Oleh: Prof. Dr. Ir. Muhammad Koesmawan, M.Sc, MBA, DBA
EPISODE PERTAMA:
Ini adalah sebuah catatan tentang cinta yang sangat subjektif, mengapa karena ia hanya bercerita tentang pengalaman saya pribadi yang “gagal” menemukan arti sebuah cinta yang saya harapkan dimasa remaja. Saya tak tahu, apakah pengalaman ini berguna bagi orang lain. Nama gadis yang saya cintai, terpaksa saya samarkan sebab, tentu yang bersangkutan akan risi bila kisah dan namanya dibaca oleh suaminya. Tentu saja nama-nama gadis itu sedikit saya pelesetkan saja.
Episode pertama kejadiannya di SMA 3 Bandung, saya menyenangi teman sekelas saya, ia bernama Reka Tri Rahayu, sebutlah Eka saja. Gadis ini di mata saya sangat cantik sekali, akan tetapi dimata orang lain ya biasa saja. Kata temanku, ah paling si Eka itu, nilainya maksimal 7 deh. Begitu kata kawan-kawan saya. Saya sangat mencintainya, tiap malam minggu saya “apel” kepadanya dengan membawa pekerjaan rumah untuk hari Senin. Indah sekali rasanya “bercinta” itu, walau sebatas datang ke rumah, ngobrol dari waktu magrib hingga isya. Indah sekali bertemu dia itu. Saya ingat, mengingat rumah saya jauh, maka ada kalanya uang jajan dari orang tua dikumpul-kumpul, hingga cukup untuk ongkos dari Cimahi ke Jalan Gatsu di Bandung. Selain uang, pikiranku juga kuberikan kepadanya, maksudnya; aku di rumah siap-siap mengerjakan PR. Intinya, mengapa ketika cinta ini lahir, aku ingin memberi aja.
Nah, pada tahun 1969, aku menjadi pengurus mushala SMA 3 Bandung bersama Sukmana dan Dimyati anak SMA 5. Dalam rangka membina anak SMA 3 yang sering disebut SMA santri, panitia mengundang Dr.Ir. Imaduddin Abdul Rachim yang dikenal dengan sebutan Bang Imad. Salah satu isi ceramah Bang Imad (alm) yang saya kenang hingga kini ialah; “what is the meaning of love”. Maka Bang Imad menjawab, “Love is the pleasure for giving”. Mudah2an saya tak salah menerjemahkan artinya ialah: bahwa cinta itu adalah kesenangan untuk memberi. Kini saya yakin, rupanya apa yang telah saya lakukan pada gadis Eka itu memang kesenangan untuk memberi. Indah sekali ya ketika kita memberikan sesuatu kepada seseorang yang kita cintai itu. Begitu ikhlas saya memberikannya, tanpa saya harus menerima apa yang akan dia berikan kepada saya. Saya berikan saja tanpa kata tanpa janji apalagi meminta sesuatu. Memang benar sungguh suatu kebahagiaan memberikan sesuatu yang kita miliki kepada yang kita cintai. Hanya dua tahun saya dekat dengan Eka, tetapi Tuhan tidak menjodohkan saya kepada Eka. Saya menikah dengan wanita lain dan Eka pun menikah dengan lelaki lain. Kemudian, cinta sebagai lambing member itu, bisa diperluas. Misalnya kepada Ibu, Ayah, Adik, Kakak atau Sahabat. Kepada semua yang kita cintai itu, berlaku terus “Love is a pleasure for giving”
Kini umur saya hampir 60 tahun. Bila umurku lebih akan disebut “over sixty”. Lama saya merenung, sebenarnya, cinta saya kepada Eka, hanyalah cinta sementara yang hanya menjadi sebuah cerita. Cinta yang sebenarnya adalah cinta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini baru benar-benar cinta dan ia akan memberi kekuatan yang maha dahsyat, yakni kekuatan untuk hidup dan bercita-cita. Hidup dan bercita-cita harus satu paket. Saya tak bisa membayangkan ada manusia yang hidup tanpa cita-cita? Kalau ini ada manusia seperti ini. Saran saya. Lebih baik mati saja, sebab hidup harus dengan cita-cita. Cita-cita kita bisa menjadi motivator atau penggerak hidup kita untuk terus maju. Ada kalanya cinta itu, juga adalah sebuah impian. Nah kebahagiaan hidup, kata Marzuki Usman ialah; disaat kita melangkah sehasta-demi sehasta, menggapai dan mewujudkan impian kita itu.
EPISODE KEDUA:
Jauh sekali setelah beberapa tahun melupakan Eka di episode pertama. Kini saya bertemu lagi dengan cerita cinta pada episode kedua. Pada cerita ini benar-benar ibarat kisah di sinetron. Alkisah, karena saya sebagai mahasiswa yang cukup mengerti tentang matematika, fisika dan kimia, maka saya sering diminta mengajar anak2 SMA di rumah teman yang bernama Bambang Sumantoro. Dia punya adik perempuan yang bersekolah di SMA, maka hampir seminggu dua kali saya mengajar adiknya Mas Bambang ini. Kalau tak salah, Bambang itu mahasiswa ITT Bandung.
Pada suatu ketika, seorang saudara misan Mas Bambang di Yogyakarta yang bernama Dwi Utari datang ke Bandung untuk berlibur dan saya sering diberi tugas oleh Mas Bambang ini untuk mengantar Dwi Utari ke berbagai tempat di Bandung ini sekedar cuci mata katanya. Nah barang kali, karena seringnya ketemu dengan Dwi Utari ini, terbitlah sesuatu dalam hati saya, sebutlah cinta lagi. Sering Dwi Utari menyindir saya dengan pepatah bahasa Jawa “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”, diterjemahkan: “Cinta lahir karena seringnya ketemu”. Nah akhirnya, saya dekat sekali dengan Dwi Utari itu, tetapi sayang hanya dalam hitungan bulan, ia “berakhir” sudah, kalau saya pinjam kata-kata lagu Tetty Kadi, “Layu Sebelum Berkembang”. Kenapa lagi ini, tahukah apa penyebabnya: Ya sebuah legenda yang dipercayai oleh keluargaku dan keluarga Dwi Utari itu. Keluargaku adalah suku Sunda, sementara Dwi Utari Suku Jawa. Kata legenda, Orang Sunda sama Orang Jawa asalnya kakak beradik. Dulu ada legenda Aji Saka, tercatat dalam sebuah tulisan kuno yang berbunyi : Hana Caraka, data Sawala. Pada jayanya, Magha Batanga, artinya; ada cerita, dua utusan, keduanya perkasa, lalu berkelahi dan mati. Yang kakaknya dikubur di Jawa Tengah, adiknya dikubur di Jawa Barat. Buktinya: itu hurup kuno jawa dan sunda sama, bedanya pada pengucapannya sunda dengan berakhir “A”, Jawa berakhir “O”. Ini berarti Orang Jawa itu adalah kakaknya orang Sunda. Adalah benar atau pas kalau lelaki suku Jawa menikah dengan perempuan suku Sunda, tetapi kurang bagus kata orang tua, lelaki Sunda menikahi wanita Jawa. Percaya nggak percaya pada legenda ini, buktinya: Belum Pernah ada lagu-lagu sinden Jawa memuja pemuda Sunda. Tetapi sebaliknya sering atau banyak lagu sinden Sunda memuja lelaki Jawa, misalnya lagu “Mas Joko”. Atau “Kang Mas”. Ini berarti yang tepat adalah wanita suku Sunda menikahi lelaki suku Jawa. Sayang sekali keluarga saya dan keluarga Dwi Utari sama-sama tak merestui hubungan saya dengan Dwi Utari. Tiap saya memuji-muji kecantikan dan kebaikan Dwi Utari, mereka acuh. Sama juga keluarga Dwi Utari. Maka hubungan baik itupun berakhir. Bertepatan dengan kisah ini, saya nonton film, Dwi Juga nonton, walau tidak nonton bareng sempat kami cerita bareng judulnya “Love Story” dan kami terkesan akan kata-kata dalam film itu : “Love is something that you never say, your sorry”. Artinya kira-kira; cinta itu adalah sesuatu yang kamu tidak pernah akan berkata menyesal.
Memang benar, walaupun saya dengan Dwi sudah lama berhubungan, sering tertawa bersama, sedih bersama, pokoknya hari demi hari kita hiasi dengan keindahan, entah berupa surat menyurat ataupun telepon sebab saya di Bandung dia di Yogya. Saya di ITB, Dwi di sebuah akademi di Jogyakarta, lupa namanya. Nah ketika, kami tak terus jadian, masing-masing tak pernah merasa menyesal. Kita tinggalkan saja legenda usang itu, sebab itu hanya sebuah cerita belaka. Banyak sekali teman-teman lelaki Sunda menikah bahagia selama-lamanya dengan wanita Jawa, mereka sukses lahir dan bathin, kalau ternyata ada hambatan-rintangan dan tantangan itu hal biasa saja, semua pasangan hidup manapun apakah Sunda, Jawa, atau Aceh akan mengalaminya. Alhasil, janganlah legenda itu menjadi pegangan. Kalau ada legenda yang bermanfaat dalam hidup, misalnya kisah Malin Kundang yang mengajari anak jangan melupakan ibunya silahkan saja ambil hikmahnya supaya semua anak lelaki sayang ibunya. Tapi legenda yang membatasi pernikahan Sunda Jawa itu, buang saja. “Forget It” kata teman yang baru datang dari Amerika ketika dengar cerita ini. Atau mungkin ada baiknya, sebuah mitos, kita ilmiahkan. Contoh: Orang hamil dilarang berdiri dipintu, ya tentu benar, sebab sudah perutnya besar, kalau ada yang mau lewat kan tersenggol tuh.
Kini umurku hampir 60 tahun, hampir “over seket” kata orang. Cinta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sepertinya juga harus demikian. Kita boleh saja berdoa, tetapi jangan mengatur Tuhan. Seolah-olah: hei Tuhan, saya harus kaya nih, saya harus jadi pejabat nih. Besok saya akan begini, lusa akan begini. Enak sekali bisa mengatur Tuhan. Naudzubillah Mindzalik.
Kita berusaha menjadi kaya, menjadi pejabat, tetapi ternyata tetap aja seperti begini sejak dulu tak kaya-kaya dan tak juga menjadi pejabat, jangan kecil hati. Sebab makna cinta itu ialah : sesuatu yang tak pernah menyesal mencintai Tuhan. Dalam mencintai Tuhan, ada dua prinsip yaitu bersyukur ketika menyenangkan dan bersabar ketika dalam kesusahan. Kalau ini dijalankan kita akan ikhlas terhadap takdir Tuhan. Kita tak akan menyesal menerima apa yang Tuhan berikan kepada kita.
Dalam ilmu manajemen, sikap ini akan menjadikan manusia berpikir positif dan bersikap optimistik. Dua sikap ini perlu dalam menghadapi krisis global saat ini. Krisis global yang disebabkan kegagalan masalah keuangan di Amerika telah berimbas keseluruh dunia dan walau apapun upaya para petinggi Negara di dunia, tak mudah akan cepat berakhir. Maka, dengan semangat cinta kepada Tuhan inilah, maka kita tanamkan sikap optimistik dan positif menghadapi krisis global ini.
EPISODE KETIGA
Saya paling senang mendengar kisah-kisah bagaimana dua sejoli mengisi cinta dengan saling menutup kelemahan pasangannya. Ini hanya bisa dijalani kalau seseorang berprinsip bahwa; dibalik kelemahan pasanganku, terdapat kekuatannya. Juga kita harus hati-hati, sebab dibalik kelebihan pasanganku selalu ada kelemahannya. Cinta menjadi indah. Ketika masing-masing harus memperkuat kelemahan pasangannya dan memelihara kekuatannya. Ingatlah prinsip dalam hidup “There is no the best way, but only the better ways”. Kita tak pernah menemukan cara yang paling baik, akan tetapi kita akan selalu menemukan cara yang lebih baik. Tapi awas prinsip ini, jangan disalah artikan. Seorang temanku yang nakal becanda; “eh Koes, kalau begitu, prinsip ini berlaku dong; kita tak akan menemukan istri terbaik, akan tetapi kita pasti menemukan istri yang lebih baik”. Jangan didengar ini ngaco !!!
Prinsip itu digunakan untuk memperbaiki pekerjaan, memperbaiki rencana dan atau mengatasi berbagai masalah, jangan sekali-kali digunakan untuk gonta ganti pacar, apalagi gonta ganti suami atau istri, tidak benar itu. Mari kita kembali ke contoh saling bela suami dan istri.
Ada contoh bagaimana seorang pria membela pasangannya. Alkisah di Bandung, seorang sahabat bersama istrinya naik angkot. Entah bagaimana, maaf; tiba-tiba istrinya buang gas dan di luar dugaan, gas itu tercium oleh semua penumpang, sampai-sampai mengipas-ngipas hidung masing-masing. Dalam keadaan beginilah tiba-tiba sang suami angkat bicara ”Aduh maaf Ibu2 dan Bapak2, saya sedang sakit perut, tiba-tiba buang gas”. Ternyata sang istri senang benar dibela. Sebab semua penumpang akhirnya tertawa dan melihat teman lelaki saya yang pura-pura malu. Penumpang tak mungkin memeriksa dari mana sumber gas itu keluar, ada yang mengaku saja sudah puas para penumpang angkot itu. Padahal istrinya yang membuang gas, tersenyum senang sebab suaminya rela “berkorban” malu.
Tentu saja, dalam sejarah kehidupan banyak kisah kisah seorang istri membela suaminya. Pernah dalam kehidupan Rasululloh SAW, pada suatu ketika Rasul seperti putus asa, kok tiba-tiba umatnya pada nggak benar, gimana berdakwah bisa terus lancar jangankan orang lain, umatnya saja pada nggak benar. Ketika itulah istrinya yang bernama Siti Khadijah berkata “Wahai Rasululloh, janganlah putus asa, jangan kecil hati, teruskan dakwahmu sebab, minimal masih ada seorang yang akan setia mendengar apa yang Engkau dakwahkan yaitu; aku sendiri Istrimu”. Nah semangat dari istri inilah yang membangunkan jiwa Rasululloh, hingga semangat lagi dan ternyata berhasil. Bisa dibayangkan kesetiaan dan cinta seorang istri seperti Khadijah berbuah seorang Tokoh Besar yang mengglobal yang oleh seorang ahli sejarah bernama Michel Hart menempatkan Muhammad Saw sebagai tokoh nomor satu yang mempengaruhi sejarah umat manusia di dunia dan hingga sekarang pengaruhnya tidak hilang. Hebat sekali kekuatan cinta itu ya.
Setelah Khadijah meninggal, kemudian Rasululloh SAW menikahi Aisyah. Suatu ketika Aisyah ingin tahu besar mana cinta Rasul kepada Aisyah dan kepada Khadijah. Di suatu malam, hal itu beliau tanyakan kepada Rasululloh Saw. Rasul menjawab, bahwa dirinya lebih mencintai Khadijah. Tentu saja Aisyah sedih mendengar itu, lalu ingin tahu apa alasannya. Maka Rasul menjawab, ”begini Aisyah. Aku sebenarnya sama saja mencintai engkau dan Khadijah. Hanya bedanya: Khadijah itu bersama-sama berjuang, bersama-sama menderita, tapi ia tak pernah melihat hasil perjuangan itu. Sementara engkau, sama-sama berjuang tetapi engkau melihat dan menyaksikan: Fathul Makkah atau kemenangan merebut Kota Mekah, Khadijah tidak pernah”. Mendengar itu, Aisyah segera memeluk Rasululloh dan beliau berkata: kalau begitu, akupun lebih mencintai Khadijah daripada diriku sendiri.
Ada sebuah ajaran yang diambil dari kitab suci Al Quran, dikatakan di sana bahwa “suami adalah pakaian dari istrinya” dan “istri adalah pakaian dari suaminya”. Oleh ulama besar M. Quraisy Shihab, pengertian pakaian mengandung empat makna; (1) Sebagai penutup aurat, (2) Sebagai hiasan (3) Sebagai identitas, misalnya polisi, dokter, tentara dan sebagai (4) Ciri budaya. Yang membedakan manusia dan hewan atau tumbuhan ya berpakaian itu. Orang-orang Papua secara bertahap, lama-lama akan berpakaian semua.
Suami penutup istrinya; ya itu tadi saling menutup kelemahan. Sebagai hiasan, ya harus begitu suami adalah hiasan istrinya, Jadi kalau ingin mengucapkan ”sayang” ya hanya kepada istri, jangan sampai kirim SMS ”sayang” ke sekretaris lain yang bukan istrinya. Bisa –bisa istrinya bertanya “Bang SMS siapa ini Bang, kok ada kata sayang-sayang. Cepat jawab atau terpaksa HP ini ku buang”. Begitulah celakanya kalau suami memilih orang lain sebagai hiasan. Juga istri bila berhias dan cantik, adalah semata untuk keindahan suaminya. Biar suami hanya melihat keindahan kepada istrinya tidak ke yang lain. Sebagai identitas, hati-hatilah para suami. Jangan sampai jadi koruptor, sebab suami adalah identitas istrinya. Tuh lihat ibu Fulani, ia kan istrinya Pak Fulan yang korupsi 10 milyar itu. Nah, jadi pakaian adalah identitas. Juga istri yang keluyuran nggak karuan, ya kena juga ke suaminya. Tuh lihat pak Fulan, ia kan suaminya si Fulani yang keluyuran terus tiap malam. Amit-amit deh jangan sampai deh ada istri atau suami yang demikian. Naudzubillahminzaliq.
Kini umur saya sudah hampir menuju “Over sixty”. Saya merenung tentang bagaimana suami yang baik dan istri yang baik. Maka saya ingatkan nasehat sahabat saya. Andang Kasriadi sewaktu sama-sama jadi mahasiswa ITB dulu. Kata Andang yang punya pendirian bahwa; wanita lebih menonjol emosinya dari pada pikirannya, sementara kaum pria lebih menonjolkan logika/pikiran daripada emosinya. Maka Andang memberi nasehat kepada para suami dan istri begini: seorang suami yang baik ialah mereka yang pandai MEMIKIRKAN apa yang DIRASAKAN istrinya. Sebaliknya, istri yang baik ialah istri yang bisa MERASAKAN apa yang sedang DIPIKIRKAN suaminya.
Dalam praktek. Misalnya. Kita jalan-hjalan ke Mall Pondok Indah. Tiba-tiba istri kita melihat sebuah pakaian muslimah bernuansa hijau yang bagus sekali, dan harganya waduh Rp 2,500.000,00. Dan dia minta dibelikan, bagaimana ini?, gaji kita hanya Rp 5.000.000,00 habis dong. Nah disinilah seorang suami harus memikirkan perasaan istrinya. Jangan perasaan diadu dengan logika. “Hai istriku mikir kamu. Masa gaji 5 juta dibelikan baju 2,5 juta, makan dari mana ?”. Suami yang bijak lebih baik cari lagi pakaian lain. “Mam lihat ini Mam, itu ada baju muslim bernuansa biru yang kelihatanya Bapak lebih senang kamu pakai itu” (padahal harganya Cuma Rp 250.000,00). Jadi disinilah kebijakan suami. Ingat istri senang melihat baju yang 2,5 juta belum tentu dia itu ingin benar-benar beli, tetapi emosinya saja yang mendorong melihat baju 2,5 juta itu. Semoga para suami lebih menyayangi istrinya, juga sebaliknya para istri lebih menyayangi suaminya. ITULAH KEINDAHAN HIDUP.
Posted by koesmawan