KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA

Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA

EPISODE KEEMPAT

Ini sebenarnya kisah cinta dari teman-teman gadis saya yang umurnya masih muda. Mereka hidup bersama saya apakah sebagai sahabat, kolega atau sebagai anak didik tak langsung. Mengapa dibilang begitu, memang ada istilah anak didik langsung dan tak langsung. Anak didik langsung dialah mereka yang pernah jadi murid saya di sekolah resmi, sedangkan anak didik tak langsung adakah mereka yang menjadi pendengar ceramah-ceramah saya pada berbagai kesempatan. Mereka mengatakan saya adalah guru mereka.

Ada tiga gadis yang nasibnya sama, saya samarkan namanya; Septia Dela Rosa, Ratna Setiawati dan Lisa Pujiningsih. Diantara ketiga itu yang paling cantik, pertama adalah Septia, dia bernilai 8,5 kata teman-teman, dan kini berprofesi sebagai selebritis berpendidikan S-2 ada kalanya saya lihat dia di TV, saat itu ia berstatus kolega di sebuah PTS Bandung. Kedua adalah Ratna. Mahasiswi di Delft University of Technology Belanda, nilai daya tariknya kira-kira 8,0 saja, tetapi termasuk anak yang maju kuliahnya dengan angka diatas IP rata-rata. Terahir Lisa, seorang dosen di sebuah PTS terkenal di Jakarta, gadis jawa yang hitam manis, senyumnya menawan, hingga nilainya bisa mencapai 7,5. Banyak rekan-rekan dosen menyenanginya, bahkan ada yang bercanda: “ Waduh, terlambat kita bertemu ya Lis”. Kadang ada aja yang nakal “ Ok Lis, kutunggu jandamu kapan saja”. Ah dasar lelaki, ada-ada saja candanya. Lupa, kata-kata seperti itu, bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Begitulah lelaki, candanya kelewat batas. Ada kalanya, ketika dalam seminar ketemu peserta cantik, maka ia berkata: ”Kalau lihat anak orang, saya suka ingat anak sendiri, ee pas lihat istri orang, lupa deh istri sendiri”. Naudzubillah mindzalik. Begitulah bila para dosen becanda di kampus.

Entah bagaimana, ketiga teman gadis saya yang semua beragama Islam itu, sama-sama nasibya, mempunyai kekasih bahkan calon suami (tunangan) yang berbeda agama. Septia mempunyai pacar bernama Bernadus yang Katholik, Ratna berpacar Darius yang juga Katholik dan Lisa mempunya pacar bernama Harry yang Kristen Protestan. Bagaimanakah nasib mereka selanjutnya, inilah kisahku bersama mereka. Tentu saja, nama-nama pacarnya juga adalah nama samaran. Kalau ada yang sama, ya itu hanya kebetulan saja.

Memang, ketika cinta itu buta, atau “Love is blind” kata orang Inggris,maka, dijawab oleh orang-orang Sunda “maaf: Tai Kotok pun terasa Coklat” artinya; maaf ; kotoran ayam pun terasa coklat. Cinta tak memandang siapa dia, agama apa dia, dan keturunan apa dia. Kata orang Sunda lagi “ Jodoh teh Jorok”. Artinya, ketika anda jatuh cinta bisa dengan siapa saja, seorang yang baik-baik mencintai pelacur, bukan hal yang mustahil. Itulah cinta, dia benar-benar buta. Tak memandang sesuatu pun di dunia. Bahkan ada pepatah bahasa Arab yang saya terima dari sahabat saya Bung Yourdan di STIE Ahmad Dahlan Jakarta, kata Bung Yourdan, ada pepatah Arab: “Man tahabba syaian; Fahuwa Abdun” Bila seseorang mencintai sesuatu dengan sepenuh hati, maka ia akan menjadi hamba dari cinta itu”

Padahal, kalaulah manusia sadar, di Jawa ada pepatah. Dalam memilih jodoh lihat: bobot, bibit dan bebet. Artinya: Bobot; mutu, kecantikan, kekayaan, perilaku. Bibit: Asal keturunan dan Bebet: bisa memberikan keturunan alias tidak mandul. Maka ketika rumus “Love is blind “ diberlakukan, gugur sudah teori bobot-bibit dan bebet itu. Kalau dalam ajaran agama Islam , untuk memilih jodoh itu ada empat: (1) kecantikannya, (2) kekayaannya, (3) keturunannya, dan (4) Agamanya (Islam). Bila kita tak memperoleh nomor 1, 2, dan 3. Maka no 4, kesamaan agama (Islam) mengalahkan segalanya. Jadi kalau kita memperoleh jodoh cantik, sebutlah nilai 1, kaya Nilai 1, keturunan baik nilai 1, namun agama beda alias = 0. Maka nilai totalnya menjadi 0. Sebaliknya kalau agama sudah sama berarti 1, yang lain 0, 0 dan 0, maka jumlahnya menjadi 1.0.0.0 alias seribu. Artinya faktor agama inilah yang sangat menentukan, oleh sebab itu bila agama menjadi pegangan harus dibalik, masalah agama menjadi nomor satu, setelah itu baru kecantikan, keturunan dan kekayaan.

Tentu saja, makna agama di sini dalam arti yang seluas-luasnya: dia itu shalat, rajin puasa sunat senen –kemis, rajin tahajjud, amanah, berahlaq baik dan lain sebagainya.

Memang umumnya, pernikahan yang berbeda agama, banyak yang putus di tengah jalan, atau setelah sekian tahun hidup bersama, maka salah satu mengalah sehingga agamanya menjadi sama. Memang, ada saja satu atau dua, yang bisa abadi mempertahankan perbedaan hingga akhir hayat dikandung badan. Dalam kalangan kaum muslimin, masih banyak yang cukup tenang dan tentram apabila, lelakinya muslim dan wanitanya non-muslim. Dan agak berat masalahnya ketika laki-lakinya non muslim, sementara wanitanya muslim, apalagi dari kalangan muslimah yang taat. Dalam kasus ketiga gadis yang akan saya ceritakan itu. Septia, walau tidak berjilbab dan Ratna yang berjilbab adalah gadis-gadis sangat taat. Benar- benar sangat. Saya sering bertemu di mushala atau di masjid. Sementara Lisa, kurang taat, bahkan awam sekali pemahaman tentang Islamnya, dosen-dosen menyebut Lisa sebagai “dosen abangan” ketika itu. Lisa memang berprinsip: Agama sami kemawon, agama itu, ya sama saja. Tentu saja, pendapat ini salah. Sebab bagi pemeluknya, agama yang benar adalah yang dipeluknya. Jadi, saya Muhammad Koesmawan sebagai seorang muslim wajarlah kalau berkeyakinan bahwa “Agama Islamlah yang benar”.

Saya dan Kang Qodir, sahabat Septia juga sering menasehati Septia. Bahkan Kang Qodir tegas sekali; segera putuskan pacarmu itu dan ganti dengan yang muslim. Sebab kalau terus kawin, kamu akan disebut berzina selama-lamanya. Sering saya melihat, Septia menangis bila di depan Kang Qodir yang memang kadang disebut “ekstrim” oleh rekan-rekan sejawatnya. Saya sependapat dengan Kang Qodir, walaupun saya tak mau berkata keras seperti itu: “haram”, “Zina” dan sebagainya. Saya lebih sering mendengar apa yang ingin Septia katakan tentang pacarnya. Septia sering memuji-muji pacarnya. Memang, kata Septia, Benardus itu bukan muslim, tetapi perilakunya benar-benar tak jauh berbeda seakan mencerminkan sikap muslim yang benar. Dari ketaatannya, kesetiannya, kasih sayangnya dan dia tak hanya kepada Septia, tetapi juga kepada seluruh keluarga Septia. Hingga sulit baginya untuk putus dengan Bernadus seperti yang diharapkan Kang Qodir. Saya sering berkata kepada Septia. “Neng, Pantha Rei, biarlah hidup ini seperti air mengalir”. Jangan terlalu dibendung. Biarkan ia berlangsung apa adanya. Hadapilah dengan kesabaran. “Tetapi mengapa kamu belum kawin Neng?”. Kata saya. Septia menjawab, “Biarlah Kang Koesmawan, akan saya tunggu setahun lagi”. Semoga dia bisa ikut agama saya. Begitulah Septia optimis, bahwa kecintaan Bernadus kepada Septia,mungkin akan bisa mengubah agamanya menjadi Islam.

Saya katakan kepada Septia. ”Neng, sebenarnya nasehat Kang Koesmawan sama dengang Kang Qodir, Bedanya gini aja Neng Septi; ingatlah Neng, mencintai itu, tidak selamanya harus memiliki, Kalau seseorang itu memiliki cinta sejati, ia akan berharap kekasihnya bahagia selama-lamanya, walau tidak hidup bersamanya”.

Memang, ini kenyataan, terlepas agamanya yang Katholik. Pribadi Bernadus itu menyenangkan, saya pun sering memujinya di depan Septia. Orangnya cukup ganteng, simpatik, rendah hati, hormat kepada orang lain. Pokoknya selangit. Saya dan Septia sering berpendapat, kalaulah Si Bernadus itu baca sahadat aja, jadilah dia muttaqien.

Kisah ini berakhir, tatkala pada suatu ketika, Septia tergopoh-gopoh, memanggil saya dan Kang Qodir. Saking seriusnya, saya geli kalau ingat. Septia menarik tanganku di sebuah kantin di Bandung supaya mau berkumpul enam mata antara Koesmawan, Septia dan Kang Qadir. Inilah kata-kata Septia, dan kalau saya bertemu dia, saya ingatkan ini, dia akan tersenyum.

“Begini Kang Koesmawan, Kang Qadir, sahabatku yang baik. Alhamdulillah; saya seminggu yang lalu telah resmi putus dengan baik-baik dengan pacar saya Bernadus”

”Alhamdulilah, ya Allah terima kasih atas kabar ini Neng”. Saya lupa-lupa ingat, begitu ekpressifnya perasaan saat itu, kami berdua (saya dan Kang Qadir) langsung sujud syukur dan berdoa. Semoga Septia segera dipilihkan oleh Allah Swt. Jodoh yang segalanya melebihi Bernadus. Dan akhirnya, saya dengar kabar ia memilki calon suami muslim, S-2 akuntansi dan hidupnya lumayan, pribadinya baik. Kini dilihat dari penampilannya di TV, Septia tampaknya hidup bahagia, wajahnya tetap cantik. Bahkan, tidak saya sangka, wajah Septia ada juga di “Facebook”. Ah biarkanlah tak saya temui, semoga kalau dia baca kisah ini, dia akan mesem-mesem. Hanya satu yang ingin saya ketahui dari Septia Dela Rosa itu; Bagaimana proses yang dia lakukan hingga bisa putus dengan Bernadus yang dia sayanginya itu. Maksud saya, bagaimana serunya pergumulan dalam batin Septia antara Ya atau Tidak untuk putus, dengan kekasih yang sudah 5 tahun dipacarinya itu.

Bagaimana dengan kisah Ratna di Delft negeri Belanda itu. Ibarat pepatah dalam bahasa Perancis : “L’ historia Cest Repete” (Sejarah itu akan berulang). Ya, seperti terjadi pengulangan sejarah; tak banyak yang bisa saya ceritakan. Hanya kesan saya adalah ketika saya tanya. “Mengapa Ratna kok kamu menjadi serius sekali dengan Darius yang Katholik itu, sementara kamu berjilbab dan pengurus masjid di Delft lagi. Bukankah kamu dulu berpacaran dengan mahasiswa muslim?”, Demikian kata saya kepada Ratna.

“Itulah Kang Koesmawan”, kata Ratna. “Siapa yang tak ingin punya calon suami yang muslim. Tapi itulah kenyataan Kang, setiap saya membangun cinta dan kasih sayang yang serius dengan seorang muslim, ternyata menjengkelkan dan banyak makan hati”. Kemudian Ratna melanjutkan, ”Kadang, pria muslim pacar saya itu sok mengatur. Kadang kurang setia. Berjanji tak ditepati, sering bohong dan sewaktu jadi bendahara tidak amanah”.

Wah itu ciri orang munafik dong Ratna”, Kata saya. ”Jadi kamu memutuskan dia yang muslim itu?. “Benar Kang, dan ternyata ketika saya mengenal Darius lalu saya hubungan baik dengan dia, ternyata apa yang tak ada pada pria muslim, itu telah ada pada Darius. Hanya saja Darius bukan seorang muslim Kang” Demikian Ratna mengahiri ceritanya pada saya, dengan sedikit linangan air mata. Saya terharu juga mendengar keluhannya itu.

Memang, penampilan dan sikap serta watak Darius-nya Ratna ini tak jauh berbeda dengan Bernadus-nya Septia. Anaknya ganteng, sopan-santun, setia kepada pacar, rendah hati dan lain-lain. Saya tak bisa berkata apa-apa di depan Ratna. Saya tahu Ratna paham betul soal agama dan apalagi hubungannya dengan masalah kawin beda agama. Jadi apa yang harus kukatakan kepada Ratna itu? What should I say to her?

Saya berkata kepada Ratna, “Cest La Vie “ (Bahasa Perancis, dibacanya SELAFI), artinya “Itulah hidup Ratna..”. Saya ingat kata-kata Kiekegard, filsuf ekstensialis Jerman, dia bilang “Hidup itu susah diatur” . Kita maunya begini, hidup malah begitu. “Jadi kita harus menjalaninya wahai adikku Ratna dengan optimisme”. Masalah hubungan dengan Darius ini, semogalah berakhir dengan baik. Saya ceritakan soal Septi di Bandung kepada Ratna. Dia berharap akan berahir seperti Septi.

Sebenarnya, saat itu saya ingin bertemu anak-anak mahasiswa muslim Delft. Ingin saya maki-maki mereka, kenapa kalian tak dapat memperlihatkan akhlak Rasullullah dengan baik. Coba kalaulah semua mahasiswa muslim di Delft ini baik akhlaknya, tak mungkin Ratna jatuh ke tangan Darius.”Kok ada saja pemuda muslim yang tega-teganya menyakiti wanita muslimah secantik Ranta ini”. Sayang memarahi mahasiswa Delft itu tak kesampaian, kami hanya bertemu sebentar saja di Belanda, lalu berpisah dengan mereka.

Sejak saat itu, saya tak pernah ketemu lagi dengan Ratna dan juga mahasiswa muslim di kota Delft, sebab saya lulus Doktor di kota lain, yaitu Enschede pada tahun 1996, dan tak ada lagi kontak dengan mahasiswa muslim Delft. Jadi hingga tulisan ini di-entri ke rumah digital saya, saya tidak tahu lagi kabar dari Ratna. Harapan saya, mudah-mudahan jika Ratna bertemu, dia bernasib seperti Septia. Yakni bertemu jodoh pria muslim yang tinggi nilai ketakwaannya dan hidupnya sukses. Amiin. Siapa tahu, ada mantan mahasiswa Delft Nederland yang membaca kisah ini dan memberi kabar tentang nasib Ratna selanjutnya. Saya tunggu di “facebook”-nya Muhammad Koesmawan.

Adapun ceritaku tentang Lisa, hampir mirip dengan Septi dan Ratna, hanya ujungnya, jelas , yaitu: tidak “happy ending”. Bahkan menyedihkan.

Lisa ini aneh. Saya tahu bahwa sebelum kenal dengan saya, Lisa sudah punya tunangan bernama Mas Djoko. Lisa sering cerita bagaimana dia akan menghabiskan hari-hari dalam penantian untuk menikah dengan Mas Djoko. Namun apa yang terjadi, sejak saya berpisah tak ketemu Lisa, saya dapat undangan dari Lisa, bahwa ia akan kawin, tapi aneh bin ajaib. Ia tidak menikah dengan Mas Djoko, malah dengan Bung Harry yang beragama Kristen Protestan itu. Saya sudah kenal baik juga dengan Bung Herry, ia anak pendeta Kristen, berarti Herry sangat kuat kekristenannya.

Alkisah, pada suatu kesempatan, saya berdekatan dengan Lisa, kebetulan akan mengajar bareng di sebuah PTS di Jakarta.Nah, di saat kami berdekatan, maka saya tanyakan. “Lisa mengapa jadi begini, bukankah kamu tahu bahwa; menikah berlainan agama itu dilarang menurut agama Islam?” . Ketika saya bertanya ini, untunglah saat itu nikah beda agama dibenarkan secara hukum di catatan sipil. Jadi Lisa dan Herry menikah lancar saja di Indonesia. Padahal kalau sekarang, tidak boleh lagi menikah beda agama. Maka ramai-ramailah menikah di luar negeri. Dan dipilih yang dekat yaitu: Singapura atau Australia.

Memang, menurut Lisa, ini gara-gara Mas Djoko yang notabene-nya tunangan Lisa tidak memberikan perhatian yang semestinya. Hingga, “feeling” Lisa menjadi ragu, apakah benar Mas Djoko mencintainya? Atau seperti akan mencampakkannya?. Nah ketika Lisa tak punya kepastian ini, tiba-tiba datanglah Herry masuk ke dalam kehidupannya. Memang sebelumnya; dulu katanya, Lisa itu sangat dekat dengan Herry, namun entah apa tiba-tiba mereka terpisahkan. Maka ketika mereka bertemu lagi muncullah apa yang disebut: CLBK (cinta lama bersemi kembali).

Dan ketika Mas Djoko dan Lisa terpisah karena tugas, Herry masuk ke kehidupan Lisa dan memberi kepastian, hingga Lisa jatuh ketangannya, padahal mereka berbeda agama. Jadi Lisa mengajarkan kepada kaum pria, bahwa kalau kita meyakini cinta kita akan berlangsung panjang, maka berilah kaum wanita itu kepastian. Sebab, bila cinta tanpa kepastian, maka ia akan gugur, cepat atau perlahan-lahan. Lisa, mengajarkan betapa cintanya kepada mas Djoko bisa gugur dalam hitungan bulan, disebabkan tanpa adanya kepastian. Di sini saya bisa berkata “Love is a certaint”. Cinta adalah kepastian.

Kabar terakhir tentang Lisa, tak enak didengar telinga, katanya, karena merasa hidup dengan berbeda agama di satu rumah tidak baik, akhirnya Lisa mengalah mengikuti agama suaminya. Wallahu A’lam, saya tak pernah bertemu dengan Lisa lagi, hanya ku ingat kata-kata terakhir waktu bertemu, “Koesmawan, kita berdua ini selalu akur ya?”. Tak tahulah saya, kemana arah perkataan Lisa itu.

Kini umur saya sudah hampir 60 tahun. Saya berpikir dan ingat nasihat Mayjend (Purn.) Hari Suprapto di Lemhannas. Kata beliau, ”Hati-hati Prof. Koes, Allah Swt. itu PENCEMBURU, DIA TAK MAU CINTA KITA DIBAGI DUA apalagi dibagi banyak. Maka kita akan termasuk musyrik yang dosanya tak akan terampuni”. Dengan begitu Pak Jenderal berharap agar cinta kita itu “Satu dan Hanya Satu Saja”, yakni Cinta Sejati kepada Allah SWT.

Kalau begitu, bagaimana kita bisa mencintai kekasih, istri, anak, adik, kakak? Jawabannya: Silahkan saja, asal niat kita dan tujuan kita dalam rangka “Cinta kepada Allah Swt. itu tadi”. Jangan sampai kecintaan kepada anak-istri, kekayaan, saudara dan sahabat mengalahkan kecintaan kita kepada Allah Swt. Tuhan yang Maha Kuasa.

Hidup memang penuh ketidakpastian, seseorang tak akan tahu apa yang akan terjadi padanya hari esok dan mereka tak akan tahu pula di bumi mana mereka akan mati (Al Quran). Manusia berencana, Allah Swt berencana. Maka sebaik-baiknya rencana adalah Rencana Allah Swt. (Al Quran).

Jadi hidup bukan tak bisa diatur kata Kieskegard, tetapi hidup harus kita rencanalkan dengan baik. Semoga kisah cinta tiga teman gadisku itu bermanfaat bagi yang membacanya.

7 Responses to KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA

  1. Taufik Amir Denata says:

    bener om memang rencana yg baik adlh rencana Allah SWT (sy sering merasakan itu),,hanya saja memang manusia yg tidak sabar ingin segala serba instan dlm mencapai hasil, sehingga paranormal semakin menjamur. Nah, bgmn yah agar kita bisa menjadi bertambah sabar, padahal usaha sudah, berdoa tiap detik, beribadah selalu, tapi justru kita penasaran dg apa yg akan terjadi kedepannya dg diri kita,,apa yg hrs kita perbuat dan bgmn kita bisa menjadi org yg sabar dan tawakkal..Terkadang kesabaran manusia ada batasnya, padahal seharusnya kesabaran tdk blh ada batasnya seperti yg diajarkan Nabi SAW,,tapi kembali kt pepatah kita bukan Nabi??bagaimana yah om??

  2. sukmayadi says:

    Ass wr wb. saya tertarik dengan kisah cinta yang disajikan pak Koes.ini benar benar fenomena yang sangat menarik akhir2 ini.kisah cinta sepasang manusia yang berbeda agama.kisah ini sudah sering terjadi di kalangan artis indonesia contohnya al.artis cantik Nurul Arifin yang sampai saat ini menyatakan kehidupan perkawinannya baik2 saja walaupun berbeda keyakinannya,demikian juga artis jamal mirdad yg berdarah arab dengan neng Lidia Kandau juga menyatakan hidup mereka bahagia,sampai samapai kedua putrinya memilih agama ibunya.subhanallah…bagaimana itu teh ..saya sampai agak terperangah.saya sampai saat ini berpendirian bahwa kawin beda agama tidak sah seauai dengan akidah Islam.kisah 2 ini perlu dicermati karena model perkawinan ini sudah mulai merebak dikalangan generasi muda muslim,baik yang memahami agamanya maupun yang masih abangan.bisa jadi awal mula pertemanan berlanjut menjadi saling jatuh cinta .kalau tidak waspada bisa jadi repot terutama buat wanita muslimah karena dalam posisi yg sangat lemah.seperti kisah cinta yang prof sajikan amat disayangkan kepada mereka pemahaman cinta dalam islam sangat minim.jadi generasi muda muslim sejak dini harus dibekali pengertian bahwa nikah beda agama itu tidak sah dan terlarang dalam islam.bisa bisa wanita muslim klhususnya yang berjilbab bisa masuk perangkap para pemuda nasrani,konon ada gerakan para pemuda nasrani dalam upaya kristenisasi,menggunakan cara mengawini wanita muslimah dengan segala macam cara,dengan bertingkah laku yang santun sehingga sangat menarik penuh simpatik, ada yang pamer kekayaan kemapanan dan yang paling tragis dan paling konyol mereka berpura pura masuk Islam dan mengucapkan Syahadat pada saat akad nikah.tetapi setelah itu lebih lebih setelah mempunyai anak keturunan mereka akan berpaling dan kembali ke agama mereka semula.persis ini semacam penipuan dan kasus seperti ini sudaqh banyak terjadi.dalam posisi seperti ini wanita muslimah serba salah,kalau minta cerai bagaimana nasib anak2nya.akhirnya banyak kasus wanita yang lemah melanjutkan perkawinannya dan dengan sangat terpaksa mengikuti keyakinan sang suami…ini sangat TRAGIS Prof. kejadian seperti ini ada disekeliling kita.mohon prof….disosialisasikan sebelum banyak korban lebih banyak,,,,,,,tolong Prof ya saya percaya anda.

  3. Nugraha Hadiwijaya says:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb…
    Pak Koesmawan, insyaAllah tulisan ini memuat komentar untuk tulisan bapak, namun harap dimaklum karena yang menulis hanyalah seorang Nugraha Hadiwijaya alias Nyoman (nama FaceBook) yang belum lagi lulus S1-nya ini, akan banyak ditemui kekurangan yang saya harap juga mendapatkan komentar balik sebagai feedback untuk lebih lagi memperkaya khazanah pengetahuan saya pribadi sebagai orang awam ketika kekurangan itu ditemukan dalam kalimat-kalimat berikut nanti.
    Saya pernah juga mengenyam pendidikan selama (hanya) satu tahun di institusi pendidikan swasta yang cukup dikenal di daerah Ciumbuleuit, Bandung, pada jurusan hubungan internasional, dan fenomena yang digambarkan oleh bapak melalui ketiga tokoh dalam episode ke empat itu memang benar adanya, dan banyak terjadi ketika saya belajar di sana. Bagi saya pribadi, fenomena itu merupakan pembelajaran baru, bahwa ternyata manusia memang memiliki kehendaknya pribadi yang dinamai nafs, meski agama adalah penunjuk jalan yang mewajibkan manusia untuk mengatur nafs ini. Sejatinya agama lah yang mengatur nafs, bukan nafs yang bisa bebas mengulik agama.
    Pertama-tama saya juga terkaget-kaget melihat gadis-gadis berjilbab bisa begitu bebasnya merangkulkan jemari pada jemari lawan jenisnya, dan dengan mengayunnya bagian ujung tangan itu dalam saling berdekapan demikian, tentu tak salah jika saya menyimpulkan sebuah interpretasi tak terbantahkan dalam benak saya, bahwa memang terjadi pergolakan merah jambu dalam hati kedua pemilik jemari itu. Mereka berseri-seri, terlihat riang dan memamerkan gigi tanda kebahagiaan melingkupi udara sekeliling mereka. Yang seorang begitu cantik dengan jilbab membingkai wajah, dan pipinya merah jambu mengapit hidung mancung, juga matanya besar berbinar yang menyebabkan saya menuduh ia memiliki darah arab mengalir pada dirinya, dan senyum merekah mantap seakan mengatakan: “pria yang menggandengku ini adalah masa depanku, cintaku!”. Yang seorang lagi lelaki bertubuh tinggi, modis, dengan potongan rambut terbaru saat itu, raut wajah santai dengan mata menyipit karena dipengaruhi rasa senang, pipi mengembung berisi tanda makmur hidup dan terpenuhi gizinya, bahu lebar dan dada bidang menjadi sandaran aksesoris sebentuk kalung dengan liontin berwarna hitam yang melambangkan cahaya langit yang saling bersilangan; simbol kepercayaan pagan dari Mesir zaman penyembahan Ra si dewa matahari yang kita kenal sebagai lambang salib; menggantung mencolok tanpa ada sosok yang mereka sebut Yesus di sana – dari hal itu saya dapat mengetahui ia adalah protestan – dan ia juga merekahkan senyum sebagaimana bidadari yang digandengnya, namun dengan arti yang sungguh sulit saya terjemahkan; yakni antara kebanggaan atas penaklukan atas sesuatu yang hanya ada pada benaknya dan kebanggaan tersendiri pada keberhasilannya melemahkan hati gadis yang telah bisa digandengnya itu, terlepas ia benar-benar gadis pujaannya atau bukan.
    Sebelum melangkah lagi, saya bermaksud mengurai dahulu apa yang umumnya menjadi penyebab fenomena ini terjadi, menurut pengamatan pada teman-teman saya yang juga mengalami hal serupa tiga gadis dalam kisah bapak. Fenomena terdobraknya hukum agama oleh kelemahan hati manusia memang selalu bermuara dari nafs. Manusia dilahirkan dengan segala kelemahan. Orang tua mereka yang melahirkan. Yang melahirkan ini kelak akan diinterogasi di persidanganNya kelak atas tingkah laku yang dilahirkan. Dan yang melahirkan pun dulu pernah dilahirkan, yang memiliki arti juga mereka memiliki kelemahan seperti yang mereka lahirkan. Dan nafs, adalah juga bagian kelemahan manusia, malah bisa dikatakan muara kelemahan manusia. Artinya, yang dilahirkan dan yang melahirkan pun memiliki kelemahan yang sama: nafs.
    Dalam kisah selanjutnya, yang dilahirkan akan cenderung mengikuti hasrat mudanya dan lebih dikendalikan darah muda yang menyebabkan mereka gegabah dalam menentukan pilihan dan sikap dibanding yang melahirkan karena faktor pengalaman. Dan yang dilahirkan ini, dalam kehidupan remajanya selalu berusaha mengetahui apa yang mereka tak ketahui. Yang melahirkan telah mengetahui apa yang tak diketahui oleh yang dilahirkan, dan karenanya adalah suatu kewajiban bagi yang melahirkan untuk memberitahu pada yang dilahirkan tentang apa yang tak mereka ketahui, baik itu hal baik atau pun buruk. Namun sayang, dalam kenyataan justru mereka yang dilahirkan terkadang diikuti saja apapun kehendaknya oleh yang melahirkan ini. Ada pun jika dianggap melanggar hukum agama, yang melahirkan selalu berdalih bahwa yang dilahirkan ini belum tahu apa-apa, dan karenanya biarlah mereka tahu sendiri. Hukum dilanggar oleh mereka yang melahirkan demi rasa “sayangnya” pada yang dilahirkan. Hal ini bisa dinamai kompromi. Padahal dalam masalah hukum, apapun jenis hukum itu, kompromi terhadap hal yang bertentangan dengannya akan menyebabkan keruntuhan perlahan. Tak heran di akhir zaman orang banyak yang kehilangan pegangan disebabkan karena hukum yang seharusnya menjadi pegangan itu sendiri telah remuk dan tak bisa lagi menjadi tiang penyangga utama hidup manusia, dan akhirnya mengalami keruntuhan dirinya sendiri. Manusia pun ikut runtuh.
    Termasuk dalam kisah bapak mengenai ketiga orang gadis itu, hal yang menyebabkan mereka memutuskan untuk melakukan pendobrakan terhadap hukum yang mengatur hubungan antara islam dan non islam itu, pada awalnya diawali oleh kompromi itu tadi. Tak sedikit sikap berkompromi mendobrak hukum – yang disadari atau tidak – diawali oleh sikap lunak para orangtua yang terkadang seakan membiarkan atau malah mendukung apapun keinginan anaknya termasuk untuk berkasih-kasihanan dengan orang diluar agamanya, atau bercengkerama secara bebas dengan lawan jenisnya yang bukan muhrim. Maaf, saya bukan bermaksud mendiktekan permasalahan agama karena pada saya pribadi tak ada pengetahuan tinggi mengenai agama, namun seingat saya, guru-guru agama yang merangkumkan isi beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits berkata demikian mengenai hukum di antara lelaki dan perempuan. Sang anak, demi melihat sikap kompromi orangtuanya, ia pun akan mengikutinya, dan menganggap bahwa berkompromi adalah suatu hal yang lumrah. Hal ini cukup memprihatinkan, karena berkompromi itu ada waktunya tersendiri, dan yang terwajar adalah ketika kita di pasar, dalam suatu ijab-kabul dengan pedagang. Tawar menawar. Dengan sendirinya orang yang senang berkompromi adalah juga orang yang senang tawar menawar, sedangkan hukum adalah hal yang pantang untuk dijadikan objek tawar menawar – hukum apa pun itu. Dan dalam kompromi, objek bisa saja akan menjadi murah. Jika objeknya adalah hukum – terutama hukum agama – orang berkompromi, maka ada kemungkinan hukum nilainya menjadi murah. Dan hal yang murah bisa dengan seenaknya dilanggar orang.
    Kompromi dalam melaksanakan hukum menyebabkan hukum itu sendiri kehilangan jatidirinya sebagai pengatur dan penunjuk jalan sekaligus. Terlebih lagi manusia, mereka kehilangan jatidiri karena telah kehilangan pegangan, yakni hukum yang seharusnya dianutnya. Maka terlahirlah pemikiran yang “menghalalkan” pendobrakan hukum pada pikiran gadis-gadis seperti Septia, Ratna dan Lisa. Siapa yang bersalah? Sulit untuk menuduh demi jawaban dari pertanyaan itu, karena semua akan menjadi lingkaran setan yang tak ada habis-habisnya. Permasalahannya, mereka bercermin pada didikan orangtua mereka, dan orangtua mereka pun bisa jadi dari orangtua mereka, atau lingkungan sekitar yang merasa ‘moderat’ namun ke-moderat-an nya menjadi mudarat karena tidak dipilah secara bijaksana hingga terlanjur bertransformasi menjadi liberal, dan akibatnya rusaklah tatanan hukum itu secara pelahan namun pasti dari dalam. Saya sendiri bukan seorang yang kaku, dan keluarga saya bisa dibilang ‘moderat’. Namun saya dan keluarga tidak sekali-kali membentuk diri menjadi liberal. Apa yang terpenting adalah esensi dari hukum dalam Islam. Zina mata sendiri bagi saya disaripatikan sebagai sepasang bola mata yang ‘menelanjangi’ fisik lawan bicara, yang umum dikenal sebagai jelalatan, dan melahirkan fantasi yang aneh-aneh. Kontak mata, bagi saya pribadi, adalah penghormatan pada lawan bicara, baik itu dengan sesama pria atau dengan lawan jenis. Walau pun ada sebagian yang menolak kontak mata, tak apalah, karena memahami orang lain adalah juga bentuk penghormatan. Di atas tadi sempat menyinggung mengenai nafs. Sebagai manusia yang dianugerahi pikiran, nafs ini lah yang wajib dikontrol oleh manusia, dan barang siapa belum bisa, sebaiknya menjaga diri. Saya pribadi masih jauh dari bisa menjaga diri. Maaf apabila kalimat-kalimat di atas terlalu subyektif, karena hanya sejauh perenungan diri sendiri itu pengetahuan saya, dan mohon teguran jika terlalu nampak ego pribadi di sana.
    Kembali pada nafs, manusia sebenarnya bisa mengontrolnya dengan baik, karena manusia bukan batu, manusia bukan pohon. Manusia memiliki nurani, dan terlebih lagi manusia memiliki mentor yang terbaik yakni orangtua mereka. Nah, orangtua itu lah yang berkewajiban membimbing anak-anak mereka, menggiringnya menuju jalan lurus yang telah ditunjukanNya melalui wahyu-wahyu yang telah diturunkan. Maka tak heran jika banyak ilustrasi bahwa jika orangtua masuk surga dan anak masuk neraka, maka orangtua itu akan diinterogasi sebelum dibukakan pintu surga. Apabila karena kealpaan orangtua si anak divonis masuk neraka, maka batal semua kenikmatan surga itu. Pasalnya, yang pertama ada juga orangtua yang membebaskan anaknya sebebas-bebasnya. Yang kedua, Orangtua yang lolos interogasi, ini adalah mereka yang telah dengan susah-payah memperingatkan namun tidak digubris sedikitpun oleh buah hati mereka. Fenomena yang kedua ini menyelamatkan orangtua karena kebebalan si anak, seperti nabi Nuh as yang tak digubris anaknya. Seperti kata bapak, L’histoire c’est repete, sejarah selalu terulang, maka Allah Swt mematri sejarah dalam Al-Qur’an agar manusia membacanya, mengingat sejarah, dan mengapa sejarah itu perlu benar kiranya dipatri dalam kitab suci semesta itu, tak lain dan tak bukan sekedar memperingatkan dan mewajibkan manusia untuk tidak sekali-kali melupakan sejarah. Dan sungguh sayang banyak orang yang merasa tak butuh pengetahuan sejarah. Misalnya banyak partai seperti sekarang ini, ada kesamaan dengan masa pasca runtuhnya Majapahit, yang jika diibaratkan, partai-partai kecil adalah kerajaan-kerajaan kecil, dan ujung-ujungnya mereka berkoalisi untuk membentuk kekuatan yang semu; melupakan rakyat, para petani dan nelayan; bahwa mereka adalah kekuatan sebenarnya suatu negeri. Maaf menjadi melebar dan di luar konteks, pak. Perihal politik ini hanya sedikit sebagai intermezzo saja.
    Dalam perihal pacaran, saya menafsirkan ‘pacaran’ sebagai berkenalan lebih lanjut dan lebih mendalam pada diri masing-masing antar pria dan wanita. Apapun namanya, berkenalan seperti itu tetap saja Hubungan Tanpa Status (HTS). Meskipun ada juga yang menerima adanya ‘pacaran’ dan HTS itu, bedanya adalah masalah pernah-tidaknya menyatakan perasaan terhadap lawan jenis. Bagi saya keduanya sama saja, karena toh ‘pacaran’ atau pun HTS keduanya sama-sama tak tercatat dalam KTP; tanpa status. Permasalahannya dengan hukum agama yang didobrak oleh ketiga orang tokoh dalam kisah bapak itu, mungkin di sana lah mengapa Allah Swt senantiasa mengingatkan bahwa perempuan memiliki banyak aurat, karena aurat dengan sendirinya apabila dijalani adalah sebuah sistem yang membuat para wanita dapat menjaga diri mereka dari kemungkinan-kemungkinan yang akan menjadi muara mereka mendobrak keimanan sendiri, yang kelak -naudzubillahimindzalik- menyebabkan mereka bisa mencampakkan keimanan demi sebuah kata ‘cinta’ dan lainnya. Kalau pun terlanjur pacaran, masih ‘untung’ apabila dengan yang seiman, namun apa akibatnya bila dengan orang yang berlainan keimanannya? Tentulah setiap orangtua muslim tak ingin tragedi keimanan yang menimpa Lisa dalam kisah bapak menimpa anak-anak mereka.
    Saya setuju dalam hal ini mengenai konsep cinta sesungguhnya yang bapak pertanyakan ketika merenungkan cinta terhadap kekasih, anak, dan saudara, bahwa Cinta sejati haruslah hanya kepadaNya. Namun seyogyanya ditekankan juga di sana, adapun cinta pada sanak saudara dan orang-orang yang kita kenal adalah wujud dari cinta padaNya atas dihadirkannya mereka itu disekeliling kita yang membuat hidup terasa lebih berwarna dan bermakna. Dan apabila disinggung masalah cinta, seperti dalam komentar saya terdahulu, cinta adalah hal ilahiah. Dan apabila keimanan rontok oleh sesuatu yang kita anggap ‘cinta’, seyogyanya harus direnungkan kembali: “benarkah itu cinta?” Dan seringkali nafs membutakan mata, memburamkan batin dan membuat manusia keliru memaknai nafs sebagai cinta. Dalam hal ini, tak patut jika lahir istilah cinta itu buta. Tidak, cinta tidaklah buta, namun nafsu lah yang buta.
    Bukankah selalu ada pemikiran bahwa perempuan selalu dibawa perasaannya, hingga gombal pun bisa membahagiakan mereka? Bermuara dari hal itu lah Dia menjaga perempuan dari hubungan selain pernikahan dengan adanya aurat dan hukum pergaulan antara lelaki dan perempuan, tak lain dan tak bukan untuk mengantisipasi terjadinya tragedi Lisa, ataupun krisis yang dialami dua orang lainnya. Dan dalam hal ini lah orangtua diharapkan kebijakan dalam mengarahkan anak-anak mereka, terutama yang perempuan – bukan berarti merendahkan perempuan seperti dituduhkan mereka para feminis – karena hanya Dia seorang yang mengetahui kelemahan ciptaanNya. Dan karena pengetahuan akan ciptaanNya ini Dia mewahyukan hukum-hukum yang mengarahkan ciptaanNya itu agar tidak melenceng dari tujuan utamanya sebagai pengabdiNya, sebagai pencintaNya.
    Tak heran anak dinamai sebagai ‘amanat’, karena Dia mempercayakan manusia baru ini pada para orangtua, dan kewajiban pemegang amanat adalah menjaga apa yang telah dipercayakanNya pada mereka. Sulit memang, namun itu adalah resiko para pemegang amanat, yakni tanggungjawab yang ditanggungnya. Intinya, sekolah pertama yakni keluarga harus lah menjadi pedoman setiap manusia untuk menjadi filter terhadap lingkungannya yang mengajarkan berbagai hal ini. Dan seyogyanya dalam keluarga itu agama menjadi topik utama dalam pembekalan setiap manusia menuju masadepannya untuk mengarungi kehidupannya, karena kelak manusia membutuhkan dalil-dalil yang tak terpatahkan dalam menentukan sikap dalam hidupnya. Maaf, bukan saya menganjurkan sikap introvert, justru sebaliknya kita memang harus mengenal dunia, namun bukan hanya melalui lingkungan saja melainkan melalui keluarga terlebih dahulu, sebagai filter sebaik-baiknya untuk kontrol diri ketika bersinggungan dengan lingkungan dan budayanya.
    Menyambung lagi pada fenomena gadis berjilbab, gadis Islam yang berkasih-kasihan dengan orang non-Islam seperti halnya pada pengalaman saya di institusi pendidikan swasta di Ciumbuleuit itu, menandakan adanya pola pikir yang mengesampingkan masalah kekukuhan pada agama. Hal ini adalah dampak sekularisme. Jika dibiarkan, Indoesia akan menjadi seperti Turki. Ketika sekularisme ini merajai, dan orang sibuk melepaskan agama dari sendi-sendi kehidupan, maka jangan heran apabila kelak – naudzubillahimindzalik – akan banyak orang-orang yang berbangga diri sebagai seorang atheis. Hal ini yang mencemaskan kita semua tentunya, sebagai muslim yang peduli pada saudara-saudaranya. Mengapa saya berani mengatakan sekularisme berdampak atheisme? Karena sekularisme mendobrak agama.
    Lisa dalam kisah pak Koes misalnya, menjadi murtad dikarenakan sikap berkompromi ala sekularis yang cenderung berjiwakan liberalisme. Ia awalnya berkompromi bahwa kekasih beda agama yang anak pendeta itu adalah juga manusia, dan kemudian ada kompromi lagi di batinnya bahwa kebetulan orang itu ia cintai, dan karenanya ia rela memberikan hati sepenuhnya, menikah dengannya, dan ketika ia merasa terbiasa dengan budaya suaminya yang ia cintai – sementara ia sendiri dililit perasaan bahwa ia merasa ‘cinta’ padanya – maka tak heran jika ia juga kemudian akan berkompromi dengan hati kecilnya dan tercetuslah pemikiran untuk turut pada agama suaminya itu.
    Pak Koes, pada tulisan bapak yang kali ini saya serasa melihat apa yang telah dilihat dan saya renungkan pada waktu yang telah lalu. Ide yang saya tunggu-tunggu dalam tulisan bapak adalah mengenai kritik sikap umat Islam yang belakangan banyak berkompromi terhadap hukum agama. Saya pribadi merasa umat islam dipancing untuk menjadi liberal dengan banyaknya gaung-gaung untuk bisa berkompromi dengan jaman. Padahal, seharusnya jaman diawasi oleh hukum agama, bukan agama yang diawasi jaman; tren. Maka terjadilah penistaan oleh non-Islam, juga oleh mereka yang mengaku Islam namun sebaliknya banyak menggugat Islam dan mengeroposinya dari dalam, bahwa Islam dan hukum-hukumnya telah ketinggalan jaman. Agaknya orang-orang berpikiran seperti itu seyogyanya merenungkan kandungan-kandungan dalam Al-Qur’an. Fenomena seperti ini benar-benar mengkhawatirkan, karena jaman memang memaksa manusia untuk berkompromi pada banyak hal termasuk pada agama dan hukumnya. Agama; Islam; Al-Qur’an; adalah pegangan untuk menghadapi jaman, dan menurut hemat saya awasilah jaman dengan bijak, karena diam-diam jaman adalah penantang manusia yang utama.
    Al-Qur’an sangat kaya akan makna jika terus digali esensinya, dan apabila telah menyangkut akidah maka tak ada kata kompromi. Hukum-hukum agama yang ada dalam Al-Qur’an pun tak sesempit tuduhan kaum liberal. Karena itu lah turun kata “iqra!” dari langit, dariNya. Aurat dan hukum pergaulan, tak lain adalah sebuah sistem yang dirancangNya untuk melindungi kaum perempuan, sebuah sistem untuk meninggikan derajat kaum perempuan. Itu pun jika kaum perempuan menerimanya secara bijaksana. Apabila ada yang menentangnya, ia harus membaca dan merenungkan kisah-kisah perempuan agung dalam Al-Qur’an. Selain hal mengenai kompromi, seyogyanya disertakan pula dalam tulisan bapak, bahwa seyogyanya manusia selalu mengingat sejarah. Kepentingan manusia pada sejarah sebenarnya sangat besar, karena sejarah adalah referensi demi masa depan manusia itu sendiri, sehingga ketika manusia melupakan sejarah maka ia juga melupakan masadepannya. Tak bisa lain, manusia hanya bisa mempelajari masadepannya dari masa silam, seperti halnya seorang dokter yang selalu membutuhkan riwayat kesehatan pasiennya ketika hendak mengobati. Mohon maaf apabila saya teralalu banyak memuntahkan pemikiran yang subyektif dan awam ini, semoga bapak terus berkarya dan berkarya terus, karena bentuk jihad seorang penulis berada di ujung “pena”nya.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb…..

  4. Membaca cerita tersebut…saya berfikir…semoga cinta kepada pasangan yang berbeda agama tidak terjadi pada anak saya….Amin….Cerita yang menarik Pak..terimakasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: