KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA

April 24, 2009

Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA

EPISODE KEEMPAT

Ini sebenarnya kisah cinta dari teman-teman gadis saya yang umurnya masih muda. Mereka hidup bersama saya apakah sebagai sahabat, kolega atau sebagai anak didik tak langsung. Mengapa dibilang begitu, memang ada istilah anak didik langsung dan tak langsung. Anak didik langsung dialah mereka yang pernah jadi murid saya di sekolah resmi, sedangkan anak didik tak langsung adakah mereka yang menjadi pendengar ceramah-ceramah saya pada berbagai kesempatan. Mereka mengatakan saya adalah guru mereka.

Ada tiga gadis yang nasibnya sama, saya samarkan namanya; Septia Dela Rosa, Ratna Setiawati dan Lisa Pujiningsih. Diantara ketiga itu yang paling cantik, pertama adalah Septia, dia bernilai 8,5 kata teman-teman, dan kini berprofesi sebagai selebritis berpendidikan S-2 ada kalanya saya lihat dia di TV, saat itu ia berstatus kolega di sebuah PTS Bandung. Kedua adalah Ratna. Mahasiswi di Delft University of Technology Belanda, nilai daya tariknya kira-kira 8,0 saja, tetapi termasuk anak yang maju kuliahnya dengan angka diatas IP rata-rata. Terahir Lisa, seorang dosen di sebuah PTS terkenal di Jakarta, gadis jawa yang hitam manis, senyumnya menawan, hingga nilainya bisa mencapai 7,5. Banyak rekan-rekan dosen menyenanginya, bahkan ada yang bercanda: “ Waduh, terlambat kita bertemu ya Lis”. Kadang ada aja yang nakal “ Ok Lis, kutunggu jandamu kapan saja”. Ah dasar lelaki, ada-ada saja candanya. Lupa, kata-kata seperti itu, bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Begitulah lelaki, candanya kelewat batas. Ada kalanya, ketika dalam seminar ketemu peserta cantik, maka ia berkata: ”Kalau lihat anak orang, saya suka ingat anak sendiri, ee pas lihat istri orang, lupa deh istri sendiri”. Naudzubillah mindzalik. Begitulah bila para dosen becanda di kampus.

Entah bagaimana, ketiga teman gadis saya yang semua beragama Islam itu, sama-sama nasibya, mempunyai kekasih bahkan calon suami (tunangan) yang berbeda agama. Septia mempunyai pacar bernama Bernadus yang Katholik, Ratna berpacar Darius yang juga Katholik dan Lisa mempunya pacar bernama Harry yang Kristen Protestan. Bagaimanakah nasib mereka selanjutnya, inilah kisahku bersama mereka. Tentu saja, nama-nama pacarnya juga adalah nama samaran. Kalau ada yang sama, ya itu hanya kebetulan saja.

Memang, ketika cinta itu buta, atau “Love is blind” kata orang Inggris,maka, dijawab oleh orang-orang Sunda “maaf: Tai Kotok pun terasa Coklat” artinya; maaf ; kotoran ayam pun terasa coklat. Cinta tak memandang siapa dia, agama apa dia, dan keturunan apa dia. Kata orang Sunda lagi “ Jodoh teh Jorok”. Artinya, ketika anda jatuh cinta bisa dengan siapa saja, seorang yang baik-baik mencintai pelacur, bukan hal yang mustahil. Itulah cinta, dia benar-benar buta. Tak memandang sesuatu pun di dunia. Bahkan ada pepatah bahasa Arab yang saya terima dari sahabat saya Bung Yourdan di STIE Ahmad Dahlan Jakarta, kata Bung Yourdan, ada pepatah Arab: “Man tahabba syaian; Fahuwa Abdun” Bila seseorang mencintai sesuatu dengan sepenuh hati, maka ia akan menjadi hamba dari cinta itu”

Padahal, kalaulah manusia sadar, di Jawa ada pepatah. Dalam memilih jodoh lihat: bobot, bibit dan bebet. Artinya: Bobot; mutu, kecantikan, kekayaan, perilaku. Bibit: Asal keturunan dan Bebet: bisa memberikan keturunan alias tidak mandul. Maka ketika rumus “Love is blind “ diberlakukan, gugur sudah teori bobot-bibit dan bebet itu. Kalau dalam ajaran agama Islam , untuk memilih jodoh itu ada empat: (1) kecantikannya, (2) kekayaannya, (3) keturunannya, dan (4) Agamanya (Islam). Bila kita tak memperoleh nomor 1, 2, dan 3. Maka no 4, kesamaan agama (Islam) mengalahkan segalanya. Jadi kalau kita memperoleh jodoh cantik, sebutlah nilai 1, kaya Nilai 1, keturunan baik nilai 1, namun agama beda alias = 0. Maka nilai totalnya menjadi 0. Sebaliknya kalau agama sudah sama berarti 1, yang lain 0, 0 dan 0, maka jumlahnya menjadi 1.0.0.0 alias seribu. Artinya faktor agama inilah yang sangat menentukan, oleh sebab itu bila agama menjadi pegangan harus dibalik, masalah agama menjadi nomor satu, setelah itu baru kecantikan, keturunan dan kekayaan.

Tentu saja, makna agama di sini dalam arti yang seluas-luasnya: dia itu shalat, rajin puasa sunat senen –kemis, rajin tahajjud, amanah, berahlaq baik dan lain sebagainya.

Memang umumnya, pernikahan yang berbeda agama, banyak yang putus di tengah jalan, atau setelah sekian tahun hidup bersama, maka salah satu mengalah sehingga agamanya menjadi sama. Memang, ada saja satu atau dua, yang bisa abadi mempertahankan perbedaan hingga akhir hayat dikandung badan. Dalam kalangan kaum muslimin, masih banyak yang cukup tenang dan tentram apabila, lelakinya muslim dan wanitanya non-muslim. Dan agak berat masalahnya ketika laki-lakinya non muslim, sementara wanitanya muslim, apalagi dari kalangan muslimah yang taat. Dalam kasus ketiga gadis yang akan saya ceritakan itu. Septia, walau tidak berjilbab dan Ratna yang berjilbab adalah gadis-gadis sangat taat. Benar- benar sangat. Saya sering bertemu di mushala atau di masjid. Sementara Lisa, kurang taat, bahkan awam sekali pemahaman tentang Islamnya, dosen-dosen menyebut Lisa sebagai “dosen abangan” ketika itu. Lisa memang berprinsip: Agama sami kemawon, agama itu, ya sama saja. Tentu saja, pendapat ini salah. Sebab bagi pemeluknya, agama yang benar adalah yang dipeluknya. Jadi, saya Muhammad Koesmawan sebagai seorang muslim wajarlah kalau berkeyakinan bahwa “Agama Islamlah yang benar”.

Saya dan Kang Qodir, sahabat Septia juga sering menasehati Septia. Bahkan Kang Qodir tegas sekali; segera putuskan pacarmu itu dan ganti dengan yang muslim. Sebab kalau terus kawin, kamu akan disebut berzina selama-lamanya. Sering saya melihat, Septia menangis bila di depan Kang Qodir yang memang kadang disebut “ekstrim” oleh rekan-rekan sejawatnya. Saya sependapat dengan Kang Qodir, walaupun saya tak mau berkata keras seperti itu: “haram”, “Zina” dan sebagainya. Saya lebih sering mendengar apa yang ingin Septia katakan tentang pacarnya. Septia sering memuji-muji pacarnya. Memang, kata Septia, Benardus itu bukan muslim, tetapi perilakunya benar-benar tak jauh berbeda seakan mencerminkan sikap muslim yang benar. Dari ketaatannya, kesetiannya, kasih sayangnya dan dia tak hanya kepada Septia, tetapi juga kepada seluruh keluarga Septia. Hingga sulit baginya untuk putus dengan Bernadus seperti yang diharapkan Kang Qodir. Saya sering berkata kepada Septia. “Neng, Pantha Rei, biarlah hidup ini seperti air mengalir”. Jangan terlalu dibendung. Biarkan ia berlangsung apa adanya. Hadapilah dengan kesabaran. “Tetapi mengapa kamu belum kawin Neng?”. Kata saya. Septia menjawab, “Biarlah Kang Koesmawan, akan saya tunggu setahun lagi”. Semoga dia bisa ikut agama saya. Begitulah Septia optimis, bahwa kecintaan Bernadus kepada Septia,mungkin akan bisa mengubah agamanya menjadi Islam.

Saya katakan kepada Septia. ”Neng, sebenarnya nasehat Kang Koesmawan sama dengang Kang Qodir, Bedanya gini aja Neng Septi; ingatlah Neng, mencintai itu, tidak selamanya harus memiliki, Kalau seseorang itu memiliki cinta sejati, ia akan berharap kekasihnya bahagia selama-lamanya, walau tidak hidup bersamanya”.

Memang, ini kenyataan, terlepas agamanya yang Katholik. Pribadi Bernadus itu menyenangkan, saya pun sering memujinya di depan Septia. Orangnya cukup ganteng, simpatik, rendah hati, hormat kepada orang lain. Pokoknya selangit. Saya dan Septia sering berpendapat, kalaulah Si Bernadus itu baca sahadat aja, jadilah dia muttaqien.

Kisah ini berakhir, tatkala pada suatu ketika, Septia tergopoh-gopoh, memanggil saya dan Kang Qodir. Saking seriusnya, saya geli kalau ingat. Septia menarik tanganku di sebuah kantin di Bandung supaya mau berkumpul enam mata antara Koesmawan, Septia dan Kang Qadir. Inilah kata-kata Septia, dan kalau saya bertemu dia, saya ingatkan ini, dia akan tersenyum.

“Begini Kang Koesmawan, Kang Qadir, sahabatku yang baik. Alhamdulillah; saya seminggu yang lalu telah resmi putus dengan baik-baik dengan pacar saya Bernadus”

”Alhamdulilah, ya Allah terima kasih atas kabar ini Neng”. Saya lupa-lupa ingat, begitu ekpressifnya perasaan saat itu, kami berdua (saya dan Kang Qadir) langsung sujud syukur dan berdoa. Semoga Septia segera dipilihkan oleh Allah Swt. Jodoh yang segalanya melebihi Bernadus. Dan akhirnya, saya dengar kabar ia memilki calon suami muslim, S-2 akuntansi dan hidupnya lumayan, pribadinya baik. Kini dilihat dari penampilannya di TV, Septia tampaknya hidup bahagia, wajahnya tetap cantik. Bahkan, tidak saya sangka, wajah Septia ada juga di “Facebook”. Ah biarkanlah tak saya temui, semoga kalau dia baca kisah ini, dia akan mesem-mesem. Hanya satu yang ingin saya ketahui dari Septia Dela Rosa itu; Bagaimana proses yang dia lakukan hingga bisa putus dengan Bernadus yang dia sayanginya itu. Maksud saya, bagaimana serunya pergumulan dalam batin Septia antara Ya atau Tidak untuk putus, dengan kekasih yang sudah 5 tahun dipacarinya itu.

Bagaimana dengan kisah Ratna di Delft negeri Belanda itu. Ibarat pepatah dalam bahasa Perancis : “L’ historia Cest Repete” (Sejarah itu akan berulang). Ya, seperti terjadi pengulangan sejarah; tak banyak yang bisa saya ceritakan. Hanya kesan saya adalah ketika saya tanya. “Mengapa Ratna kok kamu menjadi serius sekali dengan Darius yang Katholik itu, sementara kamu berjilbab dan pengurus masjid di Delft lagi. Bukankah kamu dulu berpacaran dengan mahasiswa muslim?”, Demikian kata saya kepada Ratna.

“Itulah Kang Koesmawan”, kata Ratna. “Siapa yang tak ingin punya calon suami yang muslim. Tapi itulah kenyataan Kang, setiap saya membangun cinta dan kasih sayang yang serius dengan seorang muslim, ternyata menjengkelkan dan banyak makan hati”. Kemudian Ratna melanjutkan, ”Kadang, pria muslim pacar saya itu sok mengatur. Kadang kurang setia. Berjanji tak ditepati, sering bohong dan sewaktu jadi bendahara tidak amanah”.

Wah itu ciri orang munafik dong Ratna”, Kata saya. ”Jadi kamu memutuskan dia yang muslim itu?. “Benar Kang, dan ternyata ketika saya mengenal Darius lalu saya hubungan baik dengan dia, ternyata apa yang tak ada pada pria muslim, itu telah ada pada Darius. Hanya saja Darius bukan seorang muslim Kang” Demikian Ratna mengahiri ceritanya pada saya, dengan sedikit linangan air mata. Saya terharu juga mendengar keluhannya itu.

Memang, penampilan dan sikap serta watak Darius-nya Ratna ini tak jauh berbeda dengan Bernadus-nya Septia. Anaknya ganteng, sopan-santun, setia kepada pacar, rendah hati dan lain-lain. Saya tak bisa berkata apa-apa di depan Ratna. Saya tahu Ratna paham betul soal agama dan apalagi hubungannya dengan masalah kawin beda agama. Jadi apa yang harus kukatakan kepada Ratna itu? What should I say to her?

Saya berkata kepada Ratna, “Cest La Vie “ (Bahasa Perancis, dibacanya SELAFI), artinya “Itulah hidup Ratna..”. Saya ingat kata-kata Kiekegard, filsuf ekstensialis Jerman, dia bilang “Hidup itu susah diatur” . Kita maunya begini, hidup malah begitu. “Jadi kita harus menjalaninya wahai adikku Ratna dengan optimisme”. Masalah hubungan dengan Darius ini, semogalah berakhir dengan baik. Saya ceritakan soal Septi di Bandung kepada Ratna. Dia berharap akan berahir seperti Septi.

Sebenarnya, saat itu saya ingin bertemu anak-anak mahasiswa muslim Delft. Ingin saya maki-maki mereka, kenapa kalian tak dapat memperlihatkan akhlak Rasullullah dengan baik. Coba kalaulah semua mahasiswa muslim di Delft ini baik akhlaknya, tak mungkin Ratna jatuh ke tangan Darius.”Kok ada saja pemuda muslim yang tega-teganya menyakiti wanita muslimah secantik Ranta ini”. Sayang memarahi mahasiswa Delft itu tak kesampaian, kami hanya bertemu sebentar saja di Belanda, lalu berpisah dengan mereka.

Sejak saat itu, saya tak pernah ketemu lagi dengan Ratna dan juga mahasiswa muslim di kota Delft, sebab saya lulus Doktor di kota lain, yaitu Enschede pada tahun 1996, dan tak ada lagi kontak dengan mahasiswa muslim Delft. Jadi hingga tulisan ini di-entri ke rumah digital saya, saya tidak tahu lagi kabar dari Ratna. Harapan saya, mudah-mudahan jika Ratna bertemu, dia bernasib seperti Septia. Yakni bertemu jodoh pria muslim yang tinggi nilai ketakwaannya dan hidupnya sukses. Amiin. Siapa tahu, ada mantan mahasiswa Delft Nederland yang membaca kisah ini dan memberi kabar tentang nasib Ratna selanjutnya. Saya tunggu di “facebook”-nya Muhammad Koesmawan.

Adapun ceritaku tentang Lisa, hampir mirip dengan Septi dan Ratna, hanya ujungnya, jelas , yaitu: tidak “happy ending”. Bahkan menyedihkan.

Lisa ini aneh. Saya tahu bahwa sebelum kenal dengan saya, Lisa sudah punya tunangan bernama Mas Djoko. Lisa sering cerita bagaimana dia akan menghabiskan hari-hari dalam penantian untuk menikah dengan Mas Djoko. Namun apa yang terjadi, sejak saya berpisah tak ketemu Lisa, saya dapat undangan dari Lisa, bahwa ia akan kawin, tapi aneh bin ajaib. Ia tidak menikah dengan Mas Djoko, malah dengan Bung Harry yang beragama Kristen Protestan itu. Saya sudah kenal baik juga dengan Bung Herry, ia anak pendeta Kristen, berarti Herry sangat kuat kekristenannya.

Alkisah, pada suatu kesempatan, saya berdekatan dengan Lisa, kebetulan akan mengajar bareng di sebuah PTS di Jakarta.Nah, di saat kami berdekatan, maka saya tanyakan. “Lisa mengapa jadi begini, bukankah kamu tahu bahwa; menikah berlainan agama itu dilarang menurut agama Islam?” . Ketika saya bertanya ini, untunglah saat itu nikah beda agama dibenarkan secara hukum di catatan sipil. Jadi Lisa dan Herry menikah lancar saja di Indonesia. Padahal kalau sekarang, tidak boleh lagi menikah beda agama. Maka ramai-ramailah menikah di luar negeri. Dan dipilih yang dekat yaitu: Singapura atau Australia.

Memang, menurut Lisa, ini gara-gara Mas Djoko yang notabene-nya tunangan Lisa tidak memberikan perhatian yang semestinya. Hingga, “feeling” Lisa menjadi ragu, apakah benar Mas Djoko mencintainya? Atau seperti akan mencampakkannya?. Nah ketika Lisa tak punya kepastian ini, tiba-tiba datanglah Herry masuk ke dalam kehidupannya. Memang sebelumnya; dulu katanya, Lisa itu sangat dekat dengan Herry, namun entah apa tiba-tiba mereka terpisahkan. Maka ketika mereka bertemu lagi muncullah apa yang disebut: CLBK (cinta lama bersemi kembali).

Dan ketika Mas Djoko dan Lisa terpisah karena tugas, Herry masuk ke kehidupan Lisa dan memberi kepastian, hingga Lisa jatuh ketangannya, padahal mereka berbeda agama. Jadi Lisa mengajarkan kepada kaum pria, bahwa kalau kita meyakini cinta kita akan berlangsung panjang, maka berilah kaum wanita itu kepastian. Sebab, bila cinta tanpa kepastian, maka ia akan gugur, cepat atau perlahan-lahan. Lisa, mengajarkan betapa cintanya kepada mas Djoko bisa gugur dalam hitungan bulan, disebabkan tanpa adanya kepastian. Di sini saya bisa berkata “Love is a certaint”. Cinta adalah kepastian.

Kabar terakhir tentang Lisa, tak enak didengar telinga, katanya, karena merasa hidup dengan berbeda agama di satu rumah tidak baik, akhirnya Lisa mengalah mengikuti agama suaminya. Wallahu A’lam, saya tak pernah bertemu dengan Lisa lagi, hanya ku ingat kata-kata terakhir waktu bertemu, “Koesmawan, kita berdua ini selalu akur ya?”. Tak tahulah saya, kemana arah perkataan Lisa itu.

Kini umur saya sudah hampir 60 tahun. Saya berpikir dan ingat nasihat Mayjend (Purn.) Hari Suprapto di Lemhannas. Kata beliau, ”Hati-hati Prof. Koes, Allah Swt. itu PENCEMBURU, DIA TAK MAU CINTA KITA DIBAGI DUA apalagi dibagi banyak. Maka kita akan termasuk musyrik yang dosanya tak akan terampuni”. Dengan begitu Pak Jenderal berharap agar cinta kita itu “Satu dan Hanya Satu Saja”, yakni Cinta Sejati kepada Allah SWT.

Kalau begitu, bagaimana kita bisa mencintai kekasih, istri, anak, adik, kakak? Jawabannya: Silahkan saja, asal niat kita dan tujuan kita dalam rangka “Cinta kepada Allah Swt. itu tadi”. Jangan sampai kecintaan kepada anak-istri, kekayaan, saudara dan sahabat mengalahkan kecintaan kita kepada Allah Swt. Tuhan yang Maha Kuasa.

Hidup memang penuh ketidakpastian, seseorang tak akan tahu apa yang akan terjadi padanya hari esok dan mereka tak akan tahu pula di bumi mana mereka akan mati (Al Quran). Manusia berencana, Allah Swt berencana. Maka sebaik-baiknya rencana adalah Rencana Allah Swt. (Al Quran).

Jadi hidup bukan tak bisa diatur kata Kieskegard, tetapi hidup harus kita rencanalkan dengan baik. Semoga kisah cinta tiga teman gadisku itu bermanfaat bagi yang membacanya.

Advertisements

KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA

April 8, 2009

Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA

EPISODE PERTAMA:

Ini adalah sebuah catatan tentang cinta yang sangat subjektif, mengapa karena ia hanya bercerita tentang pengalaman saya pribadi yang “gagal” menemukan arti sebuah cinta yang saya harapkan dimasa remaja. Saya tak tahu, apakah pengalaman ini berguna bagi orang lain. Nama gadis yang saya cintai, terpaksa saya samarkan sebab, tentu yang bersangkutan akan risi bila kisah dan namanya dibaca oleh suaminya. Tentu saja nama-nama gadis itu sedikit saya pelesetkan saja.

Episode pertama kejadiannya di SMA 3 Bandung, saya menyenangi teman sekelas saya, ia bernama Reka Tri Rahayu, sebutlah Eka saja. Gadis ini di mata saya sangat cantik sekali, akan tetapi dimata orang lain ya biasa saja. Kata temanku, ah paling si Eka itu, nilainya maksimal 7 deh. Begitu kata kawan-kawan saya. Saya sangat mencintainya, tiap malam minggu saya “apel” kepadanya dengan membawa pekerjaan rumah untuk hari Senin. Indah sekali rasanya “bercinta” itu, walau sebatas datang ke rumah, ngobrol dari waktu magrib hingga isya. Indah sekali bertemu dia itu. Saya ingat, mengingat rumah saya jauh, maka ada kalanya uang jajan dari orang tua dikumpul-kumpul, hingga cukup untuk ongkos dari Cimahi ke Jalan Gatsu di Bandung. Selain uang, pikiranku juga kuberikan kepadanya, maksudnya; aku di rumah siap-siap mengerjakan PR. Intinya, mengapa ketika cinta ini lahir, aku ingin memberi aja.

Nah, pada tahun 1969, aku menjadi pengurus mushala SMA 3 Bandung bersama Sukmana dan Dimyati anak SMA 5. Dalam rangka membina anak SMA 3 yang sering disebut SMA santri, panitia mengundang Dr.Ir. Imaduddin Abdul Rachim yang dikenal dengan sebutan Bang Imad. Salah satu isi ceramah Bang Imad (alm) yang saya kenang hingga kini ialah; “what is the meaning of love”. Maka Bang Imad menjawab, “Love is the pleasure for giving”. Mudah2an saya tak salah menerjemahkan artinya ialah: bahwa cinta itu adalah kesenangan untuk memberi. Kini saya yakin, rupanya apa yang telah saya lakukan pada gadis Eka itu memang kesenangan untuk memberi. Indah sekali ya ketika kita memberikan sesuatu kepada seseorang yang kita cintai itu. Begitu ikhlas saya memberikannya, tanpa saya harus menerima apa yang akan dia berikan kepada saya. Saya berikan saja tanpa kata tanpa janji apalagi meminta sesuatu. Memang benar sungguh suatu kebahagiaan memberikan sesuatu yang kita miliki kepada yang kita cintai. Hanya dua tahun saya dekat dengan Eka, tetapi Tuhan tidak menjodohkan saya kepada Eka. Saya menikah dengan wanita lain dan Eka pun menikah dengan lelaki lain. Kemudian, cinta sebagai lambing member itu, bisa diperluas. Misalnya kepada Ibu, Ayah, Adik, Kakak atau Sahabat. Kepada semua yang kita cintai itu, berlaku terus “Love is a pleasure for giving

Kini umur saya hampir 60 tahun. Bila umurku lebih akan disebut “over sixty”. Lama saya merenung, sebenarnya, cinta saya kepada Eka, hanyalah cinta sementara yang hanya menjadi sebuah cerita. Cinta yang sebenarnya adalah cinta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini baru benar-benar cinta dan ia akan memberi kekuatan yang maha dahsyat, yakni kekuatan untuk hidup dan bercita-cita. Hidup dan bercita-cita harus satu paket. Saya tak bisa membayangkan ada manusia yang hidup tanpa cita-cita? Kalau ini ada manusia seperti ini. Saran saya. Lebih baik mati saja, sebab hidup harus dengan cita-cita. Cita-cita kita bisa menjadi motivator atau penggerak hidup kita untuk terus maju. Ada kalanya cinta itu, juga adalah sebuah impian. Nah kebahagiaan hidup, kata Marzuki Usman ialah; disaat kita melangkah sehasta-demi sehasta, menggapai dan mewujudkan impian kita itu.

EPISODE KEDUA:

Jauh sekali setelah beberapa tahun melupakan Eka di episode pertama. Kini saya bertemu lagi dengan cerita cinta pada episode kedua. Pada cerita ini benar-benar ibarat kisah di sinetron. Alkisah, karena saya sebagai mahasiswa yang cukup mengerti tentang matematika, fisika dan kimia, maka saya sering diminta mengajar anak2 SMA di rumah teman yang bernama Bambang Sumantoro. Dia punya adik perempuan yang bersekolah di SMA, maka hampir seminggu dua kali saya mengajar adiknya Mas Bambang ini. Kalau tak salah, Bambang itu mahasiswa ITT Bandung.

Pada suatu ketika, seorang saudara misan Mas Bambang di Yogyakarta yang bernama Dwi Utari datang ke Bandung untuk berlibur dan saya sering diberi tugas oleh Mas Bambang ini untuk mengantar Dwi Utari ke berbagai tempat di Bandung ini sekedar cuci mata katanya. Nah barang kali, karena seringnya ketemu dengan Dwi Utari ini, terbitlah sesuatu dalam hati saya, sebutlah cinta lagi. Sering Dwi Utari menyindir saya dengan pepatah bahasa Jawa “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”, diterjemahkan: “Cinta lahir karena seringnya ketemu”. Nah akhirnya, saya dekat sekali dengan Dwi Utari itu, tetapi sayang hanya dalam hitungan bulan, ia “berakhir” sudah, kalau saya pinjam kata-kata lagu Tetty Kadi, “Layu Sebelum Berkembang”. Kenapa lagi ini, tahukah apa penyebabnya: Ya sebuah legenda yang dipercayai oleh keluargaku dan keluarga Dwi Utari itu. Keluargaku adalah suku Sunda, sementara Dwi Utari Suku Jawa. Kata legenda, Orang Sunda sama Orang Jawa asalnya kakak beradik. Dulu ada legenda Aji Saka, tercatat dalam sebuah tulisan kuno yang berbunyi : Hana Caraka, data Sawala. Pada jayanya, Magha Batanga, artinya; ada cerita, dua utusan, keduanya perkasa, lalu berkelahi dan mati. Yang kakaknya dikubur di Jawa Tengah, adiknya dikubur di Jawa Barat. Buktinya: itu hurup kuno jawa dan sunda sama, bedanya pada pengucapannya sunda dengan berakhir “A”, Jawa berakhir “O”. Ini berarti Orang Jawa itu adalah kakaknya orang Sunda. Adalah benar atau pas kalau lelaki suku Jawa menikah dengan perempuan suku Sunda, tetapi kurang bagus kata orang tua, lelaki Sunda menikahi wanita Jawa. Percaya nggak percaya pada legenda ini, buktinya: Belum Pernah ada lagu-lagu sinden Jawa memuja pemuda Sunda. Tetapi sebaliknya sering atau banyak lagu sinden Sunda memuja lelaki Jawa, misalnya lagu “Mas Joko”. Atau “Kang Mas”. Ini berarti yang tepat adalah wanita suku Sunda menikahi lelaki suku Jawa. Sayang sekali keluarga saya dan keluarga Dwi Utari sama-sama tak merestui hubungan saya dengan Dwi Utari. Tiap saya memuji-muji kecantikan dan kebaikan Dwi Utari, mereka acuh. Sama juga keluarga Dwi Utari. Maka hubungan baik itupun berakhir. Bertepatan dengan kisah ini, saya nonton film, Dwi Juga nonton, walau tidak nonton bareng sempat kami cerita bareng judulnya “Love Story” dan kami terkesan akan kata-kata dalam film itu : “Love is something that you never say, your sorry”. Artinya kira-kira; cinta itu adalah sesuatu yang kamu tidak pernah akan berkata menyesal.

Memang benar, walaupun saya dengan Dwi sudah lama berhubungan, sering tertawa bersama, sedih bersama, pokoknya hari demi hari kita hiasi dengan keindahan, entah berupa surat menyurat ataupun telepon sebab saya di Bandung dia di Yogya. Saya di ITB, Dwi di sebuah akademi di Jogyakarta, lupa namanya. Nah ketika, kami tak terus jadian, masing-masing tak pernah merasa menyesal. Kita tinggalkan saja legenda usang itu, sebab itu hanya sebuah cerita belaka. Banyak sekali teman-teman lelaki Sunda menikah bahagia selama-lamanya dengan wanita Jawa, mereka sukses lahir dan bathin, kalau ternyata ada hambatan-rintangan dan tantangan itu hal biasa saja, semua pasangan hidup manapun apakah Sunda, Jawa, atau Aceh akan mengalaminya. Alhasil, janganlah legenda itu menjadi pegangan. Kalau ada legenda yang bermanfaat dalam hidup, misalnya kisah Malin Kundang yang mengajari anak jangan melupakan ibunya silahkan saja ambil hikmahnya supaya semua anak lelaki sayang ibunya. Tapi legenda yang membatasi pernikahan Sunda Jawa itu, buang saja. Forget It” kata teman yang baru datang dari Amerika ketika dengar cerita ini. Atau mungkin ada baiknya, sebuah mitos, kita ilmiahkan. Contoh: Orang hamil dilarang berdiri dipintu, ya tentu benar, sebab sudah perutnya besar, kalau ada yang mau lewat kan tersenggol tuh.

Kini umurku hampir 60 tahun, hampir “over seket” kata orang. Cinta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sepertinya juga harus demikian. Kita boleh saja berdoa, tetapi jangan mengatur Tuhan. Seolah-olah: hei Tuhan, saya harus kaya nih, saya harus jadi pejabat nih. Besok saya akan begini, lusa akan begini. Enak sekali bisa mengatur Tuhan. Naudzubillah Mindzalik.

Kita berusaha menjadi kaya, menjadi pejabat, tetapi ternyata tetap aja seperti begini sejak dulu tak kaya-kaya dan tak juga menjadi pejabat, jangan kecil hati. Sebab makna cinta itu ialah : sesuatu yang tak pernah menyesal mencintai Tuhan. Dalam mencintai Tuhan, ada dua prinsip yaitu bersyukur ketika menyenangkan dan bersabar ketika dalam kesusahan. Kalau ini dijalankan kita akan ikhlas terhadap takdir Tuhan. Kita tak akan menyesal menerima apa yang Tuhan berikan kepada kita.

Dalam ilmu manajemen, sikap ini akan menjadikan manusia berpikir positif dan bersikap optimistik. Dua sikap ini perlu dalam menghadapi krisis global saat ini. Krisis global yang disebabkan kegagalan masalah keuangan di Amerika telah berimbas keseluruh dunia dan walau apapun upaya para petinggi Negara di dunia, tak mudah akan cepat berakhir. Maka, dengan semangat cinta kepada Tuhan inilah, maka kita tanamkan sikap optimistik dan positif menghadapi krisis global ini.

EPISODE KETIGA

Saya paling senang mendengar kisah-kisah bagaimana dua sejoli mengisi cinta dengan saling menutup kelemahan pasangannya. Ini hanya bisa dijalani kalau seseorang berprinsip bahwa; dibalik kelemahan pasanganku, terdapat kekuatannya. Juga kita harus hati-hati, sebab dibalik kelebihan pasanganku selalu ada kelemahannya. Cinta menjadi indah. Ketika masing-masing harus memperkuat kelemahan pasangannya dan memelihara kekuatannya. Ingatlah prinsip dalam hidup “There is no the best way, but only the better ways”. Kita tak pernah menemukan cara yang paling baik, akan tetapi kita akan selalu menemukan cara yang lebih baik. Tapi awas prinsip ini, jangan disalah artikan. Seorang temanku yang nakal becanda; “eh Koes, kalau begitu, prinsip ini berlaku dong; kita tak akan menemukan istri terbaik, akan tetapi kita pasti menemukan istri yang lebih baik”. Jangan didengar ini ngaco !!!

Prinsip itu digunakan untuk memperbaiki pekerjaan, memperbaiki rencana dan atau mengatasi berbagai masalah, jangan sekali-kali digunakan untuk gonta ganti pacar, apalagi gonta ganti suami atau istri, tidak benar itu. Mari kita kembali ke contoh saling bela suami dan istri.

Ada contoh bagaimana seorang pria membela pasangannya. Alkisah di Bandung, seorang sahabat bersama istrinya naik angkot. Entah bagaimana, maaf; tiba-tiba istrinya buang gas dan di luar dugaan, gas itu tercium oleh semua penumpang, sampai-sampai mengipas-ngipas hidung masing-masing. Dalam keadaan beginilah tiba-tiba sang suami angkat bicara ”Aduh maaf Ibu2 dan Bapak2, saya sedang sakit perut, tiba-tiba buang gas”. Ternyata sang istri senang benar dibela. Sebab semua penumpang akhirnya tertawa dan melihat teman lelaki saya yang pura-pura malu. Penumpang tak mungkin memeriksa dari mana sumber gas itu keluar, ada yang mengaku saja sudah puas para penumpang angkot itu. Padahal istrinya yang membuang gas, tersenyum senang sebab suaminya rela “berkorban” malu.

Tentu saja, dalam sejarah kehidupan banyak kisah kisah seorang istri membela suaminya. Pernah dalam kehidupan Rasululloh SAW, pada suatu ketika Rasul seperti putus asa, kok tiba-tiba umatnya pada nggak benar, gimana berdakwah bisa terus lancar jangankan orang lain, umatnya saja pada nggak benar. Ketika itulah istrinya yang bernama Siti Khadijah berkata “Wahai Rasululloh, janganlah putus asa, jangan kecil hati, teruskan dakwahmu sebab, minimal masih ada seorang yang akan setia mendengar apa yang Engkau dakwahkan yaitu; aku sendiri Istrimu”. Nah semangat dari istri inilah yang membangunkan jiwa Rasululloh, hingga semangat lagi dan ternyata berhasil. Bisa dibayangkan kesetiaan dan cinta seorang istri seperti Khadijah berbuah seorang Tokoh Besar yang mengglobal yang oleh seorang ahli sejarah bernama Michel Hart menempatkan Muhammad Saw sebagai tokoh nomor satu yang mempengaruhi sejarah umat manusia di dunia dan hingga sekarang pengaruhnya tidak hilang. Hebat sekali kekuatan cinta itu ya.

Setelah Khadijah meninggal, kemudian Rasululloh SAW menikahi Aisyah. Suatu ketika Aisyah ingin tahu besar mana cinta Rasul kepada Aisyah dan kepada Khadijah. Di suatu malam, hal itu beliau tanyakan kepada Rasululloh Saw. Rasul menjawab, bahwa dirinya lebih mencintai Khadijah. Tentu saja Aisyah sedih mendengar itu, lalu ingin tahu apa alasannya. Maka Rasul menjawab, ”begini Aisyah. Aku sebenarnya sama saja mencintai engkau dan Khadijah. Hanya bedanya: Khadijah itu bersama-sama berjuang, bersama-sama menderita, tapi ia tak pernah melihat hasil perjuangan itu. Sementara engkau, sama-sama berjuang tetapi engkau melihat dan menyaksikan: Fathul Makkah atau kemenangan merebut Kota Mekah, Khadijah tidak pernah”. Mendengar itu, Aisyah segera memeluk Rasululloh dan beliau berkata: kalau begitu, akupun lebih mencintai Khadijah daripada diriku sendiri.

Ada sebuah ajaran yang diambil dari kitab suci Al Quran, dikatakan di sana bahwa “suami adalah pakaian dari istrinya” dan “istri adalah pakaian dari suaminya”. Oleh ulama besar M. Quraisy Shihab, pengertian pakaian mengandung empat makna; (1) Sebagai penutup aurat, (2) Sebagai hiasan (3) Sebagai identitas, misalnya polisi, dokter, tentara dan sebagai (4) Ciri budaya. Yang membedakan manusia dan hewan atau tumbuhan ya berpakaian itu. Orang-orang Papua secara bertahap, lama-lama akan berpakaian semua.

Suami penutup istrinya; ya itu tadi saling menutup kelemahan. Sebagai hiasan, ya harus begitu suami adalah hiasan istrinya, Jadi kalau ingin mengucapkan ”sayang” ya hanya kepada istri, jangan sampai kirim SMS ”sayang” ke sekretaris lain yang bukan istrinya. Bisa –bisa istrinya bertanya “Bang SMS siapa ini Bang, kok ada kata sayang-sayang. Cepat jawab atau terpaksa HP ini ku buang”. Begitulah celakanya kalau suami memilih orang lain sebagai hiasan. Juga istri bila berhias dan cantik, adalah semata untuk keindahan suaminya. Biar suami hanya melihat keindahan kepada istrinya tidak ke yang lain. Sebagai identitas, hati-hatilah para suami. Jangan sampai jadi koruptor, sebab suami adalah identitas istrinya. Tuh lihat ibu Fulani, ia kan istrinya Pak Fulan yang korupsi 10 milyar itu. Nah, jadi pakaian adalah identitas. Juga istri yang keluyuran nggak karuan, ya kena juga ke suaminya. Tuh lihat pak Fulan, ia kan suaminya si Fulani yang keluyuran terus tiap malam. Amit-amit deh jangan sampai deh ada istri atau suami yang demikian. Naudzubillahminzaliq.

Kini umur saya sudah hampir menuju “Over sixty”. Saya merenung tentang bagaimana suami yang baik dan istri yang baik. Maka saya ingatkan nasehat sahabat saya. Andang Kasriadi sewaktu sama-sama jadi mahasiswa ITB dulu. Kata Andang yang punya pendirian bahwa; wanita lebih menonjol emosinya dari pada pikirannya, sementara kaum pria lebih menonjolkan logika/pikiran daripada emosinya. Maka Andang memberi nasehat kepada para suami dan istri begini: seorang suami yang baik ialah mereka yang pandai MEMIKIRKAN apa yang DIRASAKAN istrinya. Sebaliknya, istri yang baik ialah istri yang bisa MERASAKAN apa yang sedang DIPIKIRKAN suaminya.

Dalam praktek. Misalnya. Kita jalan-hjalan ke Mall Pondok Indah. Tiba-tiba istri kita melihat sebuah pakaian muslimah bernuansa hijau yang bagus sekali, dan harganya waduh Rp 2,500.000,00. Dan dia minta dibelikan, bagaimana ini?, gaji kita hanya Rp 5.000.000,00 habis dong. Nah disinilah seorang suami harus memikirkan perasaan istrinya. Jangan perasaan diadu dengan logika. “Hai istriku mikir kamu. Masa gaji 5 juta dibelikan baju 2,5 juta, makan dari mana ?”. Suami yang bijak lebih baik cari lagi pakaian lain. “Mam lihat ini Mam, itu ada baju muslim bernuansa biru yang kelihatanya Bapak lebih senang kamu pakai itu” (padahal harganya Cuma Rp 250.000,00). Jadi disinilah kebijakan suami. Ingat istri senang melihat baju yang 2,5 juta belum tentu dia itu ingin benar-benar beli, tetapi emosinya saja yang mendorong melihat baju 2,5 juta itu. Semoga para suami lebih menyayangi istrinya, juga sebaliknya para istri lebih menyayangi suaminya. ITULAH KEINDAHAN HIDUP.