KUMPULAN SAJAK SAJAK CINTA KOESMAWAN

November 21, 2012

Ternyata ada 7 (tujuh) Sajak Cinta Koesmawan, inilah daftarnya:

1.    Cinta Buat Mamah; Ibu Hajjah P. Subandi, Lagu Mama, Heintje-Jerman.

2.    Tertolak Cinta oleh : Meity., lagu Christopel; “ALINE” Prancis

3.    Tertoila Cinta oleh : Yayu., Lagu Historia Den Amora, Julio Iglesias.

4.    Tertolak Cinta oleh : Yenny., Lagu Andy William, “Impossible Dream”

5.    Tertolak Cinta oleh : Erna., Lagu “Love Story’ Andy William

6.    Tertolak Cinta oleh : Lina., lagu “You don’t have to say you love me” Elvis.

7.    Cinta Sukses dari : Ellya marliana.”Kokorono Tomo” Miyushi Jepang

Read the rest of this entry »


BELASUNGKAWA

January 4, 2010

SEGENAP CIVITAS AKADEMIKA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANTEN

MENGUCAPKAN TURUT

BELASUNGKAWA DAN MENDOAKAN

K.H. ABDURRAHMAN WAHID

SEMOGA DIMAAFKAN KESALAHANNYA,

DIAMPUNI DOSA2 NYA DAN DIBERI TEMPAT

YANG LAYAK DISISINYA. AMIIN.

REKTOR UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANTEN
PROF. DR.IR,.M.KOESMAWAN, M.SC,MBA ,DBA


KETIKA SETENGAH CINTA, HANYA BERBUAH CERITA

September 6, 2009

Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA

EPISODE KEENAM

Subhaanalloh, setelah lama, kisah tentang cinta ini ku buat, lalu terhenti sampai episode kelima tentang Bernadette dari Belanda dan Isabel dari Bolivia, kini aku lanjutkan kisah ini, namun kisah ini agak lain dari kisah sebelumnya. Bila pada kisah sebelumnya, ada unsur cinta dariku kepada Kaum Hawa, lalu “cinta” itu berlalu, maka pada episode ini, kisah cinta ini dibagi dua, ada yang berlalu dan ada pula yang bersambut. Nah, yang bersambut itulah yang akhirnya menjadi istriku satu-satunya yang kucintai dan kusayangi, hingga kisah ini kutulis, kami sudah mempunyai empat cucu. Tapi ada saja, dalam kisah ini yang tidak bersambut. Sehingga kalau boleh, maka judul kisah cinta ini adalah: “Ketika setengah cinta, hanya berbuah cerita”. Satu ciri khas dari kisah ini adalah hampir pada semua kisahnya menyebut-nyebut tentara atau kadang militer.

Semula aku ragu, apakah kisah ini akan kuteruskan, sebab, kalaulah dia akan menjadi kisah ilmiah, maka bukti-buktinya harus di cek en-ricek ke berbagai pihak, sehingga apa yang kukatakan, bisa mendekati 100% benar dan tak dapat ditafsirkan lain. Nama-nama pelaku juga harus di cek silang (Cross checked) dengan orang lain yang mengalami peristiwa yang bersamaan denganku. Tapi sejak aku membaca kisah tentang “Pengabdian Korps Baret Merah” karangan Letjend. (Purn) TNI Sintong Panjaitan, yang antara lain bercerita tentang Letjend. (Purn) Prabowo Subianto, ternyata “tak masalah” seseorang menulis kisah menurut versinya dan lalu orang lain membantahnya. Tak masalah, biarlah kisah itu, dibaca orang lalu terkubur sendiri dan tak ada pengaduan-pengaduan yang apalagi diproses secara hukum karena satu pihak merasa dirugikan oleh kisah yang ditulis orang lain. Juga kisahku ini, mana orang peduli?

Yang kuyakini ialah; bila aku menulis kisah menurut versiku, mungkin saja, aku tambah-tambah sedikit agar hidup dan sambung-menyambung, lalu ada orang lain yang tak senang atas kisahku, maka biarlah orang itu menulis kisah tandingan yang berbeda denganku, lalu kita serahkan sepenuhnya kepada sidang pembaca. Mau mempercayai yang mana?. Dengan demikian pembaca, bila anda tertarik terus kepada kisahku ini, kuberitahu sebelumnya bahwa bisa jadi, nama-nama yang ku tulis adalah tak ada, atau berbeda dengan yang sebenarnya. Salah satu alasan misalmya; nama tentara yang tertera di atas dada kiri serdadu tak terlihat jelas. Maka aku mengarang saja nama itu. Atau aku lupa, bahwa orang yang ku temui, namanya bukan itu. Aku menyenangi slogan-slogan perjuangan antara lain; “Kami Cinta Damai, Akan Tetapi Kami Lebih Cinta Kemerdekaan”. Bagi tentara artinya; lebih baik mati daripada tidak merdeka. Dalam bahasa Latin ada pepatah “Sic Vis Pacem, Para Bellum”. Apabila kamu ingin perdamaian, maka ciptakanlah perang. Ironis memang, agar damai kita harus mau perang, ya benar sebab perdamaian itu adalah dua pihak yang berdiri sejajar menghentikan pertikaian dengan cara damai. Kalau satu pihak lebih kuat, maka akan menjajah pihak yang lemah. Jadi aku ingin masuk tentara agar negaraku kuat.

Sebenarnya, pada kisah keenam ini, terbagi atas empat sub-episode, yakni pertama;  sub-episode obsesi tentara di SMA-3 Bandung, hingga ITB. Kedua, Sub-episode awal pernikahan dan hambatan oleh tentara, Ketiga; Sub-episode gerakan radikal melawan tentara dan, Keempat, sub-episode persahabatan dengan tentara di NTT dan di Roma.

Sub Episode Pertama

Aku terlahir sebagai anak tentara, tepatnya, ayahku bernama  Sersan Mayor R.A Subandi. Ayah mengajarku tentang kedisiplinan tentara. Aku harus bangun pagi lalu  berolah raga sebelum siap-siap berangkat ke sekolah. Aku diajarkan menyimpan barang harus tepat dan mudah sehingga ketika aku  butuh barang tersebut, maka barang sudah siap dan aku mudah  mengambilnya. Segala rencana harus diatur tepat waktu. Tapi aneh, walau ayahku mengajar aku untuk disiplin, tidak pernah satu katapun aku harus menjadi tentara. Ayah menganjurkan aku masuk menjadi dokter. Sementara aku, ingin menjadi tentara, aku ingin masuk AMN (Akademi Militer Nasional). Aku sangat kagum kepada Kolonel RPKAD Sarwo Eddy Wibowo. Setiap pemberitaan tentang Sarwo Eddy dan RPKAD aku terus ikuti di Koran. Sebagai pelampiasan cita-cita ingin jadi tentara ini, aku wujudkan dalam olah raga di kelas, yakni olah raga lari. Aku ingat, di kelas III B3 SMA 3 Bandung, hanya Lukman yang bisa mengalahkan lari cepat maupun lari keliling lapangan. Aku diajarkan ayahku, untuk melihat seorang tentara apakah sehat lahir batinnya, minimal dari lari pagi ini. Kalau dia hebat lari pagi lalu sikapnya baik, berarti mentalnya masih prima. Kalau sudah malas-malasan lari pagi, tentara seperti ini tak akan bisa dibawa berperang. Aku ingat kisah adikku; bahwa seorang Kasdam 3 Siliwangi, berpangkat Brigjen jago lari pagi, yang bisa bareng bersamanya, diberi uang Rp 10.000,-. Jarang yang mampu bareng, semua tentara tertinggal jauh dari Pak Kasdam ini, hanya satu dua yang bisa nempel terus, umumnya tentara muda yang baru lulus AMN.

Kembali ke kisah SMA-ku. Jadi setiap olah raga pagi, aku dan Lukman pasti bersaing, siapa yang duluan. Memang kadang aku, kadang dia, tapi ku akui, Lukman memang lebih hebat dariku.

Namun sayang di sayang, seperti kuceritakan pada episode pertama; aku sangat mencintai seorang yang bernama Eka itu, yang mana aku sering datang ke rumahnya pada malam minggu itu. Pada suatu ketika, selesai membaca pengumuman aku dan Eka lulus dari SMA-3 tahun 1970. Kami kumpul bareng-bareng lalu saling tanya mau meneruskan ke mana. Aku katakan kepada Eka bahwa aku sudah siap segera daftar ke AMN, aku ingin jadi tentara meneruskan jenjang karir ayahku. Saat itu ayahku Kapten TNI-AD, maka minimal aku harus menjadi Kolonel, syukur kalau bias sampai ke Jenderal. “Koesmawan, aku tak setuju kamu ke AMN, kamu itu sebaiknya ke ITB atau ke kedokteran UNPAD”, Inilah kata-kata Eka padaku yang hingga kini seakan tak pernah hilang dari ingatanku. Nah dengan kata-kata inilah, maka pupus sudah harapanku masuk AMN, akupun ingin mengikuti kehendaknya, dengan harapan aku bisa menjadi kekasih Eka di mahasiswa nanti, bila aku diterima di kampus ITB. Akhirnya, aku minta uang ke ibuku untuk test, tapi sayang, ayahku hanya memberi uang untuk satu kampus, maka aku hanya bisa ikut test ITB dan Alhamdulillah masuk diterima sebagai mahasiswa “Teknik Industri” angkatan 1971. Mengapa aku memilih teknik industri, sebab seorang raka senior berkata, dimasa depan industri Indonesia menjadi penguasa dunia. Ah… sungguh sebuah hayalan, hingga kini aku Professor pun industri Indonesia ini malah terpuruk oleh krisis moneter.

Ternyata, diawal masuk ITB senang sekali, sebab ada pendidikan WALAWA (Wajib Latih Mahasiswa), aku senang sekali, apalagi,  entah siapa yang menunjuknya, aku diangkat menjadi Komandan Kompi C, dengan anak buah 250 orang.

Satu kenang-kenangan yang terlupakan ialah; ternyata Kompi C ini sewaktu di lembang, lokasinya berdekatan dengan tempat mahasiswi Walawa untuk mandi. Sehingga entah siapa yang memulainya; banyak anggota Kompi-C yang mengintip perempuan lagi mandi. Salah satu orang yang masih ingat Kompi C ini ngintip ialah Ir. Indra Setiawan yang pernah jadi Direktur PT. Garuda, ia ingat benar peristiwa ini, walau dia sendiri tak tahu siapa-siapa saja yang menghintip itu. Yang jelas, aku yakin Indra Setiawan dan juga Koesmawan, tidak pernah ikut mengintip mahasiswi Walawa yang sedang mandi.

Akhirnya Komandan Latihan ITB mengumpulkan semua siswa (1000 orang di lapangan), lalu berbicara “Bahwa tadi subuh ada beberapa orang yang tidak bermoral, yang tidak sepantasnya dilakukan oleh calon cendekiawan yang katanya putera-puteri terbaik bangsa ini, siapa yang merasa bersalah maju kedepan, dan saya tahu persis; itu adalah anggota Kompi-C”. Ternyata tak seorangpun yang mengaku. Akhirnya saya selaku komandan dipanggil dan dihukum karena dianggap tak bisa mengendalikan anak buah. Lalu saya disuruh Push-Up 25 kali. Disinilah sebuah kenang-kenangan yang tak aku lupakan, begitu aku mulai menghitung, seluruh anak buahku yang sebanyak 250 orang itu ikut push-up mengikuti aku. Aneh, kami semua berlinang air mata, terharu. Yang lebih aneh lagi, ulang tahunku yang telah lewat, oleh orang-orang Kompiku dirayakan lagi bareng-bareng dengan acara yang lucu-lucu, susah kugambarkan. Komandan latihan cerita, begitulah kehidupan tentara di asrama bila hidup bersama setiap hari.

Satu lagi yang bikin kenangan, setelah malam senang-senang, tidurpun baru sekejap, tiba-tiba ada sirine (tanda bahaya). Kami semua wajib keluar berpakaian lengkap, untuk acara jalan malam. Sebuah kenangan lagi, kami bersama berurutan lalu jalan, aneh kadang bisa tidur sambil jalan. Ya memang aneh.

Selesai pendidikan Walawa, aku mulai sering ke rumah Eka, untuk apel malam minggu ceritanya. Namun sayang, masih kuingat tanggalnya; 23 Nopember 1971, Eka hanya menyatakan sebagai sahabat diriku dan aku akan tetap sebagai sahabat yang terbaik baginya (lihat kisah pada episode satu).

Sub Episode Kedua

Lulus dari ITB, aku diterima sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Trisakti di Jakarta kalau tak salah tahun 1977. Pada tahun-tahun awal aku di Trisakti tak ada kisah tentang tentara, baru pada tahun 1978, di sinilah kisah tentang tentara yang menyakitkan. Aku tidak mengalaminya, akan tetapi beberapa mahasiswa dari beberapa kampus bercerita tentang kekejaman tentara, yang bermuara pada perintah Jenderal Soeharto sebagai Presiden R.I. tentu saja. Jenderal Soeharto pada tahun 1978  sangat berbeda jauh sekali dengan Jendral Soeharto 1998, sebab pada tahun 1998 ini Soeharto sudah sangat lemah dalam berbagai hal, sehingga pada tanggal 21 Mei 1998 Soeharto lengser.

Mengapa mahasiswa ditahan oleh tentara?. Jawabannya adalah karena Soeharto ingin mempertahankan kekuasaannya yang ketika itu dinilai korup oleh mahasiswa. Adapun kekuatan utama mahasiswa ketika itu, ada di Jakarta dan di Bandung. Mahasiswa bertekad “Keadilan Harus Tegak, Walau Pun Langit Runtuh” (Fiat Justitia, Ruat Ceulum). Mahasiwa bertekad ingin mengulangi saat-saat menjatuhkan Bung Karno Presiden pertama yang alumni ITB itu. Soekarno berkata “Satu milimiter pun, aku tidak akan  mundur”. Lalu mahasiswa di bawah Muslimin Nasution menjawab: “Kami mahasiswa, satu mili-micro-pun tidak akan mundur”. Akhirnya Bung Karno jatuh.

Kembali ke kisah tahun 1978, ketika para mahasiswaku ditangkap mereka cerita bahwa masing-masing akan menjawab ini dan itu. Sehingga mahasiswa memiliki skenario menghadapi interogasi. Dengan harapan mereka bebas.  Lalu apa yang terjadi, ternyata mahasiswa itu bukannya ditanya satu persatu, namun dibawa dulu ke sebuah tempat. Inilah yang mereka sebut sebagai proses cuci otak. Mereka dibawa ke sebuah tempat seperti kolong sebuah gedung dan tak bisa berdiri, jalanpun jongkok, dan  tempat itu luas sekali. Setelah itu ditakut-takuti akan dibawa ke sumur tua yang banyak tikus dan berbau anyir tak sedap. Akibat “treatment” gila itu,  sungguh hebat, rusak sudah mental mahasiswa yang gagah dan bakat ilmuwan itu. Mereka akhirnya bagai kerbau dicocok hidung. Nurut aja, apa kata orang yang menginterogasinya. Bahkan harus mengaku bahwa para mahasiswa akan membunuh keluarga presiden. Akibatnya; silahkan pilih, salah satu dari  dua pilihan, ikut diadili sebagai perencana makar dan bisa dihukum mati atau mengikuti kehendak tentara yang menginterogasinya. Mahasiswa bercerita juga bahwa ada salah seorang di penjara, yang termasuk gerakan keislaman, dipukuli tentara, kuat-kuat, hanya teriak “Allohu Akbar, Allohu Akbar” tak terjadi apa-apa. Ada juga yang diikat di atas balok es. Sungguh tega para tentara itu menyiksa orang. Jadi kita tak heran, ketika tentara Amerika menyiksa para tahanan di penjara, memang kadang-kadang lama-kelamaan, orang yang masuk penjara, bisa timbul sikap aneh-aneh. Para tahanan itu, jadi bahan permainan sehari-hari.

Tanpa sengaja, ternyata, aku banyak mengenal mereka yang bergerak melawan Soeharto, baik kelompok Bandung maupun kelompok Jakarta. Dari Bandung, ada tiga orang yang kukenal yaitu Alhilal, Herdi dan Fajar (Almarhum). Aku baru tahu, ternyata alumni ITB itu hebat. Maksudku ketika ada pergerakkan, diam-diam alumni ini membantu, minimal ialah mengumpulkan uang buat anak-anak pulang pergi Jakarta- Bandung. Bila ada anak ITB datang, kita alumni ITB patungan  buat ongkos mereka.

Bertepatan dengan kejadian ini, aku tengah mempersiapkan pernikahanku dengan Ellya Marliana, calon  istri, yang direncanakan pada tanggal 16 April 1978. Sejak awal Januari 1978 hingga masa pernikahan perjalanan Bandung-Jakarta benar-benar mencekam, sebab hampir setiap hari, ada pemeriksaan di bus, tentara menganggapnya “Penyusupan musuh”. Sungguh  hebat juga ya, padahal, mereka mahasiswa biasa  yang tak punya senjata apa-apa. Istriku dan mertuaku selalu was-was, jangan-jangan aku tertangkap oleh tentara yang memeriksa bis. Sebenarnya aku tenang saja sebab “musuh yang menyusup” itu adalah mahasiswa, bukan aku yang punya kartu karyawan FE Usakti. Dan Alhamdulillah setiap ada pemeriksaan aku selalu lolos, sebab aku bukan mahasiswa lagi.

Berbarengan dengan gerakan mahasiswa ternyata di Jakarta sedang kencang-kencangnya persiapan gerakan yang dimotori oleh GPI (Gerakan Pemuda Islam) dibawah pimpinan Abdul Qadir Jaelani, yang oleh pemerintah disebut “Gerakan 20 Maret 1978” berarti satu bulan sebelum aku menikah. Sungguh ajaib takdir yang menimpaku ini. Entah darimana asalnya tiba-tiba aku memilki dua peran. Pertama, memberi fasilitas beberapa mahasiwa Bandung yang bergerak di Jakarta. Aku hubungkan mereka dengan mahasiswa Trisakti, walaupun saat itu aku mengajar di UNAS dan “ Qadir Jaelani, aku ditugaskan, untuk mensuplai informasi, agar gerakan menjatuhkan Soeharto, parallel dengan gerakan “Islam” tanggal 20 Maret itu.

Aku ingat, tanggal 19 Maret malam, dalam gerakan ini, nama-nama pelaksana di ubah; Koesmawan jadi Abu Bakar; Suhaeri jadi Mutmainah, Kang Gumsoni jadi Umar bin Khatab dan lain-lain. Aneh juga, malam hari kami naik mobil dan ternyata, kami punya alat menyadap komunikasi intel tentara.Dulu ada istilah Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban). Ini sebuah lembaga superbody yang sangat dominan sekali dalam perpolitikan negara kita waktu itu. Temanku Zacky (almarhum) berceloteh: “Koes kita yakin, bakal rame nih. Jakarta bakal terbakar, lebih seru dari peristiwa undang-undang perkawinan tahun 1974”. Aku tak mengerti, kok gerakanku bisa memahami pergerakan komunikasi intel. Hanya mungkin  karena tentara terlatih dengan sandi-sandi, maka bisa saja komunikasi tentara itu palsu, gerakan tentara yang sebenarnya lain. Untuk itu, aku bersama temanku Riyadi ditugaskan dalam gerakan ini, pagi di Trisakti, siangnya langsung mengamati di Bunderan Hotel Indonesia (HI). Aku pemberi kode gerakan dari atas Wisma Nusantara, berhadapan dengan hotel Indonesia. Aku ingat, sebelum aku naik ke Wisma Nusantara, depan Hotel Indonesia itu, seorang Kapten berbaju loreng menatapku seperti curiga, ia gagah memegang handy talky mondar mandir mengendalikan keamanan antara HI dan Wisma Nusantara. Sayang aku tak melihat seorang kawan pun yang membawa Bom Molotov itu, sehingga di tengah-tengah kota, gagal rencana pemboman itu. Dari atas wisma aku memberi kode, gerakan gagal. Tentara ada di setiap sudut. Di Trisakti pun gagal. Aku masih terbayang seorang temanku pembawa Bom Molotov memandangku saat dia akan dipukuli oleh Satpam Trisakti, aku tak bisa apa-apa melihat kawanku babak belur. Aku tak tega melihatnya; entah dia masih hidup atau tidak, tak pernah kutemui lagi.

Tepat tanggal 20 Maret  1978. Menurut skenario, di Trisakti harus terjadi pembakaran, dimulai dari bom molotov. Aku heran; mengapa temanku yang direncanakan membakar Trisaksi, malah gagal dan dia dipukuli rame-rame oleh satpam dan mahasiswa itu;  sebab ketahuan membawa bom molotov. Dengan dibonceng motor, aku tinggalkan Trisakti dan menuju Bunderan HI. Ternyata, semua lokasi yang direncakan akan dibom sudah di-blokade oleh tentara. Aku menduga, gerakan ini bocor ke intel dan mereka pada tanggal 20 Maret itu, lebih siap dari gerakan Abdul Qadir Jaelani. Akhirnya Abdul Qadir diadili dan dihukum. “Ah Jakarta tak jadi terbakar, jadi gerakan ini (GPI) tak sehebat tahun 1974 yang menguasai gedung MPR”, kataku dan Riyadi. Akhirnya, aku dan Riyadi berpisah dan baru ketemu lagi dua puluh tahun kemudian. Aku ingat kata-kata Riyadi ketika bertemu denganku, “Koesmawan, ternyata ente masih hidup, aku bingung, kemana mau tahlil di makam ente. Syukurlah ente masih hidup”. Kata Riyadi.

Untunglah gerakan ini berakhir dan akupun menikah dengan Ellya Marliana yang memberiku anak lima dan hingga kini kami punya cucu empat. Episode berikutnya; masih dengan tentara, yakni Komandan Garnizun Ibu Kota Brigjend Eddy Nalapraya. (Tunggu sedang disusun…).


PENGUMUMAN

July 30, 2009

KEPADA SELURUH ANGGOTA

TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH

WILAYAH JABOTABEK, BANTEN DAN JABAR, AGAR BERKUMPUL PADA:

HARI          : AHAD, 2 AGUSTUS 2009

JAM            : 07.00 WIB (PAGI)

TEMPAT    : DEPAN MONAS – JAKARTA

ACARA     : LATIHAN BERSAMA / GABUNGAN

DEMIKIAN AGAR MAKLUM.

WASSALAM,

M. KOESMAWAN

KETUA PANITIA LAT. GAB.

Info lengkap kunjungi:

http://pptapaksuci.org/


KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA

May 6, 2009

Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA

EPISODE KELIMA

Pada episode ini, saya tak akan berceritera tentang cinta, akan tetapi cerita tentang kisah persahabatan saya dengan dua gadis mancanegara ketika saya tinggal di Enschede Nederland guna menyelesaikan program doctor di Universitas Twente-Nederland. . Enschede itu sebuah kota kecil di Belanda berjarak 3 jam pakai kereta api dari Den Haag, letaknya berbatasan dengan Negara Jerman..  Bila dalam hal cerita cinta, saya samarkan nama setiap gadis yang saya akan saya kisahkan itu, maka pada hal persahabatan, saya tak ragu-ragu menuliskan nama lengkapnya. Pertama ; Isabel Torres dari Bolivia dan Kedua, Bernadette Schoomaker dari Belanda. Keduanya adalah wanita yang cukup cantik dan menawan hati. Isabel sudah bersuami seorang doktor ekonomi yang sedang bekerja di Den Haag, sementara Bernadette saat itu sedang kosong, tak punya pacar “ I am single, but happy” katanya ketika saya Tanya tentang statusnya. Saya yakin bila cerita ini dibaca oleh anak-anak dan istri saya, mereka pun tak akan memarahi ayahnya yang bersahabat dengan dua wanita mancanegara itu, dimana keduanya telah  memberi kesan yang mendalam tentang arti persahabatan,  politik dan kemanusiaan antar bangsa.

Saat itu, Isabel tengah melakukan riset tentang “Political Movement in Developing Country” sementara Bernadette sedang meneliti masalah “ Gender and Humanism” khususnya di Afrika, dan saya sendiri tengah merampungkan disertasi yang berjudul “Textile Export Marketing and Acquisition of Technology, A Case Study in Indonesian Textile Indutries”, dibawah bimbingan Prof.Hommes, Prof de Bruijn dan Dr. El Namaki. Kami bertiga setiap hari berada dalam satu ruangan, bertemu dan bekerja. Masing-masing diberi satu meja, satu computer dan satu loker. Bila jenuh, kami berbincang-bincang segala macam.

Hampir setiap pagi mulai dari Senin sampai Jumat siang, saya selalu bertemu dengan Isabel dan Bernadette, jumat siang saya salat Jumat di Mushala Hotel Enschede, dan hampir dipastikan, saya selalu jadi Khatib dan Imam jumatan disana. Padahal banyak orang Arab, Libia, Maroko dan orang Belanda yang muslim, akan tetapi bila melihat saya hadir, mereka selalu ,mendorong saya jadi khatib dan imam dalam bahasa Inggris Mungkin karena mereka semua tahu, saya adalah mahasiswa tertua diantara mereka.

Jumat sore saya pulang ke Den Haag, untuk  mengurus masjid Den Haag, menyiapkan tempat ngaji dan persiapan berjamaah magrib dan isya bagi orang-orang Indonesia di Den Haag. Tepatnya Mushala Daguerresstraat No 2. Disini,saya serba terjamin,  makanan enak dan bergizi banyak,  sebab banyak ibu-ibu yang umumnya orang Sunda dan Jawa yang memasak makanan untuk jamaah masjid. Acara pengajian dua kali seminggu yakni, jumat malam dan sabtu malam.  Pulang dari Mushala setiap hari Senin subuh dengan membawa bekal sisa-sisa makanan mushala yang masih utuh. Lumayan ini bisa disimpan di kulkas hingga hari Rabu berikutnya. Jadi setiap minggu saya hanya membayar makanan sendiri pada hari  Kamis dan Jumat pagi. Kalau di rupiahkan, biaya hidup saya hanya Rp 60.000,- perminggu, irit sekali,  ditambah sewa “kandang burung” Rp 300.000,- perbulan. Kata teman saya dari Indonesia, yang memeriksa kesana,  tempat kos saya disebut kandang burung sebab terletak diatap rumah. Itu harganya paling murah. Sebab dibagian bawah mahal, hingga Rp 500.000,- perbulan. Begitulah nasib mahasiswa yang terlunta-lunta nasibnya karena kebijakan pemerintah memutuskan hubungan  dengan  IGGI (Inter Goverment Group for Indonesia) yang memberi beasiswa kepada saya untuk program doctor di Belanda. Alhamdulillah ada mushala dan warganya yang membantu saya. Ada kalanya saya disuruh ceramah di KBRI Den Haag, lumayan pulang dibekali hingga Rp 1.000.000,00. Sering juga mengantar pejabat Indonesia yang datang ke Belanda lalu minta ditemani jalan-jalan di Enschede, kadang nyebrang ke Dusseldorf- Jerman,, ternyata ada saja yang dengan tulus  ikhlash dan memaksa saya untuk menerima sekedar uang lelah Rp 500,000,- hingga Rp 1.000.000,00 . Alhamdulillah hidup saya bisa tersambung.Sehingga saya tak perlu cari uang untuk biaya hidup di Belanda. Pernah ada tawaran kerja “Menggoreng Kacang” upahnya hampir Rp 5.000.000,00 perbulan, tapi Masya Allah, beratnya minta ampun, tak tahan saya. Waktu saya di Belanda, uang yang berlaku gulden, dimana 1 gulden kira-kira Rp 1000,- waktu itu. Sekarang menggunakan Euro, satu euro kira-kira Rp 15.000,-.

Tentu saja, dihadapan Isabel dan Berandette saya tak pernah memperlihatkan keadaan saya yang sebenarnya, mereka melihat saya “ life as usual” saja. Ada persamaan antara Isabel dan Bernadette, yakni, keduanya adalah penganut agama Katholik Roma yang sangat taat, sebab hampir semua kewajiban agamanya seperti misa, novena dan lain-lain dia kerjakan bersamaan. Sementara, saya sendiri seorang muslim yang tak segan-segan salat di ruangan saya, walaupun mereka berdua ada disana.

Perkenalan akrab saya dengan Isabel adalah ketika, saya bercerita tentang nama Isabel menurut yang saya kenal. Berdasarkan cerita ketika saya masih anak-anak. Dulu kala, di Spanyol, pada zaman terjadinya Perang Salib ada seorang ratu Spanyol yang sangat cantik  bernama Putri Isabella. Putri ini cantik dan beragama Islam, ia menyelamatkan kaum muslimin. Begitulah cerita versi waktu kecil. Akan tetapi ketika besar ada nama Ratu Isabela ternyata beragama Katholik dan dialah yang mengusir kaum muslimin dari Spanyol. Mana yang benar , tak tahulah saya. Sementara Isabel yang orang Bolivia itu, lebih setuju kisah yang kedua, sehingga nama ratu terkenal itu,  dinisbahkan oleh orang tuanya kepada anaknya yang bernama  Isabel itu. Kalau tak salah Ratu Isabela dari Spanyol itu, termasuk dalam daftar 100 orang berpengaruh dalam sejarahnya-Michail Hart- yang menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh nomor satu.

Isabel mengajarkan saya bahasa Spanyol, maka tahulah saya beberapa makna misalnya: Para Futura (for the future). Common sta (apa kabar). Lalu angka-angka; cero,  Uno, dos, tres, cuatro, cinco, seis, siete, ocho, nueve, diez dan seterusnya. Kalau ketemu pagi : Buenos dias, ketemu siang Buenos tardes, ketemu malam: Buenas noches.

Tentu saja perbendahraan ungkapan cinta bertambah. Semula hanya: abdi bogoh ka anjeun (sunda), Kulo tresno marang sampeyan (jawa), I love you (inggris), aku cinta padamu (Indonesia), Ich liebe dich (jerman), J’t aime (Prancis), Ik hoe van jouw (belanda), Aishiteru (Jepang). Tambah lagi  ; Io tumare (Itali); Yo Tamare (Spanyol) dan Eu Tamare (Portugal), Ah ada ada saja ya kerjaan iseng di negeri orang.

Saya minta juga ke Isabel lirik lagu : Historia De Un Amor, yang sering saya nyanyikan di STIE Ahmad Dahlan, inilah lirik lagunya:

Inilah lagu Historia De Un Amor yang diberikan Isabel kepada saya dan saya sering menyanyikannya di STIE Ahmad Dahlan. Terima kasih Isabel.

Cancion (Lagu)     : Historia De Un Amor

Artista (Penyanyi) : Luis Miguel

Disco (Gaya lagu) : Segundo Romance.

Ya No Estás Más A Mi Lado, Corazón
En El Alma Sólo Tengo Soledad
Y Si Ya No Puedo Verte
Porque Dios Me Hizo Quererte
Para Hacerme Sufrir Más.

Siempre Fuiste La Razón De Mi Existir
Adorarte Para Mí Fue Religión
Y En Tus Besos Yo Encontraba
El Calor Que Me Brindaba 
El Amor, Y La Pasión

Es La Historia De Un Amor
Como No Hay Otro Igual.
Que Me Hizo Comprender
Todo El Bien, Todo El Mal
Que Le Dio Luz A Mi Vida
Apagándola Después
Ay Qué Vida Tan Oscura
Sin Tu Amor No Viviré..

Kemudian yang menambah akrab pembicaraan dengan Isabel ialah ketika bercerita tentang persamaan negeri Bolivia dengan Negara Indonesia ketika di “jajah“ militer. Betapa sengsara hidup dalam jajajah saudara sendiri, yakni militer. Di Bolivia pernah militer sangat berkuasa, sehingga kehidupan begitu sulit. Demokrasi itu hanyalah, mimpi tuh katanya. Kini, tahun 1996, Bolivia “merdeka dari jajahan militer, tentara tak berani lagi macam-macam” , sebab kalau tentara akan merebut kekuasaan, maka “kami semua turun ke jalan dan menentangnya, untunglah tentara takut” kata Isabel. Sebab kalau tentara menembak kerumunan masa, bias saja ada sanak saudaranya tertembak juga.

Tentang militer, bagi alumni ITB sungguh ada kenangan yang sulit dilupakan, yakni tahun 1978, ketika tentara mengobrak abrik kampus ITB dan menduduki ITB lebih dari satu minggu. Sungguh sebuah kengan yang menyakitkan. Korbannya adalah di copotnya Prof Dr.Iskandar Alisjahbana dari jabatan rektor, apa alasannya??? , gara-gara dalam suatu rapat yang dihadiri Panglima Siliwangi Mayjend Himawan Sutanto, Iskjandar berkata “Di Negeri ini, akal sehat sudah tidak berlaku lagi”

Kisah berukutnya, ketika tentara, yang kala itu dilaksanakan oleh Satgas Intel Kramat Empat Jakarta, dibawah Panglima Mayjend Tri Sutrisno, menahan saya dan mewajibkan apel hingga satu tahun padahal saya tengah kuliah di S-2 ITB. Apa gara-garanya: “Koesmawan khutbah terlalu keras, menunjukkan kebencian kepada Negara Amerika” ??? Ah sudahlah heran saya, sejak kapan saya benci Amerika, padahal saya ingin sekali ke Amerika itu, belum kesampaian hingga kisah ini ditulis.

Isabel terbahak-bahak ketika saya bercerita, mengapa banyaknya orang Indonesia ketika itu yang untuk  mencabut gigi saja ke Singapur, “Tahukah kamu apa  alasannya Isabel??”. Lalu saya teruskan, jawabnya ialah: “Karena di Indonesia itu, jangankan cabut gigi, buka mulut aja dilarang”. Sayang sekali Isabel tak memberikan alamatnya di Lapaz-Bolivia, sebab kalau lah saya tahu alamat Isabel di Bolivia sekarang, akan saya surati dia dan saya katakan bahwa kini Negara Indonesia, adalah Negara demokrasi terbesar ketiga setelah; Amerika, dan India. Tak gampang membangun Negara demokrasi pada jumlah penduduk 230 Juta jiwa. Bayangkan !!! hebat bukan???.

Ada kejadian lucu, sewaktu melihat ada gambar manusia yang aneh, tiba-tiba Isabel memukul meja, sambil komat kamit dan memegang perutnya yang lagi hamil. Saya heran. “Why do you perform that my dear friend Isabel?”. Dia menerangkan sesuatu, yang ternyata mirip di Negara Indonesia, rupanya; ketika dia melihat wajah buruk, smentara dia sedang hamil, kira-kira mirip orang kita berkata “Amit-amit jabang bayi” sambil ketuk-ketuk meja berkali-kali.. Menurut dia, itu kebiasaan suku Indian Bolivia, dan dia masih ada keturunan Indian itu. Lucu juga ya, ada kemiripan  budaya.

Lain Isabel, lain pula Bernadette. Berbadette lebih senang berdiskusi tentang humanisme, kehidupan sosial masyarakat dan perjuangan kaum wanita, khususnya di Negara berkembang.

Sebelum bercerita tentang Bernadette, saya mempunyai cerita tentang kenalan dengan wanita Belanda yang cantik di kereta api, hingga menjadi teman akrab berdua mulai naik  hingga kereta berhenti,tahukah teman-teman,  apa penyebabnya?? Itu gara-gara saya sayang kepada anjing yang dibawanya. Sebelum kenal dengan perempuan ini di kereta api, ini, pernah saya dengan Pak Junaedi sobat di Amsterdam, naik kereta api bareng. Tiba-tiba di depan ada anjing yang dibawa gadis Belanda yang lain, Berhubung Pak Junaedi ini sangat “fanatic” kata orang, dia memperlihatkan wajah benci kepada anjing yang dibawa perempuan itu.Sampil tangannya menepis supaya anjing itu menjauh dari kaki pak Junaedi dia tak mau kalau sampai anjing itu menjilat celananya.  Apa yang terjadi, ternyata si perempuan memperlihatkan wajah benci juga kepada kami berdua. Nah berdasar pengalaman itu, ketika saya, pada kesempatan lain, jalan sendiri dari Enschede ke Amsterdam,  lalu  pas duduk depan saya seorang gadis Belanda yang cantik dan  membawa ajing, lalu anjing itu saya usap-usap kepalanya dan lehernya, ternyata gadis Belanda itu senang sekali kepada saya, hingga kami bedua akrab sampai kereta berhenti di statsiun Amsterdam. Kata teman-teman saya yang nakal, kalau ingin di peluk dan diciumi cewe Belanda, nonton saja pertandingan sepakbola dimana tim Belanda main, nah siap-siaplah nanti, setiap Belanda menghasilkan  satu goal, kita akan dipeluk dan di ciumi cewe-cewe Belanda itu. “ Emmm waah, Emmmwaah” kata teman saya penuh semangat.

Saya pernah hadir nonton bareng seperti itu, tapi dari jauh, sebab takut dipeluk cewe Belanda, nanti bisa ketagihan. Di Belanda, tak laki-laki  tak perempuan, senangnya kepada sepakbola cukup merata. Bukan main.

Kembali ke Bernadette, ada kedekatan lain antara saya dengan Benadette, dia dilahirkan tanggal 13 Juli, sementara saya tanggal 14 Juli.. Jauh-jauh hari kami janjian akan merayakan ulang tahunnya bersamaan saja, biar patungan katanya. Rupanya, entah bagaimana, akhirnya jadi juga merayakannya hanya berdua disiang hari. Dan apa yang disediakan untuk saya yang khas pada hari ulang tahun itu ialah: sop buah, yakni buah-buahan yang dicampur. Saya membawa sekuntum  bunga untuk Benadette dan dia memberi saya sepasang cangkir dengan ukiran molen (kincir angin) khas Belanda. Tanggal kejadian HUT bareng ini tak akan terlupakan , yakni tanggal 13 Juli 1995, beberapa bulan sebelum saya promosi doctor.

Pernah pada suatu ketika, Benadette mengajak saya untuk  nonton TV berdua dirumahnya, saat itu ada  pertandingan final kejuaraan sepak bola dunia antara  antara Brasil dan Belanda. Sayang sekali ternyata Belanda kalah, 2 nol kalau tak salah. Saya mendengar suara lirih Bernadette; “I don’t believe it, I don’t believe it” katanya, sambil berlinang air mata. Saya ikut simpati kepadanya, anehnya, ikut juga menitikkan air mata. Gara-gara ini, kalau ada pertandingan kelas dunia antara Belanda dan Negara mana saja. Saya selalu mendukung Belanda. He he he.

Kenangan lain ialah, ketika, kami hadir pada perayaan syukuran Yoice Clancy orang Inggris yang baru punya rumah. Saya diajak Bernadette untuk pulang bareng ikut mobilnya, karena jarak dari rumah ke pangkalan bus jauh sekali. Entah bagaimana dan tak tahu dari mana asalnya, tiba-tiba mobil yang kami tumpangi ini ditabrak sepedah. Dan yang menabrak adalah seorang ibu kira-kira umurnya 30 tahunan, akibatnya, sepedahnya cukup parah, rusak berat dan mobil Bernadette sendiri lecet dan kaca spionnya hancur. Selesai berdebat saling tunjuk dalam Bahasa Belanda ini itu yang tak saya mengerti, kami pun pulang masing-masing.

Tetapi alangkah kagetnya saya, ketika sedang enak-enaknya berli bur di Den Haag, Bernadette menelpon saya, agar saya menerangkan kejadian tabrakan itu ke pengadilan di Enschede. Rupanya, di Belanda, jika terjadi tabrakan, maka selalu memenangkan kendaraan yang lebih kecil. Dalam kasus Bernadette ini, maka pengadilan hampir memenangkan pemilik sepedah. Nah, hakim bertanya, adakah saksi yang mau memberi keterangan meringankan,  bahwa supir  mobil ini tak tahu apa-apa, tiba-tiba ditabrak sepeda,yang  meluncur tak bisa di rem, dari garasi rumah yang posisinya lebih tinggi. Kata Bernadette, “ Koesmawan bisa  memberi keterangan tertulis dan di fax, asal beri identitas lengkap” . Maka sayapun segara menulis keterangan apa yang saya saksikan pada kejadian tabrakan itu diatas secarik kertas, lalu di fax ke pengadilan Bernadette di Enschede. Besoknya saya mendengar kabar  kebahagiaan Bernadette: “ I am happy, I am not guilty in the court, thanks a lot for your help, Koesmawan”. Jawab saya: “ I am happy too, Bernadette, good luck !!, see you next time”.

Dalam diskusi-diskusi, Bernadette sering mempertanyakan, kenapa Indonesia menjajah Timor Timur, apakah Indonesia ingin menguasai celah Timor yang katanya banyak minyak bumi?. Saya tak tahu alasan pasti mengapa kita mencaplok Timor Timur yang kini bernama Timor Leste. Saya jawab sesuai standar saja ;  yakni; agar komunis tak menguasai Pacific Selatan dan langkah Indonesia menguasai Timur Leste karena didukung oleh Amerika sehingga pengaruh komunis tak membesar di Asia Tengggara dan Pacifik Selatan. Memang, tak sedikti warga Belanda yang terkecoh oleh orang-orang Timor Leste hingga antipati terhadap Indonesia yang disebutnya sebagai “penjajah”.. Bernadette, termasuk orang yang sentimental, dia bernah berkata begini “ Koes apa jadinya dunia ini ya. Imam Khomenini telah tiada, Madam Theresia juga telah tiada; keduanya adalah manusia yang memiliki tempat khsus dihati umatnya.  Apakah dunia akan me njadi kiamat??”. Saya hanya tersenyum dan berkata: “Que serra, serra Bernadette. Whatever will be , will be”, “Ya sudahlah Bern, apapun yang terjadi, terjadilah. Kata saya kepadanya. Lalu ” You are so nice to select the words to say” Kata Bernadette membalas ucapan saya..

Sebelum pulang ke Indonesia, saya menyurati Bernadette agar dia hadir pada promosi doctor  saya dan saya mau pamit akan pulang ke Indonesia lewat Mekah dan Madinah. Sayang sekali Bernadette  tidak hadir pada promosi doctor saya di Fakultas Manajemen Universitas Twente The Netherlands , Jumat; 9 Pebruari 1996. Dia sedang tugas ke luar kota dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang saya simpan rapih, dibungkus plastik biar awet  hingga kini dan diberi judul: “Sepucuk Surat dari Bernadette” sebagai tanda perpisahan dari persahabatan kami. Saya beri undangan promosi disertai surat permohonan maaf sebab pernah dia tersinggung oleh saya,  lalu saya katakana juga bahwa saya akan ke Jakarta dengan singgah di Mekah dan Madinah. Inilah surat balasan terakhir dari Bernadette:

To: Koesmawan

Universiteit van Twente

PO BOX 217; AE ENSHEDE

Hardenberg, 28 January 1996

Dear Koesmawan,

Also I wish you a happy 1996, and the best for the rest of your life. First I want to tell you I have great respect for you for having finished your disssetration. I want you to know that you did do nothing wrong, but that there were some cultural misunderstandings. Nothing terrible, and I laso apologise for it.

Unfortunately I am not able to attend your doctoral defence. Perhaps you already know that I have a new job with more responsibilities. On the 9th of February I have a very important meeting to attend in the afternoon. Nevertheless I hope it will be one of the best days of your life.

Koesmawan, I am really happy for you that you can return to your family in Indonesia. Remember me when you are saying your prayers in Mecca, like I will remember you in my prayers to my God. With best regards,(BERNADETTE SCHOMAMER)

Memang benar kata orang, “alangkah sedihnya sebuah perpisahan, dan akan lebih sedih lagi bila tanpa ucapan, selamat jalan”. Atau kata sebuah lagu: “Bukan perpisahan yang aku tangisi, akan tetapi pertemuan itulah yang aku sesali”, Ah itu hanya sebuah lagu. Forget it.

“Persahabatan” memang sebuah kata-kata indah. Saya pernah punya sahabat wanita yang sangat baik sekali di , ia bernama Dra Ella Turmala,M.Si. Kami bersahabat,, mulai dari kelas 3 SMA di SMA 3 Bandung, lalu di ITB dan  hingga hari ini. Saya tak tahu apakah Ela sudah punya cucu atau belum. Cucu saya kini empat. Ternyata sebuah persahabatan dapat abadi tanpa cinta. Saya kaget, ketika ada dua sahabat baik saya di Belanda yaitu Agung dan Ita, tiba-tiba ketemu menjadi suami–istri. Padahal pengalaman saya, sekali kita bersahabat, maka hingga tua, akan terus bersahabat dan tidak hilang perasaan itu walau terpisah oleh tempat yang berbeda. Ela Turmala selalu hadir bila saya undang, termasuk waktu pengukuhan Professor saya  di Jakarta, Ela Turmala yang gadis Sumedang itu- mungkin tetangganya Rossa, penyanyi ayat-ayat cinta- ternyata juga datang ke Jakarta. Ah alangkah indahnya suatu persahabatan walau tak dibumbui cinta. Kata orang “mencintai tak selamanya harus memiliki”

Umur saya, kini sudah melampuai setengah abad. Saya sadar benar ucapan Rasululloh bahwa sebuah silaturahmi, minimal  akan memberi dua  manfaat yaitu: (a) Umur panjang, dan  (b) Banyak rejeki. Alangkah ruginya orang yang memutus tali silaturahmi.

Memang, silaturahmi itu indah, tetapi persahabatan nampaknya, akan jauh lebih indah.

Kini umur saya sudah over fifthy; saya ingat kata-kata Bernadette, bahwa bila saya di Mekah dihadapan Allah SWT, saya harus ingat Bernadette, sebab dia pun akan ingat saya, ketika berdoa di gereja. Sebenarnya saya ingin menyuratinya bahwa itu tak mungkin, sebab Nabi Muhammad SAW saja, tidak boleh mendoakan paman yang dicintainya. Maka saya pun tak akan ingat Bernadette di Mecca dan Madinah.

Mengapa, sebab  Allah Swt, memberi teguran kepada saya dengan cara : VISA SAYA SUDAH KEDALUWARSA, BEDA SATU HARI DAN SAYAPUN, HANYA TERMANGU DI BANDARA KING ABDUL AZIS JEDAH.

Akhir cerita; saya pulang ke Indonesia dan bertemulah dengan anak dan istri tercinta. Lucunya; anak saya No 4; Dina Kartika Utami, tak tahu bahwa ini Bapaknya, dan sewaktu bangun pagi, saya tertidur di sebelah istri, anakku Dina nangis dan ngamuk; kok ada lelaki lain di samping ibunya. He he he. Itulah romantika kehidupan.


KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA

April 24, 2009

Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA

EPISODE KEEMPAT

Ini sebenarnya kisah cinta dari teman-teman gadis saya yang umurnya masih muda. Mereka hidup bersama saya apakah sebagai sahabat, kolega atau sebagai anak didik tak langsung. Mengapa dibilang begitu, memang ada istilah anak didik langsung dan tak langsung. Anak didik langsung dialah mereka yang pernah jadi murid saya di sekolah resmi, sedangkan anak didik tak langsung adakah mereka yang menjadi pendengar ceramah-ceramah saya pada berbagai kesempatan. Mereka mengatakan saya adalah guru mereka.

Ada tiga gadis yang nasibnya sama, saya samarkan namanya; Septia Dela Rosa, Ratna Setiawati dan Lisa Pujiningsih. Diantara ketiga itu yang paling cantik, pertama adalah Septia, dia bernilai 8,5 kata teman-teman, dan kini berprofesi sebagai selebritis berpendidikan S-2 ada kalanya saya lihat dia di TV, saat itu ia berstatus kolega di sebuah PTS Bandung. Kedua adalah Ratna. Mahasiswi di Delft University of Technology Belanda, nilai daya tariknya kira-kira 8,0 saja, tetapi termasuk anak yang maju kuliahnya dengan angka diatas IP rata-rata. Terahir Lisa, seorang dosen di sebuah PTS terkenal di Jakarta, gadis jawa yang hitam manis, senyumnya menawan, hingga nilainya bisa mencapai 7,5. Banyak rekan-rekan dosen menyenanginya, bahkan ada yang bercanda: “ Waduh, terlambat kita bertemu ya Lis”. Kadang ada aja yang nakal “ Ok Lis, kutunggu jandamu kapan saja”. Ah dasar lelaki, ada-ada saja candanya. Lupa, kata-kata seperti itu, bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Begitulah lelaki, candanya kelewat batas. Ada kalanya, ketika dalam seminar ketemu peserta cantik, maka ia berkata: ”Kalau lihat anak orang, saya suka ingat anak sendiri, ee pas lihat istri orang, lupa deh istri sendiri”. Naudzubillah mindzalik. Begitulah bila para dosen becanda di kampus.

Entah bagaimana, ketiga teman gadis saya yang semua beragama Islam itu, sama-sama nasibya, mempunyai kekasih bahkan calon suami (tunangan) yang berbeda agama. Septia mempunyai pacar bernama Bernadus yang Katholik, Ratna berpacar Darius yang juga Katholik dan Lisa mempunya pacar bernama Harry yang Kristen Protestan. Bagaimanakah nasib mereka selanjutnya, inilah kisahku bersama mereka. Tentu saja, nama-nama pacarnya juga adalah nama samaran. Kalau ada yang sama, ya itu hanya kebetulan saja.

Memang, ketika cinta itu buta, atau “Love is blind” kata orang Inggris,maka, dijawab oleh orang-orang Sunda “maaf: Tai Kotok pun terasa Coklat” artinya; maaf ; kotoran ayam pun terasa coklat. Cinta tak memandang siapa dia, agama apa dia, dan keturunan apa dia. Kata orang Sunda lagi “ Jodoh teh Jorok”. Artinya, ketika anda jatuh cinta bisa dengan siapa saja, seorang yang baik-baik mencintai pelacur, bukan hal yang mustahil. Itulah cinta, dia benar-benar buta. Tak memandang sesuatu pun di dunia. Bahkan ada pepatah bahasa Arab yang saya terima dari sahabat saya Bung Yourdan di STIE Ahmad Dahlan Jakarta, kata Bung Yourdan, ada pepatah Arab: “Man tahabba syaian; Fahuwa Abdun” Bila seseorang mencintai sesuatu dengan sepenuh hati, maka ia akan menjadi hamba dari cinta itu”

Padahal, kalaulah manusia sadar, di Jawa ada pepatah. Dalam memilih jodoh lihat: bobot, bibit dan bebet. Artinya: Bobot; mutu, kecantikan, kekayaan, perilaku. Bibit: Asal keturunan dan Bebet: bisa memberikan keturunan alias tidak mandul. Maka ketika rumus “Love is blind “ diberlakukan, gugur sudah teori bobot-bibit dan bebet itu. Kalau dalam ajaran agama Islam , untuk memilih jodoh itu ada empat: (1) kecantikannya, (2) kekayaannya, (3) keturunannya, dan (4) Agamanya (Islam). Bila kita tak memperoleh nomor 1, 2, dan 3. Maka no 4, kesamaan agama (Islam) mengalahkan segalanya. Jadi kalau kita memperoleh jodoh cantik, sebutlah nilai 1, kaya Nilai 1, keturunan baik nilai 1, namun agama beda alias = 0. Maka nilai totalnya menjadi 0. Sebaliknya kalau agama sudah sama berarti 1, yang lain 0, 0 dan 0, maka jumlahnya menjadi 1.0.0.0 alias seribu. Artinya faktor agama inilah yang sangat menentukan, oleh sebab itu bila agama menjadi pegangan harus dibalik, masalah agama menjadi nomor satu, setelah itu baru kecantikan, keturunan dan kekayaan.

Tentu saja, makna agama di sini dalam arti yang seluas-luasnya: dia itu shalat, rajin puasa sunat senen –kemis, rajin tahajjud, amanah, berahlaq baik dan lain sebagainya.

Memang umumnya, pernikahan yang berbeda agama, banyak yang putus di tengah jalan, atau setelah sekian tahun hidup bersama, maka salah satu mengalah sehingga agamanya menjadi sama. Memang, ada saja satu atau dua, yang bisa abadi mempertahankan perbedaan hingga akhir hayat dikandung badan. Dalam kalangan kaum muslimin, masih banyak yang cukup tenang dan tentram apabila, lelakinya muslim dan wanitanya non-muslim. Dan agak berat masalahnya ketika laki-lakinya non muslim, sementara wanitanya muslim, apalagi dari kalangan muslimah yang taat. Dalam kasus ketiga gadis yang akan saya ceritakan itu. Septia, walau tidak berjilbab dan Ratna yang berjilbab adalah gadis-gadis sangat taat. Benar- benar sangat. Saya sering bertemu di mushala atau di masjid. Sementara Lisa, kurang taat, bahkan awam sekali pemahaman tentang Islamnya, dosen-dosen menyebut Lisa sebagai “dosen abangan” ketika itu. Lisa memang berprinsip: Agama sami kemawon, agama itu, ya sama saja. Tentu saja, pendapat ini salah. Sebab bagi pemeluknya, agama yang benar adalah yang dipeluknya. Jadi, saya Muhammad Koesmawan sebagai seorang muslim wajarlah kalau berkeyakinan bahwa “Agama Islamlah yang benar”.

Saya dan Kang Qodir, sahabat Septia juga sering menasehati Septia. Bahkan Kang Qodir tegas sekali; segera putuskan pacarmu itu dan ganti dengan yang muslim. Sebab kalau terus kawin, kamu akan disebut berzina selama-lamanya. Sering saya melihat, Septia menangis bila di depan Kang Qodir yang memang kadang disebut “ekstrim” oleh rekan-rekan sejawatnya. Saya sependapat dengan Kang Qodir, walaupun saya tak mau berkata keras seperti itu: “haram”, “Zina” dan sebagainya. Saya lebih sering mendengar apa yang ingin Septia katakan tentang pacarnya. Septia sering memuji-muji pacarnya. Memang, kata Septia, Benardus itu bukan muslim, tetapi perilakunya benar-benar tak jauh berbeda seakan mencerminkan sikap muslim yang benar. Dari ketaatannya, kesetiannya, kasih sayangnya dan dia tak hanya kepada Septia, tetapi juga kepada seluruh keluarga Septia. Hingga sulit baginya untuk putus dengan Bernadus seperti yang diharapkan Kang Qodir. Saya sering berkata kepada Septia. “Neng, Pantha Rei, biarlah hidup ini seperti air mengalir”. Jangan terlalu dibendung. Biarkan ia berlangsung apa adanya. Hadapilah dengan kesabaran. “Tetapi mengapa kamu belum kawin Neng?”. Kata saya. Septia menjawab, “Biarlah Kang Koesmawan, akan saya tunggu setahun lagi”. Semoga dia bisa ikut agama saya. Begitulah Septia optimis, bahwa kecintaan Bernadus kepada Septia,mungkin akan bisa mengubah agamanya menjadi Islam.

Saya katakan kepada Septia. ”Neng, sebenarnya nasehat Kang Koesmawan sama dengang Kang Qodir, Bedanya gini aja Neng Septi; ingatlah Neng, mencintai itu, tidak selamanya harus memiliki, Kalau seseorang itu memiliki cinta sejati, ia akan berharap kekasihnya bahagia selama-lamanya, walau tidak hidup bersamanya”.

Memang, ini kenyataan, terlepas agamanya yang Katholik. Pribadi Bernadus itu menyenangkan, saya pun sering memujinya di depan Septia. Orangnya cukup ganteng, simpatik, rendah hati, hormat kepada orang lain. Pokoknya selangit. Saya dan Septia sering berpendapat, kalaulah Si Bernadus itu baca sahadat aja, jadilah dia muttaqien.

Kisah ini berakhir, tatkala pada suatu ketika, Septia tergopoh-gopoh, memanggil saya dan Kang Qodir. Saking seriusnya, saya geli kalau ingat. Septia menarik tanganku di sebuah kantin di Bandung supaya mau berkumpul enam mata antara Koesmawan, Septia dan Kang Qadir. Inilah kata-kata Septia, dan kalau saya bertemu dia, saya ingatkan ini, dia akan tersenyum.

“Begini Kang Koesmawan, Kang Qadir, sahabatku yang baik. Alhamdulillah; saya seminggu yang lalu telah resmi putus dengan baik-baik dengan pacar saya Bernadus”

”Alhamdulilah, ya Allah terima kasih atas kabar ini Neng”. Saya lupa-lupa ingat, begitu ekpressifnya perasaan saat itu, kami berdua (saya dan Kang Qadir) langsung sujud syukur dan berdoa. Semoga Septia segera dipilihkan oleh Allah Swt. Jodoh yang segalanya melebihi Bernadus. Dan akhirnya, saya dengar kabar ia memilki calon suami muslim, S-2 akuntansi dan hidupnya lumayan, pribadinya baik. Kini dilihat dari penampilannya di TV, Septia tampaknya hidup bahagia, wajahnya tetap cantik. Bahkan, tidak saya sangka, wajah Septia ada juga di “Facebook”. Ah biarkanlah tak saya temui, semoga kalau dia baca kisah ini, dia akan mesem-mesem. Hanya satu yang ingin saya ketahui dari Septia Dela Rosa itu; Bagaimana proses yang dia lakukan hingga bisa putus dengan Bernadus yang dia sayanginya itu. Maksud saya, bagaimana serunya pergumulan dalam batin Septia antara Ya atau Tidak untuk putus, dengan kekasih yang sudah 5 tahun dipacarinya itu.

Bagaimana dengan kisah Ratna di Delft negeri Belanda itu. Ibarat pepatah dalam bahasa Perancis : “L’ historia Cest Repete” (Sejarah itu akan berulang). Ya, seperti terjadi pengulangan sejarah; tak banyak yang bisa saya ceritakan. Hanya kesan saya adalah ketika saya tanya. “Mengapa Ratna kok kamu menjadi serius sekali dengan Darius yang Katholik itu, sementara kamu berjilbab dan pengurus masjid di Delft lagi. Bukankah kamu dulu berpacaran dengan mahasiswa muslim?”, Demikian kata saya kepada Ratna.

“Itulah Kang Koesmawan”, kata Ratna. “Siapa yang tak ingin punya calon suami yang muslim. Tapi itulah kenyataan Kang, setiap saya membangun cinta dan kasih sayang yang serius dengan seorang muslim, ternyata menjengkelkan dan banyak makan hati”. Kemudian Ratna melanjutkan, ”Kadang, pria muslim pacar saya itu sok mengatur. Kadang kurang setia. Berjanji tak ditepati, sering bohong dan sewaktu jadi bendahara tidak amanah”.

Wah itu ciri orang munafik dong Ratna”, Kata saya. ”Jadi kamu memutuskan dia yang muslim itu?. “Benar Kang, dan ternyata ketika saya mengenal Darius lalu saya hubungan baik dengan dia, ternyata apa yang tak ada pada pria muslim, itu telah ada pada Darius. Hanya saja Darius bukan seorang muslim Kang” Demikian Ratna mengahiri ceritanya pada saya, dengan sedikit linangan air mata. Saya terharu juga mendengar keluhannya itu.

Memang, penampilan dan sikap serta watak Darius-nya Ratna ini tak jauh berbeda dengan Bernadus-nya Septia. Anaknya ganteng, sopan-santun, setia kepada pacar, rendah hati dan lain-lain. Saya tak bisa berkata apa-apa di depan Ratna. Saya tahu Ratna paham betul soal agama dan apalagi hubungannya dengan masalah kawin beda agama. Jadi apa yang harus kukatakan kepada Ratna itu? What should I say to her?

Saya berkata kepada Ratna, “Cest La Vie “ (Bahasa Perancis, dibacanya SELAFI), artinya “Itulah hidup Ratna..”. Saya ingat kata-kata Kiekegard, filsuf ekstensialis Jerman, dia bilang “Hidup itu susah diatur” . Kita maunya begini, hidup malah begitu. “Jadi kita harus menjalaninya wahai adikku Ratna dengan optimisme”. Masalah hubungan dengan Darius ini, semogalah berakhir dengan baik. Saya ceritakan soal Septi di Bandung kepada Ratna. Dia berharap akan berahir seperti Septi.

Sebenarnya, saat itu saya ingin bertemu anak-anak mahasiswa muslim Delft. Ingin saya maki-maki mereka, kenapa kalian tak dapat memperlihatkan akhlak Rasullullah dengan baik. Coba kalaulah semua mahasiswa muslim di Delft ini baik akhlaknya, tak mungkin Ratna jatuh ke tangan Darius.”Kok ada saja pemuda muslim yang tega-teganya menyakiti wanita muslimah secantik Ranta ini”. Sayang memarahi mahasiswa Delft itu tak kesampaian, kami hanya bertemu sebentar saja di Belanda, lalu berpisah dengan mereka.

Sejak saat itu, saya tak pernah ketemu lagi dengan Ratna dan juga mahasiswa muslim di kota Delft, sebab saya lulus Doktor di kota lain, yaitu Enschede pada tahun 1996, dan tak ada lagi kontak dengan mahasiswa muslim Delft. Jadi hingga tulisan ini di-entri ke rumah digital saya, saya tidak tahu lagi kabar dari Ratna. Harapan saya, mudah-mudahan jika Ratna bertemu, dia bernasib seperti Septia. Yakni bertemu jodoh pria muslim yang tinggi nilai ketakwaannya dan hidupnya sukses. Amiin. Siapa tahu, ada mantan mahasiswa Delft Nederland yang membaca kisah ini dan memberi kabar tentang nasib Ratna selanjutnya. Saya tunggu di “facebook”-nya Muhammad Koesmawan.

Adapun ceritaku tentang Lisa, hampir mirip dengan Septi dan Ratna, hanya ujungnya, jelas , yaitu: tidak “happy ending”. Bahkan menyedihkan.

Lisa ini aneh. Saya tahu bahwa sebelum kenal dengan saya, Lisa sudah punya tunangan bernama Mas Djoko. Lisa sering cerita bagaimana dia akan menghabiskan hari-hari dalam penantian untuk menikah dengan Mas Djoko. Namun apa yang terjadi, sejak saya berpisah tak ketemu Lisa, saya dapat undangan dari Lisa, bahwa ia akan kawin, tapi aneh bin ajaib. Ia tidak menikah dengan Mas Djoko, malah dengan Bung Harry yang beragama Kristen Protestan itu. Saya sudah kenal baik juga dengan Bung Herry, ia anak pendeta Kristen, berarti Herry sangat kuat kekristenannya.

Alkisah, pada suatu kesempatan, saya berdekatan dengan Lisa, kebetulan akan mengajar bareng di sebuah PTS di Jakarta.Nah, di saat kami berdekatan, maka saya tanyakan. “Lisa mengapa jadi begini, bukankah kamu tahu bahwa; menikah berlainan agama itu dilarang menurut agama Islam?” . Ketika saya bertanya ini, untunglah saat itu nikah beda agama dibenarkan secara hukum di catatan sipil. Jadi Lisa dan Herry menikah lancar saja di Indonesia. Padahal kalau sekarang, tidak boleh lagi menikah beda agama. Maka ramai-ramailah menikah di luar negeri. Dan dipilih yang dekat yaitu: Singapura atau Australia.

Memang, menurut Lisa, ini gara-gara Mas Djoko yang notabene-nya tunangan Lisa tidak memberikan perhatian yang semestinya. Hingga, “feeling” Lisa menjadi ragu, apakah benar Mas Djoko mencintainya? Atau seperti akan mencampakkannya?. Nah ketika Lisa tak punya kepastian ini, tiba-tiba datanglah Herry masuk ke dalam kehidupannya. Memang sebelumnya; dulu katanya, Lisa itu sangat dekat dengan Herry, namun entah apa tiba-tiba mereka terpisahkan. Maka ketika mereka bertemu lagi muncullah apa yang disebut: CLBK (cinta lama bersemi kembali).

Dan ketika Mas Djoko dan Lisa terpisah karena tugas, Herry masuk ke kehidupan Lisa dan memberi kepastian, hingga Lisa jatuh ketangannya, padahal mereka berbeda agama. Jadi Lisa mengajarkan kepada kaum pria, bahwa kalau kita meyakini cinta kita akan berlangsung panjang, maka berilah kaum wanita itu kepastian. Sebab, bila cinta tanpa kepastian, maka ia akan gugur, cepat atau perlahan-lahan. Lisa, mengajarkan betapa cintanya kepada mas Djoko bisa gugur dalam hitungan bulan, disebabkan tanpa adanya kepastian. Di sini saya bisa berkata “Love is a certaint”. Cinta adalah kepastian.

Kabar terakhir tentang Lisa, tak enak didengar telinga, katanya, karena merasa hidup dengan berbeda agama di satu rumah tidak baik, akhirnya Lisa mengalah mengikuti agama suaminya. Wallahu A’lam, saya tak pernah bertemu dengan Lisa lagi, hanya ku ingat kata-kata terakhir waktu bertemu, “Koesmawan, kita berdua ini selalu akur ya?”. Tak tahulah saya, kemana arah perkataan Lisa itu.

Kini umur saya sudah hampir 60 tahun. Saya berpikir dan ingat nasihat Mayjend (Purn.) Hari Suprapto di Lemhannas. Kata beliau, ”Hati-hati Prof. Koes, Allah Swt. itu PENCEMBURU, DIA TAK MAU CINTA KITA DIBAGI DUA apalagi dibagi banyak. Maka kita akan termasuk musyrik yang dosanya tak akan terampuni”. Dengan begitu Pak Jenderal berharap agar cinta kita itu “Satu dan Hanya Satu Saja”, yakni Cinta Sejati kepada Allah SWT.

Kalau begitu, bagaimana kita bisa mencintai kekasih, istri, anak, adik, kakak? Jawabannya: Silahkan saja, asal niat kita dan tujuan kita dalam rangka “Cinta kepada Allah Swt. itu tadi”. Jangan sampai kecintaan kepada anak-istri, kekayaan, saudara dan sahabat mengalahkan kecintaan kita kepada Allah Swt. Tuhan yang Maha Kuasa.

Hidup memang penuh ketidakpastian, seseorang tak akan tahu apa yang akan terjadi padanya hari esok dan mereka tak akan tahu pula di bumi mana mereka akan mati (Al Quran). Manusia berencana, Allah Swt berencana. Maka sebaik-baiknya rencana adalah Rencana Allah Swt. (Al Quran).

Jadi hidup bukan tak bisa diatur kata Kieskegard, tetapi hidup harus kita rencanalkan dengan baik. Semoga kisah cinta tiga teman gadisku itu bermanfaat bagi yang membacanya.


KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA

April 8, 2009

Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA

EPISODE PERTAMA:

Ini adalah sebuah catatan tentang cinta yang sangat subjektif, mengapa karena ia hanya bercerita tentang pengalaman saya pribadi yang “gagal” menemukan arti sebuah cinta yang saya harapkan dimasa remaja. Saya tak tahu, apakah pengalaman ini berguna bagi orang lain. Nama gadis yang saya cintai, terpaksa saya samarkan sebab, tentu yang bersangkutan akan risi bila kisah dan namanya dibaca oleh suaminya. Tentu saja nama-nama gadis itu sedikit saya pelesetkan saja.

Episode pertama kejadiannya di SMA 3 Bandung, saya menyenangi teman sekelas saya, ia bernama Reka Tri Rahayu, sebutlah Eka saja. Gadis ini di mata saya sangat cantik sekali, akan tetapi dimata orang lain ya biasa saja. Kata temanku, ah paling si Eka itu, nilainya maksimal 7 deh. Begitu kata kawan-kawan saya. Saya sangat mencintainya, tiap malam minggu saya “apel” kepadanya dengan membawa pekerjaan rumah untuk hari Senin. Indah sekali rasanya “bercinta” itu, walau sebatas datang ke rumah, ngobrol dari waktu magrib hingga isya. Indah sekali bertemu dia itu. Saya ingat, mengingat rumah saya jauh, maka ada kalanya uang jajan dari orang tua dikumpul-kumpul, hingga cukup untuk ongkos dari Cimahi ke Jalan Gatsu di Bandung. Selain uang, pikiranku juga kuberikan kepadanya, maksudnya; aku di rumah siap-siap mengerjakan PR. Intinya, mengapa ketika cinta ini lahir, aku ingin memberi aja.

Nah, pada tahun 1969, aku menjadi pengurus mushala SMA 3 Bandung bersama Sukmana dan Dimyati anak SMA 5. Dalam rangka membina anak SMA 3 yang sering disebut SMA santri, panitia mengundang Dr.Ir. Imaduddin Abdul Rachim yang dikenal dengan sebutan Bang Imad. Salah satu isi ceramah Bang Imad (alm) yang saya kenang hingga kini ialah; “what is the meaning of love”. Maka Bang Imad menjawab, “Love is the pleasure for giving”. Mudah2an saya tak salah menerjemahkan artinya ialah: bahwa cinta itu adalah kesenangan untuk memberi. Kini saya yakin, rupanya apa yang telah saya lakukan pada gadis Eka itu memang kesenangan untuk memberi. Indah sekali ya ketika kita memberikan sesuatu kepada seseorang yang kita cintai itu. Begitu ikhlas saya memberikannya, tanpa saya harus menerima apa yang akan dia berikan kepada saya. Saya berikan saja tanpa kata tanpa janji apalagi meminta sesuatu. Memang benar sungguh suatu kebahagiaan memberikan sesuatu yang kita miliki kepada yang kita cintai. Hanya dua tahun saya dekat dengan Eka, tetapi Tuhan tidak menjodohkan saya kepada Eka. Saya menikah dengan wanita lain dan Eka pun menikah dengan lelaki lain. Kemudian, cinta sebagai lambing member itu, bisa diperluas. Misalnya kepada Ibu, Ayah, Adik, Kakak atau Sahabat. Kepada semua yang kita cintai itu, berlaku terus “Love is a pleasure for giving

Kini umur saya hampir 60 tahun. Bila umurku lebih akan disebut “over sixty”. Lama saya merenung, sebenarnya, cinta saya kepada Eka, hanyalah cinta sementara yang hanya menjadi sebuah cerita. Cinta yang sebenarnya adalah cinta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini baru benar-benar cinta dan ia akan memberi kekuatan yang maha dahsyat, yakni kekuatan untuk hidup dan bercita-cita. Hidup dan bercita-cita harus satu paket. Saya tak bisa membayangkan ada manusia yang hidup tanpa cita-cita? Kalau ini ada manusia seperti ini. Saran saya. Lebih baik mati saja, sebab hidup harus dengan cita-cita. Cita-cita kita bisa menjadi motivator atau penggerak hidup kita untuk terus maju. Ada kalanya cinta itu, juga adalah sebuah impian. Nah kebahagiaan hidup, kata Marzuki Usman ialah; disaat kita melangkah sehasta-demi sehasta, menggapai dan mewujudkan impian kita itu.

EPISODE KEDUA:

Jauh sekali setelah beberapa tahun melupakan Eka di episode pertama. Kini saya bertemu lagi dengan cerita cinta pada episode kedua. Pada cerita ini benar-benar ibarat kisah di sinetron. Alkisah, karena saya sebagai mahasiswa yang cukup mengerti tentang matematika, fisika dan kimia, maka saya sering diminta mengajar anak2 SMA di rumah teman yang bernama Bambang Sumantoro. Dia punya adik perempuan yang bersekolah di SMA, maka hampir seminggu dua kali saya mengajar adiknya Mas Bambang ini. Kalau tak salah, Bambang itu mahasiswa ITT Bandung.

Pada suatu ketika, seorang saudara misan Mas Bambang di Yogyakarta yang bernama Dwi Utari datang ke Bandung untuk berlibur dan saya sering diberi tugas oleh Mas Bambang ini untuk mengantar Dwi Utari ke berbagai tempat di Bandung ini sekedar cuci mata katanya. Nah barang kali, karena seringnya ketemu dengan Dwi Utari ini, terbitlah sesuatu dalam hati saya, sebutlah cinta lagi. Sering Dwi Utari menyindir saya dengan pepatah bahasa Jawa “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”, diterjemahkan: “Cinta lahir karena seringnya ketemu”. Nah akhirnya, saya dekat sekali dengan Dwi Utari itu, tetapi sayang hanya dalam hitungan bulan, ia “berakhir” sudah, kalau saya pinjam kata-kata lagu Tetty Kadi, “Layu Sebelum Berkembang”. Kenapa lagi ini, tahukah apa penyebabnya: Ya sebuah legenda yang dipercayai oleh keluargaku dan keluarga Dwi Utari itu. Keluargaku adalah suku Sunda, sementara Dwi Utari Suku Jawa. Kata legenda, Orang Sunda sama Orang Jawa asalnya kakak beradik. Dulu ada legenda Aji Saka, tercatat dalam sebuah tulisan kuno yang berbunyi : Hana Caraka, data Sawala. Pada jayanya, Magha Batanga, artinya; ada cerita, dua utusan, keduanya perkasa, lalu berkelahi dan mati. Yang kakaknya dikubur di Jawa Tengah, adiknya dikubur di Jawa Barat. Buktinya: itu hurup kuno jawa dan sunda sama, bedanya pada pengucapannya sunda dengan berakhir “A”, Jawa berakhir “O”. Ini berarti Orang Jawa itu adalah kakaknya orang Sunda. Adalah benar atau pas kalau lelaki suku Jawa menikah dengan perempuan suku Sunda, tetapi kurang bagus kata orang tua, lelaki Sunda menikahi wanita Jawa. Percaya nggak percaya pada legenda ini, buktinya: Belum Pernah ada lagu-lagu sinden Jawa memuja pemuda Sunda. Tetapi sebaliknya sering atau banyak lagu sinden Sunda memuja lelaki Jawa, misalnya lagu “Mas Joko”. Atau “Kang Mas”. Ini berarti yang tepat adalah wanita suku Sunda menikahi lelaki suku Jawa. Sayang sekali keluarga saya dan keluarga Dwi Utari sama-sama tak merestui hubungan saya dengan Dwi Utari. Tiap saya memuji-muji kecantikan dan kebaikan Dwi Utari, mereka acuh. Sama juga keluarga Dwi Utari. Maka hubungan baik itupun berakhir. Bertepatan dengan kisah ini, saya nonton film, Dwi Juga nonton, walau tidak nonton bareng sempat kami cerita bareng judulnya “Love Story” dan kami terkesan akan kata-kata dalam film itu : “Love is something that you never say, your sorry”. Artinya kira-kira; cinta itu adalah sesuatu yang kamu tidak pernah akan berkata menyesal.

Memang benar, walaupun saya dengan Dwi sudah lama berhubungan, sering tertawa bersama, sedih bersama, pokoknya hari demi hari kita hiasi dengan keindahan, entah berupa surat menyurat ataupun telepon sebab saya di Bandung dia di Yogya. Saya di ITB, Dwi di sebuah akademi di Jogyakarta, lupa namanya. Nah ketika, kami tak terus jadian, masing-masing tak pernah merasa menyesal. Kita tinggalkan saja legenda usang itu, sebab itu hanya sebuah cerita belaka. Banyak sekali teman-teman lelaki Sunda menikah bahagia selama-lamanya dengan wanita Jawa, mereka sukses lahir dan bathin, kalau ternyata ada hambatan-rintangan dan tantangan itu hal biasa saja, semua pasangan hidup manapun apakah Sunda, Jawa, atau Aceh akan mengalaminya. Alhasil, janganlah legenda itu menjadi pegangan. Kalau ada legenda yang bermanfaat dalam hidup, misalnya kisah Malin Kundang yang mengajari anak jangan melupakan ibunya silahkan saja ambil hikmahnya supaya semua anak lelaki sayang ibunya. Tapi legenda yang membatasi pernikahan Sunda Jawa itu, buang saja. Forget It” kata teman yang baru datang dari Amerika ketika dengar cerita ini. Atau mungkin ada baiknya, sebuah mitos, kita ilmiahkan. Contoh: Orang hamil dilarang berdiri dipintu, ya tentu benar, sebab sudah perutnya besar, kalau ada yang mau lewat kan tersenggol tuh.

Kini umurku hampir 60 tahun, hampir “over seket” kata orang. Cinta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sepertinya juga harus demikian. Kita boleh saja berdoa, tetapi jangan mengatur Tuhan. Seolah-olah: hei Tuhan, saya harus kaya nih, saya harus jadi pejabat nih. Besok saya akan begini, lusa akan begini. Enak sekali bisa mengatur Tuhan. Naudzubillah Mindzalik.

Kita berusaha menjadi kaya, menjadi pejabat, tetapi ternyata tetap aja seperti begini sejak dulu tak kaya-kaya dan tak juga menjadi pejabat, jangan kecil hati. Sebab makna cinta itu ialah : sesuatu yang tak pernah menyesal mencintai Tuhan. Dalam mencintai Tuhan, ada dua prinsip yaitu bersyukur ketika menyenangkan dan bersabar ketika dalam kesusahan. Kalau ini dijalankan kita akan ikhlas terhadap takdir Tuhan. Kita tak akan menyesal menerima apa yang Tuhan berikan kepada kita.

Dalam ilmu manajemen, sikap ini akan menjadikan manusia berpikir positif dan bersikap optimistik. Dua sikap ini perlu dalam menghadapi krisis global saat ini. Krisis global yang disebabkan kegagalan masalah keuangan di Amerika telah berimbas keseluruh dunia dan walau apapun upaya para petinggi Negara di dunia, tak mudah akan cepat berakhir. Maka, dengan semangat cinta kepada Tuhan inilah, maka kita tanamkan sikap optimistik dan positif menghadapi krisis global ini.

EPISODE KETIGA

Saya paling senang mendengar kisah-kisah bagaimana dua sejoli mengisi cinta dengan saling menutup kelemahan pasangannya. Ini hanya bisa dijalani kalau seseorang berprinsip bahwa; dibalik kelemahan pasanganku, terdapat kekuatannya. Juga kita harus hati-hati, sebab dibalik kelebihan pasanganku selalu ada kelemahannya. Cinta menjadi indah. Ketika masing-masing harus memperkuat kelemahan pasangannya dan memelihara kekuatannya. Ingatlah prinsip dalam hidup “There is no the best way, but only the better ways”. Kita tak pernah menemukan cara yang paling baik, akan tetapi kita akan selalu menemukan cara yang lebih baik. Tapi awas prinsip ini, jangan disalah artikan. Seorang temanku yang nakal becanda; “eh Koes, kalau begitu, prinsip ini berlaku dong; kita tak akan menemukan istri terbaik, akan tetapi kita pasti menemukan istri yang lebih baik”. Jangan didengar ini ngaco !!!

Prinsip itu digunakan untuk memperbaiki pekerjaan, memperbaiki rencana dan atau mengatasi berbagai masalah, jangan sekali-kali digunakan untuk gonta ganti pacar, apalagi gonta ganti suami atau istri, tidak benar itu. Mari kita kembali ke contoh saling bela suami dan istri.

Ada contoh bagaimana seorang pria membela pasangannya. Alkisah di Bandung, seorang sahabat bersama istrinya naik angkot. Entah bagaimana, maaf; tiba-tiba istrinya buang gas dan di luar dugaan, gas itu tercium oleh semua penumpang, sampai-sampai mengipas-ngipas hidung masing-masing. Dalam keadaan beginilah tiba-tiba sang suami angkat bicara ”Aduh maaf Ibu2 dan Bapak2, saya sedang sakit perut, tiba-tiba buang gas”. Ternyata sang istri senang benar dibela. Sebab semua penumpang akhirnya tertawa dan melihat teman lelaki saya yang pura-pura malu. Penumpang tak mungkin memeriksa dari mana sumber gas itu keluar, ada yang mengaku saja sudah puas para penumpang angkot itu. Padahal istrinya yang membuang gas, tersenyum senang sebab suaminya rela “berkorban” malu.

Tentu saja, dalam sejarah kehidupan banyak kisah kisah seorang istri membela suaminya. Pernah dalam kehidupan Rasululloh SAW, pada suatu ketika Rasul seperti putus asa, kok tiba-tiba umatnya pada nggak benar, gimana berdakwah bisa terus lancar jangankan orang lain, umatnya saja pada nggak benar. Ketika itulah istrinya yang bernama Siti Khadijah berkata “Wahai Rasululloh, janganlah putus asa, jangan kecil hati, teruskan dakwahmu sebab, minimal masih ada seorang yang akan setia mendengar apa yang Engkau dakwahkan yaitu; aku sendiri Istrimu”. Nah semangat dari istri inilah yang membangunkan jiwa Rasululloh, hingga semangat lagi dan ternyata berhasil. Bisa dibayangkan kesetiaan dan cinta seorang istri seperti Khadijah berbuah seorang Tokoh Besar yang mengglobal yang oleh seorang ahli sejarah bernama Michel Hart menempatkan Muhammad Saw sebagai tokoh nomor satu yang mempengaruhi sejarah umat manusia di dunia dan hingga sekarang pengaruhnya tidak hilang. Hebat sekali kekuatan cinta itu ya.

Setelah Khadijah meninggal, kemudian Rasululloh SAW menikahi Aisyah. Suatu ketika Aisyah ingin tahu besar mana cinta Rasul kepada Aisyah dan kepada Khadijah. Di suatu malam, hal itu beliau tanyakan kepada Rasululloh Saw. Rasul menjawab, bahwa dirinya lebih mencintai Khadijah. Tentu saja Aisyah sedih mendengar itu, lalu ingin tahu apa alasannya. Maka Rasul menjawab, ”begini Aisyah. Aku sebenarnya sama saja mencintai engkau dan Khadijah. Hanya bedanya: Khadijah itu bersama-sama berjuang, bersama-sama menderita, tapi ia tak pernah melihat hasil perjuangan itu. Sementara engkau, sama-sama berjuang tetapi engkau melihat dan menyaksikan: Fathul Makkah atau kemenangan merebut Kota Mekah, Khadijah tidak pernah”. Mendengar itu, Aisyah segera memeluk Rasululloh dan beliau berkata: kalau begitu, akupun lebih mencintai Khadijah daripada diriku sendiri.

Ada sebuah ajaran yang diambil dari kitab suci Al Quran, dikatakan di sana bahwa “suami adalah pakaian dari istrinya” dan “istri adalah pakaian dari suaminya”. Oleh ulama besar M. Quraisy Shihab, pengertian pakaian mengandung empat makna; (1) Sebagai penutup aurat, (2) Sebagai hiasan (3) Sebagai identitas, misalnya polisi, dokter, tentara dan sebagai (4) Ciri budaya. Yang membedakan manusia dan hewan atau tumbuhan ya berpakaian itu. Orang-orang Papua secara bertahap, lama-lama akan berpakaian semua.

Suami penutup istrinya; ya itu tadi saling menutup kelemahan. Sebagai hiasan, ya harus begitu suami adalah hiasan istrinya, Jadi kalau ingin mengucapkan ”sayang” ya hanya kepada istri, jangan sampai kirim SMS ”sayang” ke sekretaris lain yang bukan istrinya. Bisa –bisa istrinya bertanya “Bang SMS siapa ini Bang, kok ada kata sayang-sayang. Cepat jawab atau terpaksa HP ini ku buang”. Begitulah celakanya kalau suami memilih orang lain sebagai hiasan. Juga istri bila berhias dan cantik, adalah semata untuk keindahan suaminya. Biar suami hanya melihat keindahan kepada istrinya tidak ke yang lain. Sebagai identitas, hati-hatilah para suami. Jangan sampai jadi koruptor, sebab suami adalah identitas istrinya. Tuh lihat ibu Fulani, ia kan istrinya Pak Fulan yang korupsi 10 milyar itu. Nah, jadi pakaian adalah identitas. Juga istri yang keluyuran nggak karuan, ya kena juga ke suaminya. Tuh lihat pak Fulan, ia kan suaminya si Fulani yang keluyuran terus tiap malam. Amit-amit deh jangan sampai deh ada istri atau suami yang demikian. Naudzubillahminzaliq.

Kini umur saya sudah hampir menuju “Over sixty”. Saya merenung tentang bagaimana suami yang baik dan istri yang baik. Maka saya ingatkan nasehat sahabat saya. Andang Kasriadi sewaktu sama-sama jadi mahasiswa ITB dulu. Kata Andang yang punya pendirian bahwa; wanita lebih menonjol emosinya dari pada pikirannya, sementara kaum pria lebih menonjolkan logika/pikiran daripada emosinya. Maka Andang memberi nasehat kepada para suami dan istri begini: seorang suami yang baik ialah mereka yang pandai MEMIKIRKAN apa yang DIRASAKAN istrinya. Sebaliknya, istri yang baik ialah istri yang bisa MERASAKAN apa yang sedang DIPIKIRKAN suaminya.

Dalam praktek. Misalnya. Kita jalan-hjalan ke Mall Pondok Indah. Tiba-tiba istri kita melihat sebuah pakaian muslimah bernuansa hijau yang bagus sekali, dan harganya waduh Rp 2,500.000,00. Dan dia minta dibelikan, bagaimana ini?, gaji kita hanya Rp 5.000.000,00 habis dong. Nah disinilah seorang suami harus memikirkan perasaan istrinya. Jangan perasaan diadu dengan logika. “Hai istriku mikir kamu. Masa gaji 5 juta dibelikan baju 2,5 juta, makan dari mana ?”. Suami yang bijak lebih baik cari lagi pakaian lain. “Mam lihat ini Mam, itu ada baju muslim bernuansa biru yang kelihatanya Bapak lebih senang kamu pakai itu” (padahal harganya Cuma Rp 250.000,00). Jadi disinilah kebijakan suami. Ingat istri senang melihat baju yang 2,5 juta belum tentu dia itu ingin benar-benar beli, tetapi emosinya saja yang mendorong melihat baju 2,5 juta itu. Semoga para suami lebih menyayangi istrinya, juga sebaliknya para istri lebih menyayangi suaminya. ITULAH KEINDAHAN HIDUP.