KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA

May 6, 2009

Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA

EPISODE KELIMA

Pada episode ini, saya tak akan berceritera tentang cinta, akan tetapi cerita tentang kisah persahabatan saya dengan dua gadis mancanegara ketika saya tinggal di Enschede Nederland guna menyelesaikan program doctor di Universitas Twente-Nederland. . Enschede itu sebuah kota kecil di Belanda berjarak 3 jam pakai kereta api dari Den Haag, letaknya berbatasan dengan Negara Jerman..  Bila dalam hal cerita cinta, saya samarkan nama setiap gadis yang saya akan saya kisahkan itu, maka pada hal persahabatan, saya tak ragu-ragu menuliskan nama lengkapnya. Pertama ; Isabel Torres dari Bolivia dan Kedua, Bernadette Schoomaker dari Belanda. Keduanya adalah wanita yang cukup cantik dan menawan hati. Isabel sudah bersuami seorang doktor ekonomi yang sedang bekerja di Den Haag, sementara Bernadette saat itu sedang kosong, tak punya pacar “ I am single, but happy” katanya ketika saya Tanya tentang statusnya. Saya yakin bila cerita ini dibaca oleh anak-anak dan istri saya, mereka pun tak akan memarahi ayahnya yang bersahabat dengan dua wanita mancanegara itu, dimana keduanya telah  memberi kesan yang mendalam tentang arti persahabatan,  politik dan kemanusiaan antar bangsa.

Saat itu, Isabel tengah melakukan riset tentang “Political Movement in Developing Country” sementara Bernadette sedang meneliti masalah “ Gender and Humanism” khususnya di Afrika, dan saya sendiri tengah merampungkan disertasi yang berjudul “Textile Export Marketing and Acquisition of Technology, A Case Study in Indonesian Textile Indutries”, dibawah bimbingan Prof.Hommes, Prof de Bruijn dan Dr. El Namaki. Kami bertiga setiap hari berada dalam satu ruangan, bertemu dan bekerja. Masing-masing diberi satu meja, satu computer dan satu loker. Bila jenuh, kami berbincang-bincang segala macam.

Hampir setiap pagi mulai dari Senin sampai Jumat siang, saya selalu bertemu dengan Isabel dan Bernadette, jumat siang saya salat Jumat di Mushala Hotel Enschede, dan hampir dipastikan, saya selalu jadi Khatib dan Imam jumatan disana. Padahal banyak orang Arab, Libia, Maroko dan orang Belanda yang muslim, akan tetapi bila melihat saya hadir, mereka selalu ,mendorong saya jadi khatib dan imam dalam bahasa Inggris Mungkin karena mereka semua tahu, saya adalah mahasiswa tertua diantara mereka.

Jumat sore saya pulang ke Den Haag, untuk  mengurus masjid Den Haag, menyiapkan tempat ngaji dan persiapan berjamaah magrib dan isya bagi orang-orang Indonesia di Den Haag. Tepatnya Mushala Daguerresstraat No 2. Disini,saya serba terjamin,  makanan enak dan bergizi banyak,  sebab banyak ibu-ibu yang umumnya orang Sunda dan Jawa yang memasak makanan untuk jamaah masjid. Acara pengajian dua kali seminggu yakni, jumat malam dan sabtu malam.  Pulang dari Mushala setiap hari Senin subuh dengan membawa bekal sisa-sisa makanan mushala yang masih utuh. Lumayan ini bisa disimpan di kulkas hingga hari Rabu berikutnya. Jadi setiap minggu saya hanya membayar makanan sendiri pada hari  Kamis dan Jumat pagi. Kalau di rupiahkan, biaya hidup saya hanya Rp 60.000,- perminggu, irit sekali,  ditambah sewa “kandang burung” Rp 300.000,- perbulan. Kata teman saya dari Indonesia, yang memeriksa kesana,  tempat kos saya disebut kandang burung sebab terletak diatap rumah. Itu harganya paling murah. Sebab dibagian bawah mahal, hingga Rp 500.000,- perbulan. Begitulah nasib mahasiswa yang terlunta-lunta nasibnya karena kebijakan pemerintah memutuskan hubungan  dengan  IGGI (Inter Goverment Group for Indonesia) yang memberi beasiswa kepada saya untuk program doctor di Belanda. Alhamdulillah ada mushala dan warganya yang membantu saya. Ada kalanya saya disuruh ceramah di KBRI Den Haag, lumayan pulang dibekali hingga Rp 1.000.000,00. Sering juga mengantar pejabat Indonesia yang datang ke Belanda lalu minta ditemani jalan-jalan di Enschede, kadang nyebrang ke Dusseldorf- Jerman,, ternyata ada saja yang dengan tulus  ikhlash dan memaksa saya untuk menerima sekedar uang lelah Rp 500,000,- hingga Rp 1.000.000,00 . Alhamdulillah hidup saya bisa tersambung.Sehingga saya tak perlu cari uang untuk biaya hidup di Belanda. Pernah ada tawaran kerja “Menggoreng Kacang” upahnya hampir Rp 5.000.000,00 perbulan, tapi Masya Allah, beratnya minta ampun, tak tahan saya. Waktu saya di Belanda, uang yang berlaku gulden, dimana 1 gulden kira-kira Rp 1000,- waktu itu. Sekarang menggunakan Euro, satu euro kira-kira Rp 15.000,-.

Tentu saja, dihadapan Isabel dan Berandette saya tak pernah memperlihatkan keadaan saya yang sebenarnya, mereka melihat saya “ life as usual” saja. Ada persamaan antara Isabel dan Bernadette, yakni, keduanya adalah penganut agama Katholik Roma yang sangat taat, sebab hampir semua kewajiban agamanya seperti misa, novena dan lain-lain dia kerjakan bersamaan. Sementara, saya sendiri seorang muslim yang tak segan-segan salat di ruangan saya, walaupun mereka berdua ada disana.

Perkenalan akrab saya dengan Isabel adalah ketika, saya bercerita tentang nama Isabel menurut yang saya kenal. Berdasarkan cerita ketika saya masih anak-anak. Dulu kala, di Spanyol, pada zaman terjadinya Perang Salib ada seorang ratu Spanyol yang sangat cantik  bernama Putri Isabella. Putri ini cantik dan beragama Islam, ia menyelamatkan kaum muslimin. Begitulah cerita versi waktu kecil. Akan tetapi ketika besar ada nama Ratu Isabela ternyata beragama Katholik dan dialah yang mengusir kaum muslimin dari Spanyol. Mana yang benar , tak tahulah saya. Sementara Isabel yang orang Bolivia itu, lebih setuju kisah yang kedua, sehingga nama ratu terkenal itu,  dinisbahkan oleh orang tuanya kepada anaknya yang bernama  Isabel itu. Kalau tak salah Ratu Isabela dari Spanyol itu, termasuk dalam daftar 100 orang berpengaruh dalam sejarahnya-Michail Hart- yang menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh nomor satu.

Isabel mengajarkan saya bahasa Spanyol, maka tahulah saya beberapa makna misalnya: Para Futura (for the future). Common sta (apa kabar). Lalu angka-angka; cero,  Uno, dos, tres, cuatro, cinco, seis, siete, ocho, nueve, diez dan seterusnya. Kalau ketemu pagi : Buenos dias, ketemu siang Buenos tardes, ketemu malam: Buenas noches.

Tentu saja perbendahraan ungkapan cinta bertambah. Semula hanya: abdi bogoh ka anjeun (sunda), Kulo tresno marang sampeyan (jawa), I love you (inggris), aku cinta padamu (Indonesia), Ich liebe dich (jerman), J’t aime (Prancis), Ik hoe van jouw (belanda), Aishiteru (Jepang). Tambah lagi  ; Io tumare (Itali); Yo Tamare (Spanyol) dan Eu Tamare (Portugal), Ah ada ada saja ya kerjaan iseng di negeri orang.

Saya minta juga ke Isabel lirik lagu : Historia De Un Amor, yang sering saya nyanyikan di STIE Ahmad Dahlan, inilah lirik lagunya:

Inilah lagu Historia De Un Amor yang diberikan Isabel kepada saya dan saya sering menyanyikannya di STIE Ahmad Dahlan. Terima kasih Isabel.

Cancion (Lagu)     : Historia De Un Amor

Artista (Penyanyi) : Luis Miguel

Disco (Gaya lagu) : Segundo Romance.

Ya No Estás Más A Mi Lado, Corazón
En El Alma Sólo Tengo Soledad
Y Si Ya No Puedo Verte
Porque Dios Me Hizo Quererte
Para Hacerme Sufrir Más.

Siempre Fuiste La Razón De Mi Existir
Adorarte Para Mí Fue Religión
Y En Tus Besos Yo Encontraba
El Calor Que Me Brindaba 
El Amor, Y La Pasión

Es La Historia De Un Amor
Como No Hay Otro Igual.
Que Me Hizo Comprender
Todo El Bien, Todo El Mal
Que Le Dio Luz A Mi Vida
Apagándola Después
Ay Qué Vida Tan Oscura
Sin Tu Amor No Viviré..

Kemudian yang menambah akrab pembicaraan dengan Isabel ialah ketika bercerita tentang persamaan negeri Bolivia dengan Negara Indonesia ketika di “jajah“ militer. Betapa sengsara hidup dalam jajajah saudara sendiri, yakni militer. Di Bolivia pernah militer sangat berkuasa, sehingga kehidupan begitu sulit. Demokrasi itu hanyalah, mimpi tuh katanya. Kini, tahun 1996, Bolivia “merdeka dari jajahan militer, tentara tak berani lagi macam-macam” , sebab kalau tentara akan merebut kekuasaan, maka “kami semua turun ke jalan dan menentangnya, untunglah tentara takut” kata Isabel. Sebab kalau tentara menembak kerumunan masa, bias saja ada sanak saudaranya tertembak juga.

Tentang militer, bagi alumni ITB sungguh ada kenangan yang sulit dilupakan, yakni tahun 1978, ketika tentara mengobrak abrik kampus ITB dan menduduki ITB lebih dari satu minggu. Sungguh sebuah kengan yang menyakitkan. Korbannya adalah di copotnya Prof Dr.Iskandar Alisjahbana dari jabatan rektor, apa alasannya??? , gara-gara dalam suatu rapat yang dihadiri Panglima Siliwangi Mayjend Himawan Sutanto, Iskjandar berkata “Di Negeri ini, akal sehat sudah tidak berlaku lagi”

Kisah berukutnya, ketika tentara, yang kala itu dilaksanakan oleh Satgas Intel Kramat Empat Jakarta, dibawah Panglima Mayjend Tri Sutrisno, menahan saya dan mewajibkan apel hingga satu tahun padahal saya tengah kuliah di S-2 ITB. Apa gara-garanya: “Koesmawan khutbah terlalu keras, menunjukkan kebencian kepada Negara Amerika” ??? Ah sudahlah heran saya, sejak kapan saya benci Amerika, padahal saya ingin sekali ke Amerika itu, belum kesampaian hingga kisah ini ditulis.

Isabel terbahak-bahak ketika saya bercerita, mengapa banyaknya orang Indonesia ketika itu yang untuk  mencabut gigi saja ke Singapur, “Tahukah kamu apa  alasannya Isabel??”. Lalu saya teruskan, jawabnya ialah: “Karena di Indonesia itu, jangankan cabut gigi, buka mulut aja dilarang”. Sayang sekali Isabel tak memberikan alamatnya di Lapaz-Bolivia, sebab kalau lah saya tahu alamat Isabel di Bolivia sekarang, akan saya surati dia dan saya katakan bahwa kini Negara Indonesia, adalah Negara demokrasi terbesar ketiga setelah; Amerika, dan India. Tak gampang membangun Negara demokrasi pada jumlah penduduk 230 Juta jiwa. Bayangkan !!! hebat bukan???.

Ada kejadian lucu, sewaktu melihat ada gambar manusia yang aneh, tiba-tiba Isabel memukul meja, sambil komat kamit dan memegang perutnya yang lagi hamil. Saya heran. “Why do you perform that my dear friend Isabel?”. Dia menerangkan sesuatu, yang ternyata mirip di Negara Indonesia, rupanya; ketika dia melihat wajah buruk, smentara dia sedang hamil, kira-kira mirip orang kita berkata “Amit-amit jabang bayi” sambil ketuk-ketuk meja berkali-kali.. Menurut dia, itu kebiasaan suku Indian Bolivia, dan dia masih ada keturunan Indian itu. Lucu juga ya, ada kemiripan  budaya.

Lain Isabel, lain pula Bernadette. Berbadette lebih senang berdiskusi tentang humanisme, kehidupan sosial masyarakat dan perjuangan kaum wanita, khususnya di Negara berkembang.

Sebelum bercerita tentang Bernadette, saya mempunyai cerita tentang kenalan dengan wanita Belanda yang cantik di kereta api, hingga menjadi teman akrab berdua mulai naik  hingga kereta berhenti,tahukah teman-teman,  apa penyebabnya?? Itu gara-gara saya sayang kepada anjing yang dibawanya. Sebelum kenal dengan perempuan ini di kereta api, ini, pernah saya dengan Pak Junaedi sobat di Amsterdam, naik kereta api bareng. Tiba-tiba di depan ada anjing yang dibawa gadis Belanda yang lain, Berhubung Pak Junaedi ini sangat “fanatic” kata orang, dia memperlihatkan wajah benci kepada anjing yang dibawa perempuan itu.Sampil tangannya menepis supaya anjing itu menjauh dari kaki pak Junaedi dia tak mau kalau sampai anjing itu menjilat celananya.  Apa yang terjadi, ternyata si perempuan memperlihatkan wajah benci juga kepada kami berdua. Nah berdasar pengalaman itu, ketika saya, pada kesempatan lain, jalan sendiri dari Enschede ke Amsterdam,  lalu  pas duduk depan saya seorang gadis Belanda yang cantik dan  membawa ajing, lalu anjing itu saya usap-usap kepalanya dan lehernya, ternyata gadis Belanda itu senang sekali kepada saya, hingga kami bedua akrab sampai kereta berhenti di statsiun Amsterdam. Kata teman-teman saya yang nakal, kalau ingin di peluk dan diciumi cewe Belanda, nonton saja pertandingan sepakbola dimana tim Belanda main, nah siap-siaplah nanti, setiap Belanda menghasilkan  satu goal, kita akan dipeluk dan di ciumi cewe-cewe Belanda itu. “ Emmm waah, Emmmwaah” kata teman saya penuh semangat.

Saya pernah hadir nonton bareng seperti itu, tapi dari jauh, sebab takut dipeluk cewe Belanda, nanti bisa ketagihan. Di Belanda, tak laki-laki  tak perempuan, senangnya kepada sepakbola cukup merata. Bukan main.

Kembali ke Bernadette, ada kedekatan lain antara saya dengan Benadette, dia dilahirkan tanggal 13 Juli, sementara saya tanggal 14 Juli.. Jauh-jauh hari kami janjian akan merayakan ulang tahunnya bersamaan saja, biar patungan katanya. Rupanya, entah bagaimana, akhirnya jadi juga merayakannya hanya berdua disiang hari. Dan apa yang disediakan untuk saya yang khas pada hari ulang tahun itu ialah: sop buah, yakni buah-buahan yang dicampur. Saya membawa sekuntum  bunga untuk Benadette dan dia memberi saya sepasang cangkir dengan ukiran molen (kincir angin) khas Belanda. Tanggal kejadian HUT bareng ini tak akan terlupakan , yakni tanggal 13 Juli 1995, beberapa bulan sebelum saya promosi doctor.

Pernah pada suatu ketika, Benadette mengajak saya untuk  nonton TV berdua dirumahnya, saat itu ada  pertandingan final kejuaraan sepak bola dunia antara  antara Brasil dan Belanda. Sayang sekali ternyata Belanda kalah, 2 nol kalau tak salah. Saya mendengar suara lirih Bernadette; “I don’t believe it, I don’t believe it” katanya, sambil berlinang air mata. Saya ikut simpati kepadanya, anehnya, ikut juga menitikkan air mata. Gara-gara ini, kalau ada pertandingan kelas dunia antara Belanda dan Negara mana saja. Saya selalu mendukung Belanda. He he he.

Kenangan lain ialah, ketika, kami hadir pada perayaan syukuran Yoice Clancy orang Inggris yang baru punya rumah. Saya diajak Bernadette untuk pulang bareng ikut mobilnya, karena jarak dari rumah ke pangkalan bus jauh sekali. Entah bagaimana dan tak tahu dari mana asalnya, tiba-tiba mobil yang kami tumpangi ini ditabrak sepedah. Dan yang menabrak adalah seorang ibu kira-kira umurnya 30 tahunan, akibatnya, sepedahnya cukup parah, rusak berat dan mobil Bernadette sendiri lecet dan kaca spionnya hancur. Selesai berdebat saling tunjuk dalam Bahasa Belanda ini itu yang tak saya mengerti, kami pun pulang masing-masing.

Tetapi alangkah kagetnya saya, ketika sedang enak-enaknya berli bur di Den Haag, Bernadette menelpon saya, agar saya menerangkan kejadian tabrakan itu ke pengadilan di Enschede. Rupanya, di Belanda, jika terjadi tabrakan, maka selalu memenangkan kendaraan yang lebih kecil. Dalam kasus Bernadette ini, maka pengadilan hampir memenangkan pemilik sepedah. Nah, hakim bertanya, adakah saksi yang mau memberi keterangan meringankan,  bahwa supir  mobil ini tak tahu apa-apa, tiba-tiba ditabrak sepeda,yang  meluncur tak bisa di rem, dari garasi rumah yang posisinya lebih tinggi. Kata Bernadette, “ Koesmawan bisa  memberi keterangan tertulis dan di fax, asal beri identitas lengkap” . Maka sayapun segara menulis keterangan apa yang saya saksikan pada kejadian tabrakan itu diatas secarik kertas, lalu di fax ke pengadilan Bernadette di Enschede. Besoknya saya mendengar kabar  kebahagiaan Bernadette: “ I am happy, I am not guilty in the court, thanks a lot for your help, Koesmawan”. Jawab saya: “ I am happy too, Bernadette, good luck !!, see you next time”.

Dalam diskusi-diskusi, Bernadette sering mempertanyakan, kenapa Indonesia menjajah Timor Timur, apakah Indonesia ingin menguasai celah Timor yang katanya banyak minyak bumi?. Saya tak tahu alasan pasti mengapa kita mencaplok Timor Timur yang kini bernama Timor Leste. Saya jawab sesuai standar saja ;  yakni; agar komunis tak menguasai Pacific Selatan dan langkah Indonesia menguasai Timur Leste karena didukung oleh Amerika sehingga pengaruh komunis tak membesar di Asia Tengggara dan Pacifik Selatan. Memang, tak sedikti warga Belanda yang terkecoh oleh orang-orang Timor Leste hingga antipati terhadap Indonesia yang disebutnya sebagai “penjajah”.. Bernadette, termasuk orang yang sentimental, dia bernah berkata begini “ Koes apa jadinya dunia ini ya. Imam Khomenini telah tiada, Madam Theresia juga telah tiada; keduanya adalah manusia yang memiliki tempat khsus dihati umatnya.  Apakah dunia akan me njadi kiamat??”. Saya hanya tersenyum dan berkata: “Que serra, serra Bernadette. Whatever will be , will be”, “Ya sudahlah Bern, apapun yang terjadi, terjadilah. Kata saya kepadanya. Lalu ” You are so nice to select the words to say” Kata Bernadette membalas ucapan saya..

Sebelum pulang ke Indonesia, saya menyurati Bernadette agar dia hadir pada promosi doctor  saya dan saya mau pamit akan pulang ke Indonesia lewat Mekah dan Madinah. Sayang sekali Bernadette  tidak hadir pada promosi doctor saya di Fakultas Manajemen Universitas Twente The Netherlands , Jumat; 9 Pebruari 1996. Dia sedang tugas ke luar kota dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang saya simpan rapih, dibungkus plastik biar awet  hingga kini dan diberi judul: “Sepucuk Surat dari Bernadette” sebagai tanda perpisahan dari persahabatan kami. Saya beri undangan promosi disertai surat permohonan maaf sebab pernah dia tersinggung oleh saya,  lalu saya katakana juga bahwa saya akan ke Jakarta dengan singgah di Mekah dan Madinah. Inilah surat balasan terakhir dari Bernadette:

To: Koesmawan

Universiteit van Twente

PO BOX 217; AE ENSHEDE

Hardenberg, 28 January 1996

Dear Koesmawan,

Also I wish you a happy 1996, and the best for the rest of your life. First I want to tell you I have great respect for you for having finished your disssetration. I want you to know that you did do nothing wrong, but that there were some cultural misunderstandings. Nothing terrible, and I laso apologise for it.

Unfortunately I am not able to attend your doctoral defence. Perhaps you already know that I have a new job with more responsibilities. On the 9th of February I have a very important meeting to attend in the afternoon. Nevertheless I hope it will be one of the best days of your life.

Koesmawan, I am really happy for you that you can return to your family in Indonesia. Remember me when you are saying your prayers in Mecca, like I will remember you in my prayers to my God. With best regards,(BERNADETTE SCHOMAMER)

Memang benar kata orang, “alangkah sedihnya sebuah perpisahan, dan akan lebih sedih lagi bila tanpa ucapan, selamat jalan”. Atau kata sebuah lagu: “Bukan perpisahan yang aku tangisi, akan tetapi pertemuan itulah yang aku sesali”, Ah itu hanya sebuah lagu. Forget it.

“Persahabatan” memang sebuah kata-kata indah. Saya pernah punya sahabat wanita yang sangat baik sekali di , ia bernama Dra Ella Turmala,M.Si. Kami bersahabat,, mulai dari kelas 3 SMA di SMA 3 Bandung, lalu di ITB dan  hingga hari ini. Saya tak tahu apakah Ela sudah punya cucu atau belum. Cucu saya kini empat. Ternyata sebuah persahabatan dapat abadi tanpa cinta. Saya kaget, ketika ada dua sahabat baik saya di Belanda yaitu Agung dan Ita, tiba-tiba ketemu menjadi suami–istri. Padahal pengalaman saya, sekali kita bersahabat, maka hingga tua, akan terus bersahabat dan tidak hilang perasaan itu walau terpisah oleh tempat yang berbeda. Ela Turmala selalu hadir bila saya undang, termasuk waktu pengukuhan Professor saya  di Jakarta, Ela Turmala yang gadis Sumedang itu- mungkin tetangganya Rossa, penyanyi ayat-ayat cinta- ternyata juga datang ke Jakarta. Ah alangkah indahnya suatu persahabatan walau tak dibumbui cinta. Kata orang “mencintai tak selamanya harus memiliki”

Umur saya, kini sudah melampuai setengah abad. Saya sadar benar ucapan Rasululloh bahwa sebuah silaturahmi, minimal  akan memberi dua  manfaat yaitu: (a) Umur panjang, dan  (b) Banyak rejeki. Alangkah ruginya orang yang memutus tali silaturahmi.

Memang, silaturahmi itu indah, tetapi persahabatan nampaknya, akan jauh lebih indah.

Kini umur saya sudah over fifthy; saya ingat kata-kata Bernadette, bahwa bila saya di Mekah dihadapan Allah SWT, saya harus ingat Bernadette, sebab dia pun akan ingat saya, ketika berdoa di gereja. Sebenarnya saya ingin menyuratinya bahwa itu tak mungkin, sebab Nabi Muhammad SAW saja, tidak boleh mendoakan paman yang dicintainya. Maka saya pun tak akan ingat Bernadette di Mecca dan Madinah.

Mengapa, sebab  Allah Swt, memberi teguran kepada saya dengan cara : VISA SAYA SUDAH KEDALUWARSA, BEDA SATU HARI DAN SAYAPUN, HANYA TERMANGU DI BANDARA KING ABDUL AZIS JEDAH.

Akhir cerita; saya pulang ke Indonesia dan bertemulah dengan anak dan istri tercinta. Lucunya; anak saya No 4; Dina Kartika Utami, tak tahu bahwa ini Bapaknya, dan sewaktu bangun pagi, saya tertidur di sebelah istri, anakku Dina nangis dan ngamuk; kok ada lelaki lain di samping ibunya. He he he. Itulah romantika kehidupan.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.