KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA

Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA

EPISODE PERTAMA:

Ini adalah sebuah catatan tentang cinta yang sangat subjektif, mengapa karena ia hanya bercerita tentang pengalaman saya pribadi yang “gagal” menemukan arti sebuah cinta yang saya harapkan dimasa remaja. Saya tak tahu, apakah pengalaman ini berguna bagi orang lain. Nama gadis yang saya cintai, terpaksa saya samarkan sebab, tentu yang bersangkutan akan risi bila kisah dan namanya dibaca oleh suaminya. Tentu saja nama-nama gadis itu sedikit saya pelesetkan saja.

Episode pertama kejadiannya di SMA 3 Bandung, saya menyenangi teman sekelas saya, ia bernama Reka Tri Rahayu, sebutlah Eka saja. Gadis ini di mata saya sangat cantik sekali, akan tetapi dimata orang lain ya biasa saja. Kata temanku, ah paling si Eka itu, nilainya maksimal 7 deh. Begitu kata kawan-kawan saya. Saya sangat mencintainya, tiap malam minggu saya “apel” kepadanya dengan membawa pekerjaan rumah untuk hari Senin. Indah sekali rasanya “bercinta” itu, walau sebatas datang ke rumah, ngobrol dari waktu magrib hingga isya. Indah sekali bertemu dia itu. Saya ingat, mengingat rumah saya jauh, maka ada kalanya uang jajan dari orang tua dikumpul-kumpul, hingga cukup untuk ongkos dari Cimahi ke Jalan Gatsu di Bandung. Selain uang, pikiranku juga kuberikan kepadanya, maksudnya; aku di rumah siap-siap mengerjakan PR. Intinya, mengapa ketika cinta ini lahir, aku ingin memberi aja.

Nah, pada tahun 1969, aku menjadi pengurus mushala SMA 3 Bandung bersama Sukmana dan Dimyati anak SMA 5. Dalam rangka membina anak SMA 3 yang sering disebut SMA santri, panitia mengundang Dr.Ir. Imaduddin Abdul Rachim yang dikenal dengan sebutan Bang Imad. Salah satu isi ceramah Bang Imad (alm) yang saya kenang hingga kini ialah; “what is the meaning of love”. Maka Bang Imad menjawab, “Love is the pleasure for giving”. Mudah2an saya tak salah menerjemahkan artinya ialah: bahwa cinta itu adalah kesenangan untuk memberi. Kini saya yakin, rupanya apa yang telah saya lakukan pada gadis Eka itu memang kesenangan untuk memberi. Indah sekali ya ketika kita memberikan sesuatu kepada seseorang yang kita cintai itu. Begitu ikhlas saya memberikannya, tanpa saya harus menerima apa yang akan dia berikan kepada saya. Saya berikan saja tanpa kata tanpa janji apalagi meminta sesuatu. Memang benar sungguh suatu kebahagiaan memberikan sesuatu yang kita miliki kepada yang kita cintai. Hanya dua tahun saya dekat dengan Eka, tetapi Tuhan tidak menjodohkan saya kepada Eka. Saya menikah dengan wanita lain dan Eka pun menikah dengan lelaki lain. Kemudian, cinta sebagai lambing member itu, bisa diperluas. Misalnya kepada Ibu, Ayah, Adik, Kakak atau Sahabat. Kepada semua yang kita cintai itu, berlaku terus “Love is a pleasure for giving

Kini umur saya hampir 60 tahun. Bila umurku lebih akan disebut “over sixty”. Lama saya merenung, sebenarnya, cinta saya kepada Eka, hanyalah cinta sementara yang hanya menjadi sebuah cerita. Cinta yang sebenarnya adalah cinta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini baru benar-benar cinta dan ia akan memberi kekuatan yang maha dahsyat, yakni kekuatan untuk hidup dan bercita-cita. Hidup dan bercita-cita harus satu paket. Saya tak bisa membayangkan ada manusia yang hidup tanpa cita-cita? Kalau ini ada manusia seperti ini. Saran saya. Lebih baik mati saja, sebab hidup harus dengan cita-cita. Cita-cita kita bisa menjadi motivator atau penggerak hidup kita untuk terus maju. Ada kalanya cinta itu, juga adalah sebuah impian. Nah kebahagiaan hidup, kata Marzuki Usman ialah; disaat kita melangkah sehasta-demi sehasta, menggapai dan mewujudkan impian kita itu.

EPISODE KEDUA:

Jauh sekali setelah beberapa tahun melupakan Eka di episode pertama. Kini saya bertemu lagi dengan cerita cinta pada episode kedua. Pada cerita ini benar-benar ibarat kisah di sinetron. Alkisah, karena saya sebagai mahasiswa yang cukup mengerti tentang matematika, fisika dan kimia, maka saya sering diminta mengajar anak2 SMA di rumah teman yang bernama Bambang Sumantoro. Dia punya adik perempuan yang bersekolah di SMA, maka hampir seminggu dua kali saya mengajar adiknya Mas Bambang ini. Kalau tak salah, Bambang itu mahasiswa ITT Bandung.

Pada suatu ketika, seorang saudara misan Mas Bambang di Yogyakarta yang bernama Dwi Utari datang ke Bandung untuk berlibur dan saya sering diberi tugas oleh Mas Bambang ini untuk mengantar Dwi Utari ke berbagai tempat di Bandung ini sekedar cuci mata katanya. Nah barang kali, karena seringnya ketemu dengan Dwi Utari ini, terbitlah sesuatu dalam hati saya, sebutlah cinta lagi. Sering Dwi Utari menyindir saya dengan pepatah bahasa Jawa “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”, diterjemahkan: “Cinta lahir karena seringnya ketemu”. Nah akhirnya, saya dekat sekali dengan Dwi Utari itu, tetapi sayang hanya dalam hitungan bulan, ia “berakhir” sudah, kalau saya pinjam kata-kata lagu Tetty Kadi, “Layu Sebelum Berkembang”. Kenapa lagi ini, tahukah apa penyebabnya: Ya sebuah legenda yang dipercayai oleh keluargaku dan keluarga Dwi Utari itu. Keluargaku adalah suku Sunda, sementara Dwi Utari Suku Jawa. Kata legenda, Orang Sunda sama Orang Jawa asalnya kakak beradik. Dulu ada legenda Aji Saka, tercatat dalam sebuah tulisan kuno yang berbunyi : Hana Caraka, data Sawala. Pada jayanya, Magha Batanga, artinya; ada cerita, dua utusan, keduanya perkasa, lalu berkelahi dan mati. Yang kakaknya dikubur di Jawa Tengah, adiknya dikubur di Jawa Barat. Buktinya: itu hurup kuno jawa dan sunda sama, bedanya pada pengucapannya sunda dengan berakhir “A”, Jawa berakhir “O”. Ini berarti Orang Jawa itu adalah kakaknya orang Sunda. Adalah benar atau pas kalau lelaki suku Jawa menikah dengan perempuan suku Sunda, tetapi kurang bagus kata orang tua, lelaki Sunda menikahi wanita Jawa. Percaya nggak percaya pada legenda ini, buktinya: Belum Pernah ada lagu-lagu sinden Jawa memuja pemuda Sunda. Tetapi sebaliknya sering atau banyak lagu sinden Sunda memuja lelaki Jawa, misalnya lagu “Mas Joko”. Atau “Kang Mas”. Ini berarti yang tepat adalah wanita suku Sunda menikahi lelaki suku Jawa. Sayang sekali keluarga saya dan keluarga Dwi Utari sama-sama tak merestui hubungan saya dengan Dwi Utari. Tiap saya memuji-muji kecantikan dan kebaikan Dwi Utari, mereka acuh. Sama juga keluarga Dwi Utari. Maka hubungan baik itupun berakhir. Bertepatan dengan kisah ini, saya nonton film, Dwi Juga nonton, walau tidak nonton bareng sempat kami cerita bareng judulnya “Love Story” dan kami terkesan akan kata-kata dalam film itu : “Love is something that you never say, your sorry”. Artinya kira-kira; cinta itu adalah sesuatu yang kamu tidak pernah akan berkata menyesal.

Memang benar, walaupun saya dengan Dwi sudah lama berhubungan, sering tertawa bersama, sedih bersama, pokoknya hari demi hari kita hiasi dengan keindahan, entah berupa surat menyurat ataupun telepon sebab saya di Bandung dia di Yogya. Saya di ITB, Dwi di sebuah akademi di Jogyakarta, lupa namanya. Nah ketika, kami tak terus jadian, masing-masing tak pernah merasa menyesal. Kita tinggalkan saja legenda usang itu, sebab itu hanya sebuah cerita belaka. Banyak sekali teman-teman lelaki Sunda menikah bahagia selama-lamanya dengan wanita Jawa, mereka sukses lahir dan bathin, kalau ternyata ada hambatan-rintangan dan tantangan itu hal biasa saja, semua pasangan hidup manapun apakah Sunda, Jawa, atau Aceh akan mengalaminya. Alhasil, janganlah legenda itu menjadi pegangan. Kalau ada legenda yang bermanfaat dalam hidup, misalnya kisah Malin Kundang yang mengajari anak jangan melupakan ibunya silahkan saja ambil hikmahnya supaya semua anak lelaki sayang ibunya. Tapi legenda yang membatasi pernikahan Sunda Jawa itu, buang saja. Forget It” kata teman yang baru datang dari Amerika ketika dengar cerita ini. Atau mungkin ada baiknya, sebuah mitos, kita ilmiahkan. Contoh: Orang hamil dilarang berdiri dipintu, ya tentu benar, sebab sudah perutnya besar, kalau ada yang mau lewat kan tersenggol tuh.

Kini umurku hampir 60 tahun, hampir “over seket” kata orang. Cinta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sepertinya juga harus demikian. Kita boleh saja berdoa, tetapi jangan mengatur Tuhan. Seolah-olah: hei Tuhan, saya harus kaya nih, saya harus jadi pejabat nih. Besok saya akan begini, lusa akan begini. Enak sekali bisa mengatur Tuhan. Naudzubillah Mindzalik.

Kita berusaha menjadi kaya, menjadi pejabat, tetapi ternyata tetap aja seperti begini sejak dulu tak kaya-kaya dan tak juga menjadi pejabat, jangan kecil hati. Sebab makna cinta itu ialah : sesuatu yang tak pernah menyesal mencintai Tuhan. Dalam mencintai Tuhan, ada dua prinsip yaitu bersyukur ketika menyenangkan dan bersabar ketika dalam kesusahan. Kalau ini dijalankan kita akan ikhlas terhadap takdir Tuhan. Kita tak akan menyesal menerima apa yang Tuhan berikan kepada kita.

Dalam ilmu manajemen, sikap ini akan menjadikan manusia berpikir positif dan bersikap optimistik. Dua sikap ini perlu dalam menghadapi krisis global saat ini. Krisis global yang disebabkan kegagalan masalah keuangan di Amerika telah berimbas keseluruh dunia dan walau apapun upaya para petinggi Negara di dunia, tak mudah akan cepat berakhir. Maka, dengan semangat cinta kepada Tuhan inilah, maka kita tanamkan sikap optimistik dan positif menghadapi krisis global ini.

EPISODE KETIGA

Saya paling senang mendengar kisah-kisah bagaimana dua sejoli mengisi cinta dengan saling menutup kelemahan pasangannya. Ini hanya bisa dijalani kalau seseorang berprinsip bahwa; dibalik kelemahan pasanganku, terdapat kekuatannya. Juga kita harus hati-hati, sebab dibalik kelebihan pasanganku selalu ada kelemahannya. Cinta menjadi indah. Ketika masing-masing harus memperkuat kelemahan pasangannya dan memelihara kekuatannya. Ingatlah prinsip dalam hidup “There is no the best way, but only the better ways”. Kita tak pernah menemukan cara yang paling baik, akan tetapi kita akan selalu menemukan cara yang lebih baik. Tapi awas prinsip ini, jangan disalah artikan. Seorang temanku yang nakal becanda; “eh Koes, kalau begitu, prinsip ini berlaku dong; kita tak akan menemukan istri terbaik, akan tetapi kita pasti menemukan istri yang lebih baik”. Jangan didengar ini ngaco !!!

Prinsip itu digunakan untuk memperbaiki pekerjaan, memperbaiki rencana dan atau mengatasi berbagai masalah, jangan sekali-kali digunakan untuk gonta ganti pacar, apalagi gonta ganti suami atau istri, tidak benar itu. Mari kita kembali ke contoh saling bela suami dan istri.

Ada contoh bagaimana seorang pria membela pasangannya. Alkisah di Bandung, seorang sahabat bersama istrinya naik angkot. Entah bagaimana, maaf; tiba-tiba istrinya buang gas dan di luar dugaan, gas itu tercium oleh semua penumpang, sampai-sampai mengipas-ngipas hidung masing-masing. Dalam keadaan beginilah tiba-tiba sang suami angkat bicara ”Aduh maaf Ibu2 dan Bapak2, saya sedang sakit perut, tiba-tiba buang gas”. Ternyata sang istri senang benar dibela. Sebab semua penumpang akhirnya tertawa dan melihat teman lelaki saya yang pura-pura malu. Penumpang tak mungkin memeriksa dari mana sumber gas itu keluar, ada yang mengaku saja sudah puas para penumpang angkot itu. Padahal istrinya yang membuang gas, tersenyum senang sebab suaminya rela “berkorban” malu.

Tentu saja, dalam sejarah kehidupan banyak kisah kisah seorang istri membela suaminya. Pernah dalam kehidupan Rasululloh SAW, pada suatu ketika Rasul seperti putus asa, kok tiba-tiba umatnya pada nggak benar, gimana berdakwah bisa terus lancar jangankan orang lain, umatnya saja pada nggak benar. Ketika itulah istrinya yang bernama Siti Khadijah berkata “Wahai Rasululloh, janganlah putus asa, jangan kecil hati, teruskan dakwahmu sebab, minimal masih ada seorang yang akan setia mendengar apa yang Engkau dakwahkan yaitu; aku sendiri Istrimu”. Nah semangat dari istri inilah yang membangunkan jiwa Rasululloh, hingga semangat lagi dan ternyata berhasil. Bisa dibayangkan kesetiaan dan cinta seorang istri seperti Khadijah berbuah seorang Tokoh Besar yang mengglobal yang oleh seorang ahli sejarah bernama Michel Hart menempatkan Muhammad Saw sebagai tokoh nomor satu yang mempengaruhi sejarah umat manusia di dunia dan hingga sekarang pengaruhnya tidak hilang. Hebat sekali kekuatan cinta itu ya.

Setelah Khadijah meninggal, kemudian Rasululloh SAW menikahi Aisyah. Suatu ketika Aisyah ingin tahu besar mana cinta Rasul kepada Aisyah dan kepada Khadijah. Di suatu malam, hal itu beliau tanyakan kepada Rasululloh Saw. Rasul menjawab, bahwa dirinya lebih mencintai Khadijah. Tentu saja Aisyah sedih mendengar itu, lalu ingin tahu apa alasannya. Maka Rasul menjawab, ”begini Aisyah. Aku sebenarnya sama saja mencintai engkau dan Khadijah. Hanya bedanya: Khadijah itu bersama-sama berjuang, bersama-sama menderita, tapi ia tak pernah melihat hasil perjuangan itu. Sementara engkau, sama-sama berjuang tetapi engkau melihat dan menyaksikan: Fathul Makkah atau kemenangan merebut Kota Mekah, Khadijah tidak pernah”. Mendengar itu, Aisyah segera memeluk Rasululloh dan beliau berkata: kalau begitu, akupun lebih mencintai Khadijah daripada diriku sendiri.

Ada sebuah ajaran yang diambil dari kitab suci Al Quran, dikatakan di sana bahwa “suami adalah pakaian dari istrinya” dan “istri adalah pakaian dari suaminya”. Oleh ulama besar M. Quraisy Shihab, pengertian pakaian mengandung empat makna; (1) Sebagai penutup aurat, (2) Sebagai hiasan (3) Sebagai identitas, misalnya polisi, dokter, tentara dan sebagai (4) Ciri budaya. Yang membedakan manusia dan hewan atau tumbuhan ya berpakaian itu. Orang-orang Papua secara bertahap, lama-lama akan berpakaian semua.

Suami penutup istrinya; ya itu tadi saling menutup kelemahan. Sebagai hiasan, ya harus begitu suami adalah hiasan istrinya, Jadi kalau ingin mengucapkan ”sayang” ya hanya kepada istri, jangan sampai kirim SMS ”sayang” ke sekretaris lain yang bukan istrinya. Bisa –bisa istrinya bertanya “Bang SMS siapa ini Bang, kok ada kata sayang-sayang. Cepat jawab atau terpaksa HP ini ku buang”. Begitulah celakanya kalau suami memilih orang lain sebagai hiasan. Juga istri bila berhias dan cantik, adalah semata untuk keindahan suaminya. Biar suami hanya melihat keindahan kepada istrinya tidak ke yang lain. Sebagai identitas, hati-hatilah para suami. Jangan sampai jadi koruptor, sebab suami adalah identitas istrinya. Tuh lihat ibu Fulani, ia kan istrinya Pak Fulan yang korupsi 10 milyar itu. Nah, jadi pakaian adalah identitas. Juga istri yang keluyuran nggak karuan, ya kena juga ke suaminya. Tuh lihat pak Fulan, ia kan suaminya si Fulani yang keluyuran terus tiap malam. Amit-amit deh jangan sampai deh ada istri atau suami yang demikian. Naudzubillahminzaliq.

Kini umur saya sudah hampir menuju “Over sixty”. Saya merenung tentang bagaimana suami yang baik dan istri yang baik. Maka saya ingatkan nasehat sahabat saya. Andang Kasriadi sewaktu sama-sama jadi mahasiswa ITB dulu. Kata Andang yang punya pendirian bahwa; wanita lebih menonjol emosinya dari pada pikirannya, sementara kaum pria lebih menonjolkan logika/pikiran daripada emosinya. Maka Andang memberi nasehat kepada para suami dan istri begini: seorang suami yang baik ialah mereka yang pandai MEMIKIRKAN apa yang DIRASAKAN istrinya. Sebaliknya, istri yang baik ialah istri yang bisa MERASAKAN apa yang sedang DIPIKIRKAN suaminya.

Dalam praktek. Misalnya. Kita jalan-hjalan ke Mall Pondok Indah. Tiba-tiba istri kita melihat sebuah pakaian muslimah bernuansa hijau yang bagus sekali, dan harganya waduh Rp 2,500.000,00. Dan dia minta dibelikan, bagaimana ini?, gaji kita hanya Rp 5.000.000,00 habis dong. Nah disinilah seorang suami harus memikirkan perasaan istrinya. Jangan perasaan diadu dengan logika. “Hai istriku mikir kamu. Masa gaji 5 juta dibelikan baju 2,5 juta, makan dari mana ?”. Suami yang bijak lebih baik cari lagi pakaian lain. “Mam lihat ini Mam, itu ada baju muslim bernuansa biru yang kelihatanya Bapak lebih senang kamu pakai itu” (padahal harganya Cuma Rp 250.000,00). Jadi disinilah kebijakan suami. Ingat istri senang melihat baju yang 2,5 juta belum tentu dia itu ingin benar-benar beli, tetapi emosinya saja yang mendorong melihat baju 2,5 juta itu. Semoga para suami lebih menyayangi istrinya, juga sebaliknya para istri lebih menyayangi suaminya. ITULAH KEINDAHAN HIDUP.

17 Responses to KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA

  1. Madha Fitria Ramadhani says:

    Ass. Wr. Wb,
    Hatur Nuhun pisan pa koes ilmunya…
    Alhm qta yg berumah tangga msh seumur jagung bisa memetik banyak hikmah…

    Terutama kutipan :
    “seorang suami yang baik ialah mereka yang pandai MEMIKIRKAN apa yang DIRASAKAN istrinya. Sebaliknya, istri yang baik ialah istri yang bisa MERASAKAN apa yang sedang DIPIKIRKAN suaminya”

    Skr ini qta sering sekali tenggelam dlm ego masing2 & selalu ingin dimengerti oleh pasangan qta masing2…
    Pdhal hrsnya qta btanya pd diri qta sendiri…
    “Sudahkah qta mengerti keinginan pasangan qta?”
    Mudah2an qta semua menjadi lebih baik…
    Dan semoga stelah mbaca “goresan pena” pa koes, suami saya ngajak saya ke Mall Pondok Indah dan bilang : “Ehm… bunda cantik deh klo pake baju pink ini… walaupun harganya 2,5jt tapi ayah rela ngga mkn siang diluar 3 bulan… bekel nasi+tempe goreng aja dr rmh… yang penting bunda bahagia” hehehehe

  2. Nugraha Hadiwijaya says:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Pak Koes (maaf, saya ragu dengan apa sebaiknya saya memanggil bapak), saya Nugraha Hadiwijaya, teman Rina putri bapak. Apabila saya boleh memberikan komentar mengenai tulisan bapak berjudul “Ketika Cinta Hanya Berbuah Cerita”, saya akan merasa tersanjung diperkenankan mengomentari buah pikiran seorang Profesor Doktor Insinyur sementara saya sendiri S1 pun belum lulus.
    Saya melihat ada pembahasan mengenai takdir divisi jodoh, jika saya boleh mengatakan demikian. Permasalahan takdir adalah hal mutlak bagi saya pribadi, termasuk masalah jodoh. Dalam masalah jodoh, ada satu kata yang tak bisa dipisahkan dengannya yakni ‘cinta’. Bagi saya perjalanan kehidupan asmara yang tertuang dalam “Ketika Cinta Hanya Berbuah Cerita”, adalah sebuah hasil perenungan jujur bapak secara individu, hasil pelajaran yang diambil dari guru terbaik manusia yakni pengalaman, karenanya cerita tersebut sah-sah saja adanya, namun ada satu terbesit pemikiran dalam benak saya yang juga menjadi harapan saya sebagai pembaca, bahwa seyogyanya dalam tulisan bapak ada penjabaran mengenai makna cinta itu sendiri, sebelum menyentuh ranah jodoh. Alasannya, karena saya sendiri sering menerima keluhan teman-teman saya dengan apa yang mereka sebut dengan ‘cinta’. Cinta yang mereka sering katakan itu, bukankah sangat dalam arti filsafati-nya dibandingkan dengan pemakaian ‘cinta’ sebagai kata itu sendiri secara pragmatik dewasa ini? Sementara orang dengan seenaknya memakai kata ‘cinta’ untuk mengobral sekedar pesona atau nafsu jasmaniah, sehingga terlahirlah kata-kata semacam ‘cinta monyet’, ‘cinta itu buta’, ‘cinta pada pandangan pertama’, dan lain-lainnya.
    Maaf, jika saya diperkenankan mengutarakan pemikiran saya; dalam hal asmara, ada tiga tahap menuju kata ‘cinta’ sebagai suatu kata yang direpresentasikan oleh mereka yang merasakannya dalam hidup mereka kelak, yakni suka, sayang, barulah cinta. Saya pribadi tak pernah setuju dengan kata-kata cinta pada pandangan pertama. Mengapa? Karena orang belum memahami secara menyeluruh obyek ‘cinta’nya secara luar-dalam. Orang mengatakan, saya cinta pada pandangan pertama pada si Fulani, dan akan berkorban deminya. Benarkah itu? Sementara pada pandangan pertama, yang bekerja adalah mata, dan hati baru bereaksi sebatas jasmaniah saja. Adapun orang senang melihat tutur kata dan tingkah laku si Fulani tersebut, mungkin impresi pertama saja, seperti kata bapak sendiri, mengenai kisah asmara bapak dengan tokoh Eka. Sementara apabila kita membicarakan cinta, kata yang satu itu cenderung memiliki makna serupa dengan fanatik. Seperti dalam tulisan bapak juga; cinta adalah kesenangan untuk memberi. Dan dalam pemahaman saya terhadap kata fanatik, adalah memberi secara sukarela, dan percaya secara absolut; percaya tanpa bertanya. Apakah yang dinamai fanatik ini? Dalam pemikiran saya pribadi, fanatik adalah pemahaman luar-dalam terhadap seseorang atau sesuatu yang membuat orang dengan sukarela menggadaikan segala logikanya. Saya pribadi tidak alergi dengan kata fanatik, karena toh nasionalisme pun adalah fanatik dalam koridor kebangsaan.
    Menurut bacaan mengenai sejarah, Jendral Sudirman pun termasuk orang yang fanatik pada agama, dan tubuh rapuhnya yang terkena TBC itu tidak akan lama bertahan dalam alam gerilya apabila tidak ada enerji besar fanatisme itu. Tak pernah saya bayangkan sebelumnya bahwa di Surabaya dahulu ketika pesawat tempur penjajah menghujani tanah Jawa Timur itu dengan bom ternyata teriakan ‘merdeka’ lebih sedikit dan justru “Allahuakbar” lebih menggema. Hal itu saya lihat dari sebuah dokumentasi perjuangan Indonesia berupa video di masa itu. Yang akhir-akhir ini menjadikan fanatik bercitra buruk adalah ketidaksadaran orang bahwa kepicikan telah menyebabkan fanatik sebagai sumber enerji spiritual yang besar dibelokkan oleh orang-orang yang berkepentingan kepada hal-hal yang justru menyebabkannya berlawanan dengan hukum Allah Swt itu sendiri, seperti misalnya membunuh sipil yang tak berdosa. Kepicikan bisa merubah orang sedemokrat apapun, orang sebaik apapun, orang semoderat apapun, bahkan – yang saya pribadi tidak sukai – orang seliberal apapun menjadi negatif. Tak bersangkut-paut dengan fanatisme, kepicikan itu. Kesemuanya, jika ditumpangi kepicikan maka akan menjadi sebuah monster yang dinamakan radikalisme. Radikal ini selalu bisa ada di semua isme. Mungkin makna kata fanatik yang lebih positif akan bisa kita bandingkan dengan para mujahid yang dengan sukarela membiarkan nyawanya hilang dalam persembahannya mencintai Allah Swt, melawan musuh yang juga bersenjata dan melindungi sipil. Bahkan sahabat nabi pun, karena cinta mendalam terhadap Allah Swt, ketika hendak dicabut panah dari punggungnya ia lebih memilih sholat. Cinta memang merupakan sebuah enerji besar yang bia membuat manusia berada dalam keadaan ‘trance’, dan dengan keikhlasan dalam cinta orang bisa melupakan segala kepedihan. Maaf, saya panjang lebar tak menentu seperti ini, karena menurut subjektifitas saya pribadi, dalam hal asmara setingkat usia remaja hingga kuliah, kata cinta terlalu berat tanggungjawabnya untuk sekedar diucapkan, karena cinta untuk dirasakan, saling merasakan. Mungkin lebih tepat jika menaksir seorang gadis ketika masa-masa itu adalah kata ‘suka’, menyukai, ‘senang’, menyenangi. Kemudian ada masa ketika sepasang manusia saling merasa sayang, yakni ketika mereka telah jauh saling mengenal (yang diawali dari saling suka). Dan terakhir, ketika sepasang manusia memutuskan hendak menikah, rasa ‘sayang’ itu telah bermetamorfosis menjadi ‘cinta’. Dalam masa ini, kedua manusia telah saling memahami, mengenal diri masing-masing dan pasangannya, dan saling mengisi karena mereka telah mengenal satu sama lain tidak saja hanya melalui mata, melainkan hati telah bekerja dari mengamati secara jasmaniah ke pengamatan secara batiniah. Maaf apabila dalam tulisan ini banyak kata-kata yang tak berkenan di hati bapak, dan tak ada maksud saya menggurui, karena saya taidak ada apa-apanya dibandingkan bapak, yang sudah barang tentu memiliki ilmu jauh lebih tinggi dibandingkan saya yang masih kuliah dan belum lulus S1 ini. Kata-kata saya melainkan hanya harapan saja, mengenai penjabaran makna kata ‘cinta’ dan metamorfosis perasaan manusia hingga menjadi cinta untuk dihadirkan dalam tulisan bapak, karena saya prihatin dengan pengobralan kata cinta di kalangan remaja. Saya berharap dengan adanya penjabaran metamorfosis perasaan manusia itu di dalam tulisan bapak nantinya dapat menginspirasi dan membuat pembaca paham makna cinta dan perbedaannya dengan ‘suka’ dan ‘sayang’. Maaf, sekali lagi saya akan mengutarakan pemikiran pribadi: bagi saya pribadi, cinta itu ilahiah, karena dalam Al-Qur’an dikatakan, “manusia harus mencintai Allah Swt dan Rasulnya”, bukan “manusia harus menyukai Allah Swt dan Rasulnya”, atau “manusia harus menyayangi Allah Swt dan Rasulnya”. Mengapa diksi dalam kitab suci itu cinta, dan bukan suka atau sayang? Maaf jika saya salah, ‘cinta’ lebih menekankan keikhlasan dalam segala hal, termasuk . Dalam tulisan bapak ada kalaimat: “kegemaran untuk memberi”. Dan saya setuju apabila cinta didefinisikan juga dengan kegemaran untuk memberi itu, dan mungkin akan terdengar lebih indah lagi bila ditambahkan kata-kata lain menjadi: “kegemaran untuk memberi dan melupakan apa yang telah kita berikan”. Jiwa dari keikhlasan yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari mungkin dapat diibaratkan dengan – maaf – buang gas. Kita mengeluarkan dengan rasa lepas, dan melupakan apa yang telah kita lepaskan. Selebihnya, sulit sekali untuk bisa menjadi ikhlas yang sesungguhnya.
    Masalah jodoh, hal yang satu itu adalah hak prerogatif Sang Maha Pemberi. Seseorang yang tidak mencintaiNya dalam arti cinta yang sesungguhnya akan menyepelekan dan tak puas terhadap keputusanNya. Misalnya, ada seorang laki-laki mendapatkan isteri yang – maaf – berwajah buruk, orang tak memahami inti dari jodoh itu sendiri lebih suka mengejeknya daripada turut mendoakan kelanggengan mereka. Masalah mitos, saya setuju dengan pemikiran bapak, bahawsanya tak usahlah orang mengagungkan budaya pagan seperti itu, dan pahamilah hukum-hukum dan ketentuan agama dalam hal ini Islam, yang sudah tentu baik adanya, dan hingga akhir jaman akan selalu relevan tidak kadaluarsa. Silahkan bapak menegur saya apabila salah, saya meyakini bahwa jodoh adalah laki-laki perempuan, api dan air, tanaman dan tanah, bumi dan langit, dan sebagainya, dan sebagainya. Dengan perbedaan yang saling mengisi dan melengkapi itu lah Dia memberikan masing-masing jodoh pada suatu hal. Masalah kualitas, adalah manusia sendiri yang menentukan, karena nasib manusia diubah oleh manusia sendiri, sementara takdir adalah hal yang mutlak. Misalnya, manusia itu dianugerahi jodoh-siapapun dia oleh-Nya. Seorang laki-laki memiliki pilihan, apakah dia akan memperisteri seorang perempuan baik-baik atau tidak. Manusia yang menentukan. Jika ia salah pilih, maka penyesalan akan ada di akhir, karena ia tak datang di awal. Dan menurut saya, do’a mengenai jodoh jangan berhenti sampai seseorang menikahi seseorang, bahkan ketika dalam kehidupan pernikahan itu sendiri sebaiknya manusia tetap berdoa bahwa seseorang yang selalu mendampinginya adalah jodohnya. Manusia terkadang berdoa karena butuh, dan lupa berdoa setelah mencapai apa yang dahulu didoakannya. Hal ini saya alami ketika menghadapi ujian, saya merasa sedang butuh maka saya belajar, dan setelah ujian saya merasa tak butuh dan akhirnya saya tak belajar. Hal ini mengakibatkan ilmu di dalamnya hilang atau menjadi tumpul. Mungkin perbandingan itu bisa diperbandingkan dalam kehidupan percintaan. Dari sudut pandang takdir, jodoh sudah jelas: lelaki-dan perempuan. Karenanya, pertimbangan yang matang diperlukan dalam segala hal mengenai takdir (jodoh, rejeki, mati). Sekali lagi, dalam hal permasalahan makna jodoh saya berharap seyogyanya dimunculkan juga dalam tulisan bapak.
    Mengenai tulisan bapak, saya tidak ingin mengatakan bahwa komentar ini suatu kritik, karena bagaimana pun sebuah tulisan adalah hak prerogatif pengarangnya, meski demikian, penilaian di luar diri kita sendiri adalah sebaik-baiknya cermin yang memperlihatkan seperti apakah kita sebenarnya, dalam hal ini adalah tulisan kita, yakni buah pikiran dan dapat dikatakan juga sebagai anak spiritual kita. Seperti apa pun bentuknya dari ranah estetika sastra, saya pribadi tidak keberatan dengan gaya penulisan seperti apapun, karena orang bilang sekarang ini adalah jaman kontemporer, dan masing-masing orang memiliki karakternya masing-masing juga dalam menulis. Saya pribadi lebih mengutamakan inspirasi yang diberikan oleh suatu tulisan ketimbang banyaknya sayap dalam setiap kata-kata. Orang bilang, sastra itu bukan masalah mengotak-atik kata, melainkan mempersembahkan potret kehidupan secara anggun, dan memberikan sesuatu manfaat pada kehidupan pembacanya. Terimakasih telah memberikan kesempatan bagi saya untuk memberikan komentar dengan adanya hyperlink comment di bawah tulisan bapak. Apabila tulisan saya yang panjang ini tak berkenan di hati bapak dan terasa tanpa makna, mohon anggap saja sebagai angin lalu, dan apabila tulisan ini berkenan, saya berharap dapat berdiskusi dengan bapak dalam permasalahan tulisan dan perihal kehidupan yang belum saya kenal ini sebaik bapak mengenalnya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb…

  3. muchdie says:

    bisa jadi novelis nih prof..

  4. muchdie says:

    bisa konsultasi soal cinta gak Prof ?

  5. Taufik Amir Denata says:

    Terkadang memang itulah hidup, setiap orang mempunyai kisah cinta, kisah karir, kisah pendidikan, kisah berumah tangga dll,,ada yang mulus perjalanan hidupnya, ada yang “flat” ada yang gagal, ada yang selalu diawali dan diakhiri dengan kesedihan. Saya jd ingat pepatah Associate Prof dr Cambridge Univ (Phill Jones) yang mengatakan hidup dalam seseorang memiliki ribuan kisah, sebenarnya kisah seseorang yang pernah mengalami kegagalan adalah kisah yang paling sukses, hal ini dikarenakan pengalaman seseorang tersebut yang luar biasa hebat, sebagai contoh lihatlah Bill Gates yang harus D.O (Dropped Out) dr Harvard, tapi ia berhasil membuat perusahaan kelas dunia. dengan kata lain jika kita gagal dalam satu moment, sebenarnya kita telah meraup satu keuntungan, asalkan kita tau dimana untungnya. Pengalaman saya, ketika saya sudah diterima kerja di Perusahaan dr England (Perusahaan Consumer Goods terkemuka didunia) saya terpaksa harus resign dr perusahaan tersebut karena hanya masalah satu faktor allowances saya tidak dapat, awalnya saya berpikir saya adalah orang yang gagal, namun saat ini saya sadar kenapa jalan saya mesti seperti itu,,terbukti saat ini perusahaan yang pernah saya geluti menutup sebagian produknya dan di alihkan ke negara lain, otomatis banyak allowances karyawan yang menjadi hilang (termasuk apa yang saya perjuangkan dahulu). hidup bak memainkan suatu peran didalam sinetron atau film, siapa yang sering memerankan suatu peran di film atau sinetron, tentu ia memiliki banyak pengalaman dalam ber-akting, namun jika ia hanya 1x memainkan peran itu maka ia hanya 1x pula punya pengalaman, dan “viewer” pun tidak “ngeh” terhadap dirinya. Dari Kisah tersebut,,sungguh Seorang Prof Dr M Koesmawan seorang yang beruntung, selain memiliki gelar yang berentet yang diraih dr Universitas dan Sekolah Tinggi yang terkemuka bukan hanya didalam negeri bahkan diluar negeri, serta karier yang sukses, ternyata memiliki kisah hidup dan percintaan yang luar biasa,,sekali lagi itulah hidup,saya yakin suatu saat semua riwayat atau pengalaman om nanti dapat menjadi semangat bagi setiap insan, jujue saya memberanikan diri ambil Master dan tamat dengan predikat sangat memuaskan salah satunya karena kisah hidup om dengan dunia pendidikan. semoga saya juga bisa sukses minimal seperti om, tapi harus lebih => hehehe.. Wassalam
    /tad

  6. Ass Wr Wb Pak Prof

    Saya sampaikan terima kasih atas perkenan Bpk sebagai teman di FB. Difinisi dan pengejawantahan cinta yang luar biasa….terima kasih…

    Wss Wr Wb

  7. Andang says:

    Terima kasih, masih ingat obrolan kita waktu mahasiswa. Saya juga mendekati 60, sebentar lagi “over sixty”, kalau dikaruniai tambahan, jadi “over stay”.
    Ampun.

    Tentang cinta.
    Cinta sementara. It means that “The pleasure of giving” is only valid temporary. I believe that the pleasure of giving is one of the highest mankind quality, since trying to imitate the character of Allah is one of the effort any man should performed. And we all sure that Allah gives us everything and forgive us for everything, almost unconditionally.
    Jadi, dalam menggeser cinta kepada Allah beranjak dari “pleasure of giving” yang sementara dari tadinya ke manusia, menjadi ke Allah, wah… wah…
    Minimal saya tidak pernah merasa “memberi” kepada Allah, “wong” segala yang ada pada saya memang punya Allah. Mana bisa kita memberi ?. Saya rasa saya bukan “menyerahkan”, tapi “menyerah” (not giving but surrender).
    Saya tidak berani berdiskusi, apalagi berdebat dengan Prof dalam kaitan dengan agama.
    Tapi dalam pemahaman “cinta sementara” seperti itu, rasanya sedih bila demikian.

    Saya tetap bahagia bila memberi. Kata “sementara” ini saya artikan pada “mengharap untuk memiliki”, dan kemudian tidak lagi. Tapi bahagia memberi tidak berubah, hanya modus dan substansinya yang mungkin perlu “disesuaikan”.

    Wah, kok saya menulis berputar-putar begini, apa ketularan gaya profesor, tapi teu kataekan ??
    Punten ah…..

  8. sukmayadi says:

    Ass.Wr Wb
    sata temen sekelas anda,kisah pertama yang di sajikan saya baru tahu anda jatuh hati sama sidia,yang kebetulan tempat tinggalnya dekat rumah saya.saya di gatsu persisnya di depan Seskoad.kalau menurut saya itu cinta pertama yang paling berkesan,dimata saya sidia biasa2 saja tapi kulitnya bersih.jangan2itu cuma cinta monyet cinta sesaat masa2 di SMA saja ,maaf ya pak koes itu komentar saya.
    untuk kisah yang kedua saya mau komentar yang anda sajikan itu cuma mitos dan zaman sudah berubah mungkin orang2 dari jawa tengah dan jawa timur sama heranmya mengapa di Bandung tidak ditemukan jalan Gajah mada.ini juga ada ceritanya kan.maaf pak Koes saya berasal dari jawa barat( Bandung) Iateri saya berasal dari Jawa tengah ,saya berjodoh dengan isteri tercinta ya barangkali sudah takdir.saya hidup bahagia beserta isteri dan ke empat anak saya.kebetulan anda berbeda dengan saya tak berjodoh dengan mbah dwi yang asli yogya.

    kalau kisah yang ketiga ,komentarnya harus hati hati
    karena menyangkut seorang rasul,yang penting umatnya jangan mencari cari kesempatan,dengan alasan mengikuti sunah rasul akhirnya berpoligamy seperti cerita yang lagi hangat akhir2 ini yaitu cerita Syech Puji yang sangat mencengangkan publik.

  9. sukmayadi says:

    Untuk mengingat masa lalu,prof anda dulu tinggal di Jl moh Ramdan saya masih ingat..orang tua saya seorang tentara seperti anda juga ,orang tua saya mengenal orang tua anda kalau gak salah maaf namanya kapten Bandi gitu lho maaf kalau keliru..kita berpisah sejak lulus SMA tahun 1970 saya ngertinya anda masuk ITB dan ada temen kita namanya ELIZAR Sialagan kabarnya menjadi Perwira tinggi di POLRI saya kangen deh sama temen2 lama

  10. Eko Wahyudi says:

    Ass. P. tolong email saya dijawab!

  11. djaharuddin ilyas says:

    Assalamu’alaikumwr. wb.

    salam kenal pak koes (maaf sama bingungnya dengan nak Nugraha mau panggil apa tapi posisinya terbalik kalau yang satu jauh lebih muda tapi tampaknya lebih dalam pemahaman sastranya ari abdi mah lebih tua dalam umur kronologis tapi lebih dangkal baik sastra apalagi scienttfic knowledge nya).

    hebat oi multi talenta pisan sebagai manungso yang lebih dulu makan asam garam saya anjurkan mulailah menulis novel dari sekarang nggak usah nunggu pensiun dulu kelamaan masih 10 tahun lagi. Dalam kisah “ketika cinta hanya berbuah cerita” ada peristiwa tanggal 20 maret tahun 1978 dan tanggal itu sebulan sebelum perkawinan penulis (mungkin ini panggilan yg lebih cocok) coba kalau ngomongnya tanggal itu sebulan setelah perkawian maka saya bisa nebeng ulang tahun perkawinan. saat penulis ultah perkawinan yg pertama abdimah ultah yg kedua perkawinannya. maaf diputus azan shubuh nih.

  12. djaharuddin ilyas says:

    sambungan pertama.

    setelah membaca ulang episode ketiga dengan lebih tartil ditemukan nasihat yang sama dari temannya. syahdan kira2 seminggu setelah tangga 20 Februai 1977 sahabat saya Basri Abbas datang dari kampung dikaki bukit barisan ditepi danau Singkarak sana.Almarhum lebih tua sikitar 3 tahun tapi akrab dari kecil karena tetangga rumah dan dia sekolah dikota kabupaten kalau libur pulang kedesa menghabiskan masa libur bersama.

    kamu sekarang sudah punya istri, nah apa yang kamu tau tentang perempuan?. katanya saya jawab perempuan itu lawan jenis laki-laki, kalau wanita lawannya pria, dalam tubuh perempua ada hormon laki-laki dan sebaliknya keseimbangan sejati hanya bisa diperoleh dengan menyatukannya, ya boleh masih ada yang lain saya diam dia teruskan hanya itu saya tetap diam. kemudian dia lanjutkan; pertimbangan utama bagi perempuan dalam memutuskan sesuatu perkara adalah; enak tidak enak, sesuai tidak sesuai, cocok tidak cocok bukan seperti laki-laki yg mengutamakan;baik buruk, salah benar, bermanfaat atau mudhorat.Nah kalau menurut perempuan ada yang tidak enak, tidak sesuai atau tidak cocok; maka ketidak enakan ketidak sesuaian dan ketidak cocokan itu akan keluar melalui mulutnya, ada perempuan yang cukup terlatih menahan mulutnya maka hal itu akan kelihatan pada perangainya ada tingkah lakunya yang berubah tapi ada pula yang mampu mengendalikan mulutnya sekaligus perangainya pelayanan tetap pari purna ini yang berbahaya karena akan menyakitkan kebadannya. nah kamu sebagai laki-laki mau mendengarkan radio rusaknya mau menahankan perangainya atau mau mengobati penyakitnya. dari nasehat itu saya ambil kesimpulan yang paling ringan mendengarkan omelannya ditambah ngutip ilmu taktik managemen dramaturgi.ada yang caranya masuk kuping kanan keluar kuping kiri saya tingkatkan jada masuk kuping kanan mental dikuping kanan masuk telinga kiri mental dari telinga kiri jadi nggak sempat direkam kuatir kapasitas memorinya kurang dramaturginya bisa gagal.nasehat itulah yang membuat saya bisa menyerumahkan ibu kandung dan mantan pacar 13 tahun lamanya dirumah mertua pula. cukup dahulu untuk sambungan pertama ini. wassalamualaikum…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: