<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Koesmawan's Blog</title>
	<atom:link href="http://koesmawan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://koesmawan.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Jan 2010 09:05:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='koesmawan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Koesmawan's Blog</title>
		<link>http://koesmawan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://koesmawan.wordpress.com/osd.xml" title="Koesmawan&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://koesmawan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>BELASUNGKAWA</title>
		<link>http://koesmawan.wordpress.com/2010/01/04/belasungkawa/</link>
		<comments>http://koesmawan.wordpress.com/2010/01/04/belasungkawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 09:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesmawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koesmawan.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[SEGENAP CIVITAS AKADEMIKA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANTEN MENGUCAPKAN TURUT BELASUNGKAWA DAN MENDOAKAN K.H. ABDURRAHMAN WAHID SEMOGA DIMAAFKAN KESALAHANNYA, DIAMPUNI DOSA2 NYA DAN DIBERI TEMPAT YANG LAYAK DISISINYA. AMIIN. REKTOR UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANTEN PROF. DR.IR,.M.KOESMAWAN, M.SC,MBA ,DBA<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=38&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">SEGENAP CIVITAS AKADEMIKA</p>
<p style="text-align:center;">UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANTEN</p>
<p style="text-align:center;">MENGUCAPKAN TURUT</p>
<p style="text-align:center;">BELASUNGKAWA DAN MENDOAKAN</p>
<p style="text-align:center;"><strong>K.H. ABDURRAHMAN WAHID</strong></p>
<p style="text-align:center;">SEMOGA DIMAAFKAN KESALAHANNYA,</p>
<p style="text-align:center;">DIAMPUNI DOSA2 NYA DAN DIBERI TEMPAT</p>
<p style="text-align:center;">YANG LAYAK DISISINYA. AMIIN.</p>
<p style="text-align:center;">REKTOR UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANTEN<br />
PROF. DR.IR,.M.KOESMAWAN, M.SC,MBA ,DBA</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koesmawan.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koesmawan.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/koesmawan.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/koesmawan.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/koesmawan.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/koesmawan.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/koesmawan.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/koesmawan.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/koesmawan.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/koesmawan.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/koesmawan.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/koesmawan.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/koesmawan.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/koesmawan.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=38&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koesmawan.wordpress.com/2010/01/04/belasungkawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00928f7bc7e9d8820d4c8be92c9d3401?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">koesmawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KETIKA SETENGAH CINTA, HANYA BERBUAH CERITA</title>
		<link>http://koesmawan.wordpress.com/2009/09/06/ketika-setengah-cinta-hanya-berbuah-cerita/</link>
		<comments>http://koesmawan.wordpress.com/2009/09/06/ketika-setengah-cinta-hanya-berbuah-cerita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 09:03:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesmawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koesmawan.wordpress.com/2009/09/06/ketika-setengah-cinta-hanya-berbuah-cerita/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA EPISODE KEENAM Subhaanalloh, setelah lama, kisah tentang cinta ini ku buat, lalu terhenti sampai episode kelima tentang Bernadette dari Belanda dan Isabel dari Bolivia, kini aku lanjutkan kisah ini, namun kisah ini agak lain dari kisah sebelumnya. Bila pada kisah sebelumnya, ada unsur cinta dariku kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=36&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA</p>
<p>EPISODE KEENAM</p>
<p><em>Subhaanalloh</em>, setelah lama, kisah tentang cinta ini ku buat, lalu terhenti sampai episode kelima tentang Bernadette dari Belanda dan Isabel dari Bolivia, kini aku lanjutkan kisah ini, namun kisah ini agak lain dari kisah sebelumnya. Bila pada kisah sebelumnya, ada unsur cinta dariku kepada Kaum Hawa, lalu “cinta” itu berlalu, maka pada episode ini, kisah cinta ini dibagi dua, ada yang berlalu dan ada pula yang bersambut. Nah, yang bersambut itulah yang akhirnya menjadi istriku satu-satunya yang kucintai dan kusayangi, hingga kisah ini kutulis, kami sudah mempunyai empat cucu. Tapi ada saja, dalam kisah ini yang tidak bersambut. Sehingga kalau boleh, maka judul kisah cinta ini adalah: “<em>Ketika setengah cinta, hanya berbuah cerita”</em>. Satu ciri khas dari kisah ini adalah hampir pada semua kisahnya menyebut-nyebut tentara atau kadang militer.</p>
<p>Semula aku ragu, apakah kisah ini akan kuteruskan, sebab, kalaulah dia akan menjadi kisah ilmiah, maka bukti-buktinya harus di <em>cek en-ricek</em> ke berbagai pihak, sehingga apa yang kukatakan, bisa mendekati 100% benar dan tak dapat ditafsirkan lain. Nama-nama pelaku juga harus di cek silang (<em>Cross checked) </em>dengan orang lain yang mengalami peristiwa yang bersamaan denganku. Tapi sejak aku membaca kisah tentang “Pengabdian Korps Baret Merah” karangan Letjend. (Purn) TNI Sintong Panjaitan, yang antara lain bercerita tentang Letjend. (Purn) Prabowo Subianto, ternyata “tak masalah” seseorang menulis kisah menurut versinya dan lalu orang lain membantahnya. Tak masalah, biarlah kisah itu, dibaca orang lalu terkubur sendiri dan tak ada pengaduan-pengaduan yang apalagi diproses secara hukum karena satu pihak merasa dirugikan oleh kisah yang ditulis orang lain. Juga kisahku ini, mana orang peduli?</p>
<p>Yang kuyakini ialah; bila aku menulis kisah menurut versiku, mungkin saja, aku tambah-tambah sedikit agar hidup dan sambung-menyambung, lalu ada orang lain yang tak senang atas kisahku, maka biarlah orang itu menulis kisah tandingan yang berbeda denganku, lalu kita serahkan sepenuhnya kepada sidang pembaca. Mau mempercayai yang mana?. Dengan demikian pembaca, bila anda tertarik terus kepada kisahku ini, kuberitahu sebelumnya bahwa bisa jadi, nama-nama yang ku tulis adalah tak ada, atau berbeda dengan yang sebenarnya. Salah satu alasan misalmya; nama tentara yang tertera di atas dada kiri serdadu tak terlihat jelas. Maka aku mengarang saja nama itu. Atau aku lupa, bahwa orang yang ku temui, namanya bukan itu. Aku menyenangi slogan-slogan perjuangan antara lain; “Kami Cinta Damai, Akan Tetapi Kami Lebih Cinta Kemerdekaan”. Bagi tentara artinya; lebih baik mati daripada tidak merdeka. Dalam bahasa Latin ada pepatah “<em>Sic Vis Pacem, Para Bellum”.</em> <em>Apabila kamu ingin perdamaian, maka ciptakanlah perang</em>. Ironis memang, agar damai kita harus mau perang, ya benar sebab perdamaian itu adalah dua pihak yang berdiri sejajar menghentikan pertikaian dengan cara damai. Kalau satu pihak lebih kuat, maka akan menjajah pihak yang lemah. Jadi aku ingin masuk tentara agar negaraku kuat.</p>
<p>Sebenarnya, pada kisah keenam ini, terbagi atas empat sub-episode, yakni <em>pertama</em>;  sub-episode obsesi tentara di SMA-3 Bandung, hingga ITB. <em>Kedua</em>, Sub-episode awal pernikahan dan hambatan oleh tentara, <em>Ketiga</em>; Sub-episode gerakan radikal melawan tentara dan, <em>Keempat,</em> sub-episode persahabatan dengan tentara di NTT dan di Roma.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Sub Episode Pertama</em></p>
<p>Aku terlahir sebagai anak tentara, tepatnya, ayahku bernama  Sersan Mayor R.A Subandi. Ayah mengajarku tentang kedisiplinan tentara. Aku harus bangun pagi lalu  berolah raga sebelum siap-siap berangkat ke sekolah. Aku diajarkan menyimpan barang harus tepat dan mudah sehingga ketika aku  butuh barang tersebut, maka barang sudah siap dan aku mudah  mengambilnya. Segala rencana harus diatur tepat waktu. Tapi aneh, walau ayahku mengajar aku untuk disiplin, tidak pernah satu katapun aku harus menjadi tentara. Ayah menganjurkan aku masuk menjadi dokter. Sementara aku, ingin menjadi tentara, aku ingin masuk AMN (Akademi Militer Nasional). Aku sangat kagum kepada Kolonel RPKAD Sarwo Eddy Wibowo. Setiap pemberitaan tentang Sarwo Eddy dan RPKAD aku terus ikuti di Koran. Sebagai pelampiasan cita-cita ingin jadi tentara ini, aku wujudkan dalam olah raga di kelas, yakni olah raga lari. Aku ingat, di kelas III B3 SMA 3 Bandung, hanya Lukman yang bisa mengalahkan lari cepat maupun lari keliling lapangan. Aku diajarkan ayahku, untuk melihat seorang tentara apakah sehat lahir batinnya, minimal dari lari pagi ini. Kalau dia hebat lari pagi lalu sikapnya baik, berarti mentalnya masih prima. Kalau sudah malas-malasan lari pagi, tentara seperti ini tak akan bisa dibawa berperang. Aku ingat kisah adikku; bahwa seorang Kasdam 3 Siliwangi, berpangkat Brigjen jago lari pagi, yang bisa bareng bersamanya, diberi uang Rp 10.000,-. Jarang yang mampu bareng, semua tentara tertinggal jauh dari Pak Kasdam ini, hanya satu dua yang bisa nempel terus, umumnya tentara muda yang baru lulus AMN.</p>
<p>Kembali ke kisah SMA-ku. Jadi setiap olah raga pagi, aku dan Lukman pasti bersaing, siapa yang duluan. Memang kadang aku, kadang dia, tapi ku akui, Lukman memang lebih hebat dariku.</p>
<p>Namun sayang di sayang, seperti kuceritakan pada episode pertama; aku sangat mencintai seorang yang bernama Eka itu, yang mana aku sering datang ke rumahnya pada malam minggu itu. Pada suatu ketika, selesai membaca pengumuman aku dan Eka lulus dari SMA-3 tahun 1970. Kami kumpul bareng-bareng lalu saling tanya mau meneruskan ke mana. Aku katakan kepada Eka bahwa aku sudah siap segera daftar ke AMN, aku ingin jadi tentara meneruskan jenjang karir ayahku. Saat itu ayahku Kapten TNI-AD, maka minimal aku harus menjadi Kolonel, syukur kalau bias sampai ke Jenderal. “<em>Koesmawan, aku tak setuju kamu ke AMN, kamu itu sebaiknya ke ITB atau ke kedokteran UNPAD”,</em> Inilah kata-kata Eka padaku yang hingga kini seakan tak pernah hilang dari ingatanku<em>.</em> Nah dengan kata-kata inilah, maka pupus sudah harapanku masuk AMN, akupun ingin mengikuti kehendaknya, dengan harapan aku bisa menjadi kekasih Eka di mahasiswa nanti, bila aku diterima di kampus ITB. Akhirnya, aku minta uang ke ibuku untuk test, tapi sayang, ayahku hanya memberi uang untuk satu kampus, maka aku hanya bisa ikut test ITB dan <em>Alhamdulillah</em> masuk diterima sebagai mahasiswa “Teknik Industri” angkatan 1971. Mengapa aku memilih teknik industri, sebab seorang raka senior berkata, dimasa depan industri Indonesia menjadi penguasa dunia. Ah… sungguh sebuah hayalan, hingga kini aku Professor pun industri Indonesia ini malah terpuruk oleh krisis moneter.</p>
<p>Ternyata, diawal masuk ITB senang sekali, sebab ada pendidikan WALAWA (Wajib Latih Mahasiswa), aku senang sekali, apalagi,  entah siapa yang menunjuknya, aku diangkat menjadi Komandan Kompi C, dengan anak buah 250 orang.</p>
<p>Satu kenang-kenangan yang terlupakan ialah; ternyata Kompi C ini sewaktu di lembang, lokasinya berdekatan dengan tempat mahasiswi Walawa untuk mandi. Sehingga entah siapa yang memulainya; banyak anggota Kompi-C yang mengintip perempuan lagi mandi. Salah satu orang yang masih ingat Kompi C ini ngintip ialah Ir. Indra Setiawan yang pernah jadi Direktur PT. Garuda, ia ingat benar peristiwa ini, walau dia sendiri tak tahu siapa-siapa saja yang menghintip itu. Yang jelas, aku yakin Indra Setiawan dan juga Koesmawan, tidak pernah ikut mengintip mahasiswi Walawa yang sedang mandi.</p>
<p>Akhirnya Komandan Latihan ITB mengumpulkan semua siswa (1000 orang di lapangan), lalu berbicara <em>“Bahwa tadi subuh ada beberapa orang yang tidak bermoral, yang tidak sepantasnya dilakukan oleh calon cendekiawan yang katanya putera-puteri terbaik bangsa ini, siapa yang merasa bersalah maju kedepan, dan saya tahu persis; itu adalah anggota Kompi-C”</em>. Ternyata tak seorangpun yang mengaku. Akhirnya saya selaku komandan dipanggil dan dihukum karena dianggap tak bisa mengendalikan anak buah. Lalu saya disuruh <em>Push-Up</em> 25 kali. Disinilah sebuah kenang-kenangan yang tak aku lupakan, begitu aku mulai menghitung, seluruh anak buahku yang sebanyak 250 orang itu ikut <em>push-up</em> mengikuti aku. Aneh, kami semua berlinang air mata, terharu. Yang lebih aneh lagi, ulang tahunku yang telah lewat, oleh orang-orang Kompiku dirayakan lagi bareng-bareng dengan acara yang lucu-lucu, susah kugambarkan. Komandan latihan cerita, begitulah kehidupan tentara di asrama bila hidup bersama setiap hari.</p>
<p>Satu lagi yang bikin kenangan, setelah malam senang-senang, tidurpun baru sekejap, tiba-tiba ada <em>sirine</em> (tanda bahaya). Kami semua wajib keluar berpakaian lengkap, untuk acara jalan malam. Sebuah kenangan lagi, kami bersama berurutan lalu jalan, aneh kadang bisa tidur sambil jalan. Ya memang aneh.</p>
<p>Selesai pendidikan Walawa, aku mulai sering ke rumah Eka, untuk apel malam minggu ceritanya. Namun sayang, masih kuingat tanggalnya; 23 Nopember 1971, Eka hanya menyatakan sebagai sahabat diriku dan aku akan tetap sebagai sahabat yang terbaik baginya (lihat kisah pada episode satu).</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Sub Episode Kedua</em></p>
<p>Lulus dari ITB, aku diterima sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Trisakti di Jakarta kalau tak salah tahun 1977. Pada tahun-tahun awal aku di Trisakti tak ada kisah tentang tentara, baru pada tahun 1978, di sinilah kisah tentang tentara yang menyakitkan. Aku tidak mengalaminya, akan tetapi beberapa mahasiswa dari beberapa kampus bercerita tentang kekejaman tentara, yang bermuara pada perintah Jenderal Soeharto sebagai Presiden R.I. tentu saja. Jenderal Soeharto pada tahun 1978  sangat berbeda jauh sekali dengan Jendral Soeharto 1998, sebab pada tahun 1998 ini Soeharto sudah sangat lemah dalam berbagai hal, sehingga pada tanggal 21 Mei 1998 Soeharto lengser.</p>
<p>Mengapa mahasiswa ditahan oleh tentara?. Jawabannya adalah karena Soeharto ingin mempertahankan kekuasaannya yang ketika itu dinilai korup oleh mahasiswa. Adapun kekuatan utama mahasiswa ketika itu, ada di Jakarta dan di Bandung. Mahasiswa bertekad “Keadilan Harus Tegak, Walau Pun Langit Runtuh” <em>(Fiat Justitia, Ruat Ceulum).</em> Mahasiwa bertekad ingin mengulangi saat-saat menjatuhkan Bung Karno Presiden pertama yang alumni ITB itu. Soekarno berkata “<em>Satu milimiter pun, aku tidak akan  mundur</em>”. Lalu mahasiswa di bawah Muslimin Nasution menjawab:<em> “Kami mahasiswa, satu mili-micro-pun tidak akan mundur”.</em> Akhirnya Bung Karno jatuh.</p>
<p>Kembali ke kisah tahun 1978, ketika para mahasiswaku ditangkap mereka cerita bahwa masing-masing akan menjawab ini dan itu. Sehingga mahasiswa memiliki skenario menghadapi interogasi. Dengan harapan mereka bebas.  Lalu apa yang terjadi, ternyata mahasiswa itu bukannya ditanya satu persatu, namun dibawa dulu ke sebuah tempat. Inilah yang mereka sebut sebagai proses cuci otak. Mereka dibawa ke sebuah tempat seperti kolong sebuah gedung dan tak bisa berdiri, jalanpun jongkok, dan  tempat itu luas sekali. Setelah itu ditakut-takuti akan dibawa ke sumur tua yang banyak tikus dan berbau anyir tak sedap. Akibat <em>“treatment”</em> gila itu,  sungguh hebat, rusak sudah mental mahasiswa yang gagah dan bakat ilmuwan itu. Mereka akhirnya bagai kerbau dicocok hidung. <em>Nurut aja</em>, apa kata orang yang menginterogasinya. Bahkan harus mengaku bahwa para mahasiswa akan membunuh keluarga presiden. Akibatnya; silahkan pilih, salah satu dari  dua pilihan, ikut diadili sebagai perencana makar dan bisa dihukum mati atau mengikuti kehendak tentara yang menginterogasinya. Mahasiswa bercerita juga bahwa ada salah seorang di penjara, yang termasuk gerakan keislaman, dipukuli tentara, kuat-kuat, hanya teriak <em>“Allohu Akbar, Allohu Akbar”</em> tak terjadi apa-apa. Ada juga yang diikat di atas balok es. Sungguh tega para tentara itu menyiksa orang. Jadi kita tak heran, ketika tentara Amerika menyiksa para tahanan di penjara, memang kadang-kadang lama-kelamaan, orang yang masuk penjara, bisa timbul sikap aneh-aneh. Para tahanan itu, jadi bahan permainan sehari-hari.</p>
<p>Tanpa sengaja, ternyata, aku banyak mengenal mereka yang bergerak melawan Soeharto, baik kelompok Bandung maupun kelompok Jakarta. Dari Bandung, ada tiga orang yang kukenal yaitu Alhilal, Herdi dan Fajar (Almarhum). Aku baru tahu, ternyata alumni ITB itu hebat. Maksudku ketika ada pergerakkan, diam-diam alumni ini membantu, minimal ialah mengumpulkan uang buat anak-anak pulang pergi Jakarta- Bandung. Bila ada anak ITB datang, kita alumni ITB patungan  buat ongkos mereka.</p>
<p>Bertepatan dengan kejadian ini, aku tengah mempersiapkan pernikahanku dengan Ellya Marliana, calon  istri, yang direncanakan pada tanggal 16 April 1978. Sejak awal Januari 1978 hingga masa pernikahan perjalanan Bandung-Jakarta benar-benar mencekam, sebab hampir setiap hari, ada pemeriksaan di bus, tentara menganggapnya <em>“Penyusupan musuh”. </em>Sungguh  hebat juga ya, padahal, mereka mahasiswa biasa  yang tak punya senjata apa-apa. Istriku dan mertuaku selalu was-was, jangan-jangan aku tertangkap oleh tentara yang memeriksa bis. Sebenarnya aku tenang saja sebab “musuh yang menyusup” itu adalah mahasiswa, bukan aku yang punya kartu karyawan FE Usakti. Dan <em>Alhamdulillah</em> setiap ada pemeriksaan aku selalu lolos, sebab aku bukan mahasiswa lagi.</p>
<p>Berbarengan dengan gerakan mahasiswa ternyata di Jakarta sedang kencang-kencangnya persiapan gerakan yang dimotori oleh GPI (Gerakan Pemuda Islam) dibawah pimpinan Abdul Qadir Jaelani, yang oleh pemerintah disebut<em> “Gerakan 20 Maret 1978” </em>berarti satu bulan sebelum aku menikah. Sungguh ajaib takdir yang menimpaku ini. Entah darimana asalnya tiba-tiba aku memilki dua peran. <em>Pertama</em>, memberi fasilitas beberapa mahasiwa Bandung yang bergerak di Jakarta. Aku hubungkan mereka dengan mahasiswa Trisakti, walaupun saat itu aku mengajar di UNAS dan “ Qadir Jaelani, aku ditugaskan, untuk mensuplai informasi, agar gerakan menjatuhkan Soeharto, parallel dengan gerakan “Islam” tanggal 20 Maret itu.</p>
<p>Aku ingat, tanggal 19 Maret malam, dalam gerakan ini, nama-nama pelaksana di ubah; Koesmawan jadi Abu Bakar; Suhaeri jadi Mutmainah, Kang Gumsoni jadi Umar bin Khatab dan lain-lain. Aneh juga, malam hari kami naik mobil dan ternyata, kami punya alat menyadap komunikasi intel tentara.Dulu ada istilah Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban). Ini sebuah lembaga <em>superbody</em> yang sangat dominan sekali dalam perpolitikan negara kita waktu itu. Temanku Zacky (almarhum) berceloteh:<em> “Koes kita yakin, bakal rame nih. Jakarta bakal terbakar, lebih seru dari peristiwa undang-undang perkawinan tahun 1974”. </em>Aku tak mengerti, kok gerakanku bisa memahami pergerakan komunikasi intel. Hanya mungkin  karena tentara terlatih dengan sandi-sandi, maka bisa saja komunikasi tentara itu palsu, gerakan tentara yang sebenarnya lain. Untuk itu, aku bersama temanku Riyadi ditugaskan dalam gerakan ini, pagi di Trisakti, siangnya langsung mengamati di Bunderan Hotel Indonesia (HI). Aku pemberi kode gerakan dari atas Wisma Nusantara, berhadapan dengan hotel Indonesia. Aku ingat, sebelum aku naik ke Wisma Nusantara, depan Hotel Indonesia itu, seorang Kapten berbaju loreng menatapku seperti curiga, ia gagah memegang <em>handy talky</em> mondar mandir mengendalikan keamanan antara HI dan Wisma Nusantara. Sayang aku tak melihat seorang kawan pun yang membawa Bom Molotov itu, sehingga di tengah-tengah kota, gagal rencana pemboman itu. Dari atas wisma aku memberi kode, gerakan gagal. Tentara ada di setiap sudut. Di Trisakti pun gagal. Aku masih terbayang seorang temanku pembawa Bom Molotov memandangku saat dia akan dipukuli oleh Satpam Trisakti, aku tak bisa apa-apa melihat kawanku babak belur. Aku tak tega melihatnya; entah dia masih hidup atau tidak, tak pernah kutemui lagi.</p>
<p>Tepat tanggal 20 Maret  1978. Menurut skenario, di Trisakti harus terjadi pembakaran, dimulai dari bom molotov. Aku heran; mengapa temanku yang direncanakan membakar Trisaksi, malah gagal dan dia dipukuli rame-rame oleh satpam dan mahasiswa itu;  sebab ketahuan membawa bom molotov. Dengan dibonceng motor, aku tinggalkan Trisakti dan menuju Bunderan HI. Ternyata, semua lokasi yang direncakan akan dibom sudah di-<em>blokade</em> oleh tentara. Aku menduga, gerakan ini bocor ke intel dan mereka pada tanggal 20 Maret itu, lebih siap dari gerakan Abdul Qadir Jaelani. Akhirnya Abdul Qadir diadili dan dihukum. “<em>Ah Jakarta tak jadi terbakar, jadi gerakan ini (GPI) tak sehebat tahun 1974 yang menguasai gedung MPR”, </em>kataku dan Riyadi. Akhirnya, aku dan Riyadi berpisah dan baru ketemu lagi dua puluh tahun kemudian. Aku ingat kata-kata Riyadi ketika bertemu denganku, <em>“Koesmawan, ternyata ente masih hidup, aku bingung, kemana mau tahlil di makam ente. Syukurlah ente masih hidup”.</em> Kata Riyadi.</p>
<p>Untunglah gerakan ini berakhir dan akupun menikah dengan Ellya Marliana yang memberiku anak lima dan hingga kini kami punya cucu empat. Episode berikutnya; masih dengan tentara, yakni Komandan Garnizun Ibu Kota Brigjend Eddy Nalapraya. (Tunggu sedang disusun…).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koesmawan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koesmawan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/koesmawan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/koesmawan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/koesmawan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/koesmawan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/koesmawan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/koesmawan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/koesmawan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/koesmawan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/koesmawan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/koesmawan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/koesmawan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/koesmawan.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=36&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koesmawan.wordpress.com/2009/09/06/ketika-setengah-cinta-hanya-berbuah-cerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00928f7bc7e9d8820d4c8be92c9d3401?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">koesmawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGUMUMAN</title>
		<link>http://koesmawan.wordpress.com/2009/07/30/pengumuman/</link>
		<comments>http://koesmawan.wordpress.com/2009/07/30/pengumuman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 12:56:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesmawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koesmawan.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[KEPADA SELURUH ANGGOTA TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH WILAYAH JABOTABEK, BANTEN DAN JABAR, AGAR BERKUMPUL PADA: HARI          : AHAD, 2 AGUSTUS 2009 JAM            : 07.00 WIB (PAGI) TEMPAT    : DEPAN MONAS &#8211; JAKARTA ACARA     : LATIHAN BERSAMA / GABUNGAN DEMIKIAN AGAR MAKLUM. WASSALAM, M. KOESMAWAN KETUA PANITIA LAT. GAB. Info lengkap kunjungi: http://pptapaksuci.org/<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=30&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KEPADA SELURUH ANGGOTA <strong> </strong></p>
<p><strong>TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH </strong></p>
<p><strong> </strong>WILAYAH JABOTABEK, BANTEN DAN JABAR, AGAR BERKUMPUL PADA:</p>
<p><strong>HARI          : AHAD, 2 AGUSTUS 2009</strong></p>
<p><strong>JAM            : 07.00 WIB (PAGI)</strong></p>
<p><strong>TEMPAT    : DEPAN MONAS &#8211; JAKARTA</strong></p>
<p><strong>ACARA     : LATIHAN BERSAMA / GABUNGAN</strong></p>
<p>DEMIKIAN AGAR MAKLUM.</p>
<p>WASSALAM,</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>M. KOESMAWAN</strong></span></p>
<p>KETUA PANITIA LAT. GAB.</p>
<p>Info lengkap kunjungi:</p>
<p>http://pptapaksuci.org/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koesmawan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koesmawan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/koesmawan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/koesmawan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/koesmawan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/koesmawan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/koesmawan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/koesmawan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/koesmawan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/koesmawan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/koesmawan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/koesmawan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/koesmawan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/koesmawan.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=30&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koesmawan.wordpress.com/2009/07/30/pengumuman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00928f7bc7e9d8820d4c8be92c9d3401?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">koesmawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA</title>
		<link>http://koesmawan.wordpress.com/2009/05/06/ketika-cinta-hanya-berbuah-cerita-3/</link>
		<comments>http://koesmawan.wordpress.com/2009/05/06/ketika-cinta-hanya-berbuah-cerita-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 May 2009 15:47:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesmawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koesmawan.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA EPISODE KELIMA Pada episode ini, saya tak akan berceritera tentang cinta, akan tetapi cerita tentang kisah persahabatan saya dengan dua gadis mancanegara ketika saya tinggal di Enschede Nederland guna menyelesaikan program doctor di Universitas Twente-Nederland. . Enschede itu sebuah kota kecil di Belanda berjarak 3 jam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=27&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA</p>
<p>EPISODE KELIMA</p>
<p>Pada episode ini, saya tak akan berceritera tentang cinta, akan tetapi cerita tentang kisah persahabatan saya dengan dua gadis mancanegara ketika saya tinggal di Enschede Nederland guna menyelesaikan program doctor di Universitas Twente-Nederland. . Enschede itu sebuah kota kecil di Belanda berjarak 3 jam pakai kereta api dari Den Haag, letaknya berbatasan dengan Negara Jerman..  Bila dalam hal cerita cinta, saya samarkan nama setiap gadis yang saya akan saya kisahkan itu, maka pada hal persahabatan, saya tak ragu-ragu menuliskan nama lengkapnya. Pertama ; <em>Isabel Torres dari Bolivia</em> dan Kedua, <em> Bernadette Schoomaker dari Belanda.</em> Keduanya adalah wanita yang cukup cantik dan menawan hati. Isabel sudah bersuami seorang doktor ekonomi yang sedang bekerja di Den Haag, sementara Bernadette saat itu sedang kosong, tak punya pacar <em>“ I am single, but happy” </em>katanya ketika saya Tanya tentang statusnya. Saya yakin bila cerita ini dibaca oleh anak-anak dan istri saya, mereka pun tak akan memarahi ayahnya yang bersahabat dengan dua wanita mancanegara itu, dimana keduanya telah  memberi kesan yang mendalam tentang arti persahabatan,  politik dan kemanusiaan antar bangsa.</p>
<p>Saat itu, Isabel tengah melakukan riset tentang <em>“Political Movement in Developing Country</em>” sementara <em>Bernadette </em>sedang meneliti masalah <em>“ Gender and Humanism”</em> khususnya di Afrika, dan saya sendiri tengah merampungkan disertasi yang berjudul <em>“Textile Export Marketing and Acquisition of Technology, A Case Study in Indonesian Textile Indutries”</em>, dibawah bimbingan Prof.Hommes, Prof de Bruijn dan Dr. El Namaki. Kami bertiga setiap hari berada dalam satu ruangan, bertemu dan bekerja. Masing-masing diberi satu meja, satu computer dan satu loker. Bila jenuh, kami berbincang-bincang segala macam.</p>
<p>Hampir setiap pagi mulai dari Senin sampai Jumat siang, saya selalu bertemu dengan Isabel dan Bernadette, jumat siang saya salat Jumat di Mushala Hotel Enschede, dan hampir dipastikan, saya selalu jadi Khatib dan Imam jumatan disana. Padahal banyak orang Arab, Libia, Maroko dan orang Belanda yang muslim, akan tetapi bila melihat saya hadir, mereka selalu ,mendorong saya jadi khatib dan imam dalam bahasa Inggris Mungkin karena mereka semua tahu, saya adalah mahasiswa tertua diantara mereka.</p>
<p>Jumat sore saya pulang ke Den Haag, untuk  mengurus masjid Den Haag, menyiapkan tempat ngaji dan persiapan berjamaah magrib dan isya bagi orang-orang Indonesia di Den Haag. Tepatnya Mushala Daguerresstraat No 2. Disini,saya serba terjamin,  makanan enak dan bergizi banyak,  sebab banyak ibu-ibu yang umumnya orang Sunda dan Jawa yang memasak makanan untuk jamaah masjid. Acara pengajian dua kali seminggu yakni, jumat malam dan sabtu malam.  Pulang dari Mushala setiap hari Senin subuh dengan membawa bekal sisa-sisa makanan mushala yang masih utuh. Lumayan ini bisa disimpan di kulkas hingga hari Rabu berikutnya. Jadi setiap minggu saya hanya membayar makanan sendiri pada hari  Kamis dan Jumat pagi. Kalau di rupiahkan, biaya hidup saya hanya Rp 60.000,- perminggu, irit sekali,  ditambah sewa “kandang burung” Rp 300.000,- perbulan. Kata teman saya dari Indonesia, yang memeriksa kesana,  tempat kos saya disebut kandang burung sebab terletak diatap rumah. Itu harganya paling murah. Sebab dibagian bawah mahal, hingga Rp 500.000,- perbulan. Begitulah nasib mahasiswa yang terlunta-lunta nasibnya karena kebijakan pemerintah memutuskan hubungan  dengan  IGGI (Inter Goverment Group for Indonesia) yang memberi beasiswa kepada saya untuk program doctor di Belanda. Alhamdulillah ada mushala dan warganya yang membantu saya. Ada kalanya saya disuruh ceramah di KBRI Den Haag, lumayan pulang dibekali hingga Rp 1.000.000,00. Sering juga mengantar pejabat Indonesia yang datang ke Belanda lalu minta ditemani jalan-jalan di Enschede, kadang nyebrang ke Dusseldorf- Jerman,, ternyata ada saja yang dengan tulus  ikhlash dan memaksa saya untuk menerima sekedar uang lelah Rp 500,000,- hingga Rp 1.000.000,00 . Alhamdulillah hidup saya bisa tersambung.Sehingga saya tak perlu cari uang untuk biaya hidup di Belanda. Pernah ada tawaran kerja “Menggoreng Kacang” upahnya hampir Rp 5.000.000,00 perbulan, tapi Masya Allah, beratnya minta ampun, tak tahan saya. Waktu saya di Belanda, uang yang berlaku gulden, dimana 1 gulden kira-kira Rp 1000,- waktu itu. Sekarang menggunakan Euro, satu euro kira-kira Rp 15.000,-.</p>
<p>Tentu saja, dihadapan Isabel dan Berandette saya tak pernah memperlihatkan keadaan saya yang sebenarnya, mereka melihat saya <em>“ life as usual</em>” saja. Ada persamaan antara Isabel dan Bernadette, yakni, keduanya adalah penganut agama Katholik Roma yang sangat taat, sebab hampir semua kewajiban agamanya seperti misa, novena dan lain-lain dia kerjakan bersamaan. Sementara, saya sendiri seorang muslim yang tak segan-segan salat di ruangan saya, walaupun mereka berdua ada disana.</p>
<p>Perkenalan akrab saya dengan Isabel adalah ketika, saya bercerita tentang nama Isabel menurut yang saya kenal. Berdasarkan cerita ketika saya masih anak-anak. Dulu kala, di Spanyol, pada zaman terjadinya Perang Salib ada seorang ratu Spanyol yang sangat cantik  bernama Putri Isabella. Putri ini cantik dan beragama Islam, ia menyelamatkan kaum muslimin. Begitulah cerita versi waktu kecil. Akan tetapi ketika besar ada nama Ratu Isabela ternyata beragama Katholik dan dialah yang mengusir kaum muslimin dari Spanyol. Mana yang benar , tak tahulah saya. Sementara Isabel yang orang Bolivia itu, lebih setuju kisah yang kedua, sehingga nama ratu terkenal itu,  dinisbahkan oleh orang tuanya kepada anaknya yang bernama  Isabel itu. Kalau tak salah Ratu Isabela dari Spanyol itu, termasuk dalam daftar 100 orang berpengaruh dalam sejarahnya-Michail Hart- yang menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh nomor satu.</p>
<p>Isabel mengajarkan saya bahasa Spanyol, maka tahulah saya beberapa makna misalnya: <em>Para</em><em> Futura (for the future). Common sta (apa kabar). </em>Lalu angka-angka; cero,  Uno, dos, tres, cuatro, cinco, seis, siete, ocho, nueve, diez dan seterusnya. Kalau ketemu pagi : Buenos dias, ketemu siang Buenos tardes, ketemu malam: Buenas noches.</p>
<p>Tentu saja perbendahraan ungkapan cinta bertambah. Semula hanya:<em> abdi bogoh ka anjeun</em> (sunda), <em>Kulo tresno marang sampeyan</em> (jawa<em>), I love you</em> (inggris<em>), aku cinta padamu (Indonesia), Ich liebe dich (jerman), J’t aime (Prancis), Ik hoe van jouw (belanda), Aishiteru (Jepang)</em>. Tambah lagi  ; <em>Io tumare (Itali); Yo Tamare (Spanyol) dan Eu Tamare (Portugal), </em>Ah ada ada saja ya kerjaan iseng di negeri orang.</p>
<p>Saya minta juga ke Isabel lirik lagu : Historia De Un Amor, yang sering saya nyanyikan di STIE Ahmad Dahlan, inilah lirik lagunya:</p>
<p>Inilah lagu Historia De Un Amor yang diberikan Isabel kepada saya dan saya sering menyanyikannya di STIE Ahmad Dahlan. Terima kasih Isabel.</p>
<p>Cancion (Lagu)     : Historia De Un Amor</p>
<p>Artista (Penyanyi) : Luis Miguel</p>
<p>Disco (Gaya lagu) : Segundo Romance.</p>
<p>Ya No Estás Más A Mi Lado, Corazón<br />
En El Alma Sólo Tengo Soledad<br />
Y Si Ya No Puedo Verte<br />
Porque Dios Me Hizo Quererte<br />
Para Hacerme Sufrir Más.</p>
<p>Siempre Fuiste La Razón De Mi Existir<br />
Adorarte Para Mí Fue Religión<br />
Y En Tus Besos Yo Encontraba<br />
El Calor Que Me Brindaba <a href="http://www.sitiodeletras.com/mostrar.php?lid=15653"></a><br />
El Amor, Y La Pasión</p>
<p>Es La Historia De Un Amor<br />
Como No Hay Otro Igual.<br />
Que Me Hizo Comprender<br />
Todo El Bien, Todo El Mal<br />
Que Le Dio Luz A Mi Vida<br />
Apagándola Después<br />
Ay Qué Vida Tan Oscura<br />
Sin Tu Amor No Viviré..</p>
<p>Kemudian yang menambah akrab pembicaraan dengan Isabel ialah ketika bercerita tentang persamaan negeri Bolivia dengan Negara Indonesia ketika di “jajah“ militer. Betapa sengsara hidup dalam jajajah saudara sendiri, yakni militer. Di Bolivia pernah militer sangat berkuasa, sehingga kehidupan begitu sulit. Demokrasi itu hanyalah, mimpi tuh katanya. Kini, tahun 1996, Bolivia “merdeka dari jajahan militer, tentara tak berani lagi macam-macam” , sebab kalau tentara akan merebut kekuasaan, maka “kami semua turun ke jalan dan menentangnya, untunglah tentara takut” kata Isabel. Sebab kalau tentara menembak kerumunan masa, bias saja ada sanak saudaranya tertembak juga.</p>
<p>Tentang militer, bagi alumni ITB sungguh ada kenangan yang sulit dilupakan, yakni tahun 1978, ketika tentara mengobrak abrik kampus ITB dan menduduki ITB lebih dari satu minggu. Sungguh sebuah kengan yang menyakitkan. Korbannya adalah di copotnya Prof Dr.Iskandar Alisjahbana dari jabatan rektor, apa alasannya??? , gara-gara dalam suatu rapat yang dihadiri Panglima Siliwangi Mayjend Himawan Sutanto, Iskjandar berkata “Di Negeri ini, akal sehat sudah tidak berlaku lagi”</p>
<p>Kisah berukutnya, ketika tentara, yang kala itu dilaksanakan oleh Satgas Intel Kramat Empat Jakarta, dibawah Panglima Mayjend Tri Sutrisno, menahan saya dan mewajibkan apel hingga satu tahun padahal saya tengah kuliah di S-2 ITB. Apa gara-garanya: “<em>Koesmawan khutbah terlalu keras, menunjukkan kebencian kepada Negara Amerika” </em>??? Ah sudahlah heran saya, sejak kapan saya benci Amerika, padahal saya ingin sekali ke Amerika itu, belum kesampaian hingga kisah ini ditulis.</p>
<p>Isabel terbahak-bahak ketika saya bercerita, mengapa banyaknya orang Indonesia ketika itu yang untuk  mencabut gigi saja ke Singapur, “Tahukah kamu apa  alasannya Isabel??”. Lalu saya teruskan, jawabnya ialah: “Karena di Indonesia itu, jangankan cabut gigi, buka mulut aja dilarang”. Sayang sekali Isabel tak memberikan alamatnya di Lapaz-Bolivia, sebab kalau lah saya tahu alamat Isabel di Bolivia sekarang, akan saya surati dia dan saya katakan bahwa kini Negara Indonesia, adalah Negara demokrasi terbesar ketiga setelah; Amerika, dan India. Tak gampang membangun Negara demokrasi pada jumlah penduduk 230 Juta jiwa. Bayangkan !!! hebat bukan???.</p>
<p>Ada kejadian lucu, sewaktu melihat ada gambar manusia yang aneh, tiba-tiba Isabel memukul meja, sambil komat kamit dan memegang perutnya yang lagi hamil. Saya heran. <em>“Why do you perform that my dear friend Isabel?</em>”. Dia menerangkan sesuatu, yang ternyata mirip di Negara Indonesia, rupanya; ketika dia melihat wajah buruk, smentara dia sedang hamil, kira-kira mirip orang kita berkata<em> “Amit-amit jabang bayi</em>” sambil ketuk-ketuk meja berkali-kali.. Menurut dia, itu kebiasaan suku Indian Bolivia, dan dia masih ada keturunan Indian itu. Lucu juga ya, ada kemiripan  budaya.</p>
<p>Lain Isabel, lain pula Bernadette. Berbadette lebih senang berdiskusi tentang humanisme, kehidupan sosial masyarakat dan perjuangan kaum wanita, khususnya di Negara berkembang.</p>
<p>Sebelum bercerita tentang Bernadette, saya mempunyai cerita tentang kenalan dengan wanita Belanda yang cantik di kereta api, hingga menjadi teman akrab berdua mulai naik  hingga kereta berhenti,tahukah teman-teman,  apa penyebabnya?? Itu gara-gara saya sayang kepada anjing yang dibawanya. Sebelum kenal dengan perempuan ini di kereta api, ini, pernah saya dengan Pak Junaedi sobat di Amsterdam, naik kereta api bareng. Tiba-tiba di depan ada anjing yang dibawa gadis Belanda yang lain, Berhubung Pak Junaedi ini sangat “fanatic” kata orang, dia memperlihatkan wajah benci kepada anjing yang dibawa perempuan itu.Sampil tangannya menepis supaya anjing itu menjauh dari kaki pak Junaedi dia tak mau kalau sampai anjing itu menjilat celananya.  Apa yang terjadi, ternyata si perempuan memperlihatkan wajah benci juga kepada kami berdua. Nah berdasar pengalaman itu, ketika saya, pada kesempatan lain, jalan sendiri dari Enschede ke Amsterdam,  lalu  pas duduk depan saya seorang gadis Belanda yang cantik dan  membawa ajing, lalu anjing itu saya usap-usap kepalanya dan lehernya, ternyata gadis Belanda itu senang sekali kepada saya, hingga kami bedua akrab sampai kereta berhenti di statsiun Amsterdam. Kata teman-teman saya yang nakal, kalau ingin di peluk dan diciumi cewe Belanda, nonton saja pertandingan sepakbola dimana tim Belanda main, nah siap-siaplah nanti, setiap Belanda menghasilkan  satu goal, kita akan dipeluk dan di ciumi cewe-cewe Belanda itu.<em> “ Emmm waah, Emmmwaah”</em> kata teman saya penuh semangat.</p>
<p>Saya pernah hadir nonton bareng seperti itu, tapi dari jauh, sebab takut dipeluk cewe Belanda, nanti bisa ketagihan. Di Belanda, tak laki-laki  tak perempuan, senangnya kepada sepakbola cukup merata. Bukan main.</p>
<p>Kembali ke Bernadette, ada kedekatan lain antara saya dengan Benadette, dia dilahirkan tanggal 13 Juli, sementara saya tanggal 14 Juli.. Jauh-jauh hari kami janjian akan merayakan ulang tahunnya bersamaan saja, biar patungan katanya. Rupanya, entah bagaimana, akhirnya jadi juga merayakannya hanya berdua disiang hari. Dan apa yang disediakan untuk saya yang khas pada hari ulang tahun itu ialah: sop buah, yakni buah-buahan yang dicampur. Saya membawa sekuntum  bunga untuk Benadette dan dia memberi saya sepasang cangkir dengan ukiran molen (kincir angin) khas Belanda. Tanggal kejadian HUT bareng ini tak akan terlupakan , yakni tanggal 13 Juli 1995, beberapa bulan sebelum saya promosi doctor.</p>
<p>Pernah pada suatu ketika, Benadette mengajak saya untuk  nonton TV berdua dirumahnya, saat itu ada  pertandingan final kejuaraan sepak bola dunia antara  antara Brasil dan Belanda. Sayang sekali ternyata Belanda kalah, 2 nol kalau tak salah. Saya mendengar suara lirih Bernadette; “<em>I don’t believe it, I don’t believe it”</em> katanya, sambil berlinang air mata. Saya ikut simpati kepadanya, anehnya, ikut juga menitikkan air mata. Gara-gara ini, kalau ada pertandingan kelas dunia antara Belanda dan Negara mana saja. Saya selalu mendukung Belanda. He he he.</p>
<p>Kenangan lain ialah, ketika, kami hadir pada perayaan syukuran Yoice Clancy orang Inggris yang baru punya rumah. Saya diajak Bernadette untuk pulang bareng ikut mobilnya, karena jarak dari rumah ke pangkalan bus jauh sekali. Entah bagaimana dan tak tahu dari mana asalnya, tiba-tiba mobil yang kami tumpangi ini ditabrak sepedah. Dan yang menabrak adalah seorang ibu kira-kira umurnya 30 tahunan, akibatnya, sepedahnya cukup parah, rusak berat dan mobil Bernadette sendiri lecet dan kaca spionnya hancur. Selesai berdebat saling tunjuk dalam Bahasa Belanda ini itu yang tak saya mengerti, kami pun pulang masing-masing.</p>
<p>Tetapi alangkah kagetnya saya, ketika sedang enak-enaknya berli bur di Den Haag, Bernadette menelpon saya, agar saya menerangkan kejadian tabrakan itu ke pengadilan di Enschede. Rupanya, di Belanda, jika terjadi tabrakan, maka selalu memenangkan kendaraan yang lebih kecil. Dalam kasus Bernadette ini, maka pengadilan hampir memenangkan pemilik sepedah. Nah, hakim bertanya, adakah saksi yang mau memberi keterangan meringankan,  bahwa supir  mobil ini tak tahu apa-apa, tiba-tiba ditabrak sepeda,yang  meluncur tak bisa di rem, dari garasi rumah yang posisinya lebih tinggi. Kata Bernadette, <em>“ Koesmawan bisa  memberi keterangan tertulis dan di fax, asal beri identitas lengkap”</em> . Maka sayapun segara menulis keterangan apa yang saya saksikan pada kejadian tabrakan itu diatas secarik kertas, lalu di fax ke pengadilan Bernadette di Enschede. Besoknya saya mendengar kabar  kebahagiaan Bernadette:<em> “ I am happy, I am not guilty in the court, thanks a lot for your help, Koesmawan”</em>. Jawab saya: “<em> I am happy too, Bernadette, good luck !!, see you next time”</em>.</p>
<p>Dalam diskusi-diskusi, Bernadette sering mempertanyakan, kenapa Indonesia menjajah Timor Timur, apakah Indonesia ingin menguasai celah Timor yang katanya banyak minyak bumi?. Saya tak tahu alasan pasti mengapa kita mencaplok Timor Timur yang kini bernama Timor Leste. Saya jawab sesuai standar saja ;  yakni;<em> agar komunis tak menguasai Pacific Selatan dan langkah Indonesia menguasai Timur Leste karena didukung oleh Amerika sehingga pengaruh komunis tak membesar di Asia Tengggara dan Pacifik Selatan</em>. Memang, tak sedikti warga Belanda yang terkecoh oleh orang-orang Timor Leste hingga antipati terhadap Indonesia yang disebutnya sebagai “penjajah”.. Bernadette, termasuk orang yang sentimental, dia bernah berkata begini “ <em>Koes apa jadinya dunia ini ya. Imam Khomenini telah tiada, Madam Theresia juga telah tiada; keduanya adalah manusia yang memiliki tempat khsus dihati umatnya.  Apakah dunia akan me njadi kiamat??”. Saya hanya tersenyum dan berkata: “Que serra, serra Bernadette. </em><em>Whatever will be , will be”, “Ya sudahlah Bern, apapun yang terjadi, terjadilah. </em>Kata saya kepadanya. Lalu <em>” You are so nice to select the words to say”</em> Kata Bernadette membalas ucapan saya..</p>
<p>Sebelum pulang ke Indonesia, saya menyurati Bernadette agar dia hadir pada promosi doctor  saya dan saya mau pamit akan pulang ke Indonesia lewat Mekah dan Madinah. Sayang sekali Bernadette  tidak hadir pada promosi doctor saya di Fakultas Manajemen Universitas Twente The Netherlands , Jumat; 9 Pebruari 1996. Dia sedang tugas ke luar kota dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang saya simpan rapih, dibungkus plastik biar awet  hingga kini dan diberi judul: “Sepucuk Surat dari Bernadette” sebagai tanda perpisahan dari persahabatan kami. Saya beri undangan promosi disertai surat permohonan maaf sebab pernah dia tersinggung oleh saya,  lalu saya katakana juga bahwa saya akan ke Jakarta dengan singgah di Mekah dan Madinah. Inilah surat balasan terakhir dari Bernadette:</p>
<p>To: Koesmawan</p>
<p>Universiteit van Twente</p>
<p>PO BOX 217; AE ENSHEDE</p>
<p>Hardenberg, 28 January 1996</p>
<p>Dear Koesmawan,</p>
<p>Also I wish you a happy 1996, and the best for the rest of your life. First I want to tell you I have great respect for you for having finished your disssetration. I want you to know that you did do nothing wrong, but that there were some cultural misunderstandings. Nothing terrible, and I laso apologise for it.</p>
<p>Unfortunately I am not able to attend your doctoral defence. Perhaps you already know that I have a new job with more responsibilities. On the 9<sup>th</sup> of February I have a very important meeting to attend in the afternoon. Nevertheless I hope it will be one of the best days of your life.</p>
<p>Koesmawan, I am really happy for you that you can return to your family in Indonesia. Remember me when you are saying your prayers in Mecca, like I will remember you in my prayers to my God. With best regards,(BERNADETTE SCHOMAMER)</p>
<p>Memang benar kata orang, “<em>alangkah sedihnya sebuah perpisahan, dan akan lebih sedih lagi bila tanpa ucapan, selamat jalan”</em>. Atau kata sebuah lagu: “<em>Bukan perpisahan yang aku tangisi, akan tetapi pertemuan itulah yang aku sesali</em>”, Ah itu hanya sebuah lagu. Forget it.</p>
<p>“Persahabatan” memang sebuah kata-kata indah. Saya pernah punya sahabat wanita yang sangat baik sekali di , ia bernama Dra Ella Turmala,M.Si. Kami bersahabat,, mulai dari kelas 3 SMA di SMA 3 Bandung, lalu di ITB dan  hingga hari ini. Saya tak tahu apakah Ela sudah punya cucu atau belum. Cucu saya kini empat. Ternyata sebuah persahabatan dapat abadi tanpa cinta. Saya kaget, ketika ada dua sahabat baik saya di Belanda yaitu Agung dan Ita, tiba-tiba ketemu menjadi suami–istri. Padahal pengalaman saya, sekali kita bersahabat, maka hingga tua, akan terus bersahabat dan tidak hilang perasaan itu walau terpisah oleh tempat yang berbeda. Ela Turmala selalu hadir bila saya undang, termasuk waktu pengukuhan Professor saya  di Jakarta, Ela Turmala yang gadis Sumedang itu- mungkin tetangganya Rossa, penyanyi ayat-ayat cinta- ternyata juga datang ke Jakarta. Ah alangkah indahnya suatu persahabatan walau tak dibumbui cinta. Kata orang<em> “mencintai tak selamanya harus memiliki”</em></p>
<p>Umur saya, kini sudah melampuai setengah abad. Saya sadar benar ucapan Rasululloh bahwa sebuah silaturahmi, minimal  akan memberi dua  manfaat yaitu: (a) Umur panjang, dan  (b) Banyak rejeki. Alangkah ruginya orang yang memutus tali silaturahmi.</p>
<p>Memang, silaturahmi itu indah, tetapi persahabatan nampaknya, akan jauh lebih indah.</p>
<p>Kini umur saya sudah <em>over fifthy</em>; saya ingat kata-kata Bernadette, bahwa bila saya di Mekah dihadapan Allah SWT, saya harus ingat Bernadette, sebab dia pun akan ingat saya, ketika berdoa di gereja. Sebenarnya saya ingin menyuratinya bahwa itu tak mungkin, sebab Nabi Muhammad SAW saja, tidak boleh mendoakan paman yang dicintainya. Maka saya pun tak akan ingat Bernadette di Mecca dan Madinah.</p>
<p>Mengapa, sebab  Allah Swt, memberi teguran kepada saya dengan cara : VISA SAYA SUDAH KEDALUWARSA, BEDA SATU HARI DAN SAYAPUN, HANYA TERMANGU DI BANDARA KING ABDUL AZIS JEDAH.</p>
<p>Akhir cerita; saya pulang ke Indonesia dan bertemulah dengan anak dan istri tercinta. Lucunya; anak saya No 4; Dina Kartika Utami, tak tahu bahwa ini Bapaknya, dan sewaktu bangun pagi, saya tertidur di sebelah istri, anakku Dina nangis dan ngamuk; kok ada lelaki lain di samping ibunya. He he he. Itulah romantika kehidupan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koesmawan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koesmawan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/koesmawan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/koesmawan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/koesmawan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/koesmawan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/koesmawan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/koesmawan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/koesmawan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/koesmawan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/koesmawan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/koesmawan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/koesmawan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/koesmawan.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=27&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koesmawan.wordpress.com/2009/05/06/ketika-cinta-hanya-berbuah-cerita-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00928f7bc7e9d8820d4c8be92c9d3401?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">koesmawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA</title>
		<link>http://koesmawan.wordpress.com/2009/04/24/ketika-cinta-hanya-berbuah-cerita-2/</link>
		<comments>http://koesmawan.wordpress.com/2009/04/24/ketika-cinta-hanya-berbuah-cerita-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 14:44:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesmawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koesmawan.wordpress.com/2009/04/24/ketika-cinta-hanya-berbuah-cerita-2/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA EPISODE KEEMPAT Ini sebenarnya kisah cinta dari teman-teman gadis saya yang umurnya masih muda. Mereka hidup bersama saya apakah sebagai sahabat, kolega atau sebagai anak didik tak langsung. Mengapa dibilang begitu, memang ada istilah anak didik langsung dan tak langsung. Anak didik langsung dialah mereka yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=24&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;     &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false         &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">EPISODE KEEMPAT</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Ini sebenarnya kisah cinta dari teman-teman gadis saya yang umurnya masih muda. Mereka hidup bersama saya apakah sebagai sahabat, kolega atau sebagai anak didik tak langsung. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Mengapa dibilang begitu, memang ada istilah anak didik langsung dan tak langsung. Anak didik langsung dialah mereka yang pernah jadi murid saya di sekolah resmi, sedangkan anak didik tak langsung adakah mereka yang menjadi pendengar ceramah-ceramah saya pada berbagai kesempatan. Mereka mengatakan saya adalah guru mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Ada tiga gadis yang nasibnya sama, saya samarkan namanya; Septia Dela Rosa, Ratna Setiawati dan Lisa Pujiningsih. Diantara ketiga itu yang paling cantik, pertama adalah Septia, dia bernilai 8,5 kata teman-teman, dan kini berprofesi sebagai selebritis berpendidikan S-2 ada kalanya saya lihat dia di TV, saat itu ia berstatus kolega di sebuah PTS Bandung. Kedua adalah Ratna. Mahasiswi di Delft University of Technology Belanda, nilai daya tariknya kira-kira 8,0 saja, tetapi termasuk anak yang maju kuliahnya dengan angka diatas IP rata-rata. Terahir Lisa, seorang dosen di sebuah PTS terkenal di Jakarta, gadis jawa yang hitam manis, senyumnya menawan, hingga nilainya bisa mencapai 7,5. Banyak rekan-rekan dosen menyenanginya, bahkan ada yang bercanda: “ Waduh, terlambat kita bertemu ya Lis”. Kadang ada aja yang nakal “ Ok Lis, kutunggu jandamu kapan saja”. Ah dasar lelaki, ada-ada saja candanya. Lupa, kata-kata seperti itu, bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Begitulah lelaki, candanya kelewat batas. Ada kalanya, ketika dalam seminar ketemu peserta cantik, maka ia berkata: ”Kalau lihat anak orang, saya suka ingat anak sendiri, ee pas lihat istri orang, lupa deh istri sendiri”. <em>Naudzubillah mindzalik</em>. Begitulah bila para dosen becanda di kampus.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Entah bagaimana, ketiga teman gadis saya yang semua beragama Islam itu, sama-sama nasibya, mempunyai kekasih bahkan calon suami (tunangan) yang berbeda agama. Septia mempunyai pacar bernama Bernadus yang Katholik, Ratna berpacar Darius yang juga Katholik dan Lisa mempunya pacar bernama Harry yang Kristen Protestan. Bagaimanakah nasib mereka selanjutnya, inilah kisahku bersama mereka. Tentu saja, nama-nama pacarnya juga adalah nama samaran. Kalau ada yang sama, ya itu hanya kebetulan saja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Memang, ketika cinta itu buta, atau <em>“Love is blind”</em> kata orang Inggris,maka, dijawab oleh orang-orang Sunda “maaf:<em> Tai Kotok pun terasa Coklat</em>” artinya; maaf ;<em> kotoran ayam pun terasa coklat</em>. Cinta tak memandang siapa dia, agama apa dia, dan keturunan apa dia. Kata orang Sunda lagi<em> “ Jodoh teh Jorok”.</em> </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Artinya, ketika anda jatuh cinta bisa dengan siapa saja, seorang yang baik-baik mencintai pelacur, bukan hal yang mustahil. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Itulah cinta, dia benar-benar buta. Tak memandang sesuatu pun di dunia. Bahkan ada pepatah bahasa Arab yang saya terima dari sahabat saya Bung Yourdan di STIE Ahmad Dahlan Jakarta, kata Bung Yourdan, ada pepatah Arab:<em> “Man tahabba syaian; Fahuwa Abdun” </em>Bila seseorang mencintai sesuatu dengan sepenuh hati, maka ia akan menjadi hamba dari cinta itu”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Padahal, kalaulah manusia sadar, di Jawa ada pepatah. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Dalam memilih jodoh lihat:<em> bobot, bibit dan bebet. </em>Artinya: Bobot; mutu, kecantikan, kekayaan, perilaku. Bibit: Asal keturunan dan Bebet: bisa memberikan keturunan alias tidak mandul. Maka ketika rumus <em>“Love is blind </em>“ diberlakukan, gugur sudah teori bobot-bibit dan bebet itu. Kalau dalam ajaran agama Islam , untuk memilih jodoh itu ada empat: (1) kecantikannya, (2) kekayaannya, (3) keturunannya, dan (4) Agamanya (Islam). Bila kita tak memperoleh nomor 1, 2, dan 3. Maka no 4, kesamaan agama (Islam) mengalahkan segalanya. Jadi kalau kita memperoleh jodoh cantik, sebutlah nilai 1, kaya Nilai 1, keturunan baik nilai 1, namun agama beda alias = 0. Maka nilai totalnya menjadi 0. Sebaliknya kalau agama sudah sama berarti 1, yang lain 0, 0 dan 0, maka jumlahnya menjadi 1.0.0.0 alias seribu. Artinya faktor agama inilah yang sangat menentukan, oleh sebab itu bila agama menjadi pegangan harus dibalik, masalah agama menjadi nomor satu, setelah itu baru kecantikan, keturunan dan kekayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Tentu saja, makna agama di sini dalam arti yang seluas-luasnya: dia itu shalat, rajin puasa sunat senen –kemis, rajin tahajjud, amanah,<span> </span>berahlaq baik dan<span> </span>lain sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Memang umumnya, pernikahan yang berbeda agama, banyak yang putus di tengah jalan, atau setelah sekian tahun hidup bersama, maka salah satu mengalah sehingga agamanya menjadi sama. Memang, ada saja satu atau dua, yang bisa abadi mempertahankan perbedaan hingga akhir hayat dikandung badan. Dalam kalangan kaum muslimin, masih banyak yang cukup tenang dan tentram apabila, lelakinya muslim dan wanitanya non-muslim. Dan agak berat masalahnya ketika laki-lakinya non muslim, sementara wanitanya muslim, apalagi dari kalangan muslimah yang taat. Dalam kasus ketiga gadis yang akan saya ceritakan itu. Septia, walau tidak berjilbab dan Ratna yang berjilbab adalah gadis-gadis sangat taat. Benar- benar sangat. Saya sering bertemu di mushala atau di masjid. Sementara Lisa, kurang taat, bahkan awam sekali pemahaman<span> </span>tentang Islamnya, dosen-dosen menyebut Lisa sebagai “dosen abangan” ketika itu. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Lisa memang berprinsip:<em> Agama sami kemawon</em>, agama itu, ya sama saja. Tentu saja, pendapat ini salah. Sebab bagi pemeluknya, agama yang benar adalah yang dipeluknya. Jadi, saya Muhammad Koesmawan sebagai seorang muslim wajarlah kalau berkeyakinan bahwa “Agama Islamlah yang benar”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Saya dan Kang Qodir, sahabat Septia juga sering menasehati Septia. Bahkan Kang Qodir tegas sekali; segera putuskan pacarmu itu dan ganti dengan yang muslim. Sebab kalau terus kawin, kamu akan disebut berzina selama-lamanya. Sering saya melihat, Septia menangis bila di depan Kang Qodir yang memang kadang disebut “ekstrim” oleh rekan-rekan sejawatnya. Saya sependapat dengan Kang Qodir, walaupun saya tak mau berkata keras seperti itu: “haram”, “Zina” dan sebagainya. Saya lebih sering mendengar apa yang ingin Septia katakan<span> </span>tentang pacarnya. Septia sering memuji-muji pacarnya. Memang, kata Septia, Benardus itu bukan muslim, tetapi perilakunya benar-benar tak jauh berbeda seakan mencerminkan sikap muslim yang benar. Dari ketaatannya, kesetiannya, kasih sayangnya dan dia tak hanya kepada Septia, tetapi juga kepada seluruh keluarga Septia. Hingga sulit baginya untuk putus dengan Bernadus seperti yang diharapkan Kang Qodir. Saya sering berkata kepada Septia<em>. “Neng, <span> </span>Pantha Rei, biarlah hidup ini seperti air mengalir”</em>. Jangan terlalu dibendung. Biarkan ia berlangsung apa adanya. Hadapilah dengan kesabaran. “Tetapi mengapa kamu belum kawin Neng?”. Kata saya. Septia menjawab, “Biarlah Kang Koesmawan, akan saya tunggu setahun lagi”. Semoga dia bisa ikut agama saya. Begitulah Septia optimis, bahwa kecintaan Bernadus kepada Septia,mungkin akan bisa mengubah agamanya menjadi Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Saya katakan kepada Septia. ”Neng, sebenarnya nasehat Kang Koesmawan sama dengang Kang Qodir, Bedanya gini aja Neng Septi; ingatlah Neng, mencintai itu, tidak selamanya harus memiliki, Kalau seseorang itu memiliki cinta sejati, ia akan berharap kekasihnya bahagia selama-lamanya, walau tidak hidup bersamanya”<em>.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Memang, ini kenyataan, terlepas agamanya yang Katholik.<span> </span>Pribadi Bernadus itu menyenangkan, saya pun sering memujinya di depan Septia. Orangnya cukup ganteng, simpatik, rendah hati, hormat kepada orang lain. Pokoknya selangit. Saya dan Septia sering berpendapat, kalaulah Si Bernadus itu baca sahadat aja, jadilah dia <em>muttaqien</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Kisah ini berakhir, tatkala pada suatu ketika, Septia tergopoh-gopoh, memanggil saya dan Kang Qodir. Saking seriusnya, saya geli kalau ingat. Septia menarik tanganku di sebuah kantin di Bandung supaya mau berkumpul enam mata antara Koesmawan, Septia dan Kang Qadir. Inilah kata-kata Septia, dan kalau saya bertemu dia, saya ingatkan ini, dia akan tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">“Begini Kang Koesmawan, Kang Qadir, sahabatku yang baik. <em>Alhamdulillah</em>; saya seminggu yang lalu telah resmi putus dengan baik-baik dengan pacar saya Bernadus”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">”Alhamdulilah, ya Allah terima kasih atas kabar ini Neng”. Saya lupa-lupa ingat, begitu ekpressifnya perasaan saat itu, <span> </span>kami berdua (saya dan Kang Qadir) langsung sujud syukur dan berdoa. Semoga Septia segera dipilihkan oleh Allah Swt. Jodoh yang segalanya melebihi Bernadus. Dan akhirnya, saya dengar kabar ia memilki calon suami muslim, S-2 akuntansi dan hidupnya lumayan, pribadinya baik. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Kini dilihat dari penampilannya di TV, Septia tampaknya hidup bahagia, wajahnya tetap cantik. Bahkan, tidak saya sangka, wajah Septia ada juga di “Facebook”. Ah biarkanlah tak saya temui, semoga kalau dia baca kisah ini, dia akan mesem-mesem. Hanya satu yang ingin saya ketahui dari Septia Dela Rosa itu; Bagaimana proses yang dia lakukan hingga bisa putus dengan Bernadus yang dia sayanginya itu. Maksud saya, bagaimana serunya pergumulan dalam batin Septia antara Ya atau Tidak untuk putus, dengan kekasih yang sudah 5 tahun dipacarinya itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Bagaimana dengan kisah Ratna di Delft negeri Belanda itu. Ibarat pepatah dalam bahasa Perancis : <em>“L’ historia Cest Repete”</em><span> </span>(Sejarah itu akan berulang). Ya, seperti terjadi pengulangan sejarah; <span> </span>tak banyak yang bisa saya ceritakan. Hanya kesan saya adalah ketika saya tanya. “Mengapa Ratna kok kamu menjadi serius sekali dengan Darius yang Katholik itu, sementara kamu berjilbab dan pengurus masjid di Delft lagi. Bukankah kamu dulu berpacaran dengan mahasiswa muslim?”, <span> </span>Demikian kata saya kepada Ratna.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">“Itulah Kang Koesmawan”, kata Ratna. “Siapa yang tak ingin punya calon suami yang muslim. Tapi itulah kenyataan Kang, setiap saya membangun cinta dan kasih sayang yang serius dengan seorang muslim, ternyata menjengkelkan dan banyak makan hati”<em>. </em>Kemudian Ratna melanjutkan, ”Kadang, pria muslim pacar saya itu sok mengatur. Kadang kurang setia.<em> </em>Berjanji tak ditepati, sering bohong dan sewaktu jadi bendahara tidak amanah”<em>.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">”</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Wah itu ciri orang munafik dong Ratna”, Kata saya. ”Jadi kamu memutuskan dia yang muslim itu?. “Benar Kang, dan ternyata ketika saya mengenal Darius lalu saya hubungan baik dengan dia, ternyata apa yang tak ada pada pria muslim, itu telah ada pada Darius. Hanya saja Darius bukan seorang muslim Kang” Demikian Ratna mengahiri ceritanya pada saya, dengan sedikit linangan air mata. Saya terharu juga mendengar keluhannya itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Memang, penampilan dan sikap serta watak Darius-nya Ratna ini tak jauh berbeda dengan Bernadus-nya Septia. Anaknya ganteng, sopan-santun, setia kepada pacar, rendah hati dan lain-lain. Saya tak bisa berkata apa-apa di depan Ratna. Saya tahu Ratna paham betul soal agama dan apalagi hubungannya dengan masalah kawin beda agama. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Jadi apa yang harus kukatakan kepada Ratna itu? <em>What should I say to her?</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Saya berkata kepada Ratna, “<em>Cest La Vie</em> “ (Bahasa Perancis, dibacanya SELAFI), artinya “Itulah hidup Ratna..”. Saya ingat kata-kata Kiekegard, filsuf ekstensialis Jerman, dia bilang <em>“Hidup itu susah diatur”</em> . Kita maunya begini, hidup malah begitu. “Jadi kita harus menjalaninya wahai adikku Ratna dengan optimisme”. Masalah hubungan dengan Darius ini, semogalah berakhir dengan baik. Saya ceritakan soal Septi di Bandung kepada Ratna. Dia berharap akan berahir seperti Septi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Sebenarnya, saat itu saya ingin bertemu anak-anak mahasiswa muslim Delft. Ingin saya maki-maki mereka, kenapa kalian tak dapat memperlihatkan akhlak Rasullullah dengan baik. Coba kalaulah semua mahasiswa muslim di Delft ini baik akhlaknya, tak mungkin Ratna jatuh ke tangan Darius.”Kok ada saja pemuda muslim yang tega-teganya menyakiti wanita muslimah secantik Ranta ini”. Sayang memarahi mahasiswa Delft itu tak kesampaian, kami hanya bertemu sebentar saja di Belanda, lalu berpisah dengan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Sejak saat itu, saya tak pernah ketemu lagi dengan Ratna dan juga mahasiswa muslim di kota Delft, sebab saya lulus Doktor di kota lain, yaitu Enschede pada tahun 1996, dan tak ada lagi kontak dengan mahasiswa muslim Delft.<span> </span></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Jadi hingga tulisan ini di-entri ke rumah digital saya, saya tidak tahu lagi kabar dari Ratna. Harapan saya, mudah-mudahan jika Ratna bertemu, dia bernasib seperti Septia. Yakni bertemu jodoh pria muslim yang tinggi nilai ketakwaannya dan hidupnya sukses. <em>Amiin</em>. Siapa tahu, ada mantan mahasiswa Delft Nederland yang membaca kisah ini dan memberi kabar tentang nasib Ratna selanjutnya. Saya tunggu di “facebook”-nya Muhammad Koesmawan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Adapun ceritaku tentang Lisa, hampir mirip dengan Septi dan Ratna, hanya ujungnya, jelas , yaitu: tidak “<em>happy ending</em>”. Bahkan menyedihkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Lisa ini aneh. Saya tahu bahwa sebelum kenal dengan saya, Lisa sudah punya tunangan bernama Mas Djoko. Lisa sering cerita bagaimana dia akan menghabiskan hari-hari dalam penantian untuk menikah dengan Mas Djoko. Namun apa yang terjadi, sejak saya berpisah tak ketemu Lisa, saya dapat undangan dari Lisa, bahwa ia akan kawin, tapi aneh bin ajaib. Ia tidak menikah dengan Mas Djoko, malah dengan Bung Harry yang beragama Kristen Protestan itu. Saya sudah kenal baik juga dengan Bung Herry, ia anak pendeta Kristen, berarti Herry sangat kuat kekristenannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Alkisah</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">, pada suatu kesempatan, saya berdekatan dengan Lisa, kebetulan akan mengajar bareng di sebuah PTS di Jakarta.Nah, di saat kami berdekatan, maka saya tanyakan. “Lisa mengapa jadi begini, bukankah kamu tahu bahwa; menikah berlainan agama itu dilarang menurut agama Islam?” . Ketika saya bertanya ini, untunglah saat itu nikah beda agama dibenarkan secara hukum di catatan sipil. Jadi Lisa dan Herry menikah lancar saja di Indonesia. Padahal<span> </span>kalau sekarang, tidak boleh lagi menikah beda agama. Maka ramai-ramailah menikah di luar negeri. Dan dipilih yang dekat yaitu: Singapura atau Australia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Memang, menurut Lisa, ini gara-gara Mas Djoko yang notabene-nya tunangan Lisa tidak memberikan perhatian yang semestinya. Hingga, “<em>feeling</em>” Lisa menjadi ragu, apakah benar Mas Djoko mencintainya? Atau seperti akan mencampakkannya?. Nah ketika Lisa tak punya kepastian ini, tiba-tiba datanglah Herry masuk ke dalam kehidupannya. Memang sebelumnya; dulu katanya, Lisa itu sangat dekat dengan Herry, namun entah apa tiba-tiba mereka terpisahkan. Maka ketika mereka bertemu lagi muncullah apa yang disebut: CLBK (cinta lama bersemi kembali).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Dan ketika Mas Djoko dan Lisa terpisah karena tugas, Herry masuk ke kehidupan Lisa dan memberi kepastian, hingga Lisa jatuh ketangannya, padahal mereka berbeda agama. Jadi Lisa mengajarkan kepada kaum pria, bahwa kalau kita meyakini cinta kita akan berlangsung panjang, maka berilah kaum wanita itu kepastian. Sebab, bila cinta tanpa kepastian, maka ia akan gugur, cepat atau perlahan-lahan. Lisa, mengajarkan betapa cintanya kepada mas Djoko bisa gugur dalam hitungan bulan, disebabkan tanpa adanya kepastian. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Di sini saya bisa berkata <em>“Love is a certaint”. </em>Cinta adalah kepastian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Kabar terakhir tentang Lisa, tak enak didengar telinga, katanya, karena merasa hidup dengan berbeda agama di satu rumah tidak baik, akhirnya Lisa mengalah mengikuti agama suaminya. <em>Wallahu A’lam</em>, saya tak pernah bertemu dengan Lisa lagi, hanya ku ingat kata-kata terakhir waktu bertemu, “Koesmawan, kita berdua ini selalu akur ya?”. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Tak tahulah saya, kemana arah perkataan Lisa itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Kini umur saya sudah hampir 60 tahun. Saya berpikir dan ingat nasihat Mayjend (Purn.) Hari Suprapto di Lemhannas. Kata beliau, ”Hati-hati Prof. Koes, Allah Swt. itu <em>PENCEMBURU</em>, DIA TAK MAU CINTA KITA DIBAGI DUA apalagi dibagi banyak. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Maka kita akan termasuk <em>musyrik</em> yang dosanya tak akan terampuni”. Dengan begitu Pak Jenderal berharap agar cinta kita itu “Satu dan Hanya Satu Saja”, yakni Cinta Sejati kepada Allah SWT.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Kalau begitu, bagaimana kita bisa mencintai kekasih, istri, anak, adik, kakak? Jawabannya: Silahkan saja, asal niat kita dan tujuan kita dalam rangka “Cinta kepada Allah Swt. itu tadi”. Jangan sampai kecintaan kepada anak-istri, kekayaan, saudara dan sahabat mengalahkan kecintaan kita kepada Allah Swt. Tuhan yang Maha Kuasa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Hidup memang penuh ketidakpastian, seseorang tak akan tahu apa yang akan terjadi padanya hari esok dan mereka tak akan tahu pula di<span> </span>bumi mana mereka akan mati (Al Quran). Manusia berencana, Allah Swt berencana. Maka sebaik-baiknya rencana adalah Rencana Allah Swt. (Al Quran). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Jadi hidup bukan tak bisa diatur kata Kieskegard, tetapi hidup harus kita rencanalkan dengan baik. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Semoga kisah cinta tiga teman gadisku itu bermanfaat bagi yang membacanya.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koesmawan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koesmawan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/koesmawan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/koesmawan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/koesmawan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/koesmawan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/koesmawan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/koesmawan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/koesmawan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/koesmawan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/koesmawan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/koesmawan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/koesmawan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/koesmawan.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=24&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koesmawan.wordpress.com/2009/04/24/ketika-cinta-hanya-berbuah-cerita-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00928f7bc7e9d8820d4c8be92c9d3401?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">koesmawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA</title>
		<link>http://koesmawan.wordpress.com/2009/04/08/ketika-cinta-hanya-berbuah-cerita/</link>
		<comments>http://koesmawan.wordpress.com/2009/04/08/ketika-cinta-hanya-berbuah-cerita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2009 09:19:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesmawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koesmawan.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA EPISODE PERTAMA: Ini adalah sebuah catatan tentang cinta yang sangat subjektif, mengapa karena ia hanya bercerita tentang pengalaman saya pribadi yang “gagal” menemukan arti sebuah cinta yang saya harapkan dimasa remaja. Saya tak tahu, apakah pengalaman ini berguna bagi orang lain. Nama gadis yang saya cintai, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=21&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false         &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> <span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">EPISODE PERTAMA:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Ini adalah sebuah catatan tentang cinta yang sangat subjektif, mengapa karena ia hanya bercerita tentang pengalaman saya pribadi yang “gagal” menemukan arti sebuah cinta yang saya harapkan dimasa remaja. Saya tak tahu, apakah pengalaman ini berguna bagi orang lain. Nama gadis yang saya cintai, terpaksa saya samarkan sebab, tentu yang bersangkutan akan risi bila kisah dan namanya dibaca oleh suaminya. Tentu saja nama-nama gadis itu sedikit saya pelesetkan saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Episode pertama kejadiannya di SMA 3 Bandung, saya menyenangi teman sekelas saya, ia bernama Reka Tri Rahayu, sebutlah Eka saja. Gadis ini di mata saya sangat cantik sekali, akan tetapi dimata orang lain ya biasa saja. Kata temanku, ah paling si Eka itu, nilainya maksimal 7 deh. Begitu kata kawan-kawan saya. Saya sangat mencintainya, tiap malam minggu saya “apel” kepadanya dengan membawa pekerjaan rumah untuk hari Senin. Indah sekali rasanya “bercinta” itu, walau sebatas datang ke rumah, ngobrol dari waktu magrib hingga isya. Indah sekali bertemu dia itu. Saya ingat, mengingat rumah saya jauh, maka ada kalanya uang jajan dari orang tua dikumpul-kumpul, hingga cukup untuk ongkos dari Cimahi ke Jalan Gatsu di Bandung. Selain uang, pikiranku juga kuberikan kepadanya, maksudnya; aku di rumah siap-siap mengerjakan PR. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Intinya, mengapa ketika cinta ini lahir, aku ingin memberi aja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Nah, pada tahun 1969, aku menjadi pengurus mushala SMA 3 Bandung bersama Sukmana dan Dimyati anak SMA 5. Dalam rangka membina anak SMA 3 yang sering disebut SMA santri, panitia mengundang Dr.Ir. Imaduddin Abdul Rachim yang dikenal dengan sebutan Bang Imad. Salah satu isi ceramah Bang Imad (alm) yang saya kenang hingga kini ialah;<em> “what is the meaning of love”</em>. Maka Bang Imad menjawab, “<em>Love is the pleasure for giving”.</em> Mudah2an saya tak salah menerjemahkan artinya ialah: bahwa cinta itu adalah kesenangan untuk memberi. Kini saya yakin, rupanya apa yang telah saya lakukan pada gadis Eka itu memang kesenangan untuk memberi. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Indah sekali ya ketika kita memberikan<span> </span>sesuatu kepada seseorang yang kita cintai itu. Begitu ikhlas saya memberikannya, tanpa saya harus menerima apa yang akan dia berikan kepada saya. Saya berikan saja tanpa kata tanpa janji apalagi meminta sesuatu. Memang benar sungguh suatu kebahagiaan memberikan sesuatu yang kita miliki kepada yang kita cintai. Hanya dua tahun saya dekat dengan Eka, tetapi Tuhan tidak menjodohkan<span> </span>saya kepada Eka. Saya menikah dengan wanita lain dan Eka pun<span> </span>menikah dengan lelaki lain. Kemudian, cinta sebagai <em>lambing member</em> itu, bisa diperluas. Misalnya kepada Ibu, Ayah, Adik, Kakak atau Sahabat. Kepada semua yang kita cintai itu, berlaku terus “<em>Love is a pleasure for giving</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Kini umur saya hampir 60 tahun. Bila umurku lebih akan disebut <em>“over sixty”.</em> Lama saya merenung, sebenarnya, cinta saya kepada Eka, hanyalah cinta sementara yang hanya menjadi sebuah cerita. Cinta yang sebenarnya adalah cinta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini baru benar-benar cinta dan ia akan memberi kekuatan yang maha dahsyat, yakni kekuatan untuk hidup dan bercita-cita. Hidup dan bercita-cita harus satu paket. Saya tak bisa membayangkan ada manusia yang hidup tanpa cita-cita? Kalau ini ada manusia seperti ini. Saran saya. Lebih baik mati saja, sebab hidup harus dengan cita-cita. Cita-cita kita bisa menjadi motivator atau penggerak hidup kita untuk terus maju. Ada kalanya cinta itu, juga adalah sebuah impian. Nah kebahagiaan hidup, kata Marzuki Usman ialah; disaat kita melangkah sehasta-demi sehasta, menggapai dan mewujudkan impian kita itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">EPISODE KEDUA:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Jauh sekali setelah beberapa tahun melupakan Eka di episode pertama. Kini saya bertemu lagi dengan cerita cinta pada episode kedua. Pada cerita ini benar-benar ibarat kisah di sinetron. Alkisah, karena saya sebagai mahasiswa yang cukup mengerti tentang matematika, fisika dan kimia, maka saya sering diminta mengajar anak2 SMA di rumah teman yang bernama Bambang Sumantoro. Dia punya adik perempuan yang bersekolah di SMA, maka hampir seminggu dua kali saya mengajar adiknya Mas Bambang ini. Kalau tak salah, Bambang itu mahasiswa ITT Bandung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Pada suatu ketika, seorang saudara misan Mas Bambang di Yogyakarta yang bernama Dwi Utari datang ke Bandung untuk berlibur dan saya sering diberi tugas oleh Mas Bambang ini untuk mengantar Dwi Utari ke berbagai tempat di Bandung ini sekedar cuci mata katanya. Nah barang kali, karena seringnya ketemu dengan Dwi Utari ini, terbitlah sesuatu dalam hati saya, sebutlah cinta lagi. Sering Dwi Utari <span> </span>menyindir saya dengan pepatah bahasa Jawa “<em>Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”</em>, diterjemahkan: “Cinta lahir karena seringnya ketemu”. Nah akhirnya, saya dekat sekali dengan Dwi Utari itu, tetapi sayang hanya dalam hitungan bulan, ia “berakhir” sudah, kalau saya pinjam kata-kata lagu Tetty Kadi, “Layu Sebelum Berkembang”. Kenapa lagi ini, tahukah apa penyebabnya: Ya sebuah legenda yang dipercayai oleh keluargaku dan keluarga Dwi Utari itu. Keluargaku adalah suku Sunda, sementara Dwi Utari Suku Jawa. Kata legenda, Orang Sunda sama Orang Jawa asalnya kakak beradik. Dulu ada legenda Aji Saka, tercatat dalam sebuah tulisan kuno yang berbunyi :<em> Hana Caraka, data Sawala. Pada jayanya, Magha Batanga</em>, artinya; ada cerita, dua utusan, keduanya perkasa, lalu berkelahi dan mati. Yang kakaknya dikubur di Jawa Tengah, adiknya dikubur di Jawa Barat. Buktinya: itu hurup kuno jawa dan sunda sama, bedanya pada pengucapannya sunda dengan berakhir<span> </span>“A”, Jawa berakhir “O”. Ini berarti Orang Jawa itu adalah kakaknya orang Sunda. Adalah benar atau pas kalau lelaki suku Jawa menikah dengan perempuan suku Sunda, tetapi kurang bagus kata orang tua, lelaki Sunda menikahi wanita Jawa. Percaya nggak percaya pada legenda ini, buktinya: Belum Pernah ada lagu-lagu sinden Jawa memuja pemuda Sunda. Tetapi sebaliknya sering atau banyak lagu sinden Sunda memuja lelaki Jawa, misalnya lagu “Mas Joko”. Atau “Kang Mas”. Ini berarti yang tepat adalah wanita suku Sunda menikahi lelaki suku Jawa. Sayang sekali keluarga saya dan keluarga Dwi Utari sama-sama tak merestui hubungan saya dengan Dwi Utari. Tiap saya memuji-muji kecantikan dan kebaikan Dwi Utari, mereka acuh. Sama juga keluarga Dwi Utari. Maka hubungan baik itupun berakhir. Bertepatan dengan kisah ini, saya nonton film, Dwi Juga nonton, walau tidak nonton bareng sempat kami cerita bareng judulnya “Love Story” dan kami terkesan akan kata-kata dalam film itu : <em>“Love is something that you never say, your sorry”</em>. Artinya kira-kira; cinta itu adalah sesuatu yang kamu tidak pernah akan berkata menyesal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Memang benar, walaupun saya dengan Dwi sudah lama berhubungan, sering tertawa bersama, sedih bersama, pokoknya hari demi hari kita hiasi dengan keindahan, entah berupa surat menyurat ataupun telepon sebab saya di Bandung dia di Yogya. Saya di ITB, Dwi di sebuah akademi di Jogyakarta, lupa namanya. Nah ketika, kami tak terus jadian, masing-masing tak pernah merasa menyesal. Kita tinggalkan saja legenda usang itu, sebab itu hanya sebuah cerita belaka. Banyak sekali teman-teman lelaki Sunda menikah bahagia selama-lamanya dengan wanita Jawa, mereka sukses lahir dan bathin, kalau ternyata ada hambatan-rintangan dan tantangan itu hal biasa saja, semua pasangan hidup manapun apakah Sunda, Jawa, atau Aceh akan mengalaminya. Alhasil, janganlah legenda itu menjadi pegangan. Kalau ada legenda yang bermanfaat dalam hidup, misalnya kisah Malin Kundang yang mengajari anak jangan melupakan ibunya silahkan saja ambil hikmahnya supaya semua anak lelaki sayang ibunya. Tapi legenda yang membatasi pernikahan Sunda Jawa itu, buang saja. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">“<em>Forget It</em>” kata teman yang baru datang dari Amerika ketika dengar cerita ini. Atau mungkin ada baiknya, sebuah mitos, kita ilmiahkan. Contoh: Orang hamil dilarang berdiri dipintu, ya tentu benar, sebab sudah perutnya besar, kalau ada yang mau lewat kan tersenggol tuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Kini umurku hampir 60 tahun, hampir <em>“over seket</em>” kata orang. Cinta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sepertinya juga harus demikian. Kita boleh saja berdoa, tetapi jangan mengatur Tuhan. Seolah-olah: <em>hei Tuhan, saya harus kaya nih, saya harus jadi pejabat nih. Besok saya akan begini, lusa akan begini.</em> Enak sekali bisa mengatur Tuhan. <em>Naudzubillah Mindzalik.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Kita berusaha menjadi kaya, menjadi pejabat, tetapi ternyata tetap aja seperti begini sejak dulu tak kaya-kaya dan tak juga menjadi pejabat, jangan kecil hati. Sebab makna cinta itu ialah : <em>sesuatu yang tak pernah menyesal mencintai Tuhan</em>. Dalam mencintai Tuhan, ada dua prinsip yaitu bersyukur ketika menyenangkan dan bersabar ketika dalam kesusahan. Kalau ini dijalankan kita akan ikhlas terhadap takdir Tuhan. Kita tak akan menyesal menerima apa yang Tuhan berikan<span> </span>kepada kita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Dalam ilmu manajemen, sikap ini akan menjadikan manusia berpikir positif dan bersikap optimistik. Dua sikap ini perlu dalam menghadapi krisis global saat ini. Krisis global yang disebabkan kegagalan masalah keuangan di Amerika telah berimbas keseluruh dunia dan walau apapun upaya para petinggi Negara di dunia, tak mudah akan cepat berakhir. Maka, dengan semangat cinta kepada Tuhan inilah, maka kita tanamkan sikap optimistik dan positif menghadapi krisis global ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">EPISODE KETIGA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Saya paling senang mendengar kisah-kisah bagaimana dua sejoli mengisi cinta dengan saling menutup kelemahan pasangannya. Ini hanya bisa dijalani kalau seseorang berprinsip bahwa; dibalik kelemahan pasanganku, terdapat kekuatannya. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Juga kita harus hati-hati, sebab dibalik kelebihan pasanganku selalu ada kelemahannya. Cinta menjadi indah. Ketika masing-masing harus memperkuat kelemahan pasangannya dan memelihara kekuatannya. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Ingatlah prinsip dalam hidup <em>“There is no the best way, but only the better ways”</em>. Kita tak pernah menemukan cara yang paling baik, akan tetapi kita akan selalu menemukan cara yang lebih baik. Tapi awas prinsip ini, jangan disalah artikan. Seorang temanku yang nakal becanda; “eh Koes, kalau begitu, prinsip ini berlaku dong; <em>kita tak akan menemukan istri terbaik, akan tetapi kita pasti menemukan istri yang lebih baik”.</em> Jangan didengar ini ngaco !!! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Prinsip itu digunakan untuk memperbaiki pekerjaan, memperbaiki rencana dan atau mengatasi berbagai masalah, jangan sekali-kali digunakan untuk gonta ganti pacar, apalagi gonta ganti suami atau istri, tidak benar itu. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Mari kita kembali ke contoh saling bela suami dan istri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Ada contoh bagaimana seorang pria membela pasangannya. Alkisah di Bandung, seorang sahabat bersama istrinya naik angkot. Entah bagaimana, maaf; tiba-tiba istrinya buang gas dan di luar dugaan, gas itu tercium oleh semua penumpang, sampai-sampai mengipas-ngipas hidung masing-masing. Dalam keadaan beginilah tiba-tiba sang suami angkat bicara ”Aduh maaf Ibu2 dan Bapak2, saya sedang sakit perut, tiba-tiba buang gas”. Ternyata sang istri senang benar dibela. Sebab semua penumpang akhirnya tertawa dan melihat teman lelaki saya yang pura-pura malu. Penumpang tak mungkin memeriksa dari mana sumber gas itu keluar, ada yang mengaku saja sudah puas para penumpang angkot itu. Padahal istrinya yang membuang gas, tersenyum senang sebab suaminya rela “berkorban” malu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Tentu saja, dalam sejarah kehidupan banyak kisah kisah seorang istri membela suaminya. Pernah dalam kehidupan Rasululloh SAW, pada suatu ketika Rasul seperti putus asa, kok tiba-tiba umatnya pada nggak benar, gimana berdakwah bisa terus lancar jangankan orang lain, umatnya saja pada nggak benar. Ketika itulah istrinya yang bernama Siti Khadijah berkata “Wahai Rasululloh, janganlah putus asa, jangan kecil hati, teruskan dakwahmu sebab, minimal masih ada seorang yang akan setia mendengar apa yang Engkau dakwahkan yaitu; aku sendiri Istrimu”. Nah semangat dari istri inilah yang membangunkan jiwa Rasululloh, hingga semangat lagi dan ternyata berhasil. Bisa dibayangkan kesetiaan dan cinta seorang istri seperti Khadijah berbuah seorang Tokoh Besar yang mengglobal yang oleh seorang ahli sejarah bernama Michel Hart menempatkan Muhammad Saw sebagai tokoh nomor satu yang mempengaruhi sejarah umat manusia di dunia dan hingga sekarang pengaruhnya tidak hilang. <span> </span>Hebat sekali kekuatan cinta itu ya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Setelah Khadijah meninggal, kemudian Rasululloh SAW menikahi Aisyah. Suatu ketika Aisyah ingin tahu besar mana cinta Rasul kepada Aisyah dan kepada Khadijah. Di suatu malam, hal itu beliau tanyakan<span> </span>kepada Rasululloh Saw. Rasul menjawab, bahwa dirinya lebih mencintai Khadijah. Tentu saja Aisyah sedih mendengar itu, lalu ingin<span> </span>tahu apa alasannya. Maka Rasul menjawab, ”begini Aisyah. Aku sebenarnya sama saja mencintai engkau dan Khadijah. Hanya bedanya: Khadijah itu bersama-sama berjuang, bersama-sama menderita, tapi ia tak pernah melihat hasil perjuangan itu. Sementara engkau, sama-sama berjuang tetapi engkau melihat dan menyaksikan: <em>Fathul</em> Makkah atau kemenangan merebut Kota Mekah, Khadijah tidak pernah”. Mendengar itu, Aisyah segera memeluk Rasululloh dan beliau berkata: kalau begitu, akupun lebih mencintai Khadijah daripada diriku sendiri.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Ada sebuah ajaran yang diambil dari kitab suci Al Quran, dikatakan di sana bahwa “suami adalah pakaian dari istrinya” dan “istri adalah pakaian dari suaminya”. Oleh ulama besar M. Quraisy Shihab, pengertian pakaian mengandung empat makna; (1) Sebagai penutup aurat, (2) Sebagai hiasan (3) Sebagai identitas, misalnya polisi, dokter, tentara dan sebagai (4) Ciri budaya. Yang membedakan manusia dan hewan atau tumbuhan ya berpakaian itu. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Orang-orang Papua secara bertahap, lama-lama akan berpakaian semua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="FI">Suami penutup istrinya; ya itu tadi saling menutup kelemahan. Sebagai hiasan, ya harus begitu suami adalah hiasan istrinya, Jadi kalau ingin mengucapkan ”sayang” ya hanya kepada istri, jangan sampai kirim SMS ”sayang” ke sekretaris lain yang bukan istrinya. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;" lang="SV">Bisa –bisa istrinya bertanya “<em>Bang SMS siapa ini Bang, kok ada kata sayang-sayang. Cepat jawab atau terpaksa HP ini ku buang</em>”. Begitulah celakanya kalau suami memilih orang lain sebagai hiasan. Juga istri bila berhias dan cantik, adalah semata untuk keindahan suaminya. Biar suami hanya melihat keindahan kepada istrinya tidak ke yang lain. Sebagai identitas, hati-hatilah para suami. Jangan sampai<span> </span>jadi koruptor, sebab suami adalah identitas istrinya. Tuh lihat ibu Fulani, ia kan istrinya Pak Fulan yang korupsi 10 milyar itu. Nah, jadi pakaian adalah identitas. Juga istri yang keluyuran nggak karuan, ya kena juga ke suaminya. Tuh lihat pak Fulan, ia kan suaminya si Fulani yang keluyuran terus tiap malam. Amit-amit deh jangan sampai deh ada istri atau suami yang demikian. <em>Naudzubillahminzaliq.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Kini umur saya sudah hampir menuju “<em>Over sixty</em>”. Saya merenung tentang bagaimana suami yang baik dan istri yang baik. Maka saya ingatkan nasehat sahabat saya. Andang Kasriadi sewaktu sama-sama jadi mahasiswa ITB dulu. Kata Andang yang punya pendirian bahwa; wanita lebih menonjol emosinya dari pada pikirannya, sementara kaum pria lebih menonjolkan logika/pikiran daripada emosinya. Maka Andang memberi nasehat kepada para suami dan istri begini:<em> seorang suami yang baik ialah mereka yang pandai MEMIKIRKAN apa yang DIRASAKAN<span> </span>istrinya. Sebaliknya, istri yang baik ialah istri yang bisa MERASAKAN apa yang sedang DIPIKIRKAN suaminya.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Dalam praktek. Misalnya. Kita jalan-hjalan ke Mall Pondok Indah. Tiba-tiba istri kita melihat sebuah pakaian muslimah bernuansa hijau yang bagus sekali, dan harganya waduh Rp 2,500.000,00. Dan dia minta dibelikan, bagaimana ini?, gaji kita hanya Rp 5.000.000,00 <span> </span>habis dong. Nah disinilah seorang suami harus memikirkan perasaan istrinya. Jangan perasaan diadu dengan logika. “Hai istriku mikir kamu. Masa gaji 5 juta dibelikan baju 2,5 juta, makan dari mana ?”. Suami yang bijak lebih baik cari lagi pakaian lain. “<em>Mam</em> lihat ini <em>Mam</em>, itu ada baju muslim bernuansa biru yang kelihatanya Bapak lebih senang kamu pakai itu” (padahal harganya Cuma Rp 250.000,00). Jadi disinilah kebijakan suami. Ingat istri senang melihat baju yang 2,5 juta belum tentu dia itu ingin benar-benar beli, tetapi emosinya saja yang mendorong melihat baju 2,5 juta itu. Semoga para suami lebih menyayangi istrinya, juga sebaliknya para istri lebih menyayangi suaminya. ITULAH KEINDAHAN HIDUP.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koesmawan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koesmawan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/koesmawan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/koesmawan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/koesmawan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/koesmawan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/koesmawan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/koesmawan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/koesmawan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/koesmawan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/koesmawan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/koesmawan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/koesmawan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/koesmawan.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=21&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koesmawan.wordpress.com/2009/04/08/ketika-cinta-hanya-berbuah-cerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00928f7bc7e9d8820d4c8be92c9d3401?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">koesmawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INDUSTRIALISASI: PERMASALAHAN DAN PERANANNYA BAGI AKSELERASI PERTUMBUHAN EKONOMI RAKYAT 1970-2000</title>
		<link>http://koesmawan.wordpress.com/2009/03/11/industrialisasi-permasalahan-dan-peranannya-bagi-akselerasi-pertumbuhan-ekonomi-rakyat-1970-2000/</link>
		<comments>http://koesmawan.wordpress.com/2009/03/11/industrialisasi-permasalahan-dan-peranannya-bagi-akselerasi-pertumbuhan-ekonomi-rakyat-1970-2000/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 12:08:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesmawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Publications]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koesmawan.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Jurnal Equilibrium, Vol. 1, No. 2, Januari – April 2004 INDUSTRIALISASI: PERMASALAHAN DAN PERANANNYA BAGI AKSELERASI PERTUMBUHAN EKONOMI RAKYAT 1970-2000 Oleh: Koesmawan PENDAHULUAN Proses industrialisasi, dengan meminjam istilah dari Dawam Rahardjo-adalah suatu keniscayaan (Dawam Rahardjo, 1995), karena proses ini dianggap sebagai sebuah kunci ke arah kemakmuran yang didambakan oleh setiap bangsa. Kendatipun bukan satu-satunya, industrialisasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=16&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Jurnal Equilibrium, Vol. 1, No. 2, Januari – April 2004</span></p>
<div class="Section1">
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">INDUSTRIALISASI: PERMASALAHAN DAN PERANANNYA BAGI AKSELERASI PERTUMBUHAN EKONOMI RAKYAT 1970-2000</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;" lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Oleh: Koesmawan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN"> </span></p>
</div>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"><br />
</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">PENDAHULUAN</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Proses industrialisasi, dengan meminjam istilah dari Dawam Rahardjo-adalah suatu keniscayaan (Dawam Rahardjo, 1995), karena proses ini dianggap sebagai sebuah kunci ke arah kemakmuran yang didambakan oleh setiap bangsa. Kendatipun bukan satu-satunya, industrialisasi dapat dianggap sebagai salah satu jalan yang penting dalam mencapai kemakmuran. Tujuan industrialisasi antara lain : memperluas lapangan kerja, menambah devisa negara, memanfaatkan potensi sumber daya alam maupun sumberdaya manusia dan terutama menggerakkan roda perekonomian suatu bangsa menjadi lebih cepat. Industrialisasi adalah sebuah kebutuhan suatu bangsa guna kelangsungan hidup yang semula bertumpu kepada pertanian. Pertumbuhan ekonomi rakyat yang dimaksud tulisan ini, adalah ekonomi dengan pelaku-pelakunya rakyat banyak, di luar konglomerat dan pengusaha besar lainnya, atau dikenal dengan akronim pengusaha UKM (Usaha Kecil dan Menengah).</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dampak positif industrialisasi dalam konteks globalisasi saat ini telah diketahui yakni meningkatkan produktivitas melalui peningkatan efisiensi. Namun dampak negatifnya masih banyak diperdebatkan orang, terutama kaitannya dengan kerusakan lingkungan. Ketika sebuah bangsa menggantungkan hidupnya kepada pertanian, maka masalah kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh masyarakat yang hidup dengan bertani belum begitu mengemuka dalam berbagai pembahasan. Lain masalahnya, ketika proses industrialisasi tengah berjalan, maka dampak positifnya rakyat banyak tak lagi terlalu menggantungkan hidupnya pada sumber alam yang langsung digali atau dimanfaatkan. </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Peranan sektor industri dalam produksi nasional pada tahun 1990 cukup meningkat. Hal ini ditandai dengan sumbangannya sebesar 21% ke dalam <em>produk domestik bruto</em> (PDB), ini berarti telah melampaui sumbangan sektor pertanian sebesar 19%. (Hartanto, 1995). Selanjutnya berdasarkan data tahun 2000, besar komposisi perbandingan sumbangannya terhadap PDB adalah 30% industri dengan 10% pertanian (LPE-IBII, 2002).</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Di Indonesia, ketika industri akan dikembangkan pada awal 1970-an, maka dikenallah tiga konsep pengembangan industri, yaitu : (a) konsep yang bertumpu pada pemanfaatan sumber daya alam/manusia (<em>comparative advantages</em>). (b) konsep yang mengandalkan kecepatan perubahan teknologi (<em>State to the art of technology</em>) dan (c) konsep keterkaitan antara hulu-hilir (<em>industrial linkage</em>). Ketiga konsep itu dilaksanakan secara serempak di Indonesia dimulai pada awal 1970-an. Walaupun ketika itu, terjadi tarik-menarik antara mana yang harus dijadikan prioritas dari masing-masing kelompok pendukung ketiga konsep di atas.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dawam Rahardjo (1995) menguraikan bahwa di zaman penjajahan kolonial Belanda perkembangan sektor industri di Hindia Belanda (Indonesia) merupakan <em>isue</em> kontroversial, sebab kelompok konservatif di parlemen Belanda, tidak menyetujui adanya proses industrialisasi di tanah jajahan. Setelah merdeka dari penjajahan Belanda, beberapa tokoh mencoba menerangkan perlunya proses industrialisasi di Indonesia antara lain; Mohammad Hatta, Soemitro Djojohadikusumo dan Syafrudin Prawiranegara. Sumitro dari awal berpendapat bahwa industrialisasi perlu sebagai jalan keluar mengentaskan kemiskinan yang disebabkan karena bersumber pada ketergantungan kepada sektor pertanian. Sementara Hatta berargumen bahwa industrialisasi diperlukan sebab dapat menciptakan kemandirian yang lebih besar, sementara sektor pertanian dikhawatirkan karena sangat sensitif terhadap konjungtur perekonomian dunia. Syafrudin Prawiranegara, berbeda pendapat dengan banyak kalangan ketika bersemangat untuk menasionalisasikan perusahaan Belanda. Bagi Syafrudin ketika itu, proses <em>Indonesianisasi</em> jauh lebih penting ketimbang proses nasionalisasi. Karena itu ketika <em>de Javasche Bank</em> diubah menjadi Bank Indonesia, Safrudin membiarkan tenaga ahli Belanda tetap dimanfaatkan. Bagi Syafrudin bukan menguasai lembaganya, tetapi menguasai sistemnya jauh lebih penting. </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dari sudut pandang kepentingan perekonomian suatu bangsa, industrialisasi memang penting bagi kelangsungan pertumbuhan ekonomi tinggi dan stabilitas. Namun, industrialisasi bukanlah tujuan akhir, melainkan hanya merupakan salah satu strategi yang harus ditempuh untuk mendukung proses pembangunan ekonomi guna mencapai tingkat pendapatan perkapita tinggi. Meskipun pelaksanaannya sangat bervariasi antar negara, periode industrialisasi merupakan tahapan logis dalam proses perubahan struktur ekonomi. Tahapan ini diwujudkan secara historis melalui kenaikan kontribusi sektor industri manufaktur dalam permintaan konsumen, produksi, ekspor, dan kesempatan kerja. (Tulus Tambunan, 2001).</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dapat dipahami bahwa ketika membahas masalah industrialisasi, selalu terkait dengan sektor pertanian. Sehingga setiap persoalan industrialisasi akan dibahas secara serempak dengan keterkaitan ke masalah pertanian. Proses pembangunan di Indonesia tetap diawali dengan perhatian pada bagaimana menggerakkan perekonomian yang berbasis pertanian. Karena itu diutamakanlah industri yang menciptakan mesin-mesin pertanian dan sebagainya. Sasaran pembangunan jangka panjang tahap satu adalah, mengubah struktur ekonomi dari struktur yang lebih berat dari pada pertanian kepada struktur yang seimbang antara sektor pertanian dan sektor industri. (Hamzah Haz, 2003). Dengan struktur yang seimbang inilah maka ekonomi rakyat dapat ditumbuhkan. </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Kelemahan mendasar pada pembangunan di masa lalu adalah, pertumbuhan tidak berhasil mencapai upaya mengaitkan pertumbuhan dengan pemanfaatan sumber daya alam, pertanian, dan kemaritiman. Ini mungkin salah satu alasan mengapa ketika awal pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dibentuk Menteri Negara Urusan Perikanan dan Sumber Daya Maritim, karena ketika itu, walaupun dasadari bahwa 60% wilayah Republik Indonesia adalah lautan. Kenyataan ini merupakan salah satu penyebab gagalnya proses industrialisasi di Indonesia dalam menciptakan lapangan kerja, sehingga ketika krisis terjadi sebagian besar angkatan kerja lebih 50% masih bekerja di sektor pertanian, sementara hanya 10% saja yang bekerja di sektor industri.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Pada awal sejarah kehidupan, manusia baru mengenal dan memanfaatkan segala sesuatu yang telah disediakan alam. Perekonomian pada tahap ini disebut perekonomian yang berbasis pertanian, di mana kegiatan pertanian mendominasi seluruh aspek kehidupan. Kegiatan menghasilkan barang hanyalah terbatas pada industri rumah tangga. Demikian pula kegiatannya belumlah menonjol seperti keadaan sekarang. Perekonomian berbasis pertanian ini kemudian berkembang menjadi perekonomian berbasis industri. Tentu saja perkembangan ini akan menyangkut beberapa aspek, sehingga perlu diidentifikasi, ada perkembangan apa saja, serta bagaimana pola pengaruhnya kepada kontribusi kedua sektor yakni pertanian dan industri.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Di Indonesia, secara historis, proses industrialisasi itu telah berlangsung lama walaupun berbeda tingkat intensitasnya. Jika dikaitkan dengan kontribusi sektor industri kepada pendapatan domestik bruto, perubahan besar kecilnya kontribusi menunjukkan besarnya peran dalam perjalanan suatu sektor terhadap perekonomian bangsa. Persoalannya adalah seberapa besar peranan transformasi industri kepada perekonomian rakyat secara menyeluruh ?</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">METODOLOGI PENELITIAN.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Tulisan ini akan mencoba mengaitkan antara proses transformasi struktur dari sektor pertanian ke sektor industri dalam kurun waktu 1970-2000 dan peranannya bagi rakyat banyak. Untuk memudahkan analisa, tulisan ini diarahkan kepada beberapa pertanyaan berikut ini :</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">a.<span> </span>Bagaimana gambaran secara umum perkembangan proses industrialisasi dalam setiap dekade, kemudian apa peranannya bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi rakyat ?</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">b.<span> </span>Selama tiga dekade itu, yakni 1970-1980, 1980-1990 dan 1990-2000, peristiwa apa yang cukup menonjol setiap dekade dan hal-hal apa saja yang menarik perhatian untuk bahan pelajaran di masa depan ?</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">c.<span> </span>Bagaimana karakteristik hubungan antara beberapa variabel jika dianalisa secara regresi dan korelasi, sehingga dapat menjelaskan keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lainnya ?</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Tentu saja mengingat luasnya pengkajian masalah ini, maka perlu dilakukan pembatasan dalam analisanya yakni :</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">1.<span> </span>Pengkajian akan dibatasi pada masalah perubahan kontribusi : pertanian, industri pengolahan, investasi swasta dan pemerintah, ketenagakerjaan dan upah, terhadap PDB Indonesia pada kurun waktu 1970-2000.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">2.<span> </span>Pembahasan hanya dibatasi pada peristiwa-peristiwa yang menonjol pada setiap dekade, 1970-1980, 1980-1990 dan 1990-2000 yang diperkirakan berpengaruh kepada perubahan PDB tersebut. Ukuran menonjol dilihat dari beberapa luas masalah tersebut menjadi bahan berita dan kemunculan beberapa kebijakan yang diambil akibat adanya peristiwa itu.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Tulisan ini merupakan hasil (<em>outcome</em>) dari sebuah riset kepustakaan yang bersifat <em>eksploratif</em>, artinya, peneliti akan menggali bagaimana perubahan kontribusi sektor industri dan pertanian terhadap PDB dalam kurun waktu 1970-2000. Proses analisanya akan dibagi menjadi 3 babak yang menggambarkan karakteristik dari setiap dekade.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dalam setiap babakan akan dilihat bagaimana pengaruh perubahan kontribusi beberapa variabel di samping industri dan pertanian. Untuk itu, analisa hanya dibatasi pada variabel : pertanian, industri pengolahan, investasi swasta dan pemerintah, ketenaga kerjaan, dan upah. Variabel ini sangat penting dan besar pengaruhnya pada konstelasi ekonomi suatu bangsa. Saling pengaruh dari masing-masing variabel terhadap industri dan pertanian dapat digambarkan dalam diagram kerangka berpikir di bawah ini.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dalam penelitian ini penulis tidak menggunakan hipotesa, artinya riset tidak memberikan dahulu jawaban untuk dibuktikan. Riset lebih bersifat mengungkapkan segala kenyataan apa yang telah terjadi pada dua sektor utama ini yakni sektor pertanian dan sektor industri yang pada gilirannya nanti akan menjadi tulang punggung gerak hidup perekonomian suatu bangsa dan bermanfaat untuk kesejahteraan rakyat banyak.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Analisa dilakukan dengan cara mengumpulkan data PDB dari tahun 1970 s/d tahun 2000 dengan berbagai asumsinya. Data ini akan dikaitkan dengan berbagai peristiwa yang terjadi pada situasi perekonomian di setiap dekade.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Perhitungan matematik atau statistik yang dipakai dalam riset ini relatif sederhana yakni dilakukan secara proporsional membuat angka variabel relatif terhadap angka lainnya. Sesuai dengan temanya bahwa riset ini adalah riset kepustakaan, dengan demikian, sumber dana utamanya ialah data sekunder dari laporan yang ditulis oleh Lembaga Penelitian Ekonomi IBII Jakarta tahun 2002.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Perhitungan dilakukan dengan menggunakan persentase. Di samping itu, perkembangan konstelasi perekonomian yang terjadi pada setiap dekade akan dilihat. Sehingga dari situlah akan diambil kesimpulan, berapa besar peranan pertanian dan industri manufaktur itu dalam setiap dekade.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Analisa statistik yang digunakan ialah analisa melalui prosentasi relatif dan analisa dengan regresi-korelasi.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">KERANGKA TEORI.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Perkembangan Ekonomi Dunia dan Akibatnya kepada Indonesia.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Untuk mengkaji perkembangan ekonomi dunia dan berbagai konstelasinya tentu saja sangat luas, karena itu uraiannya akan dibatasi pada bagian penting yang akan menjadi bahan analisa yaitu : produksi, investasi, perdagangan, dan moneter. Keempat aspek ini dipilih karena pengaruhnya cukup signifikan terhadap berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia, khususnya dalam rangka menanggulangi masa krisis yang berkepanjangan. </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Perkembangan perekonomian di negara manapun tidak terlepas dari berbagai faktor, termasuk faktor luar negeri, semua negara akan selalu terkena imbas fluktuasi global. Sejak awal tahun 2000 hingga kini tak lepas dari masalah ketidak pastian ekonomi global. </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Salah satu penyebab utama ditandai dengan melemahnya permintaan barang dari negara Amerika dan Eropa. Perlemahan ini berpengaruh kepada pergerakan ekonomi dari negara penggerak utama yakni : Jepang, Singapura, Taiwan, dan Hongkong ditambah lagi dengan persoalan keuangan negara Amerika Latin. Lembaga Penelitian Ekonomi IBII mencatat dalam Tabel 1,<span> </span>berikut ini.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:.75pt solid white;background:white none repeat scroll 0 0;vertical-align:top;" width="582" height="306" bgcolor="white"><!--[endif]--><!--[if !mso]--><span style="position:absolute;left:0;z-index:1;"></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td><!--[endif]--></p>
<div class="shape" style="padding:4.35pt 7.95pt;">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:8pt;" lang="SV">Tabel – 1.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">Indikator Ekonomi beberapa negara tahun 2000     (aktual) dan 2001 (proyeksi) (Asumsi, pada tahun berikutnya tidak </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">Ada Perubahan).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">Negara<span> </span>GDP     Riil<span> </span>Harga     Konsumen<span> </span>GDP (%)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="SV"><span> </span>2000<span> </span>2001<span> </span>2000<span> </span>2001<span> </span>2000<span> </span>2001</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">USA<span> </span>4,1<span> </span>1,3<span> </span>3,4<span> </span>3,2<span> </span>-4,5<span> </span>-4,0</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">EU<span> </span>3,4<span> </span>1,8<span> </span>2,3<span> </span>2,6<span> </span>-0,3<span> </span>&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">Jepang<span> </span>1,5<span> </span>-0,5<span> </span>-0,6<span> </span>-0,7<span> </span><span> </span>2,5<span> </span>2,2</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">China<span> </span>8,0<span> </span>7,5<span> </span>0,4<span> </span>1,0<span> </span>1,9<span> </span>1,0</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">Hongkong<span> </span>10,5<span> </span>0,6<span> </span>-3,7<span> </span>-1,4<span> </span>5,4<span> </span>6,6</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="FI">Korea Selatan<span> </span>8,8<span> </span>2,5<span> </span>2,3<span> </span>4,4<span> </span>2,4<span> </span>2,6</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="FI">Singapura<span> </span>9,9<span> </span>-0,2<span> </span>1,4<span> </span>1,5<span> </span>23,7<span> </span>21,0</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;" lang="FI">Taiwan<span> </span>6,0<span> </span>-1,0<span> </span>1,3<span> </span>0,1<span> </span>2,9<span> </span>2,5</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:8pt;" lang="FI">Indonesia<span> </span>4,8<span> </span>3,0<span> </span>9,03<span> </span>5,2<span> </span>5,2<span> </span>3,2</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;">Malaysia</span><span> </span><span style="font-size:8pt;">8,3<span> </span>1,0<span> </span>1,5<span> </span>9,4<span> </span>9,4<span> </span>6,6</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;">Filipina<span> </span>4,0<span> </span>2,5<span> </span>4,3<span> </span>12,5<span> </span>12,5<span> </span>6,4</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;">Thailand</span><span> </span><span style="font-size:8pt;">4,4<span> </span>2,0<span> </span>1,5<span> </span>7,5<span> </span>7,5<span> </span>4,4</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;">Sumber : LPE-IBII (2002, hal 5).</span></p>
</div>
<p><!--[if !mso]--></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span><!--[endif]--><!--[if !mso &amp; !vml]--> <!--[endif]--><!--[if !vml]--></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dalam laporan World Economy Outlook sebagaimana dikutip oleh LPE-IBII (LPE-IBII, hal 5), terlihat bahwa IMF hanya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,6% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Sementara khusus untuk Indonesia, IMF memprakirakan pertumbuhan 3,0% pada tahun 2001, tentu saja ini lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi sebelumnya yang mencapai 4%. Padahal sebelum krisis Indonesia memperlihatkan kemajuan ekonomi yang cukup pesat. Prestasi ekonomi terekam sangat baik justru terjadi sebelum krisis ekonomi. Selama lebih dari tiga dasa warsa pertumbuhan ekonomi Indonesia begitu<span> </span>baik,<span> </span>pada<span> </span>pola<span> </span>pembangunan yang disebut Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) di zaman orde baru, pertumbuhan mencapai 6-7%, stabilitas moneter dan makro ekonomi bisa dipertahankan, jumlah penduduk miskin berkurang dan angka pengangguran dapat ditekan. (Hamzah Haz, h-xiv).</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Tabel 1, memperlihatkan bahwa dampak serangan terhadap gedung WTC 11 September 2001, ialah memburuknya ekonomi USA dan hal ini berakibat langsung pada melemahnya permintaan dari USA kepada negara pengekspor barang-barang antara lain Indonesia, China, India, dan lain-lain. Untuk Indonesia, pemerintah memperkirakan pertumbuhan hanya 3-4% dan ini bertahan hingga tahun 2003.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Faisal Basri juga memprakirakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun 2001 berkisar antara 3-4% dan bertumpu pada pengeluaran pembentukan modal tetap domestik bruto (<em>Gross domestik fixed formation</em>) dengan catatan perbankan mulai bisa menyalurkan kredit dengan jumlah yang memadai. Sumber pertumbuhan lain adalah pengeluaran konsumsi rumah tangga yang naik sebagai akibat mulai membaiknya tingkat pendapatan riil pada tahun 2000. Apalagi ditambah dengan tingkat kepercayaan konsumen yang semakin membaik dengan telah terbentuknya pemerintahan baru dan keamanan yang cukup membaik. (Faisal Basri, 2002, hal 84). Apa yang dikatakan Faisal Basri ini, akan tetap dapat dipertahankan hingga akhir tahun 2003, walaupun ada sedikit gangguan pada bulan Juli 2003, ketika ada bom di Hotel J.W. Marriot Jakarta yang cukup membawa banyak korban dan juga mempengaruhi sedikit tingkat kepercayaan konsumen atau investor pada keadaan keamanan negara Indonesia.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Sebenarnya kondisi makro ekonomi selama kepemimpinan Gus Dur, memang tidak terlalu menggembirakan. Pada tahun 2000, kondisi makro ekonomi tampak tidak stabil. Nilai tukar berfluktuasi antara 20% &#8211; 30% dan inflasi juga mengalami peningkatan. Peningkatan ini tampaknya juga dipicu oleh rendahnya daya beli dan inflasi sebelumnya. Selain itu beberapa aspek teknis kebijakan tampaknya juga membawa dampak pada meningkatnya inflasi seperti pengenduran kebijakan moneter dan meningkatnya harga minyak di pasaran internasional. Ini mengakibatkan pemerintah menaikkan harga BBM pada bulan Oktober 2000. (Hamzah Haz, 2003, hal 122).</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Walaupun demikian, di bawah kepemimpinan Gus Dur, perekonomian mulai tumbuh sebesar 4,8% selama tahun 2000. Sedangkan Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan 4 – 4,5% pada tahun 2001. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh pertumbuhan beberapa sektor yang sudah mulai bergerak membaik yakni: pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Pada tahun 1996, sebelum krisis, sektor tersebut menghasilkan nilai tambah sebesar Rp. 64 triliun, sedangkan pada akhir tahun 2000 nilai tambah sektor itu sudah hampir mencapai Rp. 66,5 triliun.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Demikian halnya dengan sektor industri manufaktur. Setelah anjlok sebesar – 11,4 persen<span> </span>pada<span> </span>tahun<span> </span>1998,<span> </span>sektor ini terus mengalami pertumbuhan sehingga nilai tambahnya pada tahun 2000 sudah lebih tinggi dibanding tahun 1996.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="SV">Tabel – 2</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:9pt;" lang="SV">Prospek Ekonomi Indonesia</span></span><span style="font-size:9pt;" lang="SV">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="SV">Indikator<span> </span>2001<span> </span>2002<span> </span>2003*)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="SV">Pertumbuhan Ekonomi (%)<span> </span>3,5<span> </span>5<span> </span>4</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="SV">SBI 3 bulan<span> </span>14<span> </span>15<span> </span>9</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="SV">Harga Minyak mentah (US$/barel)<span> </span>24<span> </span>22<span> </span>24</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="SV">Kurs tukar Rp/$<span> </span>9.600<span> </span>8.500<span> </span>8.500</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="SV">Inflasi (%)<span> </span>9,3<span> </span>8<span> </span>9</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="SV">Produksi Migas (barel/hari)<span> </span>1.560.00<span> </span>1.230.000<span> </span>1.320.000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="SV">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="SV">Sumber : LPE-IBII hal 23.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="SV">*) angka diubah penulis sesuai keadaan yang terjadi dan dikoreksi setelah data terbaru diterima.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Prospek Ekonomi Indonesia</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Walaupun banyak pengamat yang mengatakan bahwa serangan 11 September 2001 tidak akan terlalu mempengaruhi perekonomian dalam negeri, namun ternyata pemerintah malah merevisi APBN 2002 yang dikemukakan awal September 2001. Indikator yang diperlihatkan pada Tabel 2 memperlihatkan sedikit harapan positif pemerintah terhadap prospek perekonomian di tahun 2002.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Pada asumsi awal, perekonomian nasional diperkirakan tumbuh sebesar 5%, sementara<span> </span>pertumbuhan<span> </span>masing – masing komponen pengeluaran adalah konsumsi (1,7%), investasi (3,2%), ekspor (2,5%) dan impor (2,4%). Perubahan ini juga akan mengubah pertumbuhan komponen. (LPE-IBII, 2002, hal 24).</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Laju inflasi lebih rendah dapat disebabkan oleh bermacam-macam antara lain: daya beli masyarakat yang semakin rendah, menguatnya nilai tukar rupiah, tersedianya barang dan jasa, serta lancarnya proses distribusi, berkurangnya KKN atau pungutan di jalan yang menyebabkan biaya tinggi, kebijakan pengendalian defisit yang diupayakan turun, kebijakan moneter yang hati-hati dengan pertumbuhan uang primer antara 12 &#8211; 13%.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Peranan Sektor Pertanian dan Sub Sektornya</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Sesuai dengan tema penelitian yang mengupas tentang reformasi struktur ekonomi dari pertanian ke industri, maka pada bagian berikut ini akan dibahas mengenai bagaimana peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia. Memasuki abad ke 21, perekonomian Indonesia menghadapi sejumlah masalah yang sangat berat, khususnya akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Penurunan pendapatan, kemiskinan, pengangguran tinggi, laju inflasi tinggi, ketahanan pangan keropos, merupakan sederet persoalan ekonomi yang memerlukan pemecahan sesegera mungkin. Selain itu, apa yang telah diuraikan di atas yakni : masalah utang, turut juga menambah beban kesulitan. Untuk memecahkan semua masalah itu, maka Indonesia memerlukan suatu strategi pembangunan ekonomi yang memiliki kemampuan jangkauan masa depan dan memecahkan berbagai masalah. Salah satunya, harus menciptakan lapangan kerja, menghasilkan devisa, menghapus kemiskinan, sehingga tidak terlalu tergantung kepada impor, baik bahan baku, modal maupun keahlian.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Persoalannya ialah bagaimana membangun ekonomi tanpa terlalu bergantung kepada impor, serta membangun industri yang benar-benar dikuasai dan bukan industri yang sulit atai tidak dikuasai lalu membebani anggaran dan tidak dinikmati orang banyak.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Bungaran Saragih (2000, hal 156), menyarankan agar solusinya ialah : Pengembangan sektor agribisnis yang merupakan salah satu kalau bukan satu-satunya strategi pembangunan yang mampu menjangkau pemecahan masalah ekonomi Indonesia kepada perekonomian masa depan yang cerah dan penting secara internasional.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dengan mengutip pendapat Davis dan Goldberg, (1957), Bungaran Saragih mendefinisikan bahwa sektor agribisnis tidak hanya pertanian, tetapi juga industri-industri yang menghasilkan sarana produksi pertanian seperti industri pembibitan, industri agrokimia (pupuk peptisida), industri agrootomotif (mesin dan peralatan) dan industri-industri yang mengolah hasil pertanian, seperti pertanian atau agribisnis antara lain : </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">1.<span> </span>Sumber dana pertanian terlengkap di dunia.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">2.<span> </span>Keanekaragaman biologis.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">3.<span> </span>Sumber daya yang cukup kuat dan baik.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">4.<span> </span>Memiliki lembaga penelitian pertanian yang cukup terpandang.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">5.<span> </span>Pengalaman yang cukup baik.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">6.<span> </span>Potensi pasar yang besar, dengan daya tumbuh yang baik ia akan menjadi <em>merging market</em>.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Selain itu, banyak pula faktor eksternal yang mendukung gagasan dikembangkannya agribisnis di Indonesia, yaitu :</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">a.<span> </span>Prospektifnya bahan dasar makanan di pasar internasional.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">b.<span> </span>Bergesernya strategi industrialisasi dari <em>agrobased industry ke non agrobased industry</em> akan meningkatkan impor.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">c.<span> </span>Liberalisasi perdagangan akan memperluas pasar.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">d.<span> </span>Meningkatnya kesadaran internasional akan kelestarian lingkungan.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Peranan Industrialisasi serta Perkembangannya</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Hakikat dari industrialisasi jauh dari sekedar jajaran pilar-pilar pabrik yang menyemburkan asap. Bukan pula sosok kecanggihan teknologi, apalagi yang berbasis lemah, sehingga mudah lunglai diterpa badai. Lebih dari itu industrialisasi adalah proses rekayasa sosial yang memungkinkan suatu masyarakat siap menghadapi transformasi di berbagai bidang kehidupan untuk mampu meningkatkan harkat dan martabat kehidupannya sebagai makhluk sosial di tengah perubahan dan tantangan-tantangan yang selalu muncul silih berganti. Bagi masyarakat yang demikian luas, terlalu banyak yang dapat dibuat, bahkan bom sekalipun, teknologi secanggih apapun bisa jadi dapat dihadirkan. Akan tetapi bukan itu masalahnya, sebab intinya adalah apa gunanya semua teknologi itu bagi masyarakat banyak? Kesanalah arah pembangunan, karena industrialisasi bukan tujuan akhir. (Faisal Basri, 2002, h-289). </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Meskipun pelaksanaannya sangat bervariasi antar negara, proses industrialisasi adalah tahapan logis dari transformasi struktur ekonomi suatu negara, tahapan ini ditunjukkan melalui suatu kenaikan kontribusi produk manufaktur dalam permintaan konsumen, produksi, ekspor dan kesempatan kerja. (Chenery, 1992, dikutip Tulus Tambunan, 2001, 108).</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Menurut Dumairy, istilah industri mempunyai dua arti. <em>Pertama</em>, industri adalah himpunan perusahaan-perusahaan sejenis. Dalam konteks ini disebut industri kosmetik misalnya, berarti himpunan perusahaan penghasil produk kosmetik. Industri tekstil adalah himpunan pengusaha yang membuat tekstil. <em>Kedua</em>, industri menunjuk sektor ekonomi yang di dalamnya terdapat kegiatan produktif mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi. Kegiatan pengolahan itu sendiri dapat bersifat masinal, elektrikal atau bahkan manual. (Dumairy, 1996, h-227).</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Sejarah mencatat bahwa pada abad ke 20 ini disebut sebagai abad industri, sebab hanya negara-negara yang berhasil mengembangkan industrinya dalam berbagai bidang, ia menjadi negara yang besar, mulai dari Inggris, Perancis, Jerman, Itali dan lain-lain hingga ke Amerika dan Jepang. Bahkan tidak sedikit atau hampir semua negara industri itu mempunyai negara jajahan, kemudian ketika negara jajahan itu merdeka, maka mereka pun secara bertahap mengubah dirinya menjadi negara industri, misalnya India dan juga Indonesia.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Industrialisasi akan menimbulkan perubahan dalam tata kehidupan manusia, dan sebaliknya perubahan dalam tata kehidupan manusia akan menjadikan perubahan dalam proses industrialisasi. Industrialisasi merupakan upaya untuk menggerakkan industri di suatu negara, dengan demikian industrialisasi merupakan proses perkembangan suatu bangsa. (Yudo Swasono dalam Muhammad Thoyib, 1995, h-2). Karena itu, sejalan dengan kebutuhan masyarakat, maka masyarakatpun berkembang dari masyarakat primitif, menjadi agraris, menjadi industri dan akhirnya menjadi masyarakat ilmu pengetahuan. Inilah salah satu kenyataan yang mudah dipahami bagaimana perannya suatu industri terhadap perkembangan ekonomi rakyat di sebut negara.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Di Indonesia, Tulus Tambunan (2001, h-108) mencatat adanya proses industrialisasi dimulai dari tahun 1969 dan berhasil mengangkat tingkat pendapatan per kapita di atas US$ 1.000 per tahun dengan tingkat pertumbuhan ekonomi 7% pada saat penduduk 200 jutaan. Namun saat tulisan ini dibuat, keadaan menurun jauh, hingga diperkirakan income perkapita hanya 650 US$ dengan pertumbuhan ekonomi di bawah 4% dan jumlah penduduk hampir 210 juta. Yudo Swasono mencatat bahwa setelah krisis ekonomi yang terjadi pada periode 1982-1986, pada waktu itu pertumbuhan hanya 5%. </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Selanjutnya dengan proses industrialisasi pertumbuhan meningkat dan berhasil <em>recovery</em> (pulih kembali), hingga tumbuh tahun 1989 ialah 7,5%, tahun 1991 mencapai 6,6% dan pada akhir Repelita X, atau akhir Pembangunan Jangka Panjang II akan tumbuh dengan rata-rata 8,7%. (Muhammad Thoyib, 1995, h-4). Namun perkiraan ini meleset jauh, sebab mulai 1997 terjadi krisis moneter yang berlanjut hingga riset ini ditulis, ternyata kondisi itu masih belum pulih.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Implementasi dan Strategi Industrialisasi.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Menurut Dumairy (1996, h-128), dalam implementasinya ada empat argumen atau basis teori yang melandasi suatu kebijakan industrialisasi, yaitu : argumen keunggulan komparatif, keterkaitan industri, penciptaan lapangan kerja, dan argumentasi loncatan teknologi. Dalam kenyataannya, bisa saja dikaitkan bahwa semua argumen ini bermuara kepada satu tujuan yaitu : peningkatan pendapatan masyarakat atau peningkatan cadangan devisa negara.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Penulis akan mencoba menelusuri pendapat Dumairy ini sebab mengarah kepada pemilihan jenis industri. Negara yang menganut konsep keunggulan komparatif (<em>comparative advantages</em>), akan mengembangkan industri yang mengembangkan keunggulan komparatif baginya, misalnya India yang memiliki perkebunan kapas yang banyak akan mengembangkan industri tekstil. Negara yang berpijak pada konsep keterkaitan industri (<em>industrial linkage</em>), akan mengembangkan industri yang mengakibatkan majunya sub sektor ekonomi yang lain.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Negara-negara yang industrialisasinya berlandaskan pada argumentasi penciptaan lapangan kerja (<em>employment creation</em>) akan memprioritaskan pengembangan industri-industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Jenis industrinya disebut : industri padat karya dan umumnya terjadi pada industri kecil. Sedangkan pada negara yang menganut paham loncatan teknologi (<em>technology jump</em> atau <em>state to the art technology</em>), percaya bahwa hanya dengan industri yang memiliki teknologi tinggi akan memberi nilai tambah besar dan akan menciptakan industri-industri lain yang digerakkannya.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Tentu saja, semua pilihan jenis industri itu ada sisi positifnya dan tak sedikit pula sisi negatifnya. Jika berargumentasi keunggulan komparatif sisi positifnya ialah: efisiensi dalam penggunaan sumber daya alam yang ada dan berhasil memanfaatkan segala potensi lainnya. Namun kelemahannya, tingkat kualitas produk sangat bergantung pada apa adanya dari alam saja, sehingga pada suatu saat mungkin kualitas barang tak sesuai lagi dengan harapan konsumen,<span> </span>maka industri ini akan merugi. Demikian pula industri dengan teknologi tinggi kadang tidak efisien dan menyerap banyak sumber-sumber daya yang ada terutama modal.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Selanjutnya, Dumairy (1996, h-229) menguraikan pula tentang dua macam jenis strategi, yaitu strategi substitusi impor (<em>import substitution</em>) dan strategi promosi ekspor (<em>export promotion</em>).</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Strategi substitusi impor, dikenal juga dengan istilah strategi “orientasi ke dalam” atau <em>Inward Looking Strategy,</em> yaitu suatu strategi industrialisasi yang mengutamakan pengembangan jenis industri untuk menggantikan impor produk-produk sejenis. Pada tahap awal, yang dikembangkan biasanya adalah industri ringan yang menghasilkan barang-barang konsumtif. Untuk memungkinkan menjadi besar, industri-industri yang masih bayi (<em>infant industry</em>) biasanya dilindungi oleh pemerintah atau diproteksi, sehingga tidak terlalu berat bersaing dengan produk impor, misalnya dengan pengenaan tarif khusus/pajak impor (<em>tariff barrier</em>). Sehingga harga barang impor mahal tak dapat bersaing dengan harga barang sejenis buatan dalam negeri. Walaupun dalam praktik, industri yang diproteksi ini bukannya membesar dan dewasa malah manja hingga tak maju-maju.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Sedangkan strategi promosi ekspor (<em>export promotion</em>), sering disebut dengan “orientasi ke luar” (<em>Outward Looking Orientation</em>). Dalam konsep ini negara mengembangkan jenis industri yang menghasilkan barang-barang untuk di ekspor. Strategi ini biasanya dilakukan setelah sebuah negara berhasil melakukan strategi substitusi impor.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Di Indonesia, sebagaimana halnya di banyak negara berkembang lainnya, sektor industri disiapkan untuk menjadi motor penggerak kemajuan sektor-sektor lain, serta diharapkan menjadi sektor yang memimpin (<em>the leadingsector</em>). Itulah sebabnya industrialisasi senantiasa mewarnai perjalanan pembangunan ekonomi. (Dumairy, 1996, h-230).</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dalam konsep ilmu strategi, sebenarnya pilihan <em>Inward looking</em> tersebut kadang dikenal dengan “<em>Resourcess Based Orientation</em>”, yaitu suatu strategi yang mengutamakan atau berdasar kepada kemampuan internal perusahaan. Sebaliknya disebut “<em>Market Based Orientation</em>” ini yang <em>outward looking</em>, yaitu suatu strategi dengan mengutamakan pasar terlebih dahulu, artinya melihat keadaan pasar dunia, apa yang saat ini sedang laku di pasaran dan dalam kualitas yang bagaimana.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Sebagai penutup dari uraian kerangka teori ini ialah: Bahwa pada umumnya semua negara yang memulai proses industrialisasi selalu berawal dari perhatian yang sangat kuat kepada sektor pertanian. Pada analisa berikutnya, riset ini akan mencoba menggali seberapa besar peranan sektor pertanian dan industri selama kurun waktu 30 tahun, dan dari sana akan dianalisa kejadian apa saja yang mengiringinya pada setiap kurun waktu selama tiga dasa warsa itu.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">ANALISA UNTUK SETIAP DEKADE</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Pada bagian berikutnya, penulis akan memaparkan temuan-temuan yang dianalisa dari Data LPE-IBII (2002) yang dalam makalah ini dilampirkan hasil rekapitulasinya pada setiap dekade, yaitu : Dekade Pertama : 1970-1980, dekade kedua 1980-1990, dan dekade ketiga 1990-2000, selanjutnya dapat dilihat pada<span> </span>Tabel 3, di halaman berikut.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:red;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Dekade Pertama : Kurun Waktu 1970</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Hasil perhitungan dari data yang ada menunjukkan bahwa :</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">a.<span> </span>Walaupun pertumbuhannya bervariasi, secara umum sektor pertanian terus memberikan kontribusi yang bertambah kepada PDB dengan rata-rata 6.01% dan terjadi lonjakan produksi tahun 1973, ketika naik hingga 29,5%. Jumlah produksi rata-rata tiap tahun mencapai Rp. 29.655,42 milyar.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">b.<span> </span>Keadaan sektor industri, pada dekade ini juga tumbuh dengan pertumbuhan mencapai rata-rata 12.35%. Walaupun kecepatan pertumbuhannya melebihi sektor pertanian, ternyata pada dekade ini belum bisa melampaui hasil pertanian. Yang menarik ialah : bahwa kontribusinya meningkat terus dari 9% hingga 14% dari PDB.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">c.<span> </span>Kontribusi jasa-jasa di luar jasa perdagangan dan pertambangan relatif tetap setiap tahun yaitu antara 9-10% PDB.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">d.<span> </span>Kontribusi variabel lain, yang terdiri atas: Pertambangan dan penggalian listrik, gas dan air bersih, bangunan, hotel restauran dan jasa keuangan lainnya, kontribusinya kepada PDB relatif kurang lebih 50% dari PDB dan ini bertahan cukup lama.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">e.<span> </span>Pendapatan per kapita cukup tinggi mencapai US $ 2.233 pada tahun 1977, dengan rata-rata selama dekade ini sebesar US $ 1898.70, dan ini tertinggi dibandingkan pada dua dekade terakhir.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">f.<span> </span>Pertumbuhan pemberian kredit kepada swasta terus meningkat, seiring dengan gerak laju pembangunan secara umum dengan mencapai rata-rata 22,16% pertahun.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">g.<span> </span>Investasi secara nominal bertambah, namun prosentase pertumbuhannya menurun<span> </span>terus,<span> </span>dan<span> </span>rata &#8211; rata dalam dekade ini mencapai Rp. 18.567,35 milyar. Sementara pertumbuhan tertinggi hanya terjadi tahun 1970-1971 sebesar 21%, sedangkan rata-rata pertumbuhan pada dekade ini sebesar 7,84% saja.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">h.<span> </span>Rata-rata upah tercatat mencapai angka Rp. 400.000 – 1.000.000,- untuk pemerintah, sedangkan swasta antara Rp. 100.000,- s.d. 200.000,-</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Tabel – 3.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Rekapitulasi Indikator Ekonomi Indonesia 1970 – 2000.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:5pt;" lang="SV"> </span></p>
<h5><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Deskripsi (milyar rupiah)<span> </span>Rata-rata 30 Th<span> </span>1970-1980<span> </span>1980-1990<span> </span>1990-2000</span></span></h5>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:5pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Pertanian (m-rp)<span> </span>46.981,62<span> </span>29.655,42<span> </span>46.667,22<span> </span>61.646,66</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Industri Pengolahan (m-rp)<span> </span>46.008,04<span> </span>11.859,72<span> </span>36.409,60<span> </span>88.568,84</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Jasa-jasa (m-rp)<span> </span>23.756,57<span> </span>11.487,27<span> </span>23.440,69<span> </span>35.193,03</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">PDB (m-rp)<span> </span>234.808,58<span> </span>113.530,42<span> </span>212.524,91<span> </span>367.017,36</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Investasi Pemerintah (m-rp)<span> </span>12.305,32<span> </span>4.588,68<span> </span>13.735,51<span> </span>18.232,91</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Investasi Swasta (m-rp)<span> </span>43.899,04<span> </span>13.978,68<span> </span>36.002,99<span> </span>80.317,58</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Total Investasi (m-rp)<span> </span>56.204,36<span> </span>18.567,35<span> </span>49.738,50<span> </span>98.450,49</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">PNS-TNI (juta-orang)<span> </span>55,19<span> </span>21,80<span> </span>62,15<span> </span>79,45</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Pegawai Swasta (juta-orang)<span> </span>2,99<span> </span>0,99<span> </span>3,41<span> </span>4,46</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Penduduk (juta-orang)<span> </span>170,40<span> </span>133,38<span> </span>168,49<span> </span>196,24</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Upah Swasta (Rp 1000)<span> </span>885,58<span> </span>29,91<span> </span>492,38<span> </span>2.131,47</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;">Upah Pemerintah (Rp 1000)<span> </span>2.824,23<span> </span>314,00<span> </span>1.805,22<span> </span>6.322,08</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;">Harga Minyak (US$/barel)<span> </span>18,87<span> </span>12,67<span> </span>24,15<span> </span>18,51</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;">Nilai Tukar (Rp 1000/1 US$)<span> </span>1,98<span> </span>0,45<span> </span>1,25<span> </span>4,20</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;">Kredit Swasta (m-rp)<span> </span>106.363,47<span> </span>3.853,55<span> </span>36.903,60<span> </span>277.947,90</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;">Pertumbuhan Kredit (%)<span> </span>19,82<span> </span>22,16<span> </span>28,55<span> </span>6,54</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;">Variabel lain (m-rp)<span> </span>118.062,34<span> </span>60.528,01<span> </span>105.997,40<span> </span>181.608,81</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Pertumbuhan Penduduk (%)<span> </span>1,33<span> </span>2,17<span> </span>2.14<span> </span>&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Pertumbuhan Investasi (%)<span> </span>7,84<span> </span>14,75<span> </span>8,27<span> </span>-0,99</span></p>
<h5 style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">Deskripsi Analisa<span> </span>&#8212;&#8212;<span> </span>&#8212;&#8212;<span> </span>&#8212;&#8212;<span> </span>&#8212;&#8212;</span></h5>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="FI">Pertumbuhan Pertanian (%)<span> </span>2,98<span> </span>6,01<span> </span>3,23<span> </span>-0,91</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="FI">Pertumbuhan Industri (%)<span> </span>7,92<span> </span>12,35<span> </span>10,03<span> </span>0,155</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="FI">Pertumbuhan Jasa-jasa (%)<span> </span>4,08<span> </span>7,89<span> </span>5,12<span> </span>-1,55</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="FI">Pertumbuhan PDB (%)<span> </span>4,33<span> </span>7,54<span> </span>5,44<span> </span>-0,75</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="FI">Pertumbuhan Kontribusi (%)<span> </span>&#8212;&#8212;<span> </span>&#8212;&#8212;<span> </span>&#8212;&#8212;<span> </span>&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="FI">(a) Dari Pertanian<span> </span>22,66<span> </span>26,29<span> </span>22,12<span> </span>16,93</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">(b) Dari Industri<span> </span>17,29<span> </span>10,12<span> </span>16,78<span> </span>23,96</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">(c) Jasa-jasa<span> </span>10,58<span> </span>10,07<span> </span>11,02<span> </span>9,65</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">(d) Variabel lain<span> </span>52,80<span> </span>53,52<span> </span>50,08<span> </span>49,46</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="SV">PDB/Kapita (Rupiah)<span> </span>1.350.305,04<span> </span>843.300,90<span> </span>1.256.693,75<span> </span>1.866.590,37</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="FI">PDB/Kapita US$<span> </span>1.283,67<span> </span>1.898,70<span> </span>1.898,70<span> </span>651,43</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="FI">Perubahan nilai Tukar US$<span> </span>13,16<span> </span>0,06<span> </span>0,06<span> </span>0,20</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="FI">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:-144pt;"><span style="font-size:5pt;" lang="FI">Sumber : Diolah dari data LPE-IBII (Jakarta, 2002).</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Peristiwa yang Menonjol Kurun Waktu 1970 – 1980</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Pada kurun waktu ini, ada beberapa peristiwa penting, pertama ialah Pemilu dengan 10 partai, merupakan Pemilu di zaman Soeharto tahun 1971, kemudian pemilu 1977 yang akhirnya mengekalkan jabatan presiden Soeharto. Pernah terjadi goncangan Peristiwa Malari 15 Januari 1975, tetapi tidak begitu mengganggu pemerintahan Soeharto. Berikutnya, aksi mahasiswa tahun 1978, di mana kampus ITB pernah di duduki tentara, juga tidak meruntuhkan Soeharto.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Kaitannya dengan perekonomian, ternyata pada tahun-tahun kejadian banyak posisi menguntungkan antara lain: Pada masa ini, rata-rata perkapita sedang berada pada puncaknya, selain itu tertolong oleh harga minyak dunia yang tiba-tiba meroket pada tahun 1978, 1979 dan 1980, semula 13,40$ per barel, naik menjadi 30,20 dan 36,70, besar kemungkinannya karena keadaan ekonomi baik ini maka posisi Soeharto ketika itu tetap kuat, akan lain dengan keadaan di saat-saat kejatuhannya. Sehingga dapat diduga bahwa kekuatan pemerintahan Pak Harto pada masa dekade ini adalah karena dukungan keadaan ekonomi yang cukup kuat.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Selain itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan nilai kurs rupiah terhadap dollar yang mengambang, maka harga US$ yang semula Rp. 415,00 per dollar untuk tahun 1977 dan sebelumnya, berubah sedikit menjadi Rp. 442,00 tahun 1978 sesudahnya naik terus dan mencapai puncaknya menjelang kejatuhan Pak Harto pada dekade ketiga antara tahun 1991-2000.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Dekade Kedua : Kurun waktu : 1980-1990</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dari data yang ada dengan berfokus pada periode 1980-1990 dapat dianalisa sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">a.<span> </span>Pertumbuhannya tidak bervariasi, namun secara umum sektor pertanian terus memberikan kontribusi yang bertambah kepada PDB, dengan kontribusi merata antara 20-22% PDB dan rata-rata tumbuh sebesar 3,23% lebih rendah dibanding dekade sebelumnya. Selain itu tidak terjadi lonjakan produksi. Jumlah produksi rata-rata tiap tahun mencapai Rp. 46.677,22 milyar.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">b.<span> </span>Keadaan sektor industri, pada dekade ini juga tumbuh dengan pertumbuhan mencapai rata-rata 10,03%. Walaupun kecepatan pertumbuhannya melebihi sektor pertanian, ternyata pada dekade ini belum bisa melampaui hasil pertanian. Yang menarik ialah, bahwa kontribusinya meningkat terus dari 9% hingga 14% PDB. Hanya saja pada akhir dekade tepatnya tahun 1990, kontribusi sektor pertanian ternyata sama dengan sektor industri manufaktur sebesar 20%. Sebetulnya, dengan kondisi kontribusi 20% ini terhadap PDB, maka Indonesia sudah masuk ke dalam era industrialisasi.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">c.<span> </span>Kontribusi jasa-jasa di luar jasa hotel dan jasa perdagangan dan pertambangan relatif tetap setiap tahun yaitu antara 9 – 10%.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">d.<span> </span>Kontribusi variabel lain, yang terdiri atas: pertambangan dan penggalian, listrik, gas dan air bersih, bangunan, hotel restoran dan jasa keuangan lainnya, kontribusinya kepada PDB relatif kurang lebih 50% dari PDB dan ini sama dengan keadaan dekade sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">e.<span> </span>Pendapatan per kapita terus menurun mencapai US$ 822 pada tahun 1990, padahal pernah mencapai angka di atas US$ 2233 pada tahun 1977. Rata-rata selama dekade ini menurun hingga US$ 110,99, dan ini lebih rendah dibandingkan satu dekade sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">f.<span> </span>Pertumbuhan pemberian kredit kepada swasta terus meningkat, seiring dengan gerak laju pembangunan secara umum dengan mencapai rata-rata 28,55% per tahun lebih tinggi dibanding dengan dekade sebelumnya hanya 22,16%.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">g.<span> </span>Investasi secara nominal bertambah, namun prosentase pertumbuhannya menurun terus, dan rata-rata dalam dekade ini mencapai Rp. 49,738.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">h.<span> </span>Rata-rata upah tercatat mencapai angka Rp. 492.000- untuk pemerintah sedangkan swasta antara Rp 1.805,00.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Peristiwa yang Menonjol Kurun Waktu 1980 – 1990</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Peristiwa politik yang menonjol ialah, munculnya gerakan yang disebut “<em>Petisi 50</em>” yakni protes dari para bekas pejabat di zaman Soeharto antara lain : Ali Sadikin, AM Fatwa, A.H Nasution dan lain-lain. Akibatnya presiden Soeharto sangat marah sehingga melakukan tindakan-tindakan pemblokiran usaha dari para pemrotes tersebut.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Ada juga<span> </span>peristiwa yang dampaknya<span> </span>tidak</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">hilang hingga saat ini, yakni : Kasus Pembantaian Tanjung Priok, di mana sekelompok uma Islam dibantai. Terjadi 12 September 1984, efeknya masih jadi pemberitaan hingga kini, yakni dengan disidangkannya semua yang terlibat, termasuk mantan pejabat militer.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Pada dekade ini dikenal juga konsep deregulasi perbankan, yang intinya memudahkan siapapun mendirikan bank, maka tanpa diperkirakan sebelumnya di Indonesia pernah tumbuh lebih dari 200 bank dan bahkan bank yang sudah ada pun begitu mudahnya mendirikan cabang di seluruh kota-kota di Indonesia. Namun setelah melewati tahun 1984, maka terjadi penurunan harga minyak dunia, maka pemerintah mengeluarkan istilah: Kencangkan ikat pinggang, maka dilakukan penghematan dalam berbagai bidang.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Dekade Ketiga : Kurun Waktu 1990-2000</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">a.<span> </span>Pada dekade ketiga ini, secara umum sektor pertanian tetap memberikan kontribusi kepada PDB namun turun terus –0,55 dan terjadi penurunan drastis produksi tahun 2000, ketika turun hingga –29,28%. Walaupun demikian, jumlah produksi rata-rata tiap tahun tetap lebih tinggi yaitu mencapai Rp. 61.646,68 milyar.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">b.<span> </span>Keadaan sektor industri, maka dekade ini juga tumbuh dengan pertumbuhan mencapai rata-rata menurun menjadi 0.15% saja, namun pada dekade ini, kontribusi dari sektor industri sudah di atas sektor pertanian.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">c.<span> </span>Kontribusi jasa-jasa di luar jasa hotel dan jasa perdagangan dan pertambangan relatif tetap setiap tahun yaitu antara 9-10% dan berlaku terus hingga akhir periode pengamatan tahun 2000.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">d.<span> </span>Kontribusi variabel lain, yang terdiri atas: pertambangan dan penggalian listrik, gas dan air bersih, bangunan, hotel restaurant dan jasa keuangan lainnya, kontribusinya kepada PDB relatif kurang lebih 50% dari PDB dan ini bertahan hingga akhir periode pengamatan tahun 2000.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">e.<span> </span>Pendapatan per kapita terus melemah hingga rata-rata mencapai rata-rata 651,43 US$ per tahun dan mencapai titik terendah sebesar US $ 184 pada tahun 1998 dengan perkiraan jumlah penduduk ketika itu 204.2 juta orang.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">f.<span> </span>Pertumbuhan pemberian kredit kepada swasta meningkat pada dekade kedua, namun menurun lagi pada dekade ketiga hingga rata-rata hanya Rp. 277.947 milyar.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">g.<span> </span>Investasi secara nominal bertambah hingga tahun 1997, namun seiring dengan terjadinya krisis, maka angkanya menurun tajam dari Rp. 139.725,20 tahun 1997 menjadi hanya Rp. 93.624,30 pada tahun 1998 dan turun lagi pada tahun-tahun berikutnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">h.<span> </span>Rata-rata upah tercatat mencapai angka Rp. 6.322.000,00.- untuk pemerintah sedangkan swasta antara Rp. 2.000.000,00.-</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Peristiwa yang Menonjol Kurun Waktu 1990–2000</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">1.<span> </span>Keadaan awal 1990, ekonomi Indonesia tergolong dalam keadaan baik dan pertumbuhan rata-rata 6% setiap tahunnya. Peristiwa yang menonjol adalah perang Irak. Namun dampaknya terasa pada penurunan harga minyak dunia dan ini menganggu perekonomian Indonesia dan akhirnya secara menyeluruh terjadi penurunan pendapatan per kapita.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">2.<span> </span>Peristiwa yang sangat penting dalam dekade ini bagi bangsa Indonesia ialah, terjadinya perubahan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke Presiden Habibie dan kemudian Presiden Abdurrahman Wahid.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Beberapa Catatan Ekonomi antara lain:</span></em></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">a.<span> </span>Terjadi penurunan pertumbuhan baik di sektor pertanian, industri dan jasa, pada tahun 1998 sebagai akibat krisis moneter yang terjadi di pertengahan Juli 1997.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">b.<span> </span>Posisi PDB per kapita pada tahun 1998, berada pada titik yang terendah dengan nilai US $184.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">c.<span> </span>Kredit perbankan kepada dunia swasta betul-betul dipangkas sehingga terjadi penurunan mencapai –54%. Pada saat inilah terjadinya goncangan ekonomi yang sangat parah misalnya pabrik-pabrik di Pulau Gadung Jakarta banyak yang tidak beroperasi dan peristiwa lainnya yang menandai krisis ekonomi yang cukup parah.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Analisa Rata-rata 30 tahun dan Prediksi dengan Regresi</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Bagian berikut ini adalah hasil analisa dari beberapa variabel yang akan dianalisa melalui tabel rekapitulasi dan Perhitungan Regresi-Korelasi seperti pada Tabel 4 berikut ini.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">TABEL<span> </span>4.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Perhitungan Koefisien Korelasi</span></span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Deskripsi<span> </span>Hasil Perhitungan</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"><span> </span>Koefisien Korelasi</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">1.<span> </span>Tahun dan pertanian<span> </span>1.00</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">2.<span> </span>Tahun dan industri<span> </span>0.96</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">3.<span> </span>Pertanian dan Industri<span> </span>0.95</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">4.<span> </span>Industri-Investasi<span> </span>0.96</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">5.<span> </span>Industri-Kredit Swasta<span> </span>0.90</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">6.<span> </span>Industri-PDB<span> </span>0.99</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">7.<span> </span>Industri-Kurs<span> </span>0.75</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">8.<span> </span>Industri-Harga Minyak<span> </span>0.18</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">9.<span> </span>Industri-Variabel lain<span> </span>0.99</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">10.<span> </span>Industri-Penduduk<span> </span>0.94</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">11.<span> </span>PDB-Penduduk<span> </span>0.94</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Sumber : Diolah menggunakan data dari LPE-</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"><span> </span>IBII (2002).</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Ternyata jika dibuat rata-rata selama tiga puluh tahun, nilai nominal sektor pertanian mencapai rata-rata Rp. 46.981.62 milyar per tahun. Demikian pula sektor industri mencapai rata-rata Rp. 46.008,04 milyar per tahun. Sedangkan jasa-saja di luar variabel lain (pertambangan, hotel, transport dan lain-lain), mencapai Rp. 23.756,57 milyar per tahun. </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Sedangkan PDB rata-rata Rp 234.808,58 milyar per tahun. Berarti jika dihitung rata-rata per kapitanya ialah US$ 1.283,67 per tahun selama tiga puluh tahun.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dilihat prosentase rata-rata kenaikannya, memang industri mencapai angka tertinggi yaitu 7,92%, dibandingkan pertanian: 2,98%, jasa 4,08 dan PDB tumbuh rata-rata 4,33% dengan rata-rata pertumbuhan penduduk sebesar 1,33%.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Pemberian kredit kepada swasta rata-rata Rp. 106.363,47 milyar per tahun dengan rata-rata pertumbuhan 19,82%. Perubahan nilai tukar selama 30 tahun itu, hanya 13,16%.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Investasi rata-rata selama 30 tahun adalah Rp. 56.204,36 milyar, namun rata-rata pertumbuhannya<span> </span>-66,96% disebabkan pada akhir dekade ketiga menurun tajam terus sebagai akibat resesi yang berkepanjangan.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dari hasil perhitungan regresi korelasi, diketahui bahwa seluruh variabel, antara lain, pertanian, investasi, kurs dan variabel lain, hampir mempunyai hubungan sempurna dengan industri yaitu lebih dari r = 90%, kecuali harga minyak hanya 0,18%. Artinya, hubungan antara industri dan harga minyak dunia itu lemah.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">KESIMPULAN</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Setelah menganalisa dengan seksama, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">1.<span> </span>Proses transformasi dari sektor pertanian ke sektor industri dengan melihat kontribusinya kepada PDB, berlangsung sejak berkuasanya orde baru, yaitu 1970-an, dan pertumbuhan industri ternyata berjalan cepat dan baru terjadi pergeseran pada akhir tahun 1980. Sejak tahun ini, negara Indonesia sudah dapat digolongkan sebagai negara industri. Tumbuhnya industri banyak melahirkan lapangan kerja. Berarti ada atau cukup besar kontribusi industri kepada rakyat banyak melalui penciptaan lapangan kerja dan pada gilirannya akan meningkatkan juga kualitas hidup rakyat.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">2.<span> </span>Pada dekade pertama, sektor industri tumbuh dengan rata-rata 12,35 serta kontribusinya meningkat terus dari 9% hingga 14%. Kemudian pada dekade kedua 1980-1990 dapat seimbang dengan sektor pertanian dan pada dekade ketiga sektor industri menjadi sektor pemimpin (<em>leading sector</em>) melebihi sektor-sektor lainnya. Bila kemajuan itu dipertahankan dan pemilihan jenis industrinya tepat bagi rakyat banyak, maka akan sangat terasa manfaat dari industrialisasi tersebut terhadap rakyat banyak, khususnya dalam akselerasi perekonomiannya.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">3.<span> </span>Turun-naiknya proses perubahan itu juga dipengaruhi oleh berbagai kebijakan yang terjadi pada setiap dekade, misalnya pada dekade pertama 1970-1980 ada peristiwa Malari (15 Januari 1975) dan perubahan mendadak dari harga minyak dunia. Pada dekade kedua 1980-1990, terjadi penurunan harga minyak hingga lahir kebijakan kencangkan ikat pinggang dan terakhir pada dekade ketiga 1990-2000 perubahan drastis terjadi di saat pergantian pemerintahan ketika itu investasi turun hingga – 55%, tentunya menyebabkan variabel lain menjadi turun nilainya.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">4.<span> </span>Sektor industri mempunyai derajat hubungan yang kuat dengan variabel lain, misalnya sektor pertanian, jasa, dan lain-lain. Akan tetapi hanya pada variabel harga minyak dunia ternyata hubungannya lemah, artinya pesat atau tidaknya industrialisasi di Indonesia selama 30 tahun itu tidak terkait langsung dengan turun naiknya harga minyak di pasaran Internasional. Bila demikian halnya, setiap pengembangan industri, akan jelas kaitannya terhadap variabel lain, termasuk diantaranya variabel-variabel yang dapat menyejahterakan rakyat banyak, misalnya : keluaran industri yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat banyak. Dengan kata lain variabel-variabel mana saja yang mendukung kepentingan rakyat, bisa dipahami melalui variabel yang kuat hubungannya itu.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Prediksi</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dengan melihat korelasi yang kuat antara sektor industri dengan sektor lainnya, maka dapat diperkirakan bahwa masa depan pertumbuhan ekonomi akan dapat ditentukan dengan pesat tidaknya industri asal saja sektor lain jangan dihilangkan, terutama sektor pertanian dan pada perhitungan rata-rata ternyata selama tiga puluh tahun itu, jumlah sumbangan nominalnya terhadap PDB relatif sama antara sektor pertanian dan sektor industri.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">PENUTUP</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Setelah mengkaji dengan cukup mendalam tentang identifikasi proses transformasi sektor pertanian ke sektor industri, dapat ditarik kesimpulan secara umum, ternyata dari sudut pandang nilai rata-rata selama 30 tahun, ekonomi bangsa Indonesia ini tidak seburuk apa yang diperkirakan orang.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Walau harus diakui, pada akhir dekade ketiga yakni saat ini, perekonomian sedang terpuruk, hanya untunglah masih ada sisa-sisa kekuatan daya tahan di masa lampau, sehingga negara Indonesia tidak mengalami “<em>totally collapse</em>” atau hancur total dan centang-perenang.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">DAFTAR PUSTAKA</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">A. Prasetyantoko, “<em>Arsitektur Baru Ekonomi Global, Belajar dari Keruntuhan Ekonomi Asia Tenggara</em>”, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2001.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">B.S. Hadiwinata, “<em>Politik Bisnis Internasional</em>”. Penerbit Kanisius, Jakarta, 2002.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Bungaran Saragih, dalam “<em>Menggugat Masa Lalu Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia</em>”, PT. Kompas Media Nusantara, Jakarta, 2000.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Dumairy, “<em>Perekonomian Indonesia</em>”, Penerbit Erlangga, Jakarta 1996.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Faisal Basri, “<em>Perekonomia Indonesia</em>”, Penerbit Erlangga, Jakarta 2002.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Hamzah Haz, “<em>Indonesia Baru dan Kemandirian Nasional</em>”, Pustaka Indonesia Satu, Jakarta, 2003.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Info Bank, “<em>Majalah Perbankan dan Keuangan, Edisi, Desember 2001</em>”, Jakarta 2001.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Lembaga Penelitian Ekonomi IBII, “<em>Makro Ekonomi Indonesia</em>”, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;-, “<em>Makro Ekonomi Indonesia, Perkembangan Terkini dan Prospek 2004 Daya Saing Indonesia</em>”, jakarta 2003.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Mohammad Thoyib, (editor), “<em>Teologi Industrialisasi</em>”.Universitas Muhammadiyah Solo, 1995.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Sobri, “<em>Ekonomi Internasional, Teori, Masalah dan Kebijaksanaannya</em>”,BPFEUII, Yogyakarta, 2001.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN">Tulus Th. Tambunan, “<em>Perekonomian Indonesia</em>”, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta, 2001.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="IN"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koesmawan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koesmawan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/koesmawan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/koesmawan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/koesmawan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/koesmawan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/koesmawan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/koesmawan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/koesmawan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/koesmawan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/koesmawan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/koesmawan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/koesmawan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/koesmawan.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=16&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koesmawan.wordpress.com/2009/03/11/industrialisasi-permasalahan-dan-peranannya-bagi-akselerasi-pertumbuhan-ekonomi-rakyat-1970-2000/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00928f7bc7e9d8820d4c8be92c9d3401?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">koesmawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Assalaamu&#8217;alaikum wr.wb.</title>
		<link>http://koesmawan.wordpress.com/2009/03/11/hello-world/</link>
		<comments>http://koesmawan.wordpress.com/2009/03/11/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 06:35:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesmawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Home]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Selamat Datang di m-koesmawan.co.cc Semoga Blog ini membawa manfaat bagi para pembaca yang budiman. Wassalaamu&#8217;alaikum wr.wb. Salam Persahabatan, Prof. Dr. M. Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=1&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat Datang di <a href="http://wordpress.com/">m-koesmawan.co.cc</a></p>
<p>Semoga Blog ini membawa manfaat bagi para pembaca yang budiman.</p>
<p>Wassalaamu&#8217;alaikum wr.wb.</p>
<p>Salam Persahabatan,</p>
<p>Prof. Dr. M. Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koesmawan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koesmawan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/koesmawan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/koesmawan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/koesmawan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/koesmawan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/koesmawan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/koesmawan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/koesmawan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/koesmawan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/koesmawan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/koesmawan.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/koesmawan.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/koesmawan.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koesmawan.wordpress.com&amp;blog=6910770&amp;post=1&amp;subd=koesmawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koesmawan.wordpress.com/2009/03/11/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00928f7bc7e9d8820d4c8be92c9d3401?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">koesmawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
