KETIKA CINTA HANYA BERBUAH CERITA

April 24, 2009

Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA

EPISODE KEEMPAT

Ini sebenarnya kisah cinta dari teman-teman gadis saya yang umurnya masih muda. Mereka hidup bersama saya apakah sebagai sahabat, kolega atau sebagai anak didik tak langsung. Mengapa dibilang begitu, memang ada istilah anak didik langsung dan tak langsung. Anak didik langsung dialah mereka yang pernah jadi murid saya di sekolah resmi, sedangkan anak didik tak langsung adakah mereka yang menjadi pendengar ceramah-ceramah saya pada berbagai kesempatan. Mereka mengatakan saya adalah guru mereka.

Ada tiga gadis yang nasibnya sama, saya samarkan namanya; Septia Dela Rosa, Ratna Setiawati dan Lisa Pujiningsih. Diantara ketiga itu yang paling cantik, pertama adalah Septia, dia bernilai 8,5 kata teman-teman, dan kini berprofesi sebagai selebritis berpendidikan S-2 ada kalanya saya lihat dia di TV, saat itu ia berstatus kolega di sebuah PTS Bandung. Kedua adalah Ratna. Mahasiswi di Delft University of Technology Belanda, nilai daya tariknya kira-kira 8,0 saja, tetapi termasuk anak yang maju kuliahnya dengan angka diatas IP rata-rata. Terahir Lisa, seorang dosen di sebuah PTS terkenal di Jakarta, gadis jawa yang hitam manis, senyumnya menawan, hingga nilainya bisa mencapai 7,5. Banyak rekan-rekan dosen menyenanginya, bahkan ada yang bercanda: “ Waduh, terlambat kita bertemu ya Lis”. Kadang ada aja yang nakal “ Ok Lis, kutunggu jandamu kapan saja”. Ah dasar lelaki, ada-ada saja candanya. Lupa, kata-kata seperti itu, bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Begitulah lelaki, candanya kelewat batas. Ada kalanya, ketika dalam seminar ketemu peserta cantik, maka ia berkata: ”Kalau lihat anak orang, saya suka ingat anak sendiri, ee pas lihat istri orang, lupa deh istri sendiri”. Naudzubillah mindzalik. Begitulah bila para dosen becanda di kampus.

Entah bagaimana, ketiga teman gadis saya yang semua beragama Islam itu, sama-sama nasibya, mempunyai kekasih bahkan calon suami (tunangan) yang berbeda agama. Septia mempunyai pacar bernama Bernadus yang Katholik, Ratna berpacar Darius yang juga Katholik dan Lisa mempunya pacar bernama Harry yang Kristen Protestan. Bagaimanakah nasib mereka selanjutnya, inilah kisahku bersama mereka. Tentu saja, nama-nama pacarnya juga adalah nama samaran. Kalau ada yang sama, ya itu hanya kebetulan saja.

Memang, ketika cinta itu buta, atau “Love is blind” kata orang Inggris,maka, dijawab oleh orang-orang Sunda “maaf: Tai Kotok pun terasa Coklat” artinya; maaf ; kotoran ayam pun terasa coklat. Cinta tak memandang siapa dia, agama apa dia, dan keturunan apa dia. Kata orang Sunda lagi “ Jodoh teh Jorok”. Artinya, ketika anda jatuh cinta bisa dengan siapa saja, seorang yang baik-baik mencintai pelacur, bukan hal yang mustahil. Itulah cinta, dia benar-benar buta. Tak memandang sesuatu pun di dunia. Bahkan ada pepatah bahasa Arab yang saya terima dari sahabat saya Bung Yourdan di STIE Ahmad Dahlan Jakarta, kata Bung Yourdan, ada pepatah Arab: “Man tahabba syaian; Fahuwa Abdun” Bila seseorang mencintai sesuatu dengan sepenuh hati, maka ia akan menjadi hamba dari cinta itu”

Padahal, kalaulah manusia sadar, di Jawa ada pepatah. Dalam memilih jodoh lihat: bobot, bibit dan bebet. Artinya: Bobot; mutu, kecantikan, kekayaan, perilaku. Bibit: Asal keturunan dan Bebet: bisa memberikan keturunan alias tidak mandul. Maka ketika rumus “Love is blind “ diberlakukan, gugur sudah teori bobot-bibit dan bebet itu. Kalau dalam ajaran agama Islam , untuk memilih jodoh itu ada empat: (1) kecantikannya, (2) kekayaannya, (3) keturunannya, dan (4) Agamanya (Islam). Bila kita tak memperoleh nomor 1, 2, dan 3. Maka no 4, kesamaan agama (Islam) mengalahkan segalanya. Jadi kalau kita memperoleh jodoh cantik, sebutlah nilai 1, kaya Nilai 1, keturunan baik nilai 1, namun agama beda alias = 0. Maka nilai totalnya menjadi 0. Sebaliknya kalau agama sudah sama berarti 1, yang lain 0, 0 dan 0, maka jumlahnya menjadi 1.0.0.0 alias seribu. Artinya faktor agama inilah yang sangat menentukan, oleh sebab itu bila agama menjadi pegangan harus dibalik, masalah agama menjadi nomor satu, setelah itu baru kecantikan, keturunan dan kekayaan.

Tentu saja, makna agama di sini dalam arti yang seluas-luasnya: dia itu shalat, rajin puasa sunat senen –kemis, rajin tahajjud, amanah, berahlaq baik dan lain sebagainya.

Memang umumnya, pernikahan yang berbeda agama, banyak yang putus di tengah jalan, atau setelah sekian tahun hidup bersama, maka salah satu mengalah sehingga agamanya menjadi sama. Memang, ada saja satu atau dua, yang bisa abadi mempertahankan perbedaan hingga akhir hayat dikandung badan. Dalam kalangan kaum muslimin, masih banyak yang cukup tenang dan tentram apabila, lelakinya muslim dan wanitanya non-muslim. Dan agak berat masalahnya ketika laki-lakinya non muslim, sementara wanitanya muslim, apalagi dari kalangan muslimah yang taat. Dalam kasus ketiga gadis yang akan saya ceritakan itu. Septia, walau tidak berjilbab dan Ratna yang berjilbab adalah gadis-gadis sangat taat. Benar- benar sangat. Saya sering bertemu di mushala atau di masjid. Sementara Lisa, kurang taat, bahkan awam sekali pemahaman tentang Islamnya, dosen-dosen menyebut Lisa sebagai “dosen abangan” ketika itu. Lisa memang berprinsip: Agama sami kemawon, agama itu, ya sama saja. Tentu saja, pendapat ini salah. Sebab bagi pemeluknya, agama yang benar adalah yang dipeluknya. Jadi, saya Muhammad Koesmawan sebagai seorang muslim wajarlah kalau berkeyakinan bahwa “Agama Islamlah yang benar”.

Saya dan Kang Qodir, sahabat Septia juga sering menasehati Septia. Bahkan Kang Qodir tegas sekali; segera putuskan pacarmu itu dan ganti dengan yang muslim. Sebab kalau terus kawin, kamu akan disebut berzina selama-lamanya. Sering saya melihat, Septia menangis bila di depan Kang Qodir yang memang kadang disebut “ekstrim” oleh rekan-rekan sejawatnya. Saya sependapat dengan Kang Qodir, walaupun saya tak mau berkata keras seperti itu: “haram”, “Zina” dan sebagainya. Saya lebih sering mendengar apa yang ingin Septia katakan tentang pacarnya. Septia sering memuji-muji pacarnya. Memang, kata Septia, Benardus itu bukan muslim, tetapi perilakunya benar-benar tak jauh berbeda seakan mencerminkan sikap muslim yang benar. Dari ketaatannya, kesetiannya, kasih sayangnya dan dia tak hanya kepada Septia, tetapi juga kepada seluruh keluarga Septia. Hingga sulit baginya untuk putus dengan Bernadus seperti yang diharapkan Kang Qodir. Saya sering berkata kepada Septia. “Neng, Pantha Rei, biarlah hidup ini seperti air mengalir”. Jangan terlalu dibendung. Biarkan ia berlangsung apa adanya. Hadapilah dengan kesabaran. “Tetapi mengapa kamu belum kawin Neng?”. Kata saya. Septia menjawab, “Biarlah Kang Koesmawan, akan saya tunggu setahun lagi”. Semoga dia bisa ikut agama saya. Begitulah Septia optimis, bahwa kecintaan Bernadus kepada Septia,mungkin akan bisa mengubah agamanya menjadi Islam.

Saya katakan kepada Septia. ”Neng, sebenarnya nasehat Kang Koesmawan sama dengang Kang Qodir, Bedanya gini aja Neng Septi; ingatlah Neng, mencintai itu, tidak selamanya harus memiliki, Kalau seseorang itu memiliki cinta sejati, ia akan berharap kekasihnya bahagia selama-lamanya, walau tidak hidup bersamanya”.

Memang, ini kenyataan, terlepas agamanya yang Katholik. Pribadi Bernadus itu menyenangkan, saya pun sering memujinya di depan Septia. Orangnya cukup ganteng, simpatik, rendah hati, hormat kepada orang lain. Pokoknya selangit. Saya dan Septia sering berpendapat, kalaulah Si Bernadus itu baca sahadat aja, jadilah dia muttaqien.

Kisah ini berakhir, tatkala pada suatu ketika, Septia tergopoh-gopoh, memanggil saya dan Kang Qodir. Saking seriusnya, saya geli kalau ingat. Septia menarik tanganku di sebuah kantin di Bandung supaya mau berkumpul enam mata antara Koesmawan, Septia dan Kang Qadir. Inilah kata-kata Septia, dan kalau saya bertemu dia, saya ingatkan ini, dia akan tersenyum.

“Begini Kang Koesmawan, Kang Qadir, sahabatku yang baik. Alhamdulillah; saya seminggu yang lalu telah resmi putus dengan baik-baik dengan pacar saya Bernadus”

”Alhamdulilah, ya Allah terima kasih atas kabar ini Neng”. Saya lupa-lupa ingat, begitu ekpressifnya perasaan saat itu, kami berdua (saya dan Kang Qadir) langsung sujud syukur dan berdoa. Semoga Septia segera dipilihkan oleh Allah Swt. Jodoh yang segalanya melebihi Bernadus. Dan akhirnya, saya dengar kabar ia memilki calon suami muslim, S-2 akuntansi dan hidupnya lumayan, pribadinya baik. Kini dilihat dari penampilannya di TV, Septia tampaknya hidup bahagia, wajahnya tetap cantik. Bahkan, tidak saya sangka, wajah Septia ada juga di “Facebook”. Ah biarkanlah tak saya temui, semoga kalau dia baca kisah ini, dia akan mesem-mesem. Hanya satu yang ingin saya ketahui dari Septia Dela Rosa itu; Bagaimana proses yang dia lakukan hingga bisa putus dengan Bernadus yang dia sayanginya itu. Maksud saya, bagaimana serunya pergumulan dalam batin Septia antara Ya atau Tidak untuk putus, dengan kekasih yang sudah 5 tahun dipacarinya itu.

Bagaimana dengan kisah Ratna di Delft negeri Belanda itu. Ibarat pepatah dalam bahasa Perancis : “L’ historia Cest Repete” (Sejarah itu akan berulang). Ya, seperti terjadi pengulangan sejarah; tak banyak yang bisa saya ceritakan. Hanya kesan saya adalah ketika saya tanya. “Mengapa Ratna kok kamu menjadi serius sekali dengan Darius yang Katholik itu, sementara kamu berjilbab dan pengurus masjid di Delft lagi. Bukankah kamu dulu berpacaran dengan mahasiswa muslim?”, Demikian kata saya kepada Ratna.

“Itulah Kang Koesmawan”, kata Ratna. “Siapa yang tak ingin punya calon suami yang muslim. Tapi itulah kenyataan Kang, setiap saya membangun cinta dan kasih sayang yang serius dengan seorang muslim, ternyata menjengkelkan dan banyak makan hati”. Kemudian Ratna melanjutkan, ”Kadang, pria muslim pacar saya itu sok mengatur. Kadang kurang setia. Berjanji tak ditepati, sering bohong dan sewaktu jadi bendahara tidak amanah”.

Wah itu ciri orang munafik dong Ratna”, Kata saya. ”Jadi kamu memutuskan dia yang muslim itu?. “Benar Kang, dan ternyata ketika saya mengenal Darius lalu saya hubungan baik dengan dia, ternyata apa yang tak ada pada pria muslim, itu telah ada pada Darius. Hanya saja Darius bukan seorang muslim Kang” Demikian Ratna mengahiri ceritanya pada saya, dengan sedikit linangan air mata. Saya terharu juga mendengar keluhannya itu.

Memang, penampilan dan sikap serta watak Darius-nya Ratna ini tak jauh berbeda dengan Bernadus-nya Septia. Anaknya ganteng, sopan-santun, setia kepada pacar, rendah hati dan lain-lain. Saya tak bisa berkata apa-apa di depan Ratna. Saya tahu Ratna paham betul soal agama dan apalagi hubungannya dengan masalah kawin beda agama. Jadi apa yang harus kukatakan kepada Ratna itu? What should I say to her?

Saya berkata kepada Ratna, “Cest La Vie “ (Bahasa Perancis, dibacanya SELAFI), artinya “Itulah hidup Ratna..”. Saya ingat kata-kata Kiekegard, filsuf ekstensialis Jerman, dia bilang “Hidup itu susah diatur” . Kita maunya begini, hidup malah begitu. “Jadi kita harus menjalaninya wahai adikku Ratna dengan optimisme”. Masalah hubungan dengan Darius ini, semogalah berakhir dengan baik. Saya ceritakan soal Septi di Bandung kepada Ratna. Dia berharap akan berahir seperti Septi.

Sebenarnya, saat itu saya ingin bertemu anak-anak mahasiswa muslim Delft. Ingin saya maki-maki mereka, kenapa kalian tak dapat memperlihatkan akhlak Rasullullah dengan baik. Coba kalaulah semua mahasiswa muslim di Delft ini baik akhlaknya, tak mungkin Ratna jatuh ke tangan Darius.”Kok ada saja pemuda muslim yang tega-teganya menyakiti wanita muslimah secantik Ranta ini”. Sayang memarahi mahasiswa Delft itu tak kesampaian, kami hanya bertemu sebentar saja di Belanda, lalu berpisah dengan mereka.

Sejak saat itu, saya tak pernah ketemu lagi dengan Ratna dan juga mahasiswa muslim di kota Delft, sebab saya lulus Doktor di kota lain, yaitu Enschede pada tahun 1996, dan tak ada lagi kontak dengan mahasiswa muslim Delft. Jadi hingga tulisan ini di-entri ke rumah digital saya, saya tidak tahu lagi kabar dari Ratna. Harapan saya, mudah-mudahan jika Ratna bertemu, dia bernasib seperti Septia. Yakni bertemu jodoh pria muslim yang tinggi nilai ketakwaannya dan hidupnya sukses. Amiin. Siapa tahu, ada mantan mahasiswa Delft Nederland yang membaca kisah ini dan memberi kabar tentang nasib Ratna selanjutnya. Saya tunggu di “facebook”-nya Muhammad Koesmawan.

Adapun ceritaku tentang Lisa, hampir mirip dengan Septi dan Ratna, hanya ujungnya, jelas , yaitu: tidak “happy ending”. Bahkan menyedihkan.

Lisa ini aneh. Saya tahu bahwa sebelum kenal dengan saya, Lisa sudah punya tunangan bernama Mas Djoko. Lisa sering cerita bagaimana dia akan menghabiskan hari-hari dalam penantian untuk menikah dengan Mas Djoko. Namun apa yang terjadi, sejak saya berpisah tak ketemu Lisa, saya dapat undangan dari Lisa, bahwa ia akan kawin, tapi aneh bin ajaib. Ia tidak menikah dengan Mas Djoko, malah dengan Bung Harry yang beragama Kristen Protestan itu. Saya sudah kenal baik juga dengan Bung Herry, ia anak pendeta Kristen, berarti Herry sangat kuat kekristenannya.

Alkisah, pada suatu kesempatan, saya berdekatan dengan Lisa, kebetulan akan mengajar bareng di sebuah PTS di Jakarta.Nah, di saat kami berdekatan, maka saya tanyakan. “Lisa mengapa jadi begini, bukankah kamu tahu bahwa; menikah berlainan agama itu dilarang menurut agama Islam?” . Ketika saya bertanya ini, untunglah saat itu nikah beda agama dibenarkan secara hukum di catatan sipil. Jadi Lisa dan Herry menikah lancar saja di Indonesia. Padahal kalau sekarang, tidak boleh lagi menikah beda agama. Maka ramai-ramailah menikah di luar negeri. Dan dipilih yang dekat yaitu: Singapura atau Australia.

Memang, menurut Lisa, ini gara-gara Mas Djoko yang notabene-nya tunangan Lisa tidak memberikan perhatian yang semestinya. Hingga, “feeling” Lisa menjadi ragu, apakah benar Mas Djoko mencintainya? Atau seperti akan mencampakkannya?. Nah ketika Lisa tak punya kepastian ini, tiba-tiba datanglah Herry masuk ke dalam kehidupannya. Memang sebelumnya; dulu katanya, Lisa itu sangat dekat dengan Herry, namun entah apa tiba-tiba mereka terpisahkan. Maka ketika mereka bertemu lagi muncullah apa yang disebut: CLBK (cinta lama bersemi kembali).

Dan ketika Mas Djoko dan Lisa terpisah karena tugas, Herry masuk ke kehidupan Lisa dan memberi kepastian, hingga Lisa jatuh ketangannya, padahal mereka berbeda agama. Jadi Lisa mengajarkan kepada kaum pria, bahwa kalau kita meyakini cinta kita akan berlangsung panjang, maka berilah kaum wanita itu kepastian. Sebab, bila cinta tanpa kepastian, maka ia akan gugur, cepat atau perlahan-lahan. Lisa, mengajarkan betapa cintanya kepada mas Djoko bisa gugur dalam hitungan bulan, disebabkan tanpa adanya kepastian. Di sini saya bisa berkata “Love is a certaint”. Cinta adalah kepastian.

Kabar terakhir tentang Lisa, tak enak didengar telinga, katanya, karena merasa hidup dengan berbeda agama di satu rumah tidak baik, akhirnya Lisa mengalah mengikuti agama suaminya. Wallahu A’lam, saya tak pernah bertemu dengan Lisa lagi, hanya ku ingat kata-kata terakhir waktu bertemu, “Koesmawan, kita berdua ini selalu akur ya?”. Tak tahulah saya, kemana arah perkataan Lisa itu.

Kini umur saya sudah hampir 60 tahun. Saya berpikir dan ingat nasihat Mayjend (Purn.) Hari Suprapto di Lemhannas. Kata beliau, ”Hati-hati Prof. Koes, Allah Swt. itu PENCEMBURU, DIA TAK MAU CINTA KITA DIBAGI DUA apalagi dibagi banyak. Maka kita akan termasuk musyrik yang dosanya tak akan terampuni”. Dengan begitu Pak Jenderal berharap agar cinta kita itu “Satu dan Hanya Satu Saja”, yakni Cinta Sejati kepada Allah SWT.

Kalau begitu, bagaimana kita bisa mencintai kekasih, istri, anak, adik, kakak? Jawabannya: Silahkan saja, asal niat kita dan tujuan kita dalam rangka “Cinta kepada Allah Swt. itu tadi”. Jangan sampai kecintaan kepada anak-istri, kekayaan, saudara dan sahabat mengalahkan kecintaan kita kepada Allah Swt. Tuhan yang Maha Kuasa.

Hidup memang penuh ketidakpastian, seseorang tak akan tahu apa yang akan terjadi padanya hari esok dan mereka tak akan tahu pula di bumi mana mereka akan mati (Al Quran). Manusia berencana, Allah Swt berencana. Maka sebaik-baiknya rencana adalah Rencana Allah Swt. (Al Quran).

Jadi hidup bukan tak bisa diatur kata Kieskegard, tetapi hidup harus kita rencanalkan dengan baik. Semoga kisah cinta tiga teman gadisku itu bermanfaat bagi yang membacanya.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.