ya,,,saya memang berdoa untuk mereka. Namun doa ini berbeda, bukan meminta kesejahteraan dan keselamatan. Doa saya adalah memohon pada-Nya semoga orang-orang baik yang bukan Islam itu diberikan hidayah, dan dibukakan pengetahuan mereka tentang Islam. Bukankah itu juga doa untuk orang yang masih kafir? Apakah itu salah, pak Koes? Apakah saya salah berdoa agar mereka dipeluk oleh Islam dan diterangi jalannya menuju Islam? Maaf, saya bertanya sungguh-sungguh bertanya dan bukan menguji karena saya tak memiliki kapasitas pengetahuan hingga ke sana. Saya sungguh-sungguh mencintai mereka sebagai sahabat dan juga sebagai saudara sesama manusia, sesama sebagai ciptaanNya, sehingga saya selalu mendoakan cahayaNya menerangi jalan menuju Islam.
    Telah banyak di Tokyo orang Jepang yang masuk Islam dikarenakan hal-hal ilahiah yang tak bisa dicerna dengan logika, semisal mendengar adzan, atau jatuh hati pada agama Allah Swt ini setelah mendengarkan lantunan pembaca Al-Qur’an, atau juga setelah mempelajari Islam dikarenakan ketertarikan mereka yang ditimbulkan dari tuduhan-tuduhan negatif barat pada Islam. Mungkin itu juga ada dari do’a orang-orang tertentu yang menginginkan dengan tulus agar cahayaNya menerangi pada jalan menuju Islam….
    Saya sendiri kehilangan kontak dengan keluarga Amada, dan hubungan setelah homestay itu hanya terjalin selama dua tahun, dikarenakan saat itu belum ada fasilitas yang membudahkan semacam Facebook, jadi cukup menyulitkan.
    Saat ini di kampus saya memiliki 13 orang sahabat, dan seorang diantara sahabat saya itu adalah seorang protestan, dan ketika saya membaca buku yang menganalisa kejanggalan-kejanggalan kristen (nasrani) pra-nabi Isa, dia ikut membacanya, bahkan meminjamnya dan entah apa dalam pikirannya, ia tak menunjukkan sikap negatif. Bahkan ketika waktu sholat datang dia selalu mengingatkan kami yang Islam. Memang sangat indah ketika perbedaan itu bisa dijembatani oleh kesalingmenerimaan, dan pengertian, juga kejernihan dalam memandang hal-hal sensitif. Kisah pak Koes dalam episode ke lima ini mudah-mudahan bisa menginspirasikan banyak orang untuk bisa menjadi jernih dalam memandang dunia, dan bahwa di dunia ini Dia menciptakan kita berbeda-beda agar kita saling mengenal karena jika kita semua sama, maka tak ada ketertarikan untuk saling mengenal. Dan, agar selalu berpegang secara bijaksana pada aturan agama karena apapun alasannya tidak ada kompromi untuk melanggar ketentuan yang telah ditetapkanNya, dengan catatan penyampaian pada penolakan haruslah bijaksana dan dapat diterima oleh orang lain sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
    Maaf pak Koes, komentar saya panjang lebar dan malah kebanyakan bernostalgia sendiri, namun poin terakhir ketika dalam tulisan pak Koes tentang Bernadette yang meminta didoakan itu lah yang menjadi titik berat komentar saya, karena saya pribadi pernah mengalaminya sebagai dilema terberat pada usia saya yang saat itu masih SMP.
    Pak Koes, kalau boleh, saya ingin tahu kehidupan mahasiswa pada masa militer orde baru sewaktu bapak kuliah dulu. Mungkin menarik apabila dibuat episode 6 mengenai kehidupan mahasiswa pada masa itu? Hehe..

    Wassalamualaikun Wr.Wb

  5. Nugraha Hadiwijaya says:

    NB: Maaf ada kesalahan menulis: pra-nabi Isa…seharusnya pasca-nabi Isa a.s

  6. Taufik Amir Denata says:

    Prof,, episode ke 5 ini benar2 menarik,,hati2 buat para novelis yg lain,,ini merupakan suatu ancaman dalam persaingan. kenapa saya bilang menarik? karena kita benar2 dibawa ke alam si penulis,,mungkin jika episode 1-4 dpt disajikan sama dengan episode 5 sangat luar biasa,,hanya saja kekuatan dalam tulisan di episode 1-4 adalah pesan moral dan agama yang terkandung didalammnya sangat banyak, namun kekurangannya pembaca tidak diajak untuk mencoba menjadi sipenulis (berbeda di episode 5, dmn pembaca seolah2 adalah tokoh central didalam tulisan tersebut). Sedangkan didalam episode ke 5 ini banyak pengalaman penulis yg bisa diambil seperti kata pepatah “tuntutlah ilmu walau sampai negeri china” artinya si penulis jauh2 menuntut ilmu ke negeri belanda hanya untuk kuliah,,ini adalah suatu pengalaman yg luar biasa. kekurangan di episode 5 adalah pada bagian terakhir “Akhir cerita; saya pulang ke Indonesia dan bertemulah dengan anak dan istri tercinta…” sebaiknya dihilangkan karena terkesan penulis sedang terburu2 ingin menamatkan tulisan ini dan endingnya sangat turun tajam dibanding dengan cerita yang luar biasa tersebut. tapi jujur,,tulisan ini patut untuk dibukukan karena ini sangat menarik selain bercerita tentang pengalaman pribadi ternyata pesan moral dan agama pun banyak terkandung didalamnnya. semoga sukses selalu yah.. wass

  7. Carolina Zein Akil says:

    Ass. Pak Koes,

    Wow, saya sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata, pengalaman hidup Bapak luar biasa, bisa menuntut ilmu di luar negeri dengan segala suka dukanya, bisa bertemu dengan orang dari berbagai macam latar kebudayaan, agama, suku bangsa yang berbeda, itu semua karunia Allah dan patut disyukuri, karena tidak semua orang bisa begitu.

    Dari cerita di atas, saya menarik kesimpulan, apapun perbedaan manusia, tidak boleh menghalangi kita untuk menjalin persahabatan, perbedaan itu malah memperkaya diri kita akan kebesaran Allah SWT, saya lupa ayatnya, tapi kurang lebih dikatakan: Aku ciptakan engkau dari berbagai suku bangsa agar saling mengenal.

    Isabelle, setahu saya itu nama ratu Spanyol yang membiayai perjalanan Christoper Columbus untuk menemukan benua baru Amerika. Sepertinya cerita versi ke 2 yang benar, tapi itu sejarah.

    Saya tunggu lagi cerita2 lainnya, sukses buat Bapak sekeluarga.

    Wass.

  8. koesmawan says:

    TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA. INSYA ALLAH, SAYA SEDANG MENYUSUN EPISODE KE ENAM, INI MAH BERKAITAN DENGAN TENTARA.TUNGGU YA

  9. Sutedy says:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb…
    Di UNSURYA, prof memperkenalkan WEB ini jadi saya coba hari ini. Romantis juga Professor kita nih.
    Ketemu lagi prof di kampus!

  10. maukayasehat says:

    Panjang juga nech perjalanannya Prof..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: